Desain Cinta CEO Dingin

Desain Cinta CEO Dingin
hari pernikahan


__ADS_3

Bab 59


Makan malam pun berlangsung dengan hikmat atas perintah dari Melliana karena nyonya besar Gretchen Itu sangat tahu jika suaminya itu sangat ingin menggoda calon pasangan pengantin itu pasca ciuman yang di lakukan Edgar. 


Sedangkan Edgar hanya diam dalam posisinya seolah tak terjadi apapun.


Lain halnya dengan Lyn yang sedang makan dengan perasaan yang sangat malu. Dirinya terus menundukkan kepalanya sedari mulainya menyantap makanan hingga selesai.


Ketika makan malam selesai, Lyn dengan ragu ragu pun bertanya pada calon ibu mertuanya.


"Tante,"


"Eits, kok tante. Panggil mamah dong."


"Eng.. iya mah. Lyn ingin bertanya boleh?"


"Boleh dong. Mau tanya apa sayang?"


"Apa tidak masalah jika Lyn menjadi menantu mamah?"


Melliana mengerutkan keningnya. Namun sedetik kemudian tersenyum dan menyentuh tangan Lyn.


"Mamah mengerti apa yang kamu pikirkan. Tapi sebaiknya pikiran itu dihilangkan, karena mamah dan papah tidak akan mendukung pernikahanmu dengan Edgar jika penilaian kami terhadapmu memang tidak pantas menjadi menantu Gretc."


"Sudah mengerti kan sekarang?" Tambah Melliana.


Lyn tersenyum dan mengangguk.


Setelahnya, Melliana dan Eddies memasuki kamar mereka untuk beristirahat. Sedangkan Edgar mengantar Lyn ke kamarnya karena ada yang ingin dia katakan pada calon istrinya itu.


"2 hari lagi kita akan menikah." Ucap Edgar dengan merapihkan rambut Lyn dengan tangannya.


"Tapi ayah dan ibu masih di rumah sakit." Protes Lyn.


"Aku sudah mendapatkan informasi jika kondisi ayah dan ibu berangsur-angsur sudah membaik. Maka dari itu kita akan melangsungkan pernikahan di gereja yang hanya di saksikan oleh keluarga kita saja. Untuk resepsi pernikahan, akan di adakan jika kesehatan ayah dan ibu sudah sembuh total."


"Apa kamu setuju?" Tanya Edgar.


Setelah mencerna ucapan Edgar, Lyn menganggukkan kepalanya kemudian memeluk Edgar. Namun, pelukan itu hanya beberapa detik saja karena Edgar segera melepaskannya dengan alasan harus mengurus sesuatu di kamarnya.


"Em.. Lyn, aku harus segera ke kamar untuk menelpon Jimi."


Lyn hanya diam saja melihat kepergian Edgar yang terburu-buru.


"Kenapa aku merasa akhir-akhir ini kak Ed selalu menjaga jarak dengan ku?" Gumam Lyn sedih.


Setelahnya, Edgar memasuki kamarnya dan menutup pintu dengan cepat.

__ADS_1


"Fiuhh. Hampir saja aku masih bisa menahannya."


"Tenang boy 2 hari lagi kau akan menyentuh kepuasan mu." Ucap Edgar dengan mengelus-elus sesuatu di balik celananya yang telah menegang. 


Ya, akhir-akhir ini entah mengapa juniornya selalu bangun jika memeluk Lyn. Aroma tubuh Lyn yang biasa memberikan ketenangan batinnya, kini malah berubah menjadi sengatan birahi untuk Edgar. 


Itu lah mengapa Edgar akhir-akhir ini seperti membatasi jarak agar tidak menghirup aroma tubuh Lyn karena terlalu dekat.


***


Keesokan harinya, ayah dan ibu Lyn telah sampai di mansion Edgar dengan 2 orang perawat khusus. Mereka datang dengan di sambut oleh calon besan dan calon pengantin itu. 


Melihat ayah dan ibunya sudah ada di depan pintu utama, Lyn segera berlari menuju orang tua yang dirindukannya.


"Ayah, ibu." 


"Lyn, jangan lari sayang." Ucap Melliana.


Lyn langsung memeluk ayah dan ibunya dengan manjanya. Dia merasa, dirinya sudah sangat lama tidak memeluk seperti ini.


Setelah cukup berpelukan, Daniel dan Celina menghampiri tuan dan nyonya Gretchen sebagai keramahan di pertemuan pertamanya. 


