
Bab 49
Hari ini Shakila sedang dalam pemulihan karena kecelakaan kerja yang di sengajanya. Kepalanya berdarah karena mengenai ujung meja saat terpeleset.
Namun drama Shakila tidak hanya disitu saja, setelah dia di antar berobat ke rumah sakit oleh orang Edgar, Shakila malah pingsan.
Edgar yang mendapat laporan pun memutuskan memberi perintah agar Shakila di pulangkan saja untuk beristirahat. Edgar tidak ingin ambil pusing karena dirinya sedang membantu calon istrinya yang sedang sibuk dengan kolaborasi tahunannya.
Tak hanya itu saja, saat di tengah kesibukannya, Edgar di kejutkan berita dari anak buahnya bahwa Dion telah di bebaskan karena pengaruh pengacara ternama di kotanya.
Itu membuat Lyn khawatir jika orang di balik pengacara itu adalah orang yang sangat jahat. Disisi lain, Edgar merasa jika ini adalah Shakila. Namun dia masih harus menyelidikinya terlebih dahulu.
Setelah Edgar menyuruh anak buahnya untuk mencari pengacara itu dan menyelidikinya, lagi-lagi Edgar dan Lyn di kejutkan oleh berita dari rumah sakit tentang Diana, adik Dion.
Segera Edgar membawa Lyn ke rumah sakit dimana Diana berada.
Di rumah sakit, Lyn dan Edgar yang baru saja tiba berpapasan dengan dokter yang baru keluar dari ruangan Diana.
"Dokter, bagaimana keadaannya?" Tanya Lyn.
"Maaf tuan dan nyonya muda, pasien meninggal dunia karena racun telah menyebar ke otak setelah sampai ke rumah sakit." Ucap dokter.
Deg.
Edgar dan Lyn sangat terkejut mendengarnya, bahkan Lyn menangis di pelukan Edgar.
Terlebih untuk seorang pria muda yang mengintip di balik tembok, seketika tubuhnya luruh di lantai karena merasa dunianya telah hancur.
Dia adalah Dion. Dimana Dion yang baru saja keluar dari penjara berkat seorang pengacara handal yang tiba-tiba membebaskan Dion begitu saja tanpa bertatap muka hanya untuk sekedar mengucapkan terimakasih.
Awalnya Dion bingung bertanya-tanya dalam hatinya siapa yang mengirim pengacara itu? Namun dia tidak mau terlalu memikirkannya karena yang dia ingin hanyalah menemui adiknya.
Setelah mengetahui adiknya meninggal, Dion segera pergi dari rumah sakit karena alasan lain adalah takut di ketahui oleh Edgar keberadaannya.
Dion berlari dengan menangis di sepanjang jalan yang entah kemana dan tanpa tujuan. Saat menyadari dirinya berada di atas jembatan sungai Mis, dengan putus asa Dion melompat dari jembatan itu.
"Diany.. kakak akan menyusul mu.." histeris Dion.
Saat dirinya terjun dari jembatan, tiba-tiba,
"Aaaaaaarrghh…"
Dion terbangun dari mimpi buruknya dengan keringat yang bercucuran dengan nafas yang tersengal-sengal.
Hah.
Hah.
Hah.
__ADS_1
Dengan masih mengatur nafasnya, seketika Dion terkejut dengan sekelilingnya yang tampak asing.
Tampak terlihat bangunan tua dengan gaya minimalis yang sudah tidak terawat.
"Dimana aku?" Gumam Dion dengan menyipitkan matanya.
Saat sedang dalam kebingungan, tiba-tiba datanglah seorang wanita muda.
"Sudah bangun Dion?"
Dion membelalakkan matanya saat melihat orang yang di kenalnya.
"S-shakila.."
"Gak usah kaget, ini memang aku."
"Kamu, kamu kenapa bisa ada disini? Dan kenapa aku ada disini juga? Tempat apa ini?" Tanya Dion dengan melihat sekelilingnya.
"Ini hanya sebuah rumah kosong dipinggiran sungai Mis."
"Sungai Mis…" seketika saja Dion langsung teringat dengan mimpinya.
Shakila dengan sengaja menepuk-nepuk di beberapa bagian tubuh Dion yang terdapat lebam.
"Apa yang kamu lakukan Shakila?" Ucap Dion sembari meringis.
"Sungai Mis…?" Gumam Dion.
