
Bab 62
Hari resepsi pernikahan pun tiba.
Semua tamu undangan telah hadir memenuhi ballroom hotel. Tamu yang sebagian besar terdiri dari para pengusaha dan rekan bisnis ini membuat tuan besar dan tuan muda Gretc ini sangatlah sibuk sehingga hampir mengabaikan istri mereka.
Lyn yang sudah menjadi nyonya muda Gretchen pun tak hentinya di dekati oleh para wanita berkelas lainnya bahkan hanya untuk sekedar menyapa.
Di saat Lyn sudah merasa lelah karena telah menerima ucapan selamat dan menyalami begitu banyak tamu, dalam sekejap, mata Lyn yang telah sayu kembali berbinar ketika melihat dua orang yang sangat ia kenal berjalan mendekatinya.
"Tante Sari, Sarah."
"Ya Tuhan, Lyn.. kau cantik sekali." Ucap Sari dan Sarah dengan memeluk Lyn gemas.
Beberapa menit kemudian di saat Lyn membawa keluarga angkatnya untuk saling bercengkrama dengan keluarganya, seketika mereka terkejut karena Sarah tiba-tiba berteriak.
"Wow… hebat."
Krik. Krik. Sarah cengengesan ketika semua orang melihatnya dengan wajah datar.
"Hehe, maaf. Aku hanya sangat terkejut karena postingan ku tiba-tiba langsung ramai dengan kekagumannya terhadap gaun pengantin Lyn."
"Hanya karena itu kau bertingkah tidak sopan?" Geram Sari.
"Bukan itu Bu, tapi yang membuatku terkejut adalah karena tiba-tiba saja ada 6 orang yang langsung memesan gaun pengantin yang dikenakan Lyn dalam hitungan 15 menit setelah posting."
Ya, semenjak Yoce berdiri, Sarah menjadi manager keuangan di Yoce atas perintah Edgar karena jika Lyn sendiri yang memintanya Sarah sangat segan terhadapnya. Tentu saja dengan posisinya ini Sarah yang aktif di media sosial pun menjadi salah satu sorotan dalam hal yang terkait Yoce.
Gaun pengantin yang di desain oleh Lyn sendiri ini, sekilas hanya menampilkan kesan polos semata. Meskipun gaun ini terlihat sederhana namun nyatanya gaun ini sangat elegan dan cantik. Begitulah kira-kira ungkapan yang tepat untuk gaun yang dipakai oleh Lyn.
Gaun ini juga dilengkapi dengan aksesoris yang semakin mempercantik mempelai wanita yaitu adanya lengan organza, buket chantilly dan ekor pengantin yang mencapai 3 meter.
Gaun yang dipakai pada saat pernikahannya membutuhkan waktu hingga 5 bulan untuk membuatnya. Maka tak heran kalau gaun ini langsung menjadi salah satu gaun pengantin tercantik yang sedang di incar oleh kalangan wanita konglomerat yang akan menikah tahun ini.
Waktu semakin larut, satu persatu tamu undangan telah pulang dari acara itu termasuk Sari dan Sarah.
Dan ketika pesta itu telah berakhir, Dion baru datang ke acara tersebut. Bukan tanpa alasan Dion datang terlambat, karena dia begitu sangat malu saat harus menginjakkan kakinya di pesta mewah itu mengingat perbuatannya yang telah lalu. Tentu saja hal ini sudah pasti di ketahui oleh Edgar.
"Nona Lyn, maaf saya baru datang."
__ADS_1
"Dion.. tidak usah terlalu formal dengan ku. Kita adalah teman, sama seperti dulu."
"Tapi.." seketika Dion melihat Edgar dari belakang Lyn mengangguk kepadanya. "Baiklah Lyn."
Dion pun dengan sungkan dan hati-hati berbicara untuk pamitan kepada Lyn. "Itu, karena urusan Shakila sudah selesai, aku ingin pamit kepadamu sekarang."
"Pamit?" Lyn terkejut "Dion.. memangnya kau mau kemana? Kau sudah tidak punya siapa pun lagi. Tetaplah disini dan anggap saja aku saudaramu."
"Terimakasih Lyn, kamu memang berhati malaikat, beruntungnya tuan Edgar yang bisa mendapatkan mu." Dion melihat sekilas Edgar yang tersenyum tipis. "Sepertinya aku akan pindah ke sebuah desa kecil tempat kelahiran bapak angkatku."
"Mengapa tidak mengurus toko kue ayahku saja? Kau bisa mengelolanya menjadi kafe atau restoran seperti ayahmu dulu."
