Desain Cinta CEO Dingin

Desain Cinta CEO Dingin
menyatakan cinta


__ADS_3

Bab 42


Keesokan harinya, Edgar kembali membawa Lyn ke rooftop di lantai paling atas untuk menikmati sunset.


Pembicaraan mereka diawali oleh Edgar dengan suara khas dingin dan elegannya.


"Apa kamu tidak menyukaiku?"


Lyn mengerutkan keningnya. 


"Kakak, anda sangat tampan dan mapan. Semua wanita di negri ini sangat tergila-gila padamu karena kakak adalah pria impian setiap wanita. Hanya orang bodoh yang tidak menyukaimu."


Jawaban Lyn begitu naif, entah karena dia bodoh atau karena dia tidak mengerti akan situasi membuat Edgar hanya diam tenggelam dalam pikirannya.


Beberapa menit kemudian saat suasana dalam keadaan romantis karena pancaran rona merah kekuningan sunset, Edgar melihat Lyn dengan tatapan penuh cinta. 


Lyn pun merasakan sorot mata yang penuh cinta itu menggetarkan hatinya. Wajahnya tersipu saat merasakan getaran cinta itu. Meskipun begitu, Lyn masih belum mengerti arti dari getaran cinta yang dirasakannya saat bersama Edgar.


Edgar yang melihat gadis kecilnya tersipu, mulai melancarkan rencananya.


"Aku menyukai seseorang dan berencana akan menyatakan cinta padanya."


Deg.


Entah kenapa hati Lyn sangat sakit seperti disayat-sayat. Padahal harusnya Lyn senang karena CEO yang dipanggilnya kakak ini sudah menemukan cintanya.


Bibir Lyn tersenyum tapi matanya tidak bisa menyembunyikan perasaan sesak itu.


Edgar melihatnya pun tersenyum tipis.


"Mengapa sepertinya kamu terlihat tidak senang jika aku akan menyatakan cinta?"


"Ah, tidak. Tidak seperti itu. Aku sangat senang mendengarnya. Aku hanya sedikit pusing saja."


"Benarkah? Bukankah hatimu sedang merasa sakit dan sesak saat ini?"


'Itu, kenapa dia bisa tahu?' Batin Lyn.


"Itu adalah perasaan kehilangan karena orang yang dicintainya memilih wanita lain untuk dicintai."


'Benarkah seperti itu? Tapi.. kak Ed kan bukan siapa-siapa nya aku.' Gumam dalam hati Lyn.


Edgar mengeluarkan kotak perhiasan yang berisi kalung berlian Alexandrite.


"Kamu ingat saat aku memberitahumu kalung ini, aku pernah mengatakan bahwa kalung ini akan aku berikan untuk calon istriku kelak."


Lyn melihat kalung itu dengan sedikit mengingat. Saat mengingatnya, dada Lyn semakin sesak. Entah mengapa dirinya seperti ingin menangis, tenggorokannya seperti tercekik karena menahan tangisnya.


"Ya aku ingat. Lalu dimana calon istri kakak, apakah dia ada disini juga?" Ucapnya lirih.


"Ya, dia ada disini. Dihadapan ku." Ucap Edgar dengan pandangan yang tidak pernah lepas dari wajah Lyn.


Lyn yang sedang celingukan mencari seseorang disekitarnya pun menjadi terkejut. Kemudian Lyn melihat belakangnya. Di saat Lyn tahu bahwa tidak ada orang lain selain dirinya di depan Edgar, Lyn menunjuk wajahnya dengan bingung.


"Aku…?"


"Ya, kamulah gadis yang akan menjadi calon istriku kelak. Kalung ini ku desain sesuai dengan dirimu, cantik, polos dan elegan."

__ADS_1


Mendengarnya, hati Lyn menjadi lega. Dadanya yang begitu sesak seketika seperti ada semilir angin yang menyejukkannya.


"Apa dada mu yang sesak itu merasa lega dan sejuk saat mendengar bahwa dirimu lah calon istriku?"


'Hah, lagi-lagi dia tahu.' batin Lyn.


"Itu adalah cinta Yocelyn. Perasaanmu yang sesak saat aku akan menyatakan cinta pada wanita lain dan merasa lega saat wanita pilihanku adalah dirimu, itu adalah perasaan cinta."


"Apakah kamu merasa nyaman saat di pelukan ku? Apa kamu merasa ada yang hilang saat aku sedang jauh darimu? Apa kamu merasakan sakit jika aku sedang bersedih? Apa kamu menginginkan aku hidup bahagia?"


"Ketahuilah Lyn, itu adalah bentuk cintamu padaku. Dan kamu sudah mencintaiku sejak berada di mansion, tapi kamu belum mengerti akan perasaan mu sendiri."


'Ya. Semua itu benar. Perasaan itu, apa benar-benar cinta untukmu? Atau hanya perasaan seorang adik untuk kakaknya yang begitu dihormati?' batin Lyn.


Perang batin Lyn membuatnya dilema.


Edgar melihatnya pun berusaha untuk membuat Lyn mengerti akan perasaannya.


"Gadis kecilku, kamu tahu kenapa aku bisa memanggilmu gadis kecil? Itu karena aku amat menyayangimu. Rasa sayang ini tumbuh dengan cepat setelah kita bersama. Pada saat pertemuan pertama, entah bagaimana aku sudah tertarik denganmu hanya dengan melihat matamu. Rasa ingin melindungi, merawat, dan menjagamu begitu besar saat melihat mu menderita. Itulah kenapa saat tandatangan kerjasama aku memaksamu untuk tinggal di mansion. Karena alasan lainnya, agar aku selalu bisa melihatmu setiap hari dan memastikan mu hidup dengan baik dan sejahtera."


