
Bab 44
Lyn membuka matanya dengan rasa pusing di kepala.
Dia terkejut ketika melihat ke sekelilingnya yang tampak asing dimatanya.
Lyn mencoba mengingat-ingat kejadian terakhir kali sebelum dirinya berada di tempat itu.
*Flashback on
Setelah mengetahui jika Shakila lah yang telah membuatnya operasi plastik kembali, Lyn yang sudah naik darah dan langsung menyuruh temannya untuk mengurus visa dan paspor nya diam diam karena Lyn tahu jika Shakila sangatlah sibuk dengan hukumannya. Itu sebabnya Lyn memutuskan untuk pergi ke negara M untuk membalas Shakila.
Di pagi buta, Lyn sudah berada di dalam taxi menuju ke bandara. Dia sengaja berangkat sepagi itu untuk memudahkannya menyelinap pergi dari mansion.
Saat sedang menunggu keberangkatannya yang tinggal beberapa menit lagi, tiba-tiba ada yang membekapnya dari belakang. Setelah itu Lyn tidak tahu lagi karena pandangannya menjadi gelap.
*Flashback off
Mata Lyn membola dengan tangan yang menutupi mulutnya.
"Apa aku sedang di culik?" Ucap Lyn dengan sedikit takut dengan sekelebat pikiran negatifnya.
Kemudian terdengar suara sepatu yang sedang berjalan ke arahnya.
Tak. Tak.
Lyn semakin ketakutan saat suara sepatu itu semakin mendekatinya. Lyn pun segera masuk ke dalam selimut dengan memejamkan matanya.
Tiba-tiba terdengar suara dingin seseorang yang Lyn kenal.
"Sudah bangun?"
'Eh, itukan suara kak Ed.' Batin Lyn
Lyn segera membuka selimutnya untuk memastikan pemilik suara itu.
"Kakak. Syukurlah kalo itu kamu." Ucap Lyn dengan perasaan lega.
"Kenapa? Apa kamu takut jika sedang di culik?"
"Itu, em.."
"Jika takut di culik, kenapa kamu begitu ceroboh kabur dari mansion. Tidak ingatkah kamu tentang para musuh dan saingan bisnis ku?" Geram Edgar.
Lyn hanya menunduk ketika Edgar sudah mulai terlihat kesal.
"Maaf."
"Bukankah aku sudah bilang, biarkan aku yang membereskannya. Kenapa kamu sangat keras kepala."
"Tadinya aku sudah mempercayakannya kepadamu, tapi mengingat wanita jahat itu masih bisa menghancurkan wajahku meskipun dia sedang jauh disana, aku sudah tidak tahan lagi. Apakah aku berlebihan jika ingin membalasnya lebih cepat?" Ucap Lyn dengan mata berkaca-kaca.
Edgar menghela nafasnya kemudian mencengkeram lembut kedua pundak Lyn sambil menatap kedalam matanya.
"Dengarkan aku. Jangan kotori tanganmu dengan menyentuh Shakila. Karena kamu bisa balas dendam tanpa harus turun ke lapangan."
__ADS_1
"Hah?"
Kemudian Edgar membawa Lyn ke ruang walk in closet untuk menunjukkan sebuah Busana.
"Lihatlah Busana ini!"
Lyn melihat busana terbaru CL dengan penuh kekaguman.
"Bagaimana tanggapan mu?"
"Ini.. sangat cantik dan elegan. Benar-benar kelas CL"
"Ya, seperti itu lah bentuk balas dendam yang harus kamu lakukan."
"Biarkan orang yang mencelakimu menghormati mu, kamu harus berada di tempat yang tinggi agar dia sulit menjangkau mu."
"Apa sekarang kamu mengerti calon istriku."
Lyn mengangguk kemudian memeluk Edgar dengan pipinya bersemu mendengar kata calon istri.
Tak lama kemudian, terdengar suara perut keroncongan yang memecahkan suasana hening itu. Lyn yang merasa malu segera melepaskan pelukannya.
Edgar terkekeh pelan mendengar nya.
"Lapar? Ayo kita makan dulu, ini sudah lewat jam makan siang."
Kemudian Edgar membawanya ke ruang makan untuk makan siang yang tertunda.
"Kakak, sebenarnya kita sedang ada dimana?" Tanya Lyn dengan melihat sekelilingnya.
"Kita sedang ada di villa Ibuku di kota A."
"Makanlah dulu, nanti baru bicara lagi."
*
Setelah makan siang, Edgar mengajak Lyn untuk berjalan-jalan santai menghirup udara segar di luar villa yang ada di kawasan perbukitan.
