
Bab 50
Keesokan harinya, Dion yang masih lemah di papah oleh Shakila ke area pemakaman.
Pemakaman Diana di urus oleh Edgar dan Lyn.
Shakila pun bersabar menunggu dengan kesedihan Dion di bawah langit kelabu yang berisi air hujan. Nampaknya, cuaca seakan mengerti akan kesedihan hati Dion.
Setelah menunggu cukup lama, Shakila pun mulai memberikan percikan api lagi di hati Dion.
"Lihatlah. Adikmu sudah terbaring di sini karena Lyn. Dia yang membunuhnya, dia pula yang memakamkannya. Apakah menurutmu itu bukan sebuah permainan?"
Dion hanya diam meratapi nasib adiknya yang begitu menyedihkan. Adiknya bisa tersenyum bahagia saat memasuki sekolah. Namun, Diana hanya bisa bersekolah sampai tahap sekolah menengah pertama karena tragedi salah sasaran Shakila.
Dion pun melihat sebuah nama yang tertulis di batu nisan sebelum dia bangkit dari posisinya untuk pulang ke persembunyiannya.
Diana Marcelo
'Bahkan, di nisan ini pun kamu harus menggunakan nama pelarian ini.' batin Dion dengan mengepalkan tangannya.
Shakila melihat Dion yang mengepalkan tangannya pun tersenyum licik. Dia mengira bahwa Dion mulai termakan oleh ucapannya.
***
3 hari kemudian.
Di mansion
"Cari terus keberadaan Dion. Aku ingin dia di temukan hidup ataupun mati." Titah Edgar di telepon.
Lyn melihat Edgar dengan mata polosnya.
"Dion? Bukankah Dion sudah tiada?" Ucap Lyn mengerutkan keningnya.
Edgar menutup mata sambil menghela nafasnya. Kemudian Edgar memberikan beberapa foto yang dikirim oleh anak buahnya tempo hari kepada Lyn.
Sejujurnya, Edgar sudah mengetahui foto itu dari awal, tapi karena Lyn masih harus mengerjakan kolaborasi tahap akhir, Edgar memutuskan untuk memberitahu Lyn setelah selesai urusannya karena tidak ingin konsentrasi Lyn terganggu.
__ADS_1
Di foto itu terlihat Dion dan seorang wanita paruh baya bertubuh kurus sedang di depan makam Diana.
Ketika melihatnya, Lyn pun sangat terkejut. Pasalnya, di saat hari kematian Diana, anak buah Edgar yang sedang melakukan pencarian terhadap Dion pun sempat menangkap sosok Dion di atas jembatan sungai Mis. Namun, anak buah Edgar tidak berhasil menghentikan aksi bunuh diri Dion.
Dan di saat melihat ke bawah jembatan, sungai Mis tiba-tiba saja banjir dan langsung turun hujan deras. Sudah di pastikan jika tingkat keselamatan Dion sangatlah tipis jika kondisi sungai seperti itu. Itulah mengapa Lyn bisa mengatakan bahwa Dion sudah tiada.
Kemudian Lyn beralih melihat foto Dion yang sedang di papah oleh wanita kurus itu. Matanya menyipit saat melihatnya.
Dilihat dari postur tubuh Dion yang di papah, kemungkinan Dion masih lemah setelah berhasil selamat. Dan dari semua foto, hanya ada wanita itu yang ada di sekitar Dion.
"Mungkinkah Dion berhasil di selamatkan oleh wanita kurus itu?" Gumam Lyn.
"Lalu, apakah Dion berhasil lolos lagi?"
"Ya. Anak buahku mengatakan saat dia sedang mengikuti Dion dan wanita itu pulang dari pemakaman, dia kehilangan jejak mereka saat sudah berada di sekitar sungai. Dan anak buahku berhasil menemukan sebuah rumah kosong di pinggiran sungai Mis yang terdapat jejak manusia. Kemungkinan setelah Dion berhasil selamat, Dia berada di rumah kosong itu sementara."
***
Dion sedang duduk terdiam dalam dilema. Dion tidak ingin menyentuh Lyn lagi karena tidak ingin berurusan dengan Edgar.
Dion hanya diam saja karena isi kepalanya sedang memutar kenangan bersama adiknya di masa keharmonisan keluarganya.
Dion terus memandangi secarik kertas yang telah usang yang berisi sebuah nama yang di tulis oleh ibunya sendiri.
Nama itu adalah nama orang yang membuat keluarganya menderita dan membuat ibunya bunuh diri. Karena nama itu jugalah dia dan adiknya harus mengubah namanya.
