Desain Cinta CEO Dingin

Desain Cinta CEO Dingin
kejar-kejaran


__ADS_3

Bab 58


Shakila membuka matanya dengan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Pasalnya, ketiga preman itu menyetubuhinya dengan sangat kasar dengan berbagai penyiksaan seperti yang di alami Diana.


Shakila pun memakai baju daster yang sudah tergeletak di sampingnya. Daster itu di letakkan oleh Dion karena baju yang ada di tubuh Shakila sudah tercecer sobek.


Shakila pun memakan makanan yang telah tersedia di sampingnya. Shakila segera makan dengan sangat lahap karena tenaganya sangat terkuras akibat ulah ketiga preman itu.


Di tengah santapannya, tiba-tiba Dion datang mengejek Shakila.


"Uluh uluh.. laper ya?"


Shakila hanya mendelik.


"Gimana korban salah sasaran nya, apa enak?"


Shakila hanya diam dan terus memakan makanannya sampai habis dengan harapan makanan yang dia makan itu menjadi sumber kekuatan untuk melarikan diri dari gudang itu.


Namun, harapannya seketika sirna setelah makanannya habis. 


Shakila yang sudah kenyang pun di buat bingung dengan pemandangan yang ada di depannya.


Terlihat Dion sedang bolak balik meletakkan beberapa barang seperti sapu, sepatu, kursi kayu, dan tangga aluminium.


"Sudah kenyang? Baiklah, barang mana yang akan kau pilih."


"Untuk apa?" Ucap Shakila dengan mengernyitkan keningnya.


"Ck, rupanya kau sudah lupa dengan barang-barang ini."


Shakila yang masih mencerna dengan apa yang dilihatnya pun seketika matanya membola. Dia ingat jika barang barang itu adalah bentuk penganiayaan terhadap Lyn.


"Dion. Kau tidak macam macam kan dengan barang-barang itu?" Ucap Shakila waspada.


"Aku tidak akan macam macam Shakila. Aku hanya satu macam saja, yaitu menganiaya mu." Ucap Dion dengan seringai nakal nya.


Tampaknya, hari ini jiwa iseng Dion sedang muncul untuk bermain-main dengan Shakila. Dia benar-benar sangat bersemangat untuk melihat dan mendengar Shakila kesakitan.


"Baiklah, mari kita mulai dari yang paling ringan dulu."


Dion pun mengambil salah satu sepatu dan melemparkannya ke wajah Shakila.


Bug.


"Arghh. S*alan kau Dion." Maki Shakila dengan mengusap hidungnya yang berdenyut dan mengeluarkan darah.


"Ya ampun, baru sepatu kanan yang ku lempar malah sudah berdarah. Ckckck."


Tak lama kemudian Dion melemparkan kembali sepatu kiri ke dada Shakila.


"Aw. Sshhh.." Pekik Shakila dengan memegang sebelah dada yang terasa sakit.


Mata Dion tidak pernah lepas dari wajah Shakila. Dia sangat menikmati raut kesakitan itu.


Setelah meringis Shakila sudah berkurang, Dion pun mengambil sapu dan kembali tersenyum nakal kepada Shakila.


"Baiklah, selanjutnya sapu."

__ADS_1


Bug.


Bug.


Bug.


"Aaaaaaarrghh hentikan." Shakila berhasil memegang sapu itu.


Dion pun tersenyum nakal dan menendang tangan Shakila. 


Duk.


Dion masih terus memukulnya dari lambat menjadi cepat dan melambat lagi.


Shakila yang sudah tidak tahan pun menghindar. Namun sialnya tubuh bagian inti Shakila terasa sangat sakit dan perih untuk berlari. Shakila pun dengan sebisanya berjalan tertatih menghindari Dion.


Dan Dion merasa sangat senang karena dirinya main kejar-kejaran meskipun versi slow motion. Dia benar-benar menikmati aura ketakutan Shakila dan tertawa tiada henti.


"Hahaha.."


Di saat sapu itu patah, Dion pun mengambil tangga aluminium sebagai gantinya. 


"Tidak. Dion, kau sudah gila." Ucap Shakila di tengah kesakitannya. 


"Hahaha… aku ini gila, karena kau biang gila nya Shakila."


Bug.


Bug.


Bug.


Shakila pun meronta ronta untuk mengambil tangga aluminium, tapi Dion malah melemparkannya ke tubuh Shakila.


Bug.


Shakila menangis karena rasa sakit di sekujur tubuhnya yang semakin bertambah. 


Dion pun menjambak rambut Shakila.


"Inilah yang Lyn rasakan saat di lorong 28. J*lang.."


Shakila hanya menangis tak berdaya. Kemudian Dion melepaskan jambakannya dengan kasar.


