Desain Cinta CEO Dingin

Desain Cinta CEO Dingin
akhir dari Shakila


__ADS_3

Bab 61


Setelah sarapan di jam makan siang itu Edgar dan Lyn kembali memasuki kamarnya.


"Sayang, gaun pengantin yang kamu desain sudah selesai dibuat. Apa tidak ingin mencobanya?"


"Tidak, lain kali saja.. hari ini aku merasa sangat lelah." Jawab Lyn dengan menarik selimutnya.


"Ya sudah tidurlah sayang." Ucap Edgar dengan mencium pucuk kepala Lyn dan segera membuka laptop nya. 


'Jika aku tidak mengalihkan pada pekerjaan, sudah pasti aku akan kebablasan lagi seperti tadi pagi.' batin Edgar.


Ya, berduaan dengan Lyn membuat Edgar tidak bisa menahan h*sratnya. Tadi pagi Edgar yang terbangun lebih dulu langsung menerkam Lyn yang masih tidur hingga dua kali. 


Sebenarnya Edgar ingin melakukannya lagi dan lagi, tapi karena mengingat ini baru malam pertama, Edgar harus bisa menahan diri karena tidak ingin istrinya itu kesakitan dan tidak bisa berjalan.


***


Mulai di keesokan harinya, masing-masing memulai pekerjaannya agar tidak terlalu menumpuk banyak saat resepsi pernikahan di gelar nanti. 


Melliana dan Eddies pulang ke negara M. Edgar langsung bekerja ke perusahaannya, sedangkan Lyn menikmati waktunya bersama kedua orang tuanya di mansion Edgar. 


Ya, setelah Lyn sah menjadi istri Edgar, Celina dan Daniel diminta untuk tinggal di mansion Edgar agar Edgar bisa tenang saat meninggalkan istrinya untuk bekerja.


Bahkan Celina dan Daniel sudah menutup toko kue yang di kelolanya dan hanya membiarkan toko cabangnya saja yang masih aktif mengingat nasib para pegawainya.


Karena setiap harinya mereka hanya menciptakan suasana harmonis di dalam mansion, tidak terasa jika kondisi Celina telah sembuh total. Itu membuat Melliana dan Eddies segera terbang dari negara M untuk mengadakan resepsi pernikahan.


Setelah makan siang, Edgar, Lyn, Celina dan Daniel memilih untuk berada di ruangan tengah untuk bercengkrama hangat yang didominasi oleh sifat manja Lyn sembari menunggu kedatangan Melliana dan Eddies.


Tiba-tiba, datanglah seorang laki-laki muda yang sangat di kenal mereka.


"Tuan Edgar, nona Lyn."


"Dion." Lyn.


Dion pun menghampiri pengantin baru itu untuk memberikan ucapan selamat dan bertanya sesuatu.


"Tuan, nona, selamat untuk pernikahan kalian. Semoga pernikahan kalian langgeng dan bahagia selalu."


"Terimakasih." Edgar.


"Terimakasih Dion." Lyn


Kemudian Dion melihat kearah orang tua Lyn.


"Om, tante, maaf untuk semuanya. Khususnya untuk tante, aku benar-benar minta maaf."


"Tidak apa-apa nak, kami mengerti keadaanmu." Celina.

__ADS_1


"Terimakasih Tante."


Kemudian Dion melihat Lyn dan dengan hati-hati untuk bertanya.


"Itu.. Apakah tidak apa-apa jika saya mengakhirinya hari ini juga?" 


Lyn dan yang lainnya mengerutkan keningnya atas pertanyaan Dion kecuali Edgar. Karena apa yang di lakukan Dion selama berada di hutan hingga sekarang, semuanya harus lewat izin Edgar.


"Shakila." Ucap Dion.


"Apakah kau sudah selesai menghitungnya?" Tanya Edgar.


Pasalnya belum ada 1 bulan Shakila menjadi tawanan Dion.


"Sudah tuan. Saya sengaja mempercepatnya karena setiap kali saya menyiksanya, saat itu juga saya selalu teringat penderitaan keluarga saya."


"Nona Lyn, aku butuh persetujuan mu untuk ini. Apakah boleh saya mengakhirinya sekarang?"


Lyn melihat kepada ayah dan ibunya yang sudah membesarkan Shakila. Dan mereka mengangguk menyetujui apapun keputusan Lyn.


Kemudian Lyn melihat mata Dion. Mata yang terlihat lelah yang tersirat kesedihan dari penderitaannya selama ini.


"Lakukan apa yang terbaik untuk mu Dion. Karena kau berhak hidup dengan tenang dan damai. Dengan mengakhirinya, tidak hanya beban mu yang berakhir, tapi hidup ku juga sekarang sudah tenang."


"Benar nak Dion,"


Seketika Dion menoleh ke arah Daniel yang ikut menimpali ucapan Lyn.


Dion pun tersenyum kemudian mengangguk hormat pada kedua orang tua yang membesarkan Shakila.


Tak lama kemudian, Dion pamit kepada pasangan pengantin dan keluarganya. Namun ketika Dion baru berjalan beberapa langkah, Lyn tiba-tiba memanggilnya.


"Dion.."


Dion pun berhenti sejenak dan memutar tubuhnya untuk melihat Lyn.