Dion pun langsung membuka bajunya dan melihat beberapa memar di tubuhnya.
Seketika Dion teringat akan mimpi buruk yang menimpanya.
"Jadi, itu bukan mimpi?" Gumam Dion pelan tapi masih bisa didengar oleh Shakila.
Mendengar gumaman Dion, Shakila mulai melancarkan aksinya untuk memberikan percikan api di hati Dion yang sudah menjadi putih.
Shakila sangat tahu jika Dion sudah bertobat, maka dari itu dia sangat sengaja memanasi hati Dion agar bisa menjadi Dion yang dia kenal sebelumnya.
"Ya ampun, jadi kamu menganggap semua itu hanya mimpi?"
"Kamu menceburkan diri ke sungai setelah kematian adikmu, Diana. Dan aku lah yang menyelamatkan mu saat tubuhmu hampir terseret arus deras."
"Benarkah kamu yang menyelamatkan aku?" Dion menyipitkan matanya.
Dion sangat tahu akan sifat Shakila. Bisa saja Shakila hanya mengaku.
"Kau tidak lihat luka di kepala ku?" Ucap Shakila dengan menunjuk kepalanya yang sedang di perban.
Dion masih tetap diam tak berekspresi melihat kepala Shakila.
__ADS_1
Shakila yang mengerti jika Dion takut ditipu olehnya pun langsung membuka bajunya untuk memperlihatkan lukanya pada Dion.
"Lihatlah, aku juga mempunyai beberapa memar yang sama seperti mu."
Melihat itu, Dion langsung memalingkan wajahnya tapi masih melirik beberapa detik untuk melihat memar pada tubuh Shakila untuk memastikannya.
"Sudah, aku percaya." Ucap Dion datar dan masih memalingkan wajahnya ke kiri.
"Aku telah menyelidikinya. Hari itu tidak ada yang masuk ke kamar Diana kecuali para perawat. Orang luar yang masuk ke kamar Diana hanyalah Lyn dan kamu. Jadi, kamu tahukan siapa yang melakukan itu pada adikmu?"
Kemudian Shakila menunjukan sebuah rekaman cctv pada Dion.
Rekaman itu menunjukkan Lyn yang keluar dari kamar Diana yang berpapasan dengan Dion.
"Bukankah disaat Lyn keluar dari kamar itu, Diana langsung kejang-kejang?"
Dion kembali mengingat bagaimana adiknya kejang-kejang dengan keluar busa dari mulutnya saat dirinya masuk ke kamar adiknya dengan penuh kerinduan.
"Lalu ini, ini adalah hasil lab yang menyatakan bahwa jus orange yang diminum Diana mengandung racun serangga."
Shakila memberikan surat hasil lab kepada Dion.
Kemudian Shakila menunjukkan rekaman cctv kembali yang dimana Lyn membawa beberapa makanan dan jus orange saat masuk ke ruangan Diana.
"Bukankah jus orange itu yang dia bawa sebelum kau datang?"
Sejujurnya Dion tidak percaya jika Lyn yang meracuni adiknya, tapi semua bukti dan penjelasan Shakila benar-benar masuk akal.
Lyn yang di kenalnya tidak pernah melakukan kejahatan sekecil apapun, bahkan pada musuhnya pun Lyn tidak berniat membunuh.
Contohnya Shakila dan dirinya. Jika Lyn mau, Lyn bisa membunuh mereka berdua dengan bantuan Edgar dan Milo saat itu juga.
Namun buktinya sampai detik ini Lyn hanya membalas apa yang telah dilakukanya pada Lyn, itu adalah hal yang wajar bagi seorang yang teraniaya.
"Apa kau tidak ingin membalaskan kematian adikmu?. Mari bekerjasama, karena target kita sama."
Merasa jika Shakila sedang menghasutnya, Dion memutuskan untuk beristirahat dengan alasan berpikir lebih dulu.
"Aku akan memikirkannya, sekarang aku ingin istirahat."
"Baik. Istirahat. Cepatlah sembuh."
Ketika Shakila sudah menutup pintu kamar Dion, tangannya mengepal kuat hingga jarinya memutih.
'Hatimu yang sudah memutih membuatmu menjadi orang bodoh yang hanya bisa pasrah. Tapi aku bersumpah, aku yang akan membuatnya hitam kembali sampai tujuanku melenyapkan Lyn tercapai.' Batin Shakila dengan wajah kebenciannya.
***
__ADS_1