"Aku begitu menyukai kinerja dan rasa percaya dirimu, tapi Milo menyadarkan ku akan perasaanku terhadapmu disaat aku frustasi melihat dirimu masuk rumah sakit karena dianiaya. Awalnya aku mengira itu semua adalah bentuk rasa kemanusiaan ku akan rasa iba terhadapmu. Namun saat melihatmu menemui Dion, hatiku sangat sesak melihatnya. Entah mengapa aku begitu egois tidak ingin dirimu berinteraksi dengan laki-laki manapun meskipun itu adalah teman dekatmu. Akhirnya aku menyadari bahwa semua rasa yang ada selama bersamamu adalah cinta." 


"Aku mencintaimu dari pandangan pertama. Yocelyn, aku mencintaimu."


Lyn mencerna semua ungkapan perasaan Edgar. Dirinya sangat bingung dengan perasaannya terhadap Edgar yang masih belum menemukan benang merah menurutnya.


"Kakak, mungkin rasa sayang itu karena aku adalah seorang adik untukmu. Dan juga, rasa cinta itu mungkin karena aku sangat berguna untuk bisnismu sesuai dengan kriteria mu."


'Inikah yang dinamakan polos dan bodoh itu beda tipis?' Batin Edgar.


Edgar menghembuskan nafasnya perlahan mencoba bersabar.


Lyn mengatakannya dengan sedikit ragu.


"C-CEO Dingin yang tidak pernah peduli apapun kecuali pekerjaan dan keluarganya."


"Lalu kenapa aku sangat peduli padamu jika jawabannya adalah kau akan menjadi anggota di keluargaku."


Mendengar itu Lyn pun paham . Sangat tidak masuk akal jika seorang dingin seperti kutub utara bisa peduli dengan seorang gadis biasa sepertinya dan selalu melindunginya. 


Jika itu memang karena berguna untuk bisnisnya, banyak gadis-gadis yang sangat berbakat dan berguna untuk bisnisnya di perusahaan, tapi hanya dirinya orang asing yang ada di mansion Edgar.


Melihat Lyn yang seperti sudah mengerti akan arti perlakukan khususnya selama ini, Edgar pun menangkup kedua pipi Lyn dengan sangat lembut.


"Sekarang kamu sudah tahukan kenapa kamu adalah satu-satunya orang luar yang ada di mansion ini selain keluargaku dan Milo."


"A…"


Belum sempat Lyn berbicara, Edgar dengan cepat menempelkan bibirnya di bibir Lyn. Mulut Lyn yang sedikit terbuka saat akan berbicara itu membuat Edgar mudah untuk memasukkan lidahnya menjelajahi rongga mulut Lyn.


Edgar melancarkan aksi ciumannya dengan sangat lembut dan penuh cinta sehingga Lyn tidak sadar jika dirinya menutup mata sedang menikmati ciuman itu.


Dirasa sudah cukup, Edgar melepaskan pagutan bibirnya diiringi dengan ibu jarinya mengusap bibir Lyn yang basah.


"Apakah jantung mu berdetak kencang saat ini?"


Lyn yang sedang merasakan detakan jantung yang sangat kencang hanya diam seperti sedang berusaha mengendalikannya.

__ADS_1


"Sepertinya kamu sangat menikmatinya sampai begitu terhanyut dalam kelembutan ciumanku." Goda Edgar.


Wajah Lyn mendadak seperti kepiting rebus. Dia sangat malu sampai tidak berani melihat kemanapun selain melihat ujung sepatutnya.


Edgar mengangkat dagunya perlahan dengan telunjuknya.


"Lihat mataku dengan baik."


"Aku sangat mantap ketika memilihmu untuk menjadi istriku."


Lyn melihat kedalam mata Edgar dimana terdapat sebuah keseriusan yang tidak terbantahkan.


"Apa kamu ingat ucapanku saat di taman Trocadero?"


Lyn mencoba mengingatnya. Sekilas ingatan itu terlintas di kepalanya.


Hanya ada satu cara untuk membalas kebaikanku.


"Ya, apa itu?"


"Menikah dengan ku."


Mata Lyn mengerjap-ngerjap dengan cepat seperti irama debaran jantungnya.


"Kakak, ini tidak benar."


"Maksud mu aku salah?" Edgar menyipitkan matanya.


"M-maksudku bukan begitu. Menjadi istrimu  adalah suatu hal yang sangat besar. Aku, aku sangat tidak pantas untuk manjadi istrimu."


"Yang berhak mengatakan pantas atau tidaknya adalah aku. Yocelyn, kamu meragukan penilaian ku?."


"B-bukan seperti itu. Kakak.."


Kemudian Lyn menundukkan pandangannya.


"Berikan aku waktu setidaknya sampai aku memastikan bahwa Shakila tidak pernah menggangguku lagi."


"Baik. Aku akan menikahimu saat Shakila sudah tidak mengganggu mu lagi. Itu artinya mulai dari sekarang, kamu telah resmi menjadi pacarku."


Spontan, Lyn mengangkat pandangannya melihat wajah tampan Edgar.


"Pacar…?"


"Bukankah orang yang akan menikah harus menjalani masa pendekatan dulu seperti pacaran misalnya?"


A-Aku..


"Ah, atau kamu ingin segera melangsungkan pertunangan?"


"Ah tidak, tidak." Lyn mengibaskan tangannya cepat.


"Baiklah kita pacaran dulu untuk masa pendekatan." Lyn menyerah.


Edgar tersenyum cerah dengan keputusan Lyn. Kini, statusnya dengan Lyn sudah jelas.


Kemudian Edgar memeluk Lyn menikmati indahnya sunset yang mulai menggelap sampai jam makan malam tiba.

__ADS_1


***


__ADS_2