
Bab 31
Ketika membuka matanya, hal serupa terjadi lagi seperti 3 hari yang lalu.
Kali ini seorang laki-laki muda sedang tergeletak di lantai dengan diikat oleh rantai. Kejadian ini membuatnya bingung dengan apa yang dialaminya karena dia merasa tidak mempunyai masalah dengan orang lain.
Ketika laki-laki itu sedang bingung, dari arah kirinya terdengar suara seorang laki-laki dengan suara wibawanya.
"Dion."
Dion, yang di panggil namanya pun segera memiringkan kepalanya untuk melihat ke sumber suara.
Matanya membola seketika dengan mulutnya yang terbuka lebar saking terkejutnya.
Tak lama kemudian, namanya di panggil lagi olehnya karena Dion hanya diam mematung.
"Dion. Kau tidak mendengar ku?"
Dion segera tersadar dari keterkejutannya, dan dengan cepat Dion menjawabnya dengan tubuhnya yang bergetar ketakutan. Saking gemetarnya, tenggorokan Dion seakan tercekik saat mengeluarkan suara.
"I-iya.. T-tu..an Milo."
Bagaimana tidak gemetar, Milo adalah sosok yang paling ditakuti di negaranya. Meskipun hanya seorang asisten pribadi Edgar, bagi para pengusaha bisnis di Asia, Milo sama menakutkannya dengan para mafia. Bagi seluruh penghuni Gretc Company, Milo adalah dewa kematian yang bisa melenyapkan orang-orang licik tanpa jejak dan tanpa terdeteksi sedikitpun.
Milo terkenal akan kekejamannya dengan cara mafia yang membuat orang-orang berpikir seratus kali jika harus berurusan dengannya. Saking menakutkannya, tidak ada yang berani bersuara dengan intonasi melebihi suara Milo.
Banyak yang beranggapan bahwa Milo adalah memang seorang mafia, tapi tidak ada yang berani untuk membicarakannya lebih jauh lagi.
Jika Milo sudah turun tangan, artinya orang yang ditangani Milo tidak akan baik-baik saja setelahnya.
"Kenapa kau sampai menjadi teman dekat Lyn."
"Katakan..!"
Dion mengernyit tidak mengerti akan ucapan Milo.
"Apa kau tidak merasa aneh, akan beberapa kejadian setelah Shakila pergi ke negara H untuk hukumannya?"
__ADS_1
Mendengar itu wajah Dion menjadi pucat. Kini Dion mengerti kenapa dia bisa di ikat seperti seorang penghianat oleh Milo.
Seketika keringat dingin bercucuran di tubuh Dion. Tubuhnya benar-benar sangat takut sampai tidak berani untuk hanya menggerakkan satu jarinya. Bahkan Dion tidak berani memperlihatkan dirinya saat sedang mengambil nafas.
"Katakan apa yang harus kau katakan. Jika kau berbohong sedikit saja, kau tahu konsekuensinya bukan?"
"A. S-sa..saya.."
Dion benar-benar tidak bisa membuka suaranya karena rasa takut yang begitu menggerogoti tubuhnya. Melihat itu, Milo hanya menghela nafasnya kasar. Milo harus bertindak sedikit lebih lembut dengan orang kelas rendah seperti Dion.
"Setelah kau mengatakan semuanya, aku akan melepaskan mu. Dan juga, kau masih bisa bekerja di perusahaan. Semakin lengkap informasinya, semakin baik pula untuk dirimu. Bukankah kau belum menemui adikmu selama 3 minggu ini?"
Mendengar itu, tubuh Dion menjadi lemas saat mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Milo. Bagaimana Milo bisa menemukan adiknya, sedangkan riwayat hidupnya sudah dihapus jauh hari sebelum ia memutuskan untuk mendekati Lyn. Namun itu lebih baik karena kalimat terakhir itu menyiratkan bahwa adiknya baik-baik saja.
Dion pun mengatakan semuanya yang berawal dari kebenciannya terhadap Lyn. Dion mengatakannya tidak tanggung dengan raut kebenciannya.
"Karena aku sangat membencinya. Lyn adalah gadis sial yang selalu menularkan kesialannya pada orang-orang yang mendekatinya. Saking sialnya, hidupnya penuh dengan nasib buruk."
"Bukankah nasib buruknya didapat setelah wajahnya rusak? Dan bukankah itu adalah kau yang melakukannya?" Tanya Milo dengan santai.
"Ya. Akulah orang yang menyiram air keras ke wajah Lyn saat itu. Dan tujuanku mendekatinya, karena untuk memudahkan aku memantau setiap gerakannya agar aku bisa leluasa membuat berbagai kasus agar hidup Lyn menjadi buruk. Dia pantas mendapatkan itu semua, bahkan itu saja tidak cukup untuknya. Dia tidak boleh bahagia apapun alasannya. Gadis itu harus menderita untuk seumur hidupnya. Dia harus tahu bagaimana rasanya kehilangan semangat hidup."
