Desain Cinta CEO Dingin

Desain Cinta CEO Dingin
malam pertama


__ADS_3

Bab 60


Setelah makan malam keluarga di restoran, Edgar yang ingin membawa Lyn ke hotel pun di larang oleh orang tua Edgar, karena mereka ingin tinggal bersama menantunya sebelum pergi lagi ke negara M.


Jadi Edgar pun menuruti keinginan orang tuanya untuk malam pertamanya di kamar mewah miliknya.


Di kamar Edgar


Lyn merasa canggung saat memasuki kamar Edgar, terlebih saat Edgar memeluknya dari belakang.


Edgar menciumi leher jenjang Lyn sambil menghirup aroma Lyn yang memabukkan baginya.


Tubuh Lyn meremang dan mendadak menjadi tegang di buatnya. Saking tegangnya, tubuh Lyn terlihat seperti sedang gemetar.


Edgar pun melepaskan pelukannya dan berjalan menuju laptopnya.


"Sayang, mandilah dulu. Aku akan mengecek email dulu sebentar." Ucap Edgar sebelum membuka laptop.


Lyn pun buru-buru masuk ke kamar mandi dengan jantung yang dag-dig-dug.


"Apakah malam pertama ini aku harus melakukannya?"


Wajah Lyn memerah saat memikirkannya.


Tak ingin berlarut dalam pikirannya, Lyn memutuskan untuk berendam di bathtub karena memang dirinya butuh relaksasi dari ketegangan barusan.


Setelah 20 menit, Lyn keluar dari kamar mandi dengan memakai piyamanya. Edgar yang melihatnya pun segera memasuki kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa sangat gerah karena menahan hawa panas dalam tubuhnya.


Lyn yang telah selesai mengeringkan rambutnya dengan hairdryer seketika teralihkan oleh Edgar yang keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk kecil yang menutupi juniornya saja.


Tubuh atletis Edgar yang masih lembab itu benar-benar membuat Lyn menahan nafasnya ketika melihatnya. Jangan lupakan rambut basah Edgar yang semakin menambah keseksian tubuhnya.


Tak sadar Lyn menelan salivanya dengan mata yang tak berkedip melihat tubuh Edgar.


Edgar yang melihat reaksi istrinya itu pun tersenyum tipis.


Edgar membelakangi Lyn sembari melepaskan handuk kecil nya dan menggunakannya untuk mengeringkan rambutnya. Pemandangan itu dilihat oleh mata telanjang Lyn sehingga matanya membola saking terkejutnya.


'Kenapa dia tidak tahu malu seperti ini sih.' Batin Lyn.


"Kakak,"


"No. Panggil aku sayang!" Sela Edgar


"S-sayang." Panggilan baru ini benar-benar asing untuk Lyn.


"Mengapa tidak segera memakai baju?"


"Bukankah lebih akan menyenangkan jika malam pertama kita tidak memakai baju?." Ucap Edgar dengan membalikkan tubuhnya.


"Aaaaaaaaa terong emas." Pekik Lyn dengan menutup matanya dengan tangan tapi masih bisa mengintip.

__ADS_1


"Terong emas?" Edgar mengerutkan keningnya sembari berjalan mendekati Lyn.


"Itu.. itu besar seperti terong ungu."


"Lalu kenapa kamu menyebutnya terong emas?" Tanya Edgar penasaran.


"Karena kakak orang yang sangat kaya, emas itu kan identik dengan kekayaan." Ucap Lyn dengan masih memejamkan matanya karena dia tahu Edgar sudah ada di depannya.


Edgar pun terkekeh mendengar jawaban Lyn. "Kau ini ada ada saja."


"Lalu bagaimana dengan berlian mu? Aku sangat ingin melihatnya."


Lyn yang berjalan mundur pelan pelan pun segera di hentikan Edgar dengan meraih tangan Lyn, menggenggamnya dan menciumnya dengan romantis, perlahan membawanya kepada terong emasnya.


"Apa kamu tidak ingin merasakan terong emas ini?"


Seketika mata Lyn terbuka lebar saat menyentuh terong emas yang sudah sangat keras. Saking terkejutnya, mulut Lyn mengaga lebar. Itu adalah kesempatan Edgar untuk menguasai rongga mulut Lyn dengan memasukkan lidahnya, menghisap dan membelitkan lidahnya dengan penuh nnafsu.


Mendapat serangan yang mendadak itu, Lyn semakin terkejut sehingga dirinya lupa untuk bernafas. Edgar melepaskan ciumannya agar Lyn bisa mengambil nafas dulu.


Hah. Hah.


Wajah Lyn memerah karena rasa sesak dari ciuman ganas itu.