"Datanglah ke acara resepsi pernikahanku. Kau adalah tamu undangan khusus yang wajib hadir."


Dion pun tersenyum dan mengangguk lalu pergi untuk menyelesaikan urusannya.


***


Jika Lyn sedang menikmati masa pengantin barunya dan sedang menyiapkan resepsi pernikahan, lain halnya dengan Shakila yang jika di jabarkan hanya dengan satu kata, yaitu mengenaskan.


Ya, kondisi Shakila sekarang sudah tidak di kenali lagi. Shakila yang sekarang bertubuh kurus, dan begitu banyak luka benda tumpul yang memenuhi sekujur tubuhnya yang seperti menyatu dengan dagingnya. Bahkan wajahnya pun telah hancur karena telah disiram air keras pada wajah sebelah kiri, dan di gosok sikat kawat yang mengandung merkuri di sebelah kanan. 


Memang benar jika semua luka yang di dapat Shakila langsung di obati oleh dokter, tapi itu hanya memastikan jika tubuh Shakila masih sanggup berdiri untuk menerima siksaan lainnya dari Dion.


Terlihat Dion yang sedang berdiri mengepalkan kedua tangannya dengan wajah yang dihiasi kebencian dan amarah yang membuncah. Tatapannya begitu mengerikan seperti iblis melihat tubuh kurus yang tergeletak tak berdaya di hadapannya.

__ADS_1


Dan inilah urusan yang di maksud. Dion akan mengakhiri sumber dari penderitaan dan balas dendam nya, yaitu melenyapkan Shakila setelah mendapat persetujuan dari keluarga yang telah merawatnya. 


Shakila terbangun ketika merasa ada yang memperhatikannya ketika tidur. Dia membuka mata kanannya karena mata kirinya tidak bisa di buka akibat air keras yang melelehkan kelopak matanya.


"Halo Shakila.." ucap Dion dengan seringai iblisnya.


Shakila sangat ketakutan melihat Dion. Terakhir kali yang dilakukan Dion adalah mematahkan kakinya menggunakan tongkat besi. 


"Tidak Dion, jangan mendekat. Kumohon, ampun.."


Dion mensejajarkan tubuhnya dengan Shakila dan dengan gerakan perlahan telunjuknya menyentuh dagu Shakila.


"Ayahmu merenggut kebahagiaan keluargaku, merebut harta dan ibuku, dan membuat ibuku bunuh diri. Dan kamu keturunan Josan, selain ayahku menjadi korban tabrak lari karena salah sasaran mu, kamu telah merusak hidup adikku bahkan membunuhnya."


Dengan kasar Dion mengikat tubuh Shakila dan menyeretnya ke mobil.


Kemudian Dion membawa Shakila ke sungai Mis dimana tempat dirinya putus asa akan kematian adiknya.


"Kau ingat tempat ini? Ini adalah tempat dimana aku putus asa di hari kematian Diany."


Entah Shakila ingat atau tidak, Shakila hanya diam melihat sekeliling dengan sebelah matanya.


Kemudian Dion mengambil sesuatu dari dalam mobilnya lalu menarik rambut Shakila kasar.


"Ini adalah racun yang sama seperti yang ibuku minum di depan Cileno Josan."


Shakila pun mengerti akan apa yang akan Dion lakukan. Shakila pun ketakutan.


"Tidak. Dion, maafkan akkk kkkhh."


Dion mencengkeram kuat rahang Shakila ketika sedang berbicara. Dion pun langsung menuangkan racun itu ke mulut Shakila. Kemudian Dion membekap mulut Shakila agar racun itu tidak berhamburan.


Dion diam beberapa saat memastikan racun itu turun melalui tenggorokan Shakila.


Beberapa menit kemudian tubuh Shakila kejang-kejang, Dion pun segera membuang tubuh Shakila yang dalam keadaan sekarat itu.


"Lenyap lah dari dunia ini Josan."


Byurr.


Setelah tubuh Shakila di telan gelombang arus sungai, Dion mendongakkan kepalanya melihat langit dengan gumpalan awan mendung.


"Ayah, ibu, Diany, sekarang kalian bisa beristirahat dengan tenang di sana. Tersenyumlah untukku agar bisa melewati kehidupan hampa ini." Ucap Dion tersenyum dengan bibir bergetar dan air mata yang mengalir.


Beberapa detik kemudian, hujan pun turun dengan derasnya sederas air mata Dion saat ini yang sedang menangis sejadi-jadinya di bawah guyuran air hujan.


Dion benar-benar kacau saat ini. Di satu sisi, dirinya sangat lega karena dendam telah terbalaskan. Di sisi lain, hatinya sangat hancur karena tangannya telah membunuh orang. Dalam apapun kondisinya, dia tidak pernah ada  keinginan untuk membunuh.


Tapi kenyataannya saat dirinya tidak mengenal Shakila pun, Shakila yang mempunyai darah Josan di tubuhnya masih memberikan efek kesengsaraan untuk dirinya dan adiknya. Sehingga mau tidak mau Dion sebagai keluarga Jayas yang paling dibuat menderita olehnya, harus menghabisi darah Josan agar tidak menimbulkan kesengsaraan lagi selain pada keluarganya dan juga Lyn.

__ADS_1


***


__ADS_2