
Bab 43
Di belahan dunia lain, terlihat seorang wanita yang begitu stress menjalani kehidupan susahnya saat ini.
Berat badannya kian hari terus menurun perlahan. Padahal asupan makanan dan gizinya jelas sudah tertata rapi oleh kepala pelayan, tapi karena pekerjaan yang menumpuk dan kosongnya uang saku yang membuat jiwa Shakila serasa kosong.
Shakila yang begitu hobi shopping dan memanjakan dirinya dengan barang-barang mewah nan mahal, kini dia seperti seorang gelandangan yang sedang di tampung di sebuah villa yang hanya mendapatkan jatah makan saja.
Tentu ini tidak seimbang dengan pekerjaannya yang seperti di kejar-kejar kereta peluru dan dia hanya di bayar dengan makanan gizi seimbang. Ini benar-benar penyiksaan batin yang kejam untuknya.
"Nona, mohon buka pintunya." Ucap kepala pelayan sambil mengetuk pintu kamar Shakila.
Shakila dengan malas membuka pintu kamarnya.
"Ada apa uncle?"
"Nona, kepala proyek sedang menunggu anda untuk membuat laporan mingguan. Mohon untuk segera membersihkan diri dan bersiap-siap."
"Kenapa harus sekarang. Bukankah ini hari libur nasional? Semua orang kan sedang libur." Ucap Shakila bingung.
"Mohon maaf nona. Kemarin anda beristirahat selama 2 hari karena sakit, tentu saja anda harus menggantinya agar hukuman 3 tahun ini lengkap."
"What??" Spontan Shakila teriak.
"Kenapa sakit saja dihitung? Aku sakit juga karena pekerjaan melelahkan itu." Kesal Shakila.
"Alasan anda berada di sini adalah hukuman. Dan hukuman ini diberikan oleh tuan muda, tentu saja anda harus mematuhi semua peraturan yang tuan muda tetapkan."
Shakila pun tercengang mendengarnya.
"Peraturan adalah peraturan nona. Silahkan bersiap-siap, jangan sampai kepala proyek kesal karena menunggu anda terlalu lama."
Setelah mengatakan itu kepala pelayan segera meninggalkan Shakila yang memantung dengan raut wajah kesal.
'Benar, ini semua sudah diatur oleh Edgar untuk menyiksaku.' Batin Shakila dengan mengepalkan tangannya.
***
Di mansion
Edgar menyambut Lyn di ruang tamu setelah pulang dari kampus karena hari ini Edgar sedang malas untuk pergi ke perusahaan.
Tiba-tiba ada seorang pria muda seusia Lyn mendatangi mereka.
"Tuan muda, semua yang anda minta sudah ada di atas meja di ruang kerja anda."
__ADS_1
Lyn melihat pria muda itu dari ujung kaki sampai ujung kepalanya.
"Kakak siapa dia?" Tanya Lyn dengan bingung.
"Oh aku lupa jika belum memberi tahumu. Dia adalah Jimi pengganti Milo. Nah Jimi, perkenalkan dirimu."
"Halo nona, perkenalkan nama saya Jimi Lionel. Panggil saya senyamannya."
"Halo salam kenal. Saya Lyn." Ucap Lyn tersenyum.
Jimi menanggapi nya dengan mengangguk ramah.
"Tuan muda, jika tidak ada yang dibutuhkan lagi, saya pamit."
"Ya, hati-hati dijalan." Jawab Edgar.
Setelah Jimi pergi, Lyn bertanya pada Edgar tentang Milo.
"Kak Ed, kenapa kak Milo di ganti?" Tanya Lyn dengan mengernyitkan keningnya.
"Karena Milo harus pergi untuk menyelesaikan urusannya."
Seketika Lyn teringat dengan kepergian Milo sewaktu di ruang VIP. Sebelum pergi, Milo sempat meminta maaf padanya dengan sebuah penyesalan.
Edgar terdiam.
"Kakak sudah janji akan menceritakannya setelah aku operasi plastik bukan?" Rengekan Lyn dengan mengguncangkan lengan Edgar.
Edgar pun menghela nafasnya beberapa kali sebelum menjelaskan hubungan kepergian Milo dengan Lyn untuk masalah yang menimpanya kemarin.
"Yang menyerangmu tempo hari adalah orang bayaran dari klan moon fire, musuh dari klan Black fire yang diketuai oleh Milo. Para musuhku biasanya dari kalangan pebisnis yang bekerjasama dengan para mafia lain yang bertentangan dengan Milo. Mereka menyerang mu karena mereka tahu bahwa kamu sangat dilindungi oleh aku dan Milo."
