Desain Cinta CEO Dingin

Desain Cinta CEO Dingin
kondisi Lyn


__ADS_3

Bab 37


Edgar dengan cepat meninggalkan ruangan meeting menuju rumah sakit setelah mendengar kabar tentang kejadian yang menimpa Lyn. 


Saat berada di ruang VIP Lyn, Edgar hanya diam menatap lurus wajah Lyn yang terbalut oleh perban yang hampir menutupi wajahnya.


"Bagaimana kondisinya?" Tanya Milo yang baru memasuki ruangan itu.


"Wajahnya melepuh karena sikat jarum itu mengandung limbah merkuri. Dokter bilang Lyn harus operasi plastik kembali karena jarum itu sempat mengoyak tulang hidungnya. Tapi.. aku takut kejadian ini akan mempengaruhi kondisi psikis nya lagi." Ucap Edgar dengan menatap mata Lyn yang masih tertutup.


Setelah terbangun dari pengaruh obat penenang, Lyn hanya diam dan terus diam dan hanya mengeluarkan air matanya sepanjang hari tanpa ada ekspresi apapun di wajahnya.


Bahkan sampai menjelang malam pun Lyn hanya diam seperti mayat hidup. Lyn hanya mengandalkan nutrisi dari cairan infus karena Lyn enggan untuk makan, bahkan bergerak pun hanya bola matanya saja yang berkedip sepanjang hari sebagai aktivitasnya. 


Edgar sangat lemas melihat keadaan Lyn yang seperti itu. Ketakutan Edgar akan kondisi psikisnya benar-benar terjadi.


Melihat kondisi psikis Lyn yang kembali terguncang, Milo bersandar di dinding kamar VIP itu dengan penuh penyesalan. Harusnya dia sudah mendatangi pamannya sejak kemarin, tapi dia memilih menunda untuk menyelesaikan masalah mata-mata di mansion Edgar yang dimana anak buahnya juga bisa untuk menyelesaikannya.


Lyn hanya menggerakkan bola matanya ketika melihat Milo mendekatinya.


"Maaf.. hanya untuk menggoyahkanku, kamu jadi sasaran musuhku." Ucap Milo dengan penuh penyesalan.


Mata Lyn kembali lurus setelah mendengarkan Milo. 


"Aku minta maaf yang sebesar-besarnya. Cepatlah sembuh dan hidup dengan baik. Kelak ketika aku kembali, aku sudah melihat mu bersinar dengan menggenggam cita-citamu." Pamit Milo pada Lyn. 


Namun Lyn tidak merespon apapun seolah indra pendengarannya sudah tidak berfungsi.


Setelah mengatakan itu Milo melihat Edgar bermaksud untuk pamit dengan perasaan berat.


Edgar yang sudah tidak tahan akan atmosfer itu segera mendekatinya dengan sorot mata yang tajam.


Ketika berada di hadapan Milo, Edgar mengangkat tangannya untuk memegang pundak Milo. Tak lama jemari Edgar memutih karena mencengkeram kuat pundak Milo. Tidak ada ekspresi kesakitan di wajah Milo. Milo hanya mendongak melihat wajah Edgar dengan mata sayu.


"Tidak ada yang harus di tunggu lagi. Musuhku dan musuhmu saling berhubungan denganmu. Jangan biarkan mereka mengusik kita lagi. Pergilah. Aku dan Lyn menunggumu di hari pernikahan." Ucap Edgar dengan sorot tajam menusuk ke dalam mata Milo.


Seketika raut wajah Milo berubah menjadi sedikit lebih segar. Kalimat terakhir Edgar membuatnya bersemangat untuk melenyapkan semua musuhnya. Jika Edgar dan Lyn menikah dengan bahagia, artinya Milo tidak akan merasa bersalah seumur hidupnya.


Milo pun memeluk sahabatnya itu untuk saling menguatkan dengan menepuk-nepuk pundaknya masing-masing.

__ADS_1


"Percayalah. Apapun sakitnya, semua akan sembuh dengan cinta." Ucap Milo dengan kedewasaannya.


"Berjanjilah, kau akan tetap utuh setelah menghabisi para musuhmu. Aku akan berusaha keras untuk membuatnya menjadi istriku."


Milo tersenyum tipis kemudian berbalik pergi meninggalkan dunia Edgar untuk waktu yang cukup lama.


"Buatlah musuhmu jera karena berani berurusan denganmu. Aku menunggumu pulang ke mansion dengan sejuta kebahagiaanmu." gumam Edgar sambil melihat punggung sahabatnya yang semakin menghilang di balik pintu.


*Flashback on


Setelah dari ruangan dokter, Edgar yang akan memasuki ruangan Lyn pun terkejut saat melihat Milo yang hanya duduk diam di kursi tunggu. Melihat Milo yang seperti itu, Edgar bisa merasakan ada sesuatu yang buruk yang terjadi saat ini.


"Mill kenapa tidak masuk?" 


