
Bab 38
Pagi tadi, Shakila tiba-tiba saja terciduk polisi karena membawa beberapa jenis obat terlarang ke proyek.
"Arghh, siapa yang berani memfitnah ku di proyek? Padahal aku tidak bisa berinteraksi dengan siapapun si negara ini, apakah aku tidak sengaja menyinggung seseorang?."
"Tunggu… apakah Edgar?"
Saat tenggelam dalam pikirannya, tiba-tiba saja bibirnya terangkat menyunggingkan senyuman licik dibalik jeruji besi.
'Itu artinya adikku tersayang sudah berada di rumah sakit hari ini kan?' Batin Shakila dengan perasaan puas akan kesempatan yang alam berikan untuknya.
Pada saat sedang berada di proyek, saat itu Shakila menemukan sebuah hp terjatuh di bawah kakinya. Dia menyeringai licik saat tahu sebuah kesempatan yang di tunggu-tunggu pun menghampirinya.
Shakila pun dengan cepat masuk ke toilet. Di dalam toilet dia segera membuka media sosial pribadinya karena tidak hafal untuk menulis email. Shakila pun dengan cepat menuliskan pesan pada seseorang.
[Jika ingin menggoyahkan Milo, maka buatlah Lyn masuk rumah sakit. Dengan begitu, Milo selaku pelindung Edgar pasti akan turun tangan dan berfokus padanya.]
Pesan itu sangat berguna bagi paman Milo. Dia dengan segera memerintahkan anak buahnya untuk mencelakai Lyn agar bisa menggoyahkan Milo pada persiapan penyerangannya.
Bagi Shakila ini adalah hal yang menguntungkannya, karena dia masih bisa terus mematahkan semangat hidup Lyn agar tidak pernah bahagia meskipun Lyn sedang jauh dari jangkauannya.
***
Hari ini Lyn sudah pulang dari rumah sakit setelah mendapatkan ocehan Edgar selama 5 hari penuh.
Tampaknya, alam bawah sadar Lyn benar-benar bekerja keras untuk membuat tubuhnya kembali sehat dengan cepat hanya dengan ocehan konyol Edgar.
Sesampainya di mansion, Edgar mengantar Lyn ke kamarnya untuk beristirahat dahulu sambil menunggu waktu makan siang.
"Mulai besok, akan ada dokter dermatology yang akan merawat wajahmu. Setelah luka itu sembuh, aku akan membawamu untuk operasi plastik kembali."
"Operasi plastik lagi? Menurutku itu tidak perlu. Cukup sembuhkan saja luka ini." Ucap Lyn dengan perasaan tidak enaknya.
Edgar menoyor pelan kening Lyn.
"Tulang hidungmu rusak terkoyak, apa kamu mau bernafas hanya dengan satu lubang hidung saja."
Lyn hanya diam tampak berfikir.
"Sudahlah ikuti saja peraturan dariku."
Lyn pun hanya mengangguk pasrah.
__ADS_1
"Ya sudah, cepatlah masuk ke kamarmu untuk istirahat. Aku akan ke ruang kerja dulu."
Namun, langkah kaki Edgar tiba-tiba berhenti dan membalikkan tubuhnya. Lyn yang akan membuka pintu kamar nya pun segera menghentikannya.
"Mulai sekarang jangan pergi tanpa aku disampingmu. Apapun itu alasannya, meskipun itu sangat mendesak, termasuk jika orang tua mu yang memintanya, jangan pernah keluar dari mansion ini. Karena sekarang tidak ada Milo yang bisa ditakuti oleh musuhku."
Mendengar Edgar mengucapkan nama Milo, Lyn menjadi teringat terakhir kali saat di ruang VIP ketika Milo meminta maaf sebelum pergi.
"Kak Ed, apa arti dari ucapan kak Milo saat di ruang VIP waktu itu? Sebenarnya ada apa dengan kak Milo?"
"Aku akan menjelaskannya setelah kamu menjalani operasi plastik."
***
Hari yang cerah untuk Dion yang baru saja keluar dari rumah sakit. Dion di rawat selama beberapa hari karena tubuhnya mengalami demam tinggi akibat infeksi yang didapat dari selama penganiayaan di lorong 28.
Dion yang masih memiliki waktu istirahat dari perusahaan, memutuskan untuk mengunjungi adiknya di rumah sakit jiwa.
Setelah keluar dari kamar adiknya, Dion melihat ada seekor kalajengking di depan pintu. Karena takut kalajengking itu akan masuk ke kamar adiknya dan menyakitinya, Dion segera membunuh kalajengking itu menggunakan sapu kemudian membuangnya ke selokan.
Saat akan kembali untuk menyimpan sapu itu, tiba-tiba ada seorang laki-laki dan wanita paruh baya yang marah-marah kepada Dion dengan seorang anak laki-laki berusia 12 tahun yang sedang menangis.
"Oh.. jadi ini orang yang sudah mukul keponakan saya."
"Keponakan saya itu ada yang mukul pake sapu di halaman ini. Udah jelas-jelas disini itu cuma kamu yang pegang sapu."
"Tapi saya gak mukul siapapun di sini. Saya menggunakan sapu ini untuk membunuh kalajengking yang akan memasuki kamar adik saya tadi."