"Apa yang membuatmu begitu membencinya? Bukankah kau sudah tahu bahwa selama ini yang jahat adalah Shakila?"
"Ayahku meninggal karena menolongnya saat akan tertabrak mobil 3 tahun yang lalu. Awalnya aku ikhlas karena mungkin itu adalah takdir, tapi kesialan itu terus terjadi menghampiri keluarga ku satu persatu ketika berdekatan dengannya. Bahkan adikku terkena gangguan mental setelah diperkosa dan disiksa yang dimana sasarannya adalah Lyn. Dia adalah gadis yang selalu menularkan kesialan meskipun kami hanya menolongnya sebagai rasa kemanusiaan. Itulah sebabnya aku dan Shakila bekerjasama, tidak peduli apa motif Shakila. Yang jelas, kepedihan yang terjadi di keluargaku harus terbayarkan dengan kehidupan yang penuh derita seumur hidupnya."
Mendengar alasan Dion, memang terdengar masuk akal. Sebagai orang yang terjun di dunia gelap, membalas kepedihan dengan penderitaan adalah memang hal alamiah seorang manusia. Namun, entah kenapa Milo masih belum puas akan alasan Dion. Dion seperti masih menutupi suatu hal dibalik alasan itu.
Untuk itu, Milo akan memikirkannya nanti. Sekarang dia harus menyelesaikan urusan interogasi Dion secepatnya.
Untuk penutupan, Milo menyuruh Dion untuk mengatakan semua hal yang terkait Shakila serta berbagai rencana yang ia dan Shakila telah atur untuk menyakiti Lyn.
Dion menceritakannya dengan gamblang karena dia tahu bahwa setelah urusan informasi ini selesai, dia akan dibebaskan tanpa hukuman apapun dari Milo.
Tanpa disadari, ada sebuah kamera yang sedang merekam secara live di ruangan itu.
***
__ADS_1
Di mansion Edgar
Lyn yang didampingi Edgar saat melihat video live itu pun menangis sejadi jadinya. Lyn begitu syok disaat teman dekatnya yang ia percaya begitu kejam akan hidupnya yang ia sendiri pun tidak tahu akan bencana itu.
Edgar yang tidak tahan melihat Lyn menangis seperti itu pun hanya bisa memeluk dan berusaha menenangkannya, tapi Lyn masih terus menangis dan semakin menjadi karena kata-kata kebencian Dion yang tidak sedikit.
Edgar benar-benar geram dengan situasi ini. Tak lama kemudian, Edgar teringat akan kejadian sewaktu di rumah sakit. Berbicara sedikit arogan dengan menghitung kerugian adalah hal yang bisa mengalahkan keterpurukan Lyn.
"Jika kamu menangis terus, maka bengkak di wajahmu akan parah. Itu artinya hasil operasi nya akan gagal, dan kamu harus mengulang operasi itu lagi. Apa kamu sedang sengaja membuang uangku tanpa hasil seperti ini?"
Mendengar itu seketika tangisan Lyn berhenti. Lyn begitu paham apa yang di katakan Edgar. Dia tidak boleh tidak menghasilkan atas uang Edgar.
"Maaf." Ucap Lyn dengan masih segukan.
Edgar tersenyum tipis melihat reaksi Lyn akan keisengan dari idenya itu.
"Baik.. Setelah terungkap bagaimana musuhmu bisa sekejam ini. Apa yang akan kamu lakukan setelah ini?"
Mata Lyn berubah menjadi tajam seketika.
"Aku ingin membalasnya sesuai apa yang telah dilakukannya padaku. Jika bisa, aku ingin menghukumnya untuk seumur hidupnya juga. Karena dia begitu berani merencanakan penderitaan seumur hidup untuk ku."
Edgar tersenyum puas mendengar nya. Edgar bisa melihat ada suatu perubahan besar yang akan dilalui oleh Lyn.
"Bagus, tapi kamu harus melatih diri untuk menjadi kuat lebih dulu sebelum terjun kelapangan. Dan poin paling utama adalah sehat. Kamu harus sehat dulu sebelum memulai pelatihan."
Kemudian Edgar mengusap pipi Lyn dengan lembut.
"Wajah ini juga harus sehat, agar tidak mengganggu saat balas dendam mu tiba."
Lyn mengangguk dengan penuh keyakinan. Ia yakin, ia pasti bisa menjadi lebih kuat untuk mengalahkan musuhnya.
3 bulan telah dilalui lyn dengan menerapkan pola makan dan pola hidup sehat. Tubuhnya terasa begitu bugar dan sehat, dan juga wajahnya sudah sehat dan terlihat sangat cantik.
Waktunya Lyn menjalani pelatihan fisik yang sudah dijadwalkan Milo.
***
__ADS_1