Desain Cinta CEO Dingin

Desain Cinta CEO Dingin
bulan madu


__ADS_3

Bab 63


Setelah makan malam, para wanita langsung memasuki kamarnya masing-masing yang sudah di pesan. Sedangkan para laki-laki pergi bermain biliar untuk melepas kerinduan mereka yang sudah tidak bertemu 2 tahun dengan Milo.


Di kamar pengantin yang sudah di penuhi oleh aura romantis di dalamnya, Lyn langsung tertidur dengan sangat pulas begitu memasuki kamarnya karena kelelahan. Saking lelahnya Lyn tidak mengganti gaun pengantin ataupun menghapus riasan wajahnya. Sepertinya dia benar-benar tepar malam ini.


Edgar baru memasuki kamarnya saat waktu telah menunjukkan dini hari. Dan dirinya melihat Lyn yang sudah tertidur pulas dengan kondisi tubuh yang masih sama seperti di pesta tadi. 


"Sepertinya dia benar-benar kelelahan." Gumam Edgar.


Edgar pun mengambil tas Lyn yang ada di atas nakas dan duduk di sampingnya yang sedang tidur. Kemudian Edgar membersihkan wajah Lyn dengan selembut mungkin dengan penghapus makeup yang ia sering lihat ketika Lyn menggunakannya. 


Setelah wajah Lyn sudah bersih, Edgar beralih pada gaun pengantin yang masih melekat di tubuh Lyn kemudian perlahan membukanya dengan susah payah agar istrinya itu tidak terganggu tidurnya. 


Namun tiba-tiba saja Edgar tersenyum tipis saat gaun itu sudah tanggal dari tubuh Lyn. 


"Maaf sayang, sepertinya malam ini kamu akan semakin lelah." Bisik Edgar.


***


1 bulan kemudian


"Tuan muda, lebih baik kita panggil dokter saja ya, saya sangat khawatir dengan kondisi anda." Ucap Jimi. Namun Edgar hanya menggeleng pelan menolaknya. 


Kondisi Edgar beberapa hari terakhir benar-benar seperti orang yang belum makan satu bulan, terlihat lesu, sayu, tidak ada semangat ataupun gairah. 


Edgar selalu menolak di bawa ke dokter atau hanya sekedar memanggil dokter untuk mengecek kondisi kesehatannya. Bahkan Edgar sempat tidak masuk kerja selama 2 hari dan hanya berdiam diri di kamarnya bersama Lyn. 


Kondisi kesehatan Edgar yang seperti ini menyebabkan pekerjaannya menjadi terbengkalai dan menyebabkan beberapa kekacauan dalam pertemuan penting dan jadwal lainnya. 


Tak lama kemudian, Edgar teralihkan oleh sosok yang sangat di butuhkan nya saat ini. 


Edgar pun memberi kode kepada Jimi untuk keluar ruangannya.


Melihat Jimi sudah keluar dari ruangan itu, Lyn langsung duduk di pangkuan Edgar dengan mencium bibir nya. 


"Ada apa?" Tanya Lyn yang melihat wajah Edgar yang sangat lesu seperti beberapa hari sebelumnya.


Edgar menggeleng pelan. "Aku hanya sedikit lelah." 


"Panggil dokter saja ya, aku khawatir karena kondisi mu akhir akhir ini selalu seperti ini."


Edgar hanya diam dan memilih menelusupkan wajahnya di dada Lyn sembari menghirup aroma Lyn dalam pelukannya. 


Setelah 5 menit, Lyn yang sudah tidak tahan dengan pelukan itu pun menangkap wajah Edgar sehingga jarak antara keduanya hanya satu jengkal saja. 

__ADS_1


"Sayang, tahu gak kenapa tiba-tiba aku datang kemari?"


Edgar menggeleng pelan. 


Tangan kanan Lyn bergerak turun perlahan menyusuri leher dan berhenti di dada Edgar. "Karena aku begitu merindukan terong emas." Ucap Lyn dengan suara sensualnya. 


Edgar tersenyum tipis, sedetik kemudian mengangkat tubuh Lyn ke dalam kamar di ruangan itu. 


"Lihat, wajahmu bersinar lagi setelah bercinta." Ucap Lyn dengan nafas tersengal setelah melakukan dua kali olahraga ranjangnya.


"Benarkah? Aku juga memang merasa staminaku terisi lagi."


"Jadi itulah kenapa kamu bisa sembuh jika berada di kamar dengan ku?" 


Selama 2 hari itu, Edgar yang tidak pernah keluar kamarnya memang bukan tanpa alasan. Di balik alasan kesehatannya yang kurang fit, Edgar dan Lyn menghabiskan waktunya dengan kegiatan ranjangnya yang tiada henti. Bahkan mereka hanya akan berhenti jika makan dan tidur sejenak untuk melepaskan lelahnya dari aktivitas ranjang itu. 