Milo hanya melihat Edgar dengan mata sedihnya. Kemudian Milo menyodorkan tangan kanannya yang berisi kartu nama.


Dengan sedikit bingung, Edgar mengambilnya dengan pandangan yang tak lepas dari Milo. 


Edgar melihat ada sebuah logo bulan yang hampir tertutup api di bagian depan kartu, kemudian membalikkannya untuk melihat bagian belakang yang terdapat gambar panah menunjuk kebawah. Alangkah terkejutnya Edgar saat bagian panah itu di buka. Terdapat sebuah kalimat ancaman untuk Milo.


Segera serahkan hak warisku!


'apakah kerjasama ini semacam konspirasi?.' batin Edgar.


"Seperti yang kamu pikirkan." Ucap Milo.


 


*Flashback off


***


Hari ke 7 kondisi Lyn masih sama seperti sebelumnya. Tidak ada perkembangan apapun dari diri Lyn. Kondisi Lyn benar-benar memprihatinkan, sebuah tubuh yang tergeletak seperti tidak bernyawa kecuali mengedipkan matanya membuat Edgar sudah tidak tahan melihatnya. 


Berbagai upaya dan terapi tidak bisa mengubah apapun yang terjadi pada tubuh Lyn sekarang. Trauma nya benar-benar telah mengambil semangat hidupnya.


Edgar pun mencoba mengomeli Lyn sepuasnya.


"Apakah kamu lupa jika masih punya hutang padaku? Bukankah dirimu harus membalas kebaikanku? Kenapa selama 7 hari ini tidak ada perkembangan pada tubuhmu. Huh, membuang uangku saja." 

__ADS_1


Mendengar omelan Edgar, seketika Lyn mengedipkan matanya berkali-kali. Lyn menggerakkan matanya kesana-kemari mencari Edgar. Saat melihat Edgar, Lyn tiba-tiba mengucapkan sepatah kata.


"Maaf."


Seketika mata Edgar berkaca-kaca mendengarnya, dia sangat terharu akan ide terakhirnya. Edgar hanya pasrah jika cara terakhir ini tidak berhasil. Namun siapa sangka jika hati lembut Lyn masih bisa meresponnya.


Namun Edgar masih harus berakting agar mendorong lebih banyak emosi Lyn untuk merangsang kondisi psikisnya menjadi lebih baik.


"Tidak. Aku tidak akan memaafkan mu jika masih terus membayar tempat tidak berguna ini. Apa kamu ingin tahu berapa yang aku keluarkan untuk biaya kamar VIP ini?"


Edgar berbisik untuk menyebutkan nominalnya.


Lyn sangat syok tak percaya jika Edgar harus membayar biaya sebesar itu hanya untuk sebuah kecelakaan kecilnya.


"Jika sebesar itu, lebih baik aku pulang saja kak. Aku tidak ingin kakak mengeluarkan biaya yang lebih lagi." Ucap Lyn dengan suara lirih.


"Heh, kamu pikir pulang dengan kondisi seperti ini aku tidak menambah biaya? Di mansion kamu tidak akan bisa bekerja apapun dengan tubuhmu yang lemah ini. Bayangkan saja berapa lama hanya untuk sehat jika kamu berada di mansion tanpa perawatan dokter. Arghh, berapa lama lagi aku harus menunggu uang hasil kerja kerasmu." 


Lyn melihat Edgar dengan mata polosnya.


"Lalu, kenapa tidak pindah saja ke kamar yang paling murah untuk meringankan biaya."


Edgar menoyor kening Lyn pelan.


"Jika di kamar murah itu, waktu sembuh mu akan lama. Kamu harus cepat-cepat menghasilkan uang untukku. Bayangkan saja sudah berapa milyar uangku yang ku keluarkan untuk mu tapi belum kamu hasilkan bahkan setengahnya."


Mendengar kata milyar, Lyn menjadi gelisah.


"Maaf kak, maaf. Aku janji aku akan sembuh dengan cepat. Setelah ini aku akan bekerja keras." Lyn berbicara dengan mata yang hampir menangis.


Edgar pun tersenyum tipis melihat perubahan emosi Lyn yang mulai membaik dalam sekejap.


"Baiklah, baik, jangan menangis. Sekarang kamu makan dan minum obatmu agar cepat pulang."


Setelah ide terakhirnya berhasil, Edgar pun menerapkannya setiap hari selama Lyn masih di rawat.


Setiap jadwal makan, Edgar menyuapi Lyn dengan terus mengomel tentang uangnya. Lyn melihatnya dengan mata polosnya yang bingung. Sejak kapan CEO dinginnya itu bisa mengoceh panjang dan mengomel sepanjang hari seperti perempuan?


Sebenarnya Edgar sangat gemas dengan mata polosnya, tapi Edgar menahannya untuk terus mengomel dan mengoceh agar semangat hidup Lyn terus terdorong untuk kesehatan fisik dan psikisnya.

__ADS_1


__ADS_2