
Bab 57
Lyn membuka matanya dengan pemandangan wajah kutub Utara yang sangat tampan.
Lyn tersenyum saat Edgar mencium pucuk kepalanya.
Saat Lyn mengambil posisi duduk, Lyn meringis ketika merasakan sakit di paha kanannya.
Seketika Lyn teringat akan kejadian terakhir sebelum dirinya membuka mata. Dirinya yang akan di tusuk oleh Shakila dengan penuh kebenciannya pun mendadak pingsan saat mendengar suara tembakan.
"Kakak, apa yang terjadi sebelum aku ada di kamar ini? Aku mendengar ada suara tembakan sebelum aku pingsan."
Sedetik kemudian, Lyn membelalakkan matanya.
"Ayah, bagaimana dengan ayah. Dia tertusuk oleh Shakila. Ibu.. bagaimana dengan ibu.."
"Sttt…pelan-pelan. Kamu ini bertanya seperti kereta luncur."
Lyn terdiam sejenak untuk mengambil nafasnya.
Dirasa Lyn sudah tenang, Edgar pun menceritakan kejadian terakhir sebelum Lyn pingsan.
*Flashback on
Saat Shakila sedang mengayunkan pisaunya, Tiba-tiba Edgar datang dengan memberikan sebuah tembakan di paha kanan Dion.
Dor.
"Aaarrggh." Teriak Dion.
Shakila yang mendengar suara tembakan pun menoleh ke sumber suara. Namun, tiba-tiba pandangan Shakila menjadi gelap karena pengawal Jimi segera memukul tengkuknya.
Sedetik kemudian, pengawal Jimi dan anak buah Edgar segera membawa orang tua Lyn ke rumah sakit setelah mendengar perintah Edgar.
Saat Lyn, Shakila dan Dion akan di bawa oleh Edgar dan anak buahnya, tiba-tiba gerakan mereka terhenti saat Dion bersuara.
"Tunggu."
"Tuan, sangat memohon kepada anda untuk permintaan terakhir saya." Ucap Dion dengan berlutut.
Edgar berpikir sejenak yang pada akhirnya Edgar membiarkan Dion menyampaikan permintaan terakhirnya.
"Katakan."
"Sebelum anda membunuh saya dan Shakila, izinkan saya untuk membalaskan dendam keluarga saya dengan menyiksa Shakila. Setelah urusan saya dengannya selesai, maka anda boleh melakukan apa saja meskipun anda harus mencabut nyawa saya, saya ikhlas dan benar-benar bertobat sekarang."
Melihat Dion yang sangat pasrah, Edgar pun menyetujui permintaan Dion.
"Baik, aku menyetujui permintaanmu dengan satu syarat."
Dion menunggu ucapan Edgar selanjutnya.
"Kau harus menghitung semua yang dilakukan Shakila kepada Lyn dan adikmu. Ingat, khusus untuk Lyn jangan sampai ada yang kurang."
Dion tersenyum haru.
"Baik, baik tuan. Saya akan melakukannya dengan senang hati."
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, Edgar langsung pergi dengan membawa Lyn dalam gendongannya.
Kemudian, Dion dan Shakila di bawa ke gudang penyiksaan yang ada di tengah hutan milik Milo oleh anak buah Edgar.
*Flashback off
"Jadi, sekarang Shakila menjadi tawanan Dion?"
"Anggap saja begitu."
Tiba-tiba Edgar teringat akan pesan pengawalnya yang sedang menjaga orang tua Lyn di rumah sakit. Jika Daniel dan Celina sangat ingin bertemu dengan Lyn setelah siuman.
"Ibumu telah melewati masa kritisnya, dan ayah mu sudah siuman. Apa kamu tidak ingin menjenguk mereka?"
Mendengar ucapan Edgar, Lyn langsung menundukkan kepalanya dengan wajah merenungnya.
"Entahlah."
Melihat perubahan raut wajah Lyn, Edgar mengalihkan perhatian dengan menunjuk luka yang di balut perban.
"Apakah ini sakit?"
"Sedikit."
"Jika aku yang mengobatinya, pasti akan langsung sembuh."
"Oh ya..?" Lyn menyipitkan matanya.
Tak menunggu lama Edgar pun mencium pinggiran perban. Itu membuat Lyn terkekeh.
Cup.
"Tidak. Ini malah membuat lukanya menjadi semakin sakit." Akting Lyn.
Dengan senyum jahilnya Edgar pun menciumi pinggiran perban hanya satu kali, selebihnya dia menciumi paha kiri Lyn yang mulus dengan sedikit mengigitnya sesekali.
Muachh. Muachh.
