Desain Cinta CEO Dingin

Desain Cinta CEO Dingin
sisi lain Milo


__ADS_3

Bab 28


Keesokan harinya, Edgar dan Milo mengantar Lyn dan Lily ke bandara. Ketika berpamitan, Lyn tidak melihat kearah Edgar sedikitpun sedari kejadian semalam, dia terlalu malu untuk hanya sekedar meliriknya saja.


Edgar mengerti akan tingkah gadis polos dihadapannya yang baru merasakan getaran cinta. Edgar sangat menikmati ekspresi wajah Lyn yang terlihat sangat menggemaskan menurutnya.  


Setelah melihat pesawat yang ditumpangi Lyn mengudara, Edgar dan Milo segera memasuki mobilnya untuk melangsungkan suatu urusan.


Sesampainya di tujuan, Edgar dan Milo segera memasuki ruangan bawah tanah di villa tersebut. Villa ini adalah salah satu villa milik Milo yang ada di Paris.


Ada total 6 orang yang terkumpul di tempat ini. Diantaranya 1 pria pengemudi yang membuntuti di awal, 3 pria yang memantau di taman Trocadero, dan 2 wanita yang mengunjungi kafe untuk meracuni Lyn salah satunya adalah wanita pirang itu.


Terlihat ke enam orang itu sedang meringis menahan sakit di sekujur tubuhnya akibat berbagai pukulan dari orang-orang Milo. Mereka selalu bungkam meskipun sudah disiksa sedemikian rupa. 


Tangan Edgar benar-benar sudah gatal ingin membunuh semua orang itu karena mereka hanya mengulur waktu untuk menjawab pertanyaan saja. Namun Milo mempunyai cara untuk mengintrogasi mereka satu persatu.


Setelah beberapa jam, hasil interogasi mereka semua sama, bahwa mereka hanya diberikan perintah oleh seorang laki-laki bertopeng dengan imbalan uang yang banyak. Alasan mereka bungkam adalah jika mereka buka suara sedikit saja, maka keluarga nya akan terkena imbasnya. Dilihat dari datanya, mereka memang sedang membutuhkan uang dan juga tidak terlibat sedikitpun dengan urusan musuh. 


Dengan instingnya yang tajam, ada satu orang yang di curigai Milo di ruangan itu. Seorang pria yang memiliki tubuh atletis, sikap tenang, dan perkataan yang cukup cerdas, membuat Milo merasa seperti ada sesuatu yang di sembunyikan pria itu. Pria dengan pembawaan seperti ini, biasanya adalah anggota terlatih yang mempunyai kesetiaan tinggi. 


Milo melepaskan semua tahanan kecuali pria itu.


Milo melihatnya dengan tatapan membunuhnya.


"Aku tahu, kau bukan hanya sekedar  mata-mata yang di kirim oleh pamanku. Dengan riwayat hidup mu yang seperti mereka, apakah kau bisa mengelabui ku?" 


Pria itu hanya diam bagaikan patung.


"Kau ingin bertarung dengan ku sampai mati atau membuka mulut?"


Pria itu tetap bungkam. Ia tidak pernah akan buka mulut untuk memberi tahu apapun bahkan jika ia harus mati.


Milo bisa saja langsung menghabisinya. Tapi Milo merasa, pria ini mempunyai sesuatu yang bisa ia jadikan petunjuk.


Milo hanya mendesah lalu keluar meninggalkan pria itu sembari mengetikkan suatu pesan di hp nya.


***


Di tempat yang berbeda, Shakila memasuki kamarnya dengan perasaan amat kesal karena pekerjaannya tidak semudah yang dibayangkan. Dan faktor tempramen kepala proyek juga lah yang membuat Shakila sangat tertekan.


"Aku ini sekretaris di perusahaan Edgar. Kenapa di negara ini aku malah menjadi asisten kepala proyek yang begitu rumit dan melelahkan. Belum lagi kepala proyek itu, betapa mengerikannya tempramen itu." Shakila bergidik mengingat tempramen kepala proyek yang sangat keras dan bengis.


"Bahkan di villa ini tidak ada kebebasan sedikit pun. Huh, apa Edgar sengaja mengaturnya?"


Shakila terus mengoceh sendirian untuk melampiaskan kekesalannya.

__ADS_1


***


Milo dan Edgar kembali lagi ke ruang bawah tanah dengan sebuah lembaran data di tangan Edgar.


Untuk urusan ini, Milo yang akan maju menghadapinya. Sedangkan Edgar hanya akan duduk santai menonton pertunjukan di hadapannya.


"Oh, jadi nama mu adalah Redy Stave anggota dari fire moon. Huh, tidak heran kau begitu santai saat disiksa."


Mendengar itu, Redy tertawa meledek dengan sedikit kesakitan di wajahnya.


"Ha,ha.."


"Ternyata kau bocah masih belajar. Untuk mengetahui namaku saja kau harus menunggu setengah hari. Huh, bagaimana bisa bocah lugu sepertimu menjadi kesayangan black fire. Harusnya kau menikmati pertumbuhan mu dulu sebelum terjun ke dunia gelap seperti ini." Ledek Redy.


Milo menjawab ledekan Redy dengan sifat tenangnya.


"Apa sudah selesai mengoceh nya? Karena kau meremehkan ku, maka aku akan menunjukkan padamu bagaimana aku bisa menjadi kesayangan black fire."


Milo segera saja membuka hpnya untuk melakukan video call. Beberapa saat kemudian, terdengar suara seorang gadis yang sangat di kenal Redy. Seketika mata Redy melotot seakan ingin keluar dari kelopak matanya. 


"Ayah.." ucap gadis itu.


"He..la." Ucap Redy dengan suara lemah.