Sedangkan Shakila benar-benar geram pada Dion yang sangat susah untuk di hasut. Sampai sampai dia harus melakukan drama kecelakaan lagi agar dirinya bisa diizinkan libur lagi selama 2 hari kedepan. Shakila harus memastikan jika Dion mau bekerjasama dengan nya sebelum dirinya masuk kerja kembali.
Sampai di saat Shakila melihat Dion yang sedang duduk termenung di lantai. Dia pun segera menghampirinya berniat untuk kembali memanasi hati Dion sedikit demi sedikit.
Shakila melihat tulisan di kertas yang sedang di pegang Dion.
"Cileno Josan." Gumam Shakila.
"Itu mirip nama ibuku." Ucap Shakila sembari duduk di depan Dion.
"Memangnya siapa nama ibumu?" Dion menaikan sebelah alisnya.
__ADS_1
"Nama ibuku Celina Josan."
Dion membeku mendengarnya. Pasalnya ibunya pernah mengatakan di detik sebelum kepergiannya jika laki-laki bajingan itu hanya memiliki adik perempuan yang tersisa yang namanya mirip dengannya.
Deg.
Dion tidak bisa menahan gejolak di hatinya. Jantungnya seperti di remas-remas saat mendengar nama ibunya Shakila.
"Apa ada yang aneh dengan nama ibuku?" Tanya Shakila dengan mata menyelidik karena melihat tubuh Dion yang gemetar.
Dion tidak bisa mengatakannya pada Shakila karena Shakila adalah anak dari Celina Josan. Dia tidak ingin rencana balas dendamnya di rusak oleh Shakila.
"T-tidak. Aku hanya teringat kematian adikku."
"Ah, begitu. Lalu, apa kau tidak ingin membalaskan kematian adikmu pada Lyn?" Shakila kembali memercikkan api untuk Dion.
"Ya, tentu." jawab Dion mantap yang di sambung jawaban dalam hatinya. 'termasuk pada dirimu juga sebagai putrinya.'
Mendengarnya, Shakila tersenyum lebar. Dia sangat puas akan jawaban Dion yang tiba-tiba berubah pikiran.
Dan Shakila tidak ingin memikirkan mengapa Dion yang begitu susah di hasut akhir-akhir ini menjadi berubah pikiran. Yang terpenting tujuannya akan segera terwujud dengan adanya Dion sebagai partner nya.
"Sebelum kita mulai aksi balas dendam ini, aku ingin bertanya padamu." Ucap Dion
"Apa yang membuatmu sangat ingin melenyapkannya padahal dia adalah adik kandungmu sendiri?"
"Bukan. Yocelyn bukanlah adik kandungku." Jawab Shakila dengan tatapan datarnya.
"What…Bagaimana bisa? Tapi memang iya sih, kalo dilihat-lihat wajah kalian tidak ada kemiripan." Ucap Dion dengan menelisik Wajah Shakila.
"Siapa juga yang mau mirip dengannya." Sinis Shakila.
"Waktu itu saat aku mengambil akta kelahiran untuk di fotokopi, aku tidak sengaja menemukan surat adopsi ku. Pantas saja di rumah itu ayah dan ibu memperlakukan Lyn dengan sangat hati-hati seperti tuan putri. Aku memang hidup dengan penuh kecukupan di rumah Greyson, tapi semua kebaikan dan keberuntungan selalu mengalir pada bocah itu."
"Dan Edgar, Edgar adalah tipe pria idaman ku, aku menyukainya pandangan pertama. Tapi lagi-lagi ketika bocah itu masuk ke ruangan CEO, bocah itu langsung bisa mengalihkan pandangan Edgar yang begitu dingin kepada semua orang. Tidak hanya keberuntungan yang selalu berpihak padanya, tapi bocah itu selalu mengalahkanku di setiap apa yang kusukai. Untuk itu, aku ingin melenyapkan Lyn agar aku menjadi satu-satunya pewaris di rumah Greyson tanpa sepengetahuan orangtuaku. Aku ingin semua yang dimilikinya menjadi milikku sebagai kemenangan yang selalu dia ambil dari ku."
Dion yang mendengar alasan Shakila pun menjadi lega. Karena dia mendapatkan partner balas dendam yang satu tujuan dengannya.
__ADS_1
Jika Shakila sangat ingin melenyapkan Lyn, maka Dion akan melenyapkan ibunya Lyn. Baginya, keluarga Josan harus lenyap sampai ke akarnya.
***