Lyn pun tertawa karena merasa sangat geli akan ciuman Edgar.
"Hahaha. Sudah, sudah. Itu sangat geli."
***
3 kemudian, luka di paha Lyn sudah kering.
Lyn dan Edgar sedang berdiskusi seputar pernikahannya di ruang keluarga.
Tiba-tiba, datanglah Daniel dan Celina dengan di papah oleh perawat yang di sewa Edgar.
Lyn pun membeku saat melihat kedua orang tuanya yang tersenyum penuh kerinduan melihat dirinya. Seketika, mata Lyn mengembun.
"Nak, apa kabar. Apa lukamu sudah sembuh?" Tanya Daniel dengan suara bergetar.
"Putriku. Ibu sangat bangga padamu, Yoce." Ucap Celina dengan linangan air matanya.
Lyn pun segera bangun menghampiri kedua orang tuanya dengan tangisnya yang pecah.
__ADS_1
"Ayah, ibu. Hiks."
Ayah, ibu, dan anak sedang berpelukan dengan rasa haru dan kerinduan yang mendalam.
Edgar dan kedua perawat yang melihatnya pun ikut terharu melihatnya.
Edgar dengan sigap mengambil foto keluarga kecil itu sebagai kenangan.
"Lyn, bawa ayah dan ibumu duduk dulu. Mereka masih sakit." Ucap Edgar.
Lyn mengangguk dan segera menuntun kedua orang tuanya untuk duduk di sofa yang empuk itu.
Di sofa pun Edgar masih mengambil gambar karena ayah dan ibu Lyn masih memeluk Lyn yang berada di tengah mereka.
Lyn pun bertanya kepada orang tuanya karena melihat wajah Daniel dan Celina masih sangat pucat dan terlihat meringis sesekali.
"Kenapa ayah dan ibu kemari jika masih sakit? Bagaimana jika lukanya semakin parah."
"Jika kami tidak datang kesini, maka kami harus menunggu sampai kapan untuk menunggumu mendatangi kami." Ucap Celina
"Maaf, aku tidak ingat jika harus menjenguk ayah dan ibu karena sudah terbiasa berjauhan." Ucap Lyn menunduk.
Daniel dan Celina saling pandang dengan raut wajah sedihnya.
"Kamilah yang harus minta maaf nak. Maafkan kami yang tidak pernah menjemputmu padahal Shakila jarang di rumah." Ucap Celina.
"Maafkan ayah nak yang sudah pernah memukul dan mengusir mu. Maafkan ayah yang tidak bisa melihat kebusukan Shakila." Ucap Daniel memegang pipi Lyn yang terakhir dilihatnya hanya separuh wajah.
Celina menggenggam tangan Lyn.
"Sebenarnya kami selalu memikirkanmu setiap hari. Tapi karena Shakila selalu mencuci otak kami, ibu dan ayahmu ini selalu menghentikan langkah untuk menemuimu. Maaf, ibu dan ayahmu tidak berdaya menghadapi hasutan Shakila."
Lyn tiba-tiba berdiri di depan kedua orang tuanya dengan wajah datar.
Daniel dan Celina semakin menangis saat merasa bahwa Lyn tidak memaafkan mereka.
"Aku akan memaafkan jika ayah dan ibu memenuhi syarat."
"Apa itu nak. Kami pasti akan memenuhi semua syarat yang kau mau. Apapun itu sebagai penyesalan ayah dan ibu." Ucap Daniel dengan menggenggam tangan Celina yang terus menangis.
"Yang pertama, aku ingin nama Shakila di coret dari kartu keluarga kita."
"Baik. Akan ayah lakukan." Ucap Daniel mantap.
"Yang kedua, ayah dan ibu harus bekerja untukku selamanya."
Edgar mendengarnya sempat melebarkan pupil matanya beberapa detik. Namun Edgar masih terus melihat kelanjutannya.
Daniel dan Celina menunduk dan saling menguatkan genggamannya dengan apa yang akan di alaminya. Rupanya Lyn ingin mereka menjadi pelayan selamanya, bukan sebagai orang tua.
"Dengan merawat cucu cucu ayah dan ibu kelak." Tambah Lyn.
Daniel dan Celina spontan mendongak melihat wajah Lyn yang tersenyum manis kepada mereka. Daniel dan Celina saling melempar pandangan kemudian tersenyum bahagia dan saling mengangguk.
"Baik, dengan senang hati." Ucap Daniel dan Celina bersamaan.
"Hmmm… ibu, ayah." Lyn memeluk kembali kedua orang tuanya.
__ADS_1
Edgar melengkungkan bibirnya tipis. Dia sangat bangga terhadap Lyn yang semakin dewasa.
***