Edgar menaikkan sebelah alisnya sedetik kemudian tersenyum "Mungkin saja." 


Kemudian Edgar teringat tentang 2 hari yang ia habiskan di kamar itu. Dia teringat jika Lyn sangat mendominasi di kamarnya.


"Sepertinya akhir akhir ini gairah mu sangat tinggi. Kita percepat bulan madunya saja yuk." 


"Ide bagus." 


Edgar keluar dari kamar pribadi itu dengan wajah cerah dan sumringah. Seketika, Edgar terdiam melihat jam tangannya. 


"Ya bagaimana tidak sangat lapar, jika anda telah menghabiskan waktu selama 3 jam di dalam kamar. Memangnya, apa saja sih yang anda lakukan dengan nona sampai bisa selama itu?" Jimi menggerutu dalam hati.


"Maaf tuan muda, tadi saya ingin ingatkan anda, tapi saya tidak ingin mengganggu kenyamanan anda bersama nona muda."


"Ya sudah, tolong pesankan makanan untukku dan juga Lyn." 


"Baik tuan muda."


Setelah makan siang, Edgar bisa bekerja dengan baik seperti biasanya dan langsung pergi untuk menghadiri pertemuan penting yang tertunda. 


Sedangkan Lyn, dia masih berada di kamar pribadi itu untuk istirahat. 


Dan setelah hari itu, Jimi telah merubah semua jadwal serapih mungkin agar tuan mudanya itu bisa segera bulan madu dengan nyaman. 


Bulan madu itu akan di langsungkan 5 hari lagi. Dan dalam 5 hari ini juga lah Edgar bekerja dengan sangat giat untuk merampungkan pekerjaannya yang telah menggunung karena sempat terbengkalai. 


Dan tentu saja energi Edgar itu tidak lepas dari peran Lyn yang berada di kamar pribadi ruangannya. Ketika Edgar sudah merasa lelah menjalani beberapa jadwalnya, Edgar akan langsung pergi ke kamar itu menemui istrinya untuk mengisi energinya. Setelahnya, Edgar akan kembali bekerja lagi dengan baik tanpa ada guratan lesu yang menghiasi wajahnya seperti beberapa hari terakhir. 


***

__ADS_1


Di kamar hotel, Bali. 


Setelah sarapan, Lyn mengajak Edgar untuk turun ke pantai karena ingin main pasir.


"Sayang, ayo kita turun. Aku ingin membuat istana pasir." Ucap Lyn sembari menarik tangan Edgar.


"Baiklah, tapi kamu pakai baju dulu." 


Lyn menepuk jidatnya saat melihat tubuhnya yang memang tidak memakai sehelai benang pun. "Oh iya, aku lupa." 


Lyn membuka kopernya untuk mengambil baju. Sedangkan Edgar memasuki kamar mandi.


Setelah menunggu Edgar dari kamar mandi, Lyn pun dengan semangat yang membara menggandeng tangan Edgar agar segera turun ke pantai.


"Sayang sudah selesai? Ayo."


Namun langkah Lyn terhenti saat pemilik tangan yang digandeng nya itu hanya diam saja.


"Sayang, kenapa diam saja.. ayo kita turun." Rengek Lyn.


"Kenapa bajumu tidak di pakai?" Ucap Edgar sambil menunjuk sebuah baju yang ada di atas kasur.


"Baju?" Lyn melihat tubuhnya sejenak. "Oh, aku ingin memakai ini saja, ini sangat nyaman."


"Jadi kamu akan keluar dari kamar ini hanya dengan memakai bikini?" Edgar mengeram.


"Iya, karena nanti aku ingin bermain air juga."


"Aku tidak mengizinkan mu keluar dari kamar ini jika hanya memakai bikini itu."


"Tapi, aku sangat ingin memakai bikini ini." Lyn memonyongkan bibirnya.


Edgar menghela nafasnya.


"Kamu boleh memakainya bersama dengan baju."


"Jika pakai baju nanti bikininya tidak terlihat." Sedetik kemudian Lyn terkejut dengan apa yang di ucapkannya.


"Jadi niatmu dari awal memang ingin memperlihatkan bikini itu untuk orang di luar sana?" Edgar memberikan tatapan membunuhnya.


"Karena niatmu seperti itu, aku akan menghukummu."


Edgar pun segera merobek paksa bikini itu dan melempar tubuh Lyn ke atas kasur. 


"T-tidak seperti itu. Maksudku, aku ingin berfoto menggunakan bikini ini di pa... Ah.." 

__ADS_1


Dalam sekejap, suara Lyn berubah menjadi des*h*n karena Edgar mencumbunya dengan penuh gairah. 


Edgar melakukannya berkali-kali dan baru berhenti ketika Lyn sudah terlelap karena kelelahan.


__ADS_2