"Nyonya, tuan, terimakasih sudah mau menerima putri saya untuk menjadi menantu anda." Ucap Celina setelah menjabat kedua calon besan nya.


"Ahaha, putri anda adalah menantu idaman kami. Tentu saja kami harus menerimanya. Dan satu lagi, panggil saja aku Lian dan suamiku Eddies. Jangan terlalu formal." Ucap Melliana.


"Tapi nyonya …"


Celina dan Daniel saling memandang dengan tersenyum.


"Baik. Eddies dan Lian." Ucap Celina dan Daniel dengan kaku.


"Baiklah, baiklah. Mari kita ke meja makan karena hidangan sudah menunggu kita sedari tadi." Ajak Melliana.


Itu karena Celina dan Daniel datang di saat jam makan siang sehingga mereka bisa bercengkrama sembari makan siang berlangsung.


Hari pernikahan tiba


Lyn dan Edgar melangsungkan pernikahan sakral yang hanya di hadiri oleh keluarga kedua belah pihak.


Orang tua dari pasangan pengantin itu tak kuasa menahan haru melihat putra dan putri semata wayangnya sedang mengucapkan janji suci.


Terlebih untuk Daniel, dia benar-benar menangis dengan melihat kedua tangannya. Tangan yang pernah memukul putrinya berkali-kali, kini masih bisa di beri kesempatan untuk menggenggam tangan putrinya dan mengantarnya ke altar. 


Setelah sah menjadi suami istri dan menandatangani surat pernikahan, Lyn dan Edgar sekeluarga langsung menuju restoran untuk makan malam karena acara janji suci ini memang di adakan malam hari.


Restoran Perancis yang menjadi langganan keluarga Gretc telah di booking oleh Melliana untuk merayakan pernikahan Edgar dan Lyn.

__ADS_1


Saat makan malam berlangsung, para orang tua itu saling bercengkrama dengan wajah sumringahnya. Sedangkan Edgar terus saja menggoda Lyn dengan berbisik sehingga wajah Lyn merona dibuatnya.


Tentu interaksi pengantin baru itu tidak luput dari pandangan Eddies. Sebagai pria yang mempunyai sifat jahil dan mesum, Eddies pun bersemangat untuk menggoda keduanya.


"Boy, segeralah habiskan makananmu jika sudah tidak tahan." 


Blussh.. 


Rona di wajah Lyn semakin memerah mendengar ucapan mertuanya. Sedangkan Edgar, dirinya hanya terdiam datar karena ayahnya bisa menebak apa yang ada dalam pikirannya sekarang.


Kemudian Eddies mencapitkan sedikit demi sedikit makanan ke dalam piring Edgar.


"Makanlah yang banyak boy supaya kau kuat nanti malam."


Plak.


Melliana memukul lengan Eddies.


"Kau itu, apa tidak malu berbicara mesum di depan besan kita?"


Namun Eddies tidak menggubris pertanyaan istrinya dan masih terus mencapitkan makanan ke dalam piring Lyn kali ini.


Plak.  


Melliana melotot.


Namun Eddies malah menuangkan red wine dan memberikannya kepada Lyn dan Edgar.


"Nah, minuman ini dapat meningkatkan stamina di ranjang. Ayo di minum."


Tiba-tiba,


"Adududuhh… sakit mah.." 


Melliana semakin memelintir telinga Eddies.


"Ah tidak seperti itu mah, papah hanya memberi perhatian untuk Ed sebelum malam …"


"Sudah kubilang diam, kenapa masih saja menggoda mereka."


Eddies berusaha melepaskan tangan Melliana, kemudian menjejalkan makanan yang ada di depannya ke mulut Melliana sehingga wajah Melliana tampak belepotan. 


"Kau.." 


Seketika adu keisengan pun terjadi di meja makan itu. Beruntung, adegan ini tidak ada yang melihatnya selain keluarga pengantin itu.


Lyn melihat adegan tom and Jerry mertuanya dengan mengerutkan keningnya. Pantas saja pria dingin yang menjadi suaminya itu mempunyai sifat jahil yang tidak terduga, ternyata Edgar memang mempunyai bawaan gen dari ayahnya. 

__ADS_1


Celina dan Daniel hanya tersenyum tipis melihat tingkah suami istri itu. Bagi mereka, ini adalah suatu hiburan yang langka. Bagaimana tidak, tuan dan nyonya Gretchen yang begitu berwibawa dan sangat dingin ternyata selalu bertingkah konyol dan jahil jika sedang bersama keluarganya.


Sedangkan Edgar, dia hanya diam memakan makanannya dengan santai.


__ADS_2