
Bab 48
1 bulan kemudian.
Shakila masuk ke ruangan CEO untuk memberikan laporan bulanan dari proyek yang sedang dia kerjakan.
Tiba-tiba, Shakila di kejutkan oleh suara Lyn di saat dirinya akan keluar dari ruangan itu dengan angkuh di hadapan Lyn.
"Ah Shakila. Kenapa ceroboh sekali. Pekerjaan ku jadi rusak kan." Akting Lyn.
"Itukan kau yang sengaja menyenggolnya. Kenapa menyalahkan ku." Ucap Shakila sinis dengan menyilangkan tangannya di dada.
"Tahukah kamu, jika kak Ed membayar ku sangat mahal untuk pekerjaan ini? Untuk satu desain ini adalah seharga satu bulan gaji mu. Jadi… karena kau sudah menganggu pekerjaan ku, sekarang juga bersihkan meja itu!" Ucap Lyn dengan sedikit sombong.
"Heh. Kau ini cuma anak yang di comot Edgar. Gak usah belagu. Aku ini sekertaris Edgar." Ucap Shakila tak kalah sombongnya.
"Kenapa sangat ribut di ruangan ku." Geram Edgar.
"Ini loh kak, Shakila tidak sengaja menumpahkan jus ku di kertas desain ku. Aku menyuruhnya untuk membersihkannya, tapi dia gak mau." Ucap Lyn dengan suara manja.
Mendengar suara manja Lyn membuat Shakila mual.
"Bersihkan!" Titah Edgar dengan melihat tajam Shakila.
"Tapi Edgar bukan a…"
Belum selesai Shakila bicara, Edgar sudah membentak Shakila.
"Aku CEO mu, bukan temanmu. Sopan lah jika memanggil ku!" Tegas Edgar.
"M-maaf tuan, maksud saya yang menumpahkan jus itu Lyn, bukan saya."
"Meskipun itu Lyn yang menumpahkannya, kau masih harus membersihkannya karena posisi Lyn lebih tinggi dari mu."
"Apa..?" Shakila membelalakkan matanya.
Beberapa menit kemudian, Shakila keluar dari ruangan itu dengan dongkol akut setelah membersihkan meja Lyn. Pasalnya, Lyn malah cekikikan kecil berpura-pura main hp yang padahal sedang mengejek Shakila.
Setelah Shakila pergi, Lyn tertawa kemenangan mengingat akting Edgar barusan.
"Kakak, akting yang bagus, muachh."
__ADS_1
Lyn memonyongkan bibirnya dengan sangat imut.
Edgar melihatnya pun menjadi gemas dan langsung mendatangi Lyn untuk ******* bibir yang terlihat imut itu.
Masih dalam suasana romantis.
"Kakak, aku sangat penasaran. Bagaimana ceritanya nenek sihir itu bisa jadi sekretaris mu. Bukankah kak Milo saja sudah cukup?"
Edgar menghela nafasnya dengan tersenyum.
"Waktu itu saat aku berjalan keluar restoran sambil menelpon ibuku sembari menunggu Milo parkir, tiba-tiba saja ada ada sebuah motor yang melaju kencang ke arah ku dan Shakila menyelamatkanku tepat waktu. Setelah diselidiki, memang tidak ada hubungan apapun antara Shakila dan kejadian itu. Dia yang menerima kartu nama ku, seketika dia memohon untuk menjadi sekretaris karena orang tuanya sangat menginginkannya.
Dirasa riwayat hidupnya bersih, aku pun menerimanya untuk dijadikan sekretaris sebagai balas budi."
"Cih, dia hanya sedang beruntung mendapatkan kesempatan." Ucap Lyn dengan wajah cemberut.
"Lalu kenapa dia masih menjadi sekretaris mu, bukan kah kakak sudah tahu bahwa Shakila itu bekerja sama dengan musuh?"
"Itu karena aku dan Milo masih terus mengorek informasi dari nya. Sebenarnya, dari awal dia tidak berguna apapun untukku. Itulah mengapa aku menghukumnya selama itu agar aku bisa menyadap semua aktivitas di ponselnya tanpa mendapat curiga darinya."
"Mengapa harus takut jika Shakila curiga?" Lyn menaikkan sebelah alisnya.
"Bukan takut, tapi hati-hati." Edgar menyelipkan anak rambut Lyn di telinganya.
Lyn mendengarnya dengan mengangguk anggukkan kepalanya.
"Tapi.. aku masih tidak mengerti, bagaimana Shakila bisa bekerja sama dengan banyak orang seperti itu? Yang ku tahu Shakila itu tidak punya koneksi apapun selain geng sosialitanya itu." Tanya Lyn penasaran.