"Jadi kak Milo sebenarnya adalah ketua mafia?" Lyn menganga tidak percaya.
"Ya. Awalnya dia tidak sengaja terjun sebagai mafia untuk memperkuat diri dari incaran pamannya. Pamannya yang begitu tamak menghalalkan segala cara agar bisa menjadi ahli waris yang sudah menjadi milik Milo sedari lahir. Bahkan pamannya pun menginginkan aset Milo yang didapat murni dari kerja keras Milo sendiri."
"Sebenarnya, awalnya Milo disini karena sedang bersembunyi dari pamannya, Milo tidak akan bisa disentuh olehnya karena Gretchen sebagai salah satu pengusaha besar di Asia dan negara M. Paman Milo dan para musuhku adalah orang yang haus kekuasaan yang tidak mempunyai kuasa, itulah sebabnya mereka bekerjasama dengan para mafia agar keinginan mereka tercapai dengan instan. Seperti halnya Shakila."
Mendengar nama Shakila disebut, Lyn langsung melebarkan pupil matanya.
"Shakila? Apa maksud kakak?"
"Shakila juga bekerjasama dengan utusan paman Milo dengan keuntungan masing-masing. Ingatkah kamu tentang kekacauan Paris Fashion, alergi soya mu, dan penyerangan tempo hari? selain karena ingin membuatmu menderita, itu semua adalah tugas Shakila sebagai pencari celah untuk menggoyahkan Milo."
__ADS_1
Mendengarnya, tubuh Lyn terhuyung ke belakang hingga terduduk di sofa dengan mata berkaca-kaca.
"Shakila.."
"Mengapa.. Hidupku tidak tenang dari kejahatan padahal ada di dekatmu."
Edgar ikut duduk disebelah Lyn dengan menggenggam tangannya.
"Lyn, maaf jika kamu harus menjadi korban dari para musuh kami. Tapi aku akan berusaha dengan segala yang ku punya untuk terus melindungi mu."
"Sedari sekolah menengah aku belum pernah diberikan kesempatan untuk bahagia. Sepertinya, hidup sendiri di tempat terpencil akan lebih baik jika kehidupanku selalu dikelilingi musuh." Ucap Lyn dengan pandangan lurus.
Dada Edgar begitu sesak mendengar kata demi kata yang Lyn ucapkan. Edgar tidak sadar menitikkan air matanya karena menurutnya perkataan Lyn mengarah ke perpisahan.
"Tapi rasanya itu tidak mungkin, dimanapun aku berada Shakila akan menemukan ku dengan ambisinya. Meskipun aku hidup susah dan kekurangan, jika aku membuat kebahagiaan sedikit saja, maka Shakila akan langsung menghancurkannya. Satu-satunya tempat yang tidak akan di sentuh Shakila adalah mansion ini."
Lyn beralih melihat ke dalam mata Edgar.
"Musuhku yang asli adalah Shakila. Bukankah kakak pernah mengatakan jika ingin melawan Shakila maka aku harus membalikkannya dengan hal yang tidak disukainya."
Mendengar kalimat terakhir, Edgar langsung mengusap setitik air matanya.
"Lyn, apakah maksudmu.. kamu akan tetap tinggal denganku?"
"Kakak, Shakila begitu menyukai aku yang lemah dan menderita. Karena dirimu aku bisa menjadi lebih kuat. Berkat kasih sayang dan dukunganmu aku bisa lebih maju. Dan aku.. Aku bisa bahagia karena dicintai oleh mu."
Wajah Lyn tersipu saat mengatakan kalimat terakhir.
"Benarkah.. kamu tidak akan meninggalkan ku?" Tanya Edgar berbinar.
"Bagaimana mungkin aku meninggalkan orang yang kucintai sedangkan orang yang mencintaiku selalu membuat ku merasa aman dan bahagia." Ucap Lyn tersenyum tipis.
"Oh gadis kecilku."
Edgar langsung memeluk Lyn dengan erat seakan tidak ingin melepaskannya.
"Kakak ini sangat sesak."
"Oh maaf, aku terlalu senang saat kamu tidak memilih untuk pergi."
"Siapa yang mau pergi?" Tanya Lyn dengan dahi mengkerut.
"Oh, aku pikir kamu… ah membuatku gemas saja."
Edgar pun menggelitik Lyn sambil sesekali menciumnya di sofa itu. Itu membuat Lyn tertawa terpingkal-pingkal dibuatnya.
__ADS_1
"Ah, ampun, ampun. Haha."
***