
Bab 52
Pagi hari yang cerah, Lyn yang sedang menyesap teh hijau di balkon kamarnya nampak terlihat sudut bibirnya sedikit terangkat saat melihat layar ponselnya saat melihat atraksi dari madam S.
'Lumayan.' Batin Lyn
Ini merupakan awal dari balas dendam Lyn. Karena Lyn tahu bahwa seorang sosialita seperti Shakila pastilah tidak mungkin terlibat hutang piutang untuk memenuhi kebutuhan mewahnya.
Dan Lyn memanfaatkan kesempatan itu untuk sedikit memberikan Shakila ketidak nyamanan. Lyn sengaja membayar hutang Shakila 3x lipat kepada madam S dengan syarat wanita yang di panggil madam itu memukuli Shakila hingga puas.
Tentu saja sang madam sangat mau dengan tawaran menggiurkan itu.
"Pagi-pagi sudah cuci mata rupanya." Ucap Edgar dengan mengusap kepala Lyn.
Lyn tersenyum melihat calon suaminya. Entah mengapa dia merasa, jika sebentar lagi laki-laki tampan yang ada di hadapannya ini akan resmi menjadi suami sahnya.
Di rumah Greyson
Celina dan Daniel sedang bersantai menikmati usia pernikahan yang bertambah dengan saling bercengkrama untuk mengisi kekosongan.
Sejujurnya sebagai orang tua, Celina dan Daniel tentu saja merasa kesepian karena tidak ada sang putri yang mereka cintai di tengah mereka. Dan mereka mempunyai penyesalan tersendiri karena telah mengusirnya.
Namun, dibalik penyesalan itu mereka tetap memiliki rasa kesal untuk Lyn karena perilaku buruknya.
Dan untuk itulah mereka sebagai orang tua sengaja membiarkan Lyn hidup susah di luaran untuk pembelajaran hidupnya.
Dan mereka juga hanya bisa melihatnya dari jauh ketika Lyn telah sukses menggapai cita-citanya.
Daniel pamit pergi sebentar untuk membeli coklat panas. Tak lama kemudian, terdengar bunyi bel rumah.
Namun saat Celina membukakan pintu, Celina hanya mendapati sebuah kotak kado yang berisi tablet yang hanya ada 1 video didalamnya dan secarik kertas.
Tonton video itu sampai selesai jika ingin putrimu selamat!
Melihat isi perintah dari kertas itu, Celina bergegas membawa kotak kado itu kedalam untuk melihat isi video itu agar lebih nyaman.
Celina benar-benar syok ketika melihat video live pengakuan Dion dengan penuh kebencian terhadap Lyn.
Namun, belum selesai Celina menontonnya, tiba-tiba ada yang membekapnya dari belakang. Dan tak lama kemudian pandangan Celina menjadi gelap.
"Cih, ternyata dia sedang menontonku." Ucap Dion.
Dion mengambil tablet itu untuk menghapusnya, tapi tidak bisa.
"Ck. Mengapa video ini tidak bisa di hapus." Kesal Dion.
Kemudian Dion menginjak injak tablet itu hingga retak.
__ADS_1
Sarah selalu menuangkan teh daun jati di pinggiran danau setelah menaburkan bunga bersama ibunya dengan duka yang terulang setiap tahunnya.
Hari ini adalah hari kematian ayah Sarah. Lyn pun segera menyusul keluarga angkatnya itu ke danau untuk berziarah setelah selesai urusannya.
Saat Lyn baru sampai, Lyn dikejutkan dengan Sari dan Sarah yang di kepung oleh 5 orang hitam. Lyn pun segera berlari dan berteriak memanggil pengawal bayangannya.
"Para pengawal, keluar lah kalian. Cepat selamatkan tante Sari dan Sarah."
Mendengar teriakkan itu, para penculik segera menarik paksa Sarah. Namun, sebuah pistol berhasil mengenai lengan pria yang menarik Sarah.
Melihat temannya tertembak, pria hitam lainnya segera menyerang para pengawal Lyn.
Sadar jika mereka tidak membawa persenjataan lengkap untuk melawan pengawal Lyn, salah satu dari mereka yang melihat ada celah berhasil membawa Sarah ke kapal boat.
Saat pengawal akan menembak ke pria hitam yang ada di kapal, pria hitam itu mengancam dengan Sarah yang sudah terlilit tali dan mencondongkan tubuh Sarah ke pinggiran kapal.
