
Dear readers kesayangan..
Alhamdulillah 1 bulan yang lalu novel pertama author telah tamat.
Tak lupa author juga mengucapkan banyak terimakasih yang telah mau mampir ke karya receh tersebut dengan meninggalkan jejak jejaknya. Mohon maaf bila banyak kesalahan dalam penulisan yang tidak sesuai ataupun menyinggung pihak manapun🙏
Mohon maaf juga author baru mengucapkan terimakasihnya sekarang karena sesungguhnya author begitu bingung untuk memilih kata. Di kehidupan nyata Author adalah orang yang kesulitan berbicara dengan kata kata yang jelas (ngomong ngalor ngidul yang terkesan tidak nyambung dengan apa yang dibicarakan, padahal nyambung) dengan orang yang tidak begitu akrab meskipun itu adalah teman. Author hanya akan lancar dengan keluarga, saudara, dan orang orang yang dirasa satu frekuensi dengan author. Jujur author itu suka kesal dengan diri sendiri karena orang orang yang sedang ngobrol dengan Author selalu mengkerutkan keningnya Dan di bumbui wajah sinisnya 😔 . Apakah mungkin karena faktor author yang jarang keluar rumah (lebih tepatnya keluar kamar,🤭) sehingga author jarang bertemu dengan orang orang di luar rumah? Bisa jadi uthor memang kurang berinteraksi ataupun sosialisasi🤦 Hmmmm
Ya sudahlah lupakan saja tentang author yang seperti itu ya readers, karena sejujurnya author malu🙈😅
Sekarang izinkan author untuk promo novel baru ya… Novel ini adalah cerita dari Milo yang masih terhubung dengan novel Desain Cinta CEO dingin tentunya, dan juga akan terhubung dengan novel lain yang author sedang siapkan.
sekali lagi mohon maaf jika sampai detik ini kata kata yang author tulis disini terasa aneh untuk di baca🙏
Mohon dukungannya ya readers kesayangan…. semoga kita semua di beri kesehatan, di lancarkan rezekinya, dan di berikan nikmat keberkahan. amiin.
Love Love buat kalian.
berikut adalah cuplikan bab awalnya :
Orang orang penting perusahaan. Kalimat yang terngiang di kepala Milo saat ini.
"Jika mereka tidak menipuku, maka aku tidak akan melenyapkan mereka seperti ini." Gumam Milo yang menerawang kejadian dua bulan yang lalu.
*Flashback on
Dor.
****. Milo sedikit mengerang memegang kakinya yang tertembak.
"Beraninya kalian menipuku."
"Kami tidak menipumu, tapi kau yang mudah di tipu."
Hahaha
Lima orang yang di percaya Milo tertawa atas keberhasilan mereka yang menjebak Milo untuk kesekian kalinya.
Milo menatap wajah 5 orang yang di kenalnya sedari kecil. Ya, mereka adalah para petinggi Puroe Wood, perusahaan mebel milik orang tua Milo.
Milo sendiri berada di tengah hutan seperti itu karena termakan jebakan yang mereka buat.
Hati itu Setelah memutuskan pergi dari tempat Edgar, Milo yang akan langsung menuju markas Black Fire pun seketika menghentikan mobilnya mendadak karena sosok yang seperti di kenalnya berada di tengah jalanan sepi itu.
Milo turun dari mobil sembari memegang pistol di tangannya. Dan mata Milo terbelalak setelah melihat wajah dari pria tersebut.
"Paman Ali." Milo memasukkan pistolnya kemudian menolong pria tersebut.
"Apa yang terjadi paman, kenapa paman bisa ada di sini?' Milo melihat sekelilingnya waspada.
"Marion.." ucap Ali kesakitan.
"Apa pamanku yang melakukan ini?"
__ADS_1
Ali mengangguk pelan. "Tolong yang lain. Selamatkan mereka." Ucap Ali menangis.
Tak menunggu lama Milo membawa masuk Ali ke mobil dan segera melajukan mobilnya ke tempat yang di tunjuk Ali.
Beruntung Milo telah berhasil memberikan sinyal kepada pasukan Black Fire melalui ponselnya secara diam-diam.
Milo yang di bawa ke dalam hutan pun merasa curiga. Namun dia masih harus tenang agar bisa terus waspada sampai bantuan datang untuknya.
Dan benar saja ketika sampai di tempat yang di tunjuk Ali, terdapat 4 orang petinggi Puroe Wood lainnya tergeletak dengan ekspresi kesakitan.
Milo yang melangkah mendekati keempatnya pun seketika melebarkan pupil matanya ketika terdengar sebuah tembakan.
Dan sekarang di tengah hutan yang gelap ini, Milo telah di kepung oleh puluhan orang yang memakai topeng macan.
Kemudian 5 orang petinggi Puroe langsung pergi karena telah selesai dengan tugasnya.
"Siapa kalian?" Tanya Milo setelah melihat semua orang bertopeng.
Milo sangat penasaran dari klan mana gerombolan ini? Pasalnya Milo belum pernah melihat kelompok yang bertopeng macan seperti itu.