"Dia tidak sengaja bertemu dengan utusan paman Milo di kota ini. Utusan itu melihat bagaimana Shakila menyelamatkanku dengan wajah jatuh cintanya padaku. Kemudian utusan itu memiliki ide setelah menyelidiki latar belakang Shakila. Entah bagaimana caranya utusan paman Milo membujuk Shakila untuk bekerjasama dengannya. Setelah itu, Shakila di latih sedemikian rupa agar rencananya tidak tercium oleh Milo. Berkat pelatihan itu jugalah Shakila bisa sangat licin ketika bermain licik di perusahaan ku. Dari situlah Shakila bisa membuat koneksi dari beberapa orang licik yang terhubung ke perusahaan ini."
Percakapan pun terus berlanjut hingga keluar dari tema.
Jika biasanya Lyn yang selalu banyak bercerita dan mengoceh jika berduaan dengan Edgar. Lain halnya untuk siang itu, Edgar sang CEO dingin pun banyak bersuara untuk menjawab berbagai pertanyaan calon istrinya.
***
Sesampainya di rumah, Shakila memanggil orang tuanya karena ada yang ingin ditanyakan.
"Kila pulang. Ayah, ibu, kalian dimana?"
Shakila yang merasa tidak ada jawaban pun mencoba mengecek ke dalam kamar orang tuanya.
__ADS_1
Shakila melihat kamar orang tuanya yang kosong itu tiba-tiba menyipitkan matanya saat melihat sebuah majalah fashion popular tergeletak di lantai tak jauh dari meja kecil.
"Tidak biasanya di rumah ini ada majalah." Gumam Shakila.
Saat melihat majalah itu, ternyata isinya kebanyakan adalah merek Yoce. Tak hanya itu, Shakila di kejutkan dengan tumpukan majalah dan koran yang terdapat nama Yoce di dalamnya.
Jika seperti ini sudah di pastikan bahwa orang tuanya sangat bangga terhadap Lyn.
Shakila yang naik darah pun segera masuk ke kamarnya dan segera menggeledah isi kamarnya untuk mencari sebuah nomor telepon seseorang.
Setelah menemukannya, Shakila segera bergegas menelponnya.
"Untung saja nomor utusan paman Milo ku simpan rapih."
"Halo tuan, ini Shakila. Ada yang ingin saya tanyakan tentang Lyn dan Edgar. Apakah…."
"Shakila, kau bertahun-tahun di negara M apakah diisolasi di bawah tanah?"
"Maksudnya?" Shakila bingung.
"Banyak yang sudah terjadi sejak kau di kirim ke negara M. Aku tahu apa yang ingin kau tanyakan. Jawabannya, apa yang kau lihat dan rasakan tentang Lyn dan Edgar memang benar adanya. Sudah, kita tidak ada urusan lagi, kau sudah tidak dibutuhkan olehku. Jangan hubungi aku lagi! Tut. Tut."
"Banyak yang sudah terjadi…" Shakila berfikir sejenak untuk mencerna ucapan utusan paman Milo dengan segala kebingungannya.
Seketika, beberapa potongan cerita mulai bermunculan di kepalanya. Shakila teringat dengan berbagai kejadian yang selalu membuat matanya terbelalak.
Yoce, Dion di penjara, Lyn yang sangat cantik setelah operasi plastik, kehidupan Lyn yang sangat baik, Edgar membela Lyn.
Semua ingatan itu muncul satu persatu seperti kepingan puzzle yang di bencinya.
Dan bahkan hal yang paling di benci Shakila adalah saat dia tidak sengaja mendengar pembicaraan karyawan lain yang sedang berpapasan dengannya.
"Lagipula kan nona Lyn calon istrinya, wajar dong kalo tuan CEO gak mau ada lecet sedikitpun. Kita aja karyawannya sayang banget sama nona Lyn, apalagi tuan Edgar. Ya gak, hihihi."
Setelah mengingat-ingat beberapa potongan cerita itu, kini Shakila pun mengerti, mengapa dirinya harus dihukum ke negara M selama itu, dan seperti sedang di asingkan.
"Jadi Edgar sengaja menahan semua berita yang ada di negara ini dari ku? Pantas saja selama bertahun-tahun aku di negara M tidak satupun berita yang kudengar sebelum hp ku disita."
Shakila benar-benar mendidih saat ini. Matanya memerah sambil meremas koran yang terdapat nama Yoce di dalamnya.
"Aku bersumpah Yocelyn, aku akan menghancurkanmu hingga lenyap tak tersisa." Gumam Shakila.
__ADS_1
***