Desain Cinta CEO Dingin

Desain Cinta CEO Dingin
perihal Shakila


__ADS_3

Bab 22


Lyn baru pulang ke mansion setelah jam kerja selesai. Karena jam waktu pulang kurang dari 2 jam lagi, Lyn memutuskan untuk menunggu Edgar di ruangannya dengan tujuan agar bisa pulang bersama. Sebenarnya Lyn sudah bisa pulang sejak kemarin. Tapi karena Edgar masih menyelidiki tentang isi paket itu, Edgar memutuskan agar Lyn tinggal lebih lama lagi sampai dia menemukan titik terang.


Lyn sebenarnya sudah sangat merindukan kasur empuk dan suasana mewah di kamarnya. Tapi dia tahan selama beberapa jam lagi, karena pikirnya Edgar sudah mau merawatnya di kamar VIP selama beberapa hari tanpa merasa bosan. Lyn tidak ingin Edgar melihatnya sedang uring-uringan seperti anak kecil yang minta pulang.


Sebelum masuk ke kamar nya, Lyn cepat cepat berbalik menghadap Edgar dengan wajah yang penasaran.


Lyn teringat akan foto yang dilempar Edgar kepada Shakila dimana foto itu adalah pertemuan Shakila dan gadis yang di tolong nya.


"Kakak Ed tunggu."


Edgar segera menoleh, sedangkan Milo yang sudah membuka pintu langsung menutupnya kembali lalu ikut melangkah mendekati Lyn.


"Ada apa? Apa ada yang kamu butuhkan?" Tanya Edgar lembut.


"I-itu.. foto yang kakak lempar untuk Shakila tadi, bukankah itu.." Lyn menggigit bibir bawahnya karena ragu untuk meneruskan pertanyaannya.


Edgar mengerti maksud Lyn yang sedang penasaran, Edgar bisa menangkap bahwa Lyn ingin bertanya tapi dia takut.


"Kita bicarakan di kamarmu. Tidak baik berdiri di depan pintu seperti ini."


Lyn mengerti kemudian dia langsung menekan pin untuk membuka pintu kamarnya.


Setelah mereka sudah ada di kamar Lyn, Edgar dan Lyn duduk saling berhadapan di sofa, sedangkan Milo duduk di seberang pasangan itu dan hanya diam melihat pembicaraan mereka.


Edgar melihat Lyn yang terlihat penasaran namun diliputi khawatir.


"Apa yang ingin kamu tahu dari foto itu?" Tanya Edgar.


"A-aku melihat foto itu adalah Shakila dan Riri. Apa Riri juga terlibat dalam kekacauan rumah busana? Sebenarnya apa yang terjadi saat aku sedang di rawat? Apa yang dilakukan Shakila dan Riri sehingga perusahaan mengalami kerugian besar?" Pertanyaan Lyn yang awalnya takut menjadi menggebu-gebu.

__ADS_1


Edgar menghela nafasnya perlahan. Dia ingin sekali merahasiakannya dari Lyn, namun itu terasa berat. Entah kenapa, Edgar sangat berat untuk menyembunyikan rahasia secuil apapun dari Lyn. Edgar hanya ingin dia dan Lyn mempunyai keterbukaan agar bisa menumbuhkan rasa saling percaya.


Edgar pun perlahan menceritakan kepada Lyn perihal beberapa kejadian selama Lyn di rawat.


Lyn berkaca-kaca mendengar nya. Dia sangat sedih hanya karena dirinya yang ada disamping Edgar, Shakila bahkan berani menghancurkan bisnis Edgar dengan menggunakan dirinya. Lyn merasa berada di dekat Edgar hanya akan membuat Edgar kesulitan.


"Karena aku, kakak jadi lengah. Banyak hal yang terjadi ketika kakak menemaniku di rumah sakit. Harus nya kakak tidak berdekatan dengan ku agar tidak terkena dampak nasib burukku." Ucap Lyn dengan perasaan yang sedih.


"Tidak. Tidak seperti itu. Jangan sedih, aku akan melindungi mu sepenuh hati ku." Ucap Edgar menenangkan Lyn.


"Apa aku pantas untuk dilindungi oleh mu? Mungkin benar kata Shakila, wajah buruk rupa ini tidak pantas menerima perhatian darimu." Air mata Lyn pun menetes.


"Sttt.. siapa yang berhak berbicara seperti itu? Lupakan kata-kata Shakila yang tidak pantas di dengar, oke. Wanita itu sebentar lagi akan pergi jauh sementara dari hidup kita ." Ucapan lembut Edgar membuat Lyn perlahan tenang.


"Tapi, dia pasti akan merencanakan kejahatannya dari sana mengingat betapa liciknya dia." Raut wajah Lyn menjadi khawatir.