'bagaimana bisa. Dia..' batin Redy.


Kelemahan yang ia sembunyikan selama belasan tahun, bahkan dirinya pun tidak tahu dimana putrinya berada. Sekarang di depan matanya, Milo berhasil menemukannya hanya dalam setengah hari saja. 


Melihat reaksi Redy yang sudah terpancing akan kelemahannya. Milo mematikan panggilannya dengan menunjukkan wajah wibawanya dan seringai di sudut bibirnya.


"Apa kau ingin melihat kemampuanku yang lebih lagi? Tidakkah kau ingin melihat wajah putri mu yang sudah tumbuh menjadi gadis cantik dan sehat?"


Redy yang diselimuti rasa takut pun ragu, namun akhirnya ia mengangguk. Bagaimanapun keadaan putrinya, dia harus melihatnya walaupun untuk terakhir kalinya.


Milo mulai melakukan video call lagi dan langsung mengarahkan layar hpnya ke wajah Redy.


Saat panggilan itu di angkat, di layar hp Milo terdapat seorang gadis berseragam sekolah menengah pertama yang sedang diikat di sebuah ruangan kumuh.


Tubuh Redy bergetar saat melihat putri satu-satunya sedang di sandra oleh orang-orang Milo.


"Ayah.. akhirnya ayah menelpon Hela. Kenapa ayah lama sekali tidak memberi kabar. Apa ayah lupa pada Hela?"


Wajah Hela begitu imut saat cemberut. Ingin rasanya Redy menyentuh wajah imutnya dan mendekapnya. Redy hanya bisa mengepalkan tangannya karena posisinya sedang diikat.


Tak lama, Hela teralihkan oleh wajah ayahnya yang begitu banyak luka memar dan lebam.

__ADS_1


"Ayah, kenapa wajah ayah banyak luka seperti itu? Apa ayah berkelahi lagi?"


"Ayah diikat juga? Ah, ayah benar-benar sedang main culik culikan dengan Hela ya?"


'culik culikan?..' batin Redy.


Kemudian ikatan di tubuh Hela mulai di lepas oleh orang orang Milo.


"Lihatlah yah, Hela tidak apa-apa kan? Om om ini datang menemui Hela saat pulang sekolah. Awalnya Hela takut, tapi mereka bilang ayah akan menelpon Hela dengan main culik culikan. Meskipun hanya di telpon, Hela sangat senang yah, bisa main dengan ayah."


Mendengar celotehan putrinya, ujung mata Redy berkedut. Dia kemudian melihat wajah Milo dengan tatapan haru. Dia begitu beruntung putrinya tidak di sentuh sedikit pun oleh Milo, bahkan pengaturan Milo tidak membuat Hela takut sedikitpun.


 


Milo melihat jam tangannya, pemandangan itu dilihat oleh Redy. Segera saja Redy menjawab pertanyaan putrinya. Melihat keceriaan dan tidak ada goresan sedikitpun di tubuh putrinya, membuat Redy terbuka hati dan pikirannya.


"Ah, ya.. ayah yang menyuruh om om itu untuk main culik culikan dengan Hela, ayah sangat merindukan bermain dengan Hela. Apa Hela sudah senang mainnya?"


"Iya yah, Hela senang. Ayah kapan pulang? Kenapa ayah tidak pernah telpon Hela?"


"Itu.. Ayah belum beli hp lagi sayang. Ayah masih belum punya uang. Ya sudah, ayah tutup dulu telponnya. Tidak enak karena memakai hp teman ayah." Alibi Redy.


Hela mengangguk senang mendengar perkataan ayahnya. Karena ternyata ayahnya hanya sedang bekerja keras dan belum mempunyai uang lebih untuk membeli hp, bukan karena lupa padanya.


Setelah video call ayah dan anak itu berakhir. Milo segera mengantongi hp nya dan melihat wajah Redy dengan wibawa kepemimpinannya. 


Melihat cara Milo dalam menangani sifat setia seseorang anggota dunia gelap, membuatnya mengerti. Pantas saja ketuanya sangat ingin melenyapkan Milo yang padahal baru menetas di dunia gelap.


"Apa kau hanya ingin membuang waktuku dengan mengagumi wajah tampan ku?"


Seketika mata Redy berkedip berkali-kali tersadar dari lamunannya. Kemudian Redy mulai bersuara dan menjawab semua pertanyaan yang ingin diketahui oleh Milo. 


Milo tersenyum puas atas informasi dari Redy. Kemudian Milo melangkah keluar dengan Edgar di belakangnya.


Inilah sisi lain dari Milo. 


Bisa di bilang, sepasang sahabat ini memang saling melengkapi. Edgar dengan urusan dunia terang, sedangkan Milo dengan urusan dunia gelap. Mereka sama sama tumbuh dengan pembelajaran dari kehidupan dua sisi. 


Milo menjadi asisten Edgar bukan hanya sekedar melarikan diri, tapi juga belajar tentang dunia perusahaan dari Edgar. Sebaliknya, jika Milo mempunyai urusan yang bukan bertarung nyawa, Edgar akan ikut menemani Milo untuk belajar, mengingat Edgar adalah satu-satunya pewaris Gretchen. Jalan terang memang baik, namun itu harus diimbangi dengan bayangan gelap untuk mengarungi kejamnya dunia persaingan bisnis.


Selain masyarakat gelap, hanya Edgar dan ayahnya lah yang tahu akan sisi lain dari seorang Milo. 


***


(Cerita Milo akan author buat sendiri ya. Tapi nanti, setelah cerita Lyn sudah tamat. Karena othor masih pemula, takut semrawut di tengah jalan. Hehe.)

__ADS_1


__ADS_2