Dion menghela nafasnya.
"Sejujurnya aku sangat menginginkannya, tapi.. itu hanya akan membuat hati dan jiwaku semakin sakit karena terus mengingatnya." Dion menghela nafasnya kembali dengan menahan kesedihannya. "Untuk saat ini aku hanya bisa memutuskan untuk menjalani kehidupan yang belum pernah ku alami sebelumnya. Mungkin dengan begitu aku bisa bernafas lega tanpa ada rasa sesak yang terus mengganjal di sisa hidup ku."
Semua orang yang mendengar nya pun ikut merasa sedih. Mata Lyn sudah berkaca-kaca.
"Hei, kau ini sedang berpesta, mengapa harus bersedih untuk orang yang tidak ada artinya ini."
Hening.
"Tuan, nyonya, om, dan tante, saya izin pamit." Eddies, Melliana, Daniel, dan Celina mengangguk ramah. "Dan untuk om Daniel; khususnya tante Celina, sekali lagi saya minta maaf atas semua yang telah saya lakukan."
Daniel dan Celina tersenyum tulus sehingga Dion pun tersenyum lega.
Dion kemudian melangkah mendekati pengantin untuk memberikan ucapan selamat sekali lagi.
"Tuan Edgar dan Lyn, sekali lagi selamat untuk pernikahan kalian, semoga kalian langgeng dan kebahagiaan selalu menyertai keluarga kalian."
"Amin, terimakasih Dion." Lyn dan Edgar menjawab bersamaan.
"Baiklah, terimakasih untuk waktunya tuan dan nyonya muda. Saya pamit."
"Nak Dion, apa tidak ingin makan malam dulu bersama kami?" Celina.
Dion tersenyum tipis. "Terimakasih tante, tapi saya sudah makan. Saya harus segera pergi karena harus membantu bapak berkemas.
Ketika Dion hendak berbalik untuk pergi dari tempat itu, tiba-tiba Lyn memanggilnya.
__ADS_1
"Dion,"
Dion mematung.
"Jika kau menikah nanti, jangan lupa untuk mengundang ku."
Dion melihat Lyn tersenyum "Pasti. Aku pasti mengundangmu menjadi tamu istimewa ku."
"Waktu semakin larut, ayo kita makan malam dulu." Ajak Melliana setelah Dion sudah benar-benar pergi dari pandangan mereka.
Ruangan khusus yang telah di atur sedemikian rupa untuk menjadi ruang makan keluarga Gretchen sesuai permintaan Melliana sebagai pemilik Mellon hotel.
Ketika mereka akan mengambil posisi dengan tempat duduknya masing-masing, tiba-tiba datanglah sosok yang sangat di kenal keluarga Gretchen.
"Halo semuanya.. ternyata aku benar-benar ketinggalan pesta mewah ini."
"Kak Milo." Mata Lyn berbinar.
Melihat siapa yang datang sontak saja Eddies langsung memeluk Milo yang sudah di anggap sebagai putranya itu.
"Hei nak, apa kabar. Ya Tuhan.. papah sangat merindukanmu."
Seketika Eddies teralihkan oleh seorang gadis yang di bawa Milo.
"Ini..?" Eddies melirik Milo dengan tersenyum tipis.
"Ini Kimberly, calon istriku."
Kimberly merona saat di perkenalkan sebagai calon istri Milo. Dengan rasa canggung Kimberly berkenalan dengan keluarga Edgar dan Lyn dengan sangat ramah.
"Karena semua sudah berkumpul, mari kita makan malam dulu. Hidangan sudah menunggu kita." Ucap Melliana.
Makan malam di pesta resepsi pernikahan itu benar-benar terasa sangat hangat dan menyenangkan. Kimberly merasa beruntung bisa mengenal lingkungan keluarga Gretchen dengan keharmonisan yang begitu manis di matanya.
"Ayo makan yang banyak, setelah ini kita bermain biliar. Papah ingin mengobrol banyak dengan mu." Ucap Eddies sembari mencapitkan beberapa jenis makanan yang ia tahu kesukaan Milo.
"Ck, inilah kenapa aku sangat menyukai menjadi anak tunggal." Ucap Edgar yang diiringi tawa keluarganya.
Bukan karena iri, tapi inilah bentuk candaan Edgar ketika Eddies begitu antusias dengan hal hal yang terkait Milo.
__ADS_1
Bahkan sampai sekarang Edgar begitu heran dengan keberadaan Milo, mengapa ayahnya seperti lupa jika dirinya itu orang yang sangat iseng dan jahil?