"Jadi maksud kamu keponakan saya yang bohong?." Geramnya laki-laki paruh baya itu.
"Beraninya ya kamu mukul anak kecil udah gitu pake gak ngaku lagi. Udah pukul aja dia pah, biar dia kapok gak mukul anak kecil lagi." Titah wanita paruh baya.
Laki-laki itu segera mengambil sapu yang di pegang Dion kemudian memukulnya dengan buas hingga sapu itu patah.
Bug. Bug.
Setelah sapu itu patah, mereka segera meninggalkan Dion yang sedang duduk menekuk dengan tangan yang sedang melindungi kepalanya.
'Baru saja luka ini sembuh, sekarang aku sudah di pukuli lagi. Lyn, inikah yang kamu rasakan saat itu?' batin Dion dengan sebuah penyesalan.
***
Siang hari yang cerah, pesawat Edgar telah mendarat di Korea Selatan.
__ADS_1
Setelah memasukkan koper ke kamar hotel, Lyn langsung menemui dokter untuk konsultasi ke klinik MIP surgery; tempat dimana Lyn operasi plastik sebelumnya.
Kali ini, Edgar sendiri lah yang mendampingi Lyn ke Korea untuk operasi plastik, karena Lily sudah mengundurkan diri dari pekerjaannya setelah memenangkan Paris Fashion.
Lyn yang mempunyai jadwal operasi plastiknya besok siang, memutuskan untuk berbelanja kebutuhannya dan berjalan jalan sejenak untuk menghirup udara malam agar esok hari dia bisa rileks.
Karena hari sudah semakin malam, Edgar membawa Lyn ke kamar hotelnya setelah makan malam.
Lyn berjalan ke ranjangnya dengan bersenandung pelan. Sepertinya efek dari aromaterapi saat berendam di bathtub membuat moodnya kembali baik. Dengan begitu, Lyn akan mempunyai tidur yang berkualitas.
Saat Lyn naik ke atas ranjang, tiba-tiba dia teralihkan oleh Edgar yang berjalan menuju kamar mandi.
Terdengar suara gemericik air menandakan Edgar sedang mandi di dalamnya. Setelah keluar dari kamar mandi dengan memakai piyama, Edgar pun menuju ke sebuah meja minimalis mirip dengan meja belajar yang ada di kamar itu kemudian membuka laptop nya. Pemandangan ini di lihat oleh Lyn dengan wajah bingungnya.
Dirasa sedang ada yang memperhatikan, Edgar mengalihkan pandangannya ke arah Lyn dengan wajah coolnya.
"Tidurlah, ini sudah larut. Aku masih harus mengecek email dulu."
Lyn pun mengerti mengapa Edgar masih ada di dalam kamarnya setelah menumpang mandi.
Lyn yang sudah merasa lelah pun langsung saja merebahkan tubuhnya dan mengambil posisi tidur yang nyaman. Tak lama kemudian, dirinya dengan cepat masuk ke alam mimpinya.
Satu jam kemudian, Edgar yang sudah selesai dengan urusan pekerjaannya, langsung merebahkan diri di sebelah Lyn yang sekarang sudah berubah posisi terlentang. Edgar tersenyum ketika melihat wajah Lyn yang sedang pulas. Seketika saja dia teringat kejadian sewaktu di kamar yang ada di ruangan ceo-nya, dimana dirinya bisa tidur nyenyak karena memeluk Lyn. Malam ini Edgar sangat senang karena dia berpikir akan bisa tidur nyenyak dengan memeluk gadisnya lagi.
Sebelum tidur Edgar mencuri kesempatan untuk menciumi wajah Lyn. Lyn yang merasa tidurnya di usik tiba-tiba saja merubah posisi dan memeluk Edgar layaknya guling.
Edgar terkejut kemudian tersenyum senang dengan posisi itu. Pasalnya, gadisnya sudah memeluknya lebih dulu sebelum dirinya akan memeluknya.
Namun, dirinya sungguh sial ketika kaki Lyn berada tepat di atas junior nya dan membuatnya menjadi tegang.
Edgar yang sudah sangat mengantuk menjadi frustasi di buatnya.
'Oh junior.. mengapa kau terbangun di saat aku ingin tidur..' batin Edgar.
Edgar perlahan mencoba memindahkan kaki Lyn, tapi Lyn malah semakin mempererat pelukannya bahkan kakinya sempat menggesek di bagian juniornya.
Edgar benar-benar mengumpat dalam hatinya. Dirinya bisa saja melepaskan pelukan itu dengan paksa, tapi dia takut akan mengganggu tidur Lyn mengingat besok adalah jadwal operasi plastiknya.
Edgar menghembuskan nafasnya berkali-kali agar bisa sedikit rileks dari ketegangan itu. Namun, tiba-tiba Lyn malah menelusupkan wajahnya ke ceruk leher Edgar.
Hembusan nafas Lyn yang mengenai kulit lehernya membuatnya merinding seperti ada sesuatu yang memberontak dalam dirinya.
'Oh ****.. sepertinya aku tidak akan bisa tidur malam ini.' Batin Edgar.
__ADS_1
***