"Negara M adalah negara kelahiran ayahku, sudah jelas dia tidak akan bisa lolos sedetikpun disana. Aku sudah mengatur segala sesuatunya disana."


Edgar mengangguk pelan melihat Lyn.


"Sekarang istirahatlah untuk menunggu waktu makan malam."


Lyn mengengguk sambil tersenyum melihat Edgar dan Milo yang sudah bangkit dari duduknya untuk keluar dari kamar Lyn.


Di ruang makan tampak keluarga kecil sedang merasakan perasaan bahagia, dimana sepasang orang tua sedang berbangga hati karena putrinya terlihat sangat berbakat dimata mereka.


"Ayah, ibu, besok pagi Kila akan berangkat ke negara M untuk ditugaskan mengurus proyek terbaru disana. Tapi itu mungkin akan terasa lama karena Kila harus meninggalkan kalian." Ucap Shakila dengan raut sedih yang manja.


"Wah, anak ayah hebat sekali sudah di percaya mengurus proyek besar itu. Ayah bangga nak." Ucap Daniel dengan mengusap kepala Shakila.


"Iya, ibu juga bangga melihat putri cantik ibu begitu hebat. Memangnya berapa lama kau akan disana nak?" Ucap Celina.

__ADS_1


"Sekitar 2 tahunan bu. Hmm itu sangat lama, aku akan meninggalkan negeri ini yang ada kesayangan ku." Masih dengan mimik wajah cemberutnya.


"Tidak apa nak jika memang harus meninggalkan kami selama itu. Yang penting adalah bagaimana kamu mencapai prestasi itu. Uruslah pekerjaanmu disana dengan baik supaya nilai prestasi mu akan semakin bertambah. Kedepannya, masa depan mu pasti akan sangat cerah." Ucap Daniel.


Wajah Shakila tersenyum tapi hatinya benar-benar terasa masam. Orang tua nya tidak mengetahui jika tugas di negara M adalah sebuah hukuman. Shakila mengingat betapa kesalnya dia saat akan bekerja namun tidak di gaji selama 2 tahun lamanya, Shakila mencari cara agar bisa memanfaatkan situasi untuk mendapatkan uang dari ayahnya meskipun hanya sedikit.


"Ayah, bisakah aku meminta uang saku untuk kebutuhan ku disana? Uangku sudah habis saat acara amal minggu lalu."


Ya, selama ini orang tuanya tidak pernah tahu akan prilaku Shakila yang suka berfoya-foya menghamburkan uang dengan gaya sosialita nya. Mereka juga tidak tahu akan status sekretaris Shakila bukanlah karena keterampilannya. Bahkan semua kehidupan asli perihal Shakila pun mereka tidak tahu.


Daniel dan Celina hanya tahu jika Shakila adalah anak baik yang berbakat dalam karirnya dan juga berakhlak mulia seperti gemar beramal. Sedari kecil, Daniel dan Celina mengajari anak-anak mereka untuk berbuat kebaikan, salahsatunya adalah beramal. Padahal, jika orangtuanya memberikan uang yang akan di gunakan untuk amal, Shakila selalu membagi dua untuk diselipkan ke saku nya.


Orang tuanya hanya tahu bahwa kehidupan sosialita Shakila yang glamor didapat setelah bekerja di perusahaan besar Edgar. Sebagai orang tua, mereka tidak akan melarang karena itu adalah hasil dari kerja kerasnya. Mereka sangat bangga melihat Shakila yang begitu bersinar dimata mereka. Bahkan Lyn yang mereka tahu akan bakatnya, sudah mulai terlupakan akan sinar Shakila.


"Tentu saja, ayah akan memberikannya." Daniel tersenyum.


"Tapi ayah, apakah tidak keberatan jika aku memintanya beberapa kali dalam setahun. Masalahnya disana kebutuhan hidup sangatlah mahal, jika dihitung gajiku sangat ngepas untuk sehari-hari. apa itu tidak akan membebani ayah jika harus mengirim uang yang cukup banyak?" Shakila memasang wajah khawatir.


Daniel mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Shakila sambil tersenyum.


"Tidak masalah untuk putri ayah. Putri kesayangan ayah harus hidup dengan layak disana. Putri ayah jangan sampai kekurangan ketika sedang mencapai prestasinya."


Lagi-lagi Daniel mengatakan prestasi yang padahal adalah hukuman untuk Shakila. Shakila benar-benar mual mendengar nya.


"Benarkah.. terimakasih yah, Kila janji Kila akan memberikan semua bonus Kila nanti untuk ayah." Shakila memasang wajah ceria melihat ayahnya.


"Jadi cuma untuk ayah?" Ibu pura-pura memasang wajah sedih.


"Milik ayah kan sudah pasti milik ibu." Goda Shakila.


Keluarga kecil itu tertawa kecil dan bercanda dengan riang dengan masih menyantap makanan penutup.

__ADS_1


__ADS_2