"Kau tidak perlu tahu siapa kami. Ikutlah dengan kami secara baik-baik karena kami tidak akan membunuhmu." Ucap pria kekar yang warna topengnya berbeda sendiri. Bisa di pastikan itu adalah pemimpinnya.
"Cih, untuk apa aku ikut dengan orang orang yang tidak aku kenal."
"Rupanya kau ingin memakai kekerasan."
"Kau bilang tidak akan membunuhku kan?" Milo tersenyum miring. "Tapi aku lebih suka mati daripada harus ikut manusia sampah seperti mu. Hiiyaaa."
Milo menyerang pemimpin itu dengan tangan kosong. Kemampuan bertarung Milo masih sangat lincah meskipun kakinya memiliki luka tembak.
Mereka kembali melanjutkan pertarungan. Pemimpin bertopeng yang sudah tidak betah dengan situasi itu pun memberikan kode kepada salah satu anak buahnya untuk menembak Milo.
Dor.
"Arghh ****.." Milo terduduk di tanah sembari memegang kaki satunya lagi yang telah di tembak.
"Berani nya kau menyuruh anak buahmu menembak. Jika kau seorang jantan, lawan aku sebagai laki-laki."
Pemimpin itu tidak menghiraukan Milo dan mengambil sebuah jarum suntik yang di sodorkan anak buahnya.
"Lepaskan." Milo memberontak saat tubuhnya di tahan oleh dua orang.
Milo yang sudah pasrah dengan keadaannya yang tidak memungkinkan, tiba-tiba satu orang yang sedang menahan tubuh Milo tergeletak dengan sebuah anak panah yang menancap.
Jleb.
Semua orang yang ada di tempat itu terkejut melihat sebuah anak panah yang entah darimana asalnya.
"Hei, siapa kau." Teriak pemimpin bertopeng.
Milo mengedarkan pandangannya di kegelapan hutan itu. Dan dengan ketajaman instingnya pun Milo berhasil menangkap sosok yang di yakini sebagai sumber anak panah itu.
Apakah dia seorang gadis? Batin Milo.
Milo terus memperhatikan siluet itu yang mulai mengangkat busurnya bersiap untuk memanah kembali. Tak lama kemudian tiga orang pun tumbang karena gadis itu melepaskan tiga anak panah secara bersamaan.
__ADS_1
Jleb.
Jleb.
Jleb.
Pemimpin bertopeng itu pun melihat marah pada beberapa anak panah yang menancap di tubuh anak buahnya.
"Cepat, segera tangkap orang itu dan lenyapkan!"
"Baik bos." Ucap 3 orang anak buahnya yang kemudian langsung berlari menuju gadis panah itu setelah mengetahui asal anak panah yang melesat barusan.
Mendengar perintah itu, si gadis berlari secepat yang ia bisa untuk melarikan diri.
Gadis itu terus berlari di kegelapan dengan berbagai ancaman dari ketiga pria bertopeng yang mengejarnya.
Hingga pengejaran itu terhenti di saat gadis itu telah terperosok ke dalam jurang.
"Aaaaaa…."
Karena gelapnya malam, para musuh itu menghentikan pengejaran setelah mendengar suaranya yang seorang gadis. Mereka yakin jika hanya seorang gadis kecil memasuki jurang pasti akan mati.
Di sisi lain Milo dengan sisa tenaganya terus memberontak agar jarum suntik itu tidak mengenai tubuhnya. Pemimpin itu sangat kesal lantaran hanya untuk menyuntik saja sangatlah susah walaupun tubuh Milo sudah di tahan oleh 6 orang.
Dan akhirnya, Milo hanya bisa pasrah lantaran tubuhnya sudah lemas karena darah yang keluar cukup banyak.
"Lapor bos."
Seketika Milo menghela nafasnya lega ketika jarum itu tidak jadi menembus kulitnya. Setidaknya, laporan anak buah bertopeng itu bisa mengulur waktu sampai bantuan datang.
"Ck, kalian. Membuatku kaget saja." Geram bosnya.
"Maaf bos, kami ingin melaporkan bahwa gadis kecil itu terperosok ke dalam jurang. Apakah kita harus melakukan penyisiran untuk memastikan bahwa dia sudah menjadi mayat atau belum?"
"Tidak usah. Kau bilang dia seorang gadis kecil kan? Aku yakin dengan tubuh kecilnya itu dia pasti mati."
Tiba-tiba,
Dor.
Dor.
Dor.
Pasukan Black Fire pun datang mengepung orang orang bertopeng itu dan langsung memberantasnya.
"Maaf ketua, kami terlambat karena di hadang oleh klan Moon Fire di tengah perjalanan." Ucap Redy.
Milo dengan wajah pucat nya hanya memejamkan matanya beberapa detik sebagai tanda mengangguk.
Dan Milo berhasil di selamatkan ke rumah sakit terdekat tepat waktu sebelum benar-benar kehabisan darah.
*Flashback off
***
__ADS_1