Lyn yang masih mengatur nafasnya seketika merasakan tubuhnya melayang saat Edgar menggendongnya ke tempat tidur.


Edgar membaringkan tubuh Lyn perlahan kemudian menindihnya.


Edgar menatap ke dalam mata Lyn dengan penuh cinta.


"Sayang, aku mencintaimu. Sangat mencintaimu." Ucap Edgar dengan suara seraknya yang terdengar seksi di telinga Lyn.


Lyn dapat merasakan cinta Edgar melalui sorot matanya. Lyn yang awalnya takut pun perlahan tersenyum dan malah mengalungkan tangannya di leher Edgar.


Edgar yang mendapat lampu hijau dari istrinya pun langsung mencium bibirnya dengan sangat lembut yang berubah menjadi sangat menuntut.


Dan semakin lama dengan rasa gemas yang amat membuncah bersama gairahnya, Edgar telah berhasil menguasai tubuh Lyn di malam pertamanya itu.


"Terimakasih sayang." Ucap Edgar dengan nafas yang tersengal-sengal.


Kemudian Edgar mencium puncak kepala Lyn sebelum berbaring di sampingnya.


Dengan nafas yang masih memburu, Edgar dan Lyn saling berpelukan kemudian terlelap karena kelelahan.


***


Keesokan harinya saat matahari mulai meninggi, Lyn membuka matanya karena merasa sangat silau.


Engh..


Ssshhh…

__ADS_1


Lyn terbangun dengan rasa sakit di sekujur tubuhnya, terlebih di bagian intinya.


Seketika terdengar suara laki-laki yang sangat di kenalnya.


"Sudah bangun sayang?"


Edgar keluar dari kamar mandi hanya menggunakan boxer sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.


Tak lama kemudian, Edgar menuju ranjang dimana Lyn hanya diam melihat dirinya tak berkedip. Sudah dipastikan jika Lyn sedang terpesona pada suaminya.


Edgar yang sudah duduk di ranjang pun mencium kening Lyn dan berlanjut dengan ciuman bibir yang membuat Lyn kelabakan. Lyn pun mendorong dada Edgar saat merasa sudah kehabisan nafas.


"Ayo, mandi dulu. Aku sudah siapkan air hangat."


Edgar langsung menyingkirkan selimut yang menutupi Lyn dan mengangkat tubuhnya ke kamar mandi.


"Mandilah, setelah itu kita akan langsung sarapan."


Setelah meletakkan Lyn di bathtub, Edgar pun keluar dari kamar mandi untuk berpakaian.


Sedangkan Lyn memejamkan matanya merasakan air hangat dan aromatic yang membuatnya rileks.


Saat akan keluar kamar menuju lift, Edgar melihat Lyn yang kesusahan berjalan pun menggendongnya memasuki lift.


"Jika berlian mu masih sakit, biarkan aku menggendong mu." Ucap Edgar saat melihat Lyn yang akan bersuara.


Ting.


Pintu lift terbuka, Lyn menghentikan Edgar setelah keluar dari lift itu.


"Stop."


Edgar berhenti seketika.


"Kak,"


Edgar melotot.


"Em, sayang, bisakah menurunkan ku disini? Aku bisa kok berjalan sendiri."


"Tidak." Kemudian Edgar bergegas berjalan ke meja makan.


Sepanjang perjalanan, pemandangan ini tak luput dari perhatian para pekerja yang ada di mansion Edgar. Mereka bersorak gembira akan pemandangan romantis dari tuan dan nyonya muda nya itu.


Setibanya di ruang makan, Edgar menurunkan Lyn setelah kursi untuk Lyn di tarik oleh pelayan.


Lyn duduk dengan wajah yang merona karena telah menjadi tontonan para orang tua yang ada di meja makan itu. Pasalnya para orang tua itu melihat dirinya terus-menerus dan tersenyum puas. Terutama Eddies, dia yang selalu usil dan jahil di setiap kesempatan kali ini hanya tersenyum bangga kepada putranya. Itu membuat Edgar menjadi salah tingkah dan hanya bisa mengalihkan perhatiannya pada makanan.


"Eh, kalian baru bangun ya.." kemudian Melliana mengambilkan makanan ke dalam piring Edgar dan Lyn bergantian. "ini makan yang banyak ya sayang."


Celina pun melakukan hal yang sama kepada putri dan menantunya.

__ADS_1


Lyn menoleh kepada Edgar dengan tatapan bingungnya seakan bertanya tentang kejadian yang ada di depannya ini. Namun Edgar hanya mengusap tengkuknya tersenyum kikuk.


__ADS_2