"Jika kalian tidak membiarkan kami pergi, maka gadis ini akan aku ikat di bawah kapal ini."
Mendengar ancaman itu, Lyn menginstruksi para pengawal nya untuk tidak melakukan hal yang bisa membahayakan Sarah. Sedangkan keempat orang hitam yang babak belur oleh pengawal Lyn segera menaiki kapal boat.
Dan kapal boat pun melaju menyisakan tangisan Sari.
"Sarah… hiks."
"Tenang tante, aku akan meminta kak Edgar untuk segera menemukan Sarah secepatnya."
Entah mengapa firasatnya mengatakan jika ada yang tidak beres dengan rumahnya itu.
"Lyn, mau kemana nak?" Tanya Sari dengan menggenggam tangan Lyn yang akan turun dari mobil.
"Aku ingin melihat keadaan rumah orang tua ku dulu tante. Entah mengapa hatiku mengatakan jika aku harus segera melihatnya."
"Tapi tuan Edgar berpesan untuk segera pulang apapun keadaannya."
"Hanya sebentar saja. Tolong katakan pada para pengawal jika dalam 10 menit aku tidak keluar dari rumah itu, tante perintahkan para pengawal untuk menyusul."
"Baiklah. Hati-hati."
Sari melihat punggung Lyn yang sudah memasuki gerbang rumahnya. Meskipun itu adalah rumah orang tua Lyn, entah mengapa perasaan Sari mengatakan akan terjadi sesuatu pada Lyn.
Saat sudah didalam rumah, alangkah terkejutnya Lyn dengan apa yang dilihatnya. Ibunya yang tergeletak pingsan sedang di ikat oleh Dion.
Pemandangan itu membuat Lyn naik darah.
"Dion… beraninya kau membuat ibuku pingsan." Teriak Lyn.
Dion yang awalnya terkejut karena ketahuan, seketika tertawa ketika mendengar suara yang dia kenal.
__ADS_1
"Hahaha…"
"Oh Lyn, suara mu besar juga ternyata."
"Mau kau apakan ibuku?"
"Ibumu.. tentu saja aku ingin membawanya ke sebuah tempat dimana orang-orang tidak bisa mendengar teriakkan mu."
"Kau ingin menculik ibuku?"
"Benar. Aku menculiknya untuk memancingmu agar datang menyelamatkannya. Tapi, karena kamu sudah ada disini, aku jadi tidak perlu lama-lama menunggumu bukan?"
Dengan menyunggingkan sebelah bibirnya, Dion maju mendekati Lyn kemudian melayangkan bogem mentahnya.
Hiyaaaa.
Namun, mata Dion hanya berkedip-kedip ketika Lyn bisa menangkis kepalan tangannya dengan mudah.
Wajah mereka berdua saling berhadapan dengan sorot mata tajam antar permusuhan.
Sejujurnya Dion sangat terkejut karena Lyn yang sekarang jauh lebih kuat dari perkiraannya. Tak ingin kalah dari dari wanita yang seharusnya dia bunuh, perkelahian pun terjadi antara Dion dan Lyn.
Dan Dion pun berhasil ditumbangkan oleh Lyn dalam waktu 5 menit saja.
Dion benar-benar terkejut melihat ilmu bela diri Lyn yang cukup mumpuni untuk melawannya.
'Sejak kapan dia menjadi kuat seperti ini?' batin Dion.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang sedang memasuki rumah. Itu membuat Dion tersadar dari keterkejutannya dan segera mengambil pisau kecil yang ada di sakunya dan menancapkannya ke paha Lyn.
"Aaaaaaarrghh." Jerit Lyn.
Sebelum para pengawal mendatangi ruangan itu, Dion pun segera membawa tubuh Celina lewat pintu belakang dimana terdapat sebuah mobil yang sedang menunggunya.
Pengawal bayangan yang mendengar jeritan dari nona muda nya itu segera berlari menuju ke sumber suara.
Alangkah terkejutnya mereka ketika melihat Lyn terluka dengan pisau kecil yang masih menancap di pahanya.
"Nona."
"Tolong, ibuku di culik." Ucap Lyn meringis sambil menunjuk ke arah belakang rumah.
Salah satu pengawal segera melakukan pengejaran. Namun saat tiba di pagar belakang, mobil yang membawa Celina sudah melaju beberapa meter dari pagar itu.
Sedangkan pengawal yang lainnya segera membawa Lyn ke rumah sakit terdekat.
***
__ADS_1