Sepanjang jalannya Lyn banyak bertanya pada Edgar.
Lyn yang merasakan hawa dataran tinggi sudah bisa menebak dimana dirinya berada.
"Apa kita sedang berada di bukit?" Tanya Lyn.
"Hmm." Jawab Edgar.
Seketika Lyn teralihkan oleh sebuah kebun yang dipenuhi oleh pohon anggur yang berjejer rapi seperti kebun teh.
"Apa itu kebun anggur?"
"Ya. Para pekerja disini yang menanamnya. Mereka lebih suka membuat fermentasi anggur sendiri."
"Hah, sebanyak ini hanya untuk mereka? Aku pikir ini adalah salah satu usaha bisnis kakak." Ucap Lyn dengan wajah bodohnya dengan melihat ke segala arah yang mana luas kebun anggur itu lebih dari 1 hektar.
"Tidak. Ini memang untuk mereka mengingat suhu di sini cukup dingin."
__ADS_1
Mereka berdua pun masuk ke dalam kebun anggur dimana Lyn akan memetik anggur dan mencicipi nya sesekali.
"Kakak tidak mau mencicipinya? Ini manis loh." Ucap Lyn dengan menyodorkan sebiji anggur di depan mulut Edgar.
Edgar pun mengambilnya tapi malah menyodorkan balik di mulut Lyn.
"Coba kamu gigit."
Lyn dengan bingung membuka mulutnya dan mulai menggigit anggur itu. Namun, baru saja anggur itu sampai di bibir Lyn, tiba-tiba Edgar memakan anggur itu dengan sedikit ******* bibir Lyn.
Deg. Deg.
Itu membuat Lyn mematung tak percaya dengan apa yang dialaminya. Meski demikian, Lyn sedang berusaha mengendalikan detak jantungnya yang berdegup kencang.
Edgar melihat ekspresi Lyn pun tersenyum tipis sembari memegang dagu Lyn.
"Benar, anggur nya sangat manis." Ucap Edgar dengan jempolnya mengusap bibir Lyn.
Lyn melihat guratan usil di wajah Edgar memutuskan untuk mengalihkan suasana dengan bertanya tentang dirinya yang di bius.
"Bay the way, kenapa kakak membawaku ke sini dengan membiusku."
Wajah Edgar mulai berubah menjadi dingin kembali.
"Mereka lah yang membiusmu, beruntung aku menemukan mu tepat waktu."
Tangan Lyn yang sedang memilah anggur pun terhenti mendengarnya.
"Jadi.. aku benar-benar akan diculik?" Gumam Lyn.
Lyn tidak menyangka jika pikiran negatifnya tentang di culik ternyata benar.
"Ya. Ada 2 orang di belakang mu, salah satunya yang sedang membekapmu. Untungnya para pengawal ku berhasil melumpuhkannya sebelum membawamu ke dalam mobil mereka."
"Lalu kenapa kakak tidak membawaku pulang ke mansion?"
"Karena aku ingin istirahat sejenak sampai urusan dengan Derosa Wive diselesaikan oleh Jimi."
"Siapa itu Derosa Wive?" Lyn menaikkan sebelah alisnya.
"Dia adalah CEO perusahaan mode ternama di negara ini, dulunya termasuk salah satu saingan bisnis ku. Dan mereka yang menculikmu adalah orang-orang suruhan Derosa Wive untuk menjadikanmu sebagai barter putrinya yang ku sekap di ruang bawah tanah."
"Mengapa di sekap?" Lyn penasaran.
"Karena dia sengaja masuk ke perusahaan menjadi salah satu desainer ku dengan bantuan Shakila. Dia adalah salah satu desainer handal yang masuk dalam jajaran desainer emas di Gretc, sudah pasti dia tahu beberapa hal penting dari bisnis mode ku. Itulah mengapa Paris Fashion mengalami kekacauan saat itu."
"Shakila lagi.. sebenarnya berapa banyak kejahatan Shakila selain jahat padaku?" Geram Lyn.
"Sebanyak yang kamu pikirkan."
Lyn menautkan jemarinya di sela jari Edgar dan menggenggamnya erat.
"Kakak, berjanjilah untuk membuat Shakila menyesal dengan apa yang dia lakukan padaku dan perusahaan mu." Ucapnya dengan melihat kedalam mata Edgar.
"Tentu. Sesuai dengan permintaan mu calon istriku."
__ADS_1
Lyn tersenyum dan mencium pipi Edgar. Namun Edgar tidak bisa melepaskan Lyn begitu saja kemudian mencium Lyn berkali-kali di tengah-tengah kebun anggur itu.
***