***


Di perjalanan pulang setelah fitting gaun pengantin, Lyn menyandarkan kepalanya di pundak Edgar sembari menonton video kejar-kejaran Dion dan Shakila.


"Kenapa aku merasa Dion begitu bahagia saat main kejar-kejaran dengan Shakila?" 


Edgar pun terkekeh.


"Mungkin karena dia sedang melakukan apa yang harus dilakukannya dahulu."


"Ng.. bisa jadi."


Di mansion, karena sudah memasuki jam makan siang, Edgar dan Lyn langsung menuju ke ruang makan. Namun, mereka di kejutkan oleh seorang laki-laki paruh baya yang mempunyai kemiripan dengan Edgar yang sedang duduk menatap kedatangan mereka.

__ADS_1


"Papah, kapan datang?" Tanya Edgar dengan memeluk papahnya.


Kemudian Edgar melihat kesana kemari mencari seseorang. "Apa mamah gak ikut?"


"Papah dan mamah baru saja datang. Mamahmu sedang ke kamar dulu mengambil sesuatu. Pergilah susul mamahmu dan bantu untuk mengambilnya. Ting." Eddies mengedipkan sebelah matanya.


Edgar tersenyum mendengarnya dan langsung pergi menuju kamar ibunya. Dia lupa jika Lyn sedang mematung merasakan kecanggungan sekaligus takut karena sang calon mertua menatapnya tajam.


Setelah memastikan Edgar pergi, kini Eddies melihat Lyn dari atas kebawah ke atas lagi yang sedang berdiri canggung.


"Jadi ini calon menantuku?"


"H-halo om. Perkenalkan, saya Lyn." 


Setelah diam beberapa saat, Eddies pun menyuruh Lyn duduk setelah dirinya duduk lebih dulu.


"Aku mendengar banyak tentang putraku yang sangat mencintaimu, bahkan sampai rela menghadapi mafia yang paling sensitif di benua ini. Lalu apa yang kamu miliki untuk membalas cintanya?"


"Saya memang tidak mempunyai apapun, tapi saya punya cinta dan kasih sayang untuk di berikan kepada kak Edgar. Saya akan melakukan apapun agar bisa berguna untuk kehidupan dan kebahagiaannya."


"Termasuk merelakan Edgar dengan wanita pilihanku?"


Deg.


Lyn menunduk untuk menyembunyikan matanya yang sudah mengembun. 


"Kamu tahu, jika putraku adalah pewaris tunggal. Kami telah mengatur perjodohan dengan putri dari keluarga di urutan kedua terkaya di negara M. Hah, entah apa yang membuatnya begitu menyukai mu."


Lyn menggigit bibir bawahnya untuk menahan isak tangisnya. Jemari di kedua jangannya saling meremas untuk menguatkan dirinya yang sedang sesak.


Lyn mengerti arah pembicaraan Eddies. Benar, Edgar adalah sang pewaris yang harus bersanding dengan wanita yang sederajat dengannya. Lyn sangat menyadari jika dirinya hanyalah wanita biasa yang jauh dari kata sederajat dengan Edgar. 


Dengan menarik nafasnya dalam-dalam, Lyn yang akan menjawab pertanyaan Eddies, tiba-tiba saja suasana berubah menjadi membingungkan oleh apa yang di lihatnya.


"Kamu ya, sudah ku bilang jangan coba-coba iseng sama calon menantu kita, malah bandel. Kalo mereka tidak jadi menikah bagaimana, kita tidak akan mempunyai cucu karena Ed hanya mencintainya." Ucap Melliana sambil menjewer telinga Eddies.


Melliana sangat kesal karena di pertemuan pertamanya dengan calon menantu malah membuatnya ketakutan dan menahan tangis.


"Aduh, aduh.. maaf mah, papah cuma bosan. Mamah lama sih di kamarnya." Alibi Eddies.


Eddies berusaha melepaskan tangan istrinya karena telinganya sudah sangat sakit akibat jeweran yang super itu.


Lyn yang kebingungan pun masih sempat merasa kasihan dengan wajah melas Eddies yang kesakitan.


"Tante, aku mohon lepaskan om Eddies. Kasihan om.."


Lyn belum selesai bicara, Melliana malah tambah memelintir telinga Eddies.


"Gara gara kamu menantu kita jadi memanggil ku tante."


"Rasakan ini."


"Aaarrggh.. ampun mah, gak lagi lagi. Ampun…"


Eddies melihat putranya berharap mau membantunya untuk melepaskan dari amukan ibunya. Edgar hanya memutar bola matanya malas.


Sedetik kemudian, Edgar malah tersenyum nakal dan mencium bibir Lyn didepan mata kedua orang tuanya. 

__ADS_1


Sontak saja itu membuat tuan dan nyonya Gretchen Itu terbengong dengan kelakuan putranya.


***


__ADS_2