
Bab 40
Pada sore hari waktu Korea Selatan, Lyn melepaskan jahitan setelah 7 hari masa pemulihan.
Setelah pulang dari MIP surgery, Lyn mengajak Edgar untuk membeli oleh-oleh sebelum pulang. Namun Edgar menolak ajakan Lyn karena acara membeli oleh-oleh Edgar menginginkannya besok pagi.
'Bukankah besok pagi adalah jadwal pulang?' Batin Lyn dengan kebingungan.
"Tidak usah protes. Dimakan makananmu selagi masih hangat!" Ucap Edgar ketika makan malam telah tersaji di hadapannya.
Lyn pun memasang wajah cemberut ketika sedang memakan makanannya.
Sedangkan Edgar yang melihat Lyn cemberut hanya tersenyum tipis.
Pagi-pagi sekali Edgar yang belum memberi tahu kemana mereka akan pergi membuat Lyn kebingungan akan pakaian yang dikenakannya.
Pasalnya semenjak dirinya ada di mansion Edgar, dirinya hanya memakai dress atau gaun yang telah tersedia di lemarinya.
Kini, dirinya harus mengganti dress nya dengan celana jeans dan Hoodie.
"Kak Ed tumben sekali menyuruhku memakai pakaian ini." Gumam Lyn saat melihat penampilannya di depan cermin.
Setelah sampai di Lotte (salah satu kompleks rekreasi terbesar di Seoul) Edgar langsung membawa Lyn ke lantai 3 dimana terdapat Gelanggang ice skating indoor disana.
Rupanya, Edgar sengaja menyewanya untuk bersenang-senang dengan Lyn sebelum gelanggang itu dibuka untuk umum.
Namun Lyn begitu bingung dengan suasana sekitar yang masih sepi nan hening dikarenakan tempat rekreasi itu belum buka.
"Kakak, kenapa kita kesini? Bukankah tempat ini belum di buka?" Tanya Lyn dengan melihat ke sekelilingnya.
"Aku memesan gelanggang ini khusus untuk kita."
"Hah.." spontan Lyn dengan menunjuk dirinya dan Edgar bergantian (yang berarti kita) dengan wajah bodohnya.
"Sudah lama aku tidak bermain ice skating. Mari, aku akan mengajarimu." Ucapnya dengan menarik Lyn ke sebuah meja dimana terdapat 2 pasang sepatu seluncur es dengan ukuran kaki mereka dan 2 pasang sarung tangan.
Setelah bersiap dan pemanasan peregangan otot, Edgar dan Lyn memasuki gelanggang dengan berpegang tangan.
"Lyn, lihat aku dan ikuti gerakan ku ya."
Awalnya Edgar ingin pamer pada Lyn dengan kelihaiannya. Namun, Edgar sendiri lupa caranya bermain ice skating yang benar sehingga untuk berdiri saja dia tidak bisa seimbang. Sedetik kemudian, Edgar terjungkal karena tidak bisa menahan keseimbangan.
Lyn yang melihatnya hanya diam mematung dan tidak ada niatan untuk bergerak sedikitpun karena dirinya belum pernah berada di lapangan es seperti itu.
Edgar cepat-cepat bangun dan segera mendekati Lyn dengan kikuk.
"Ah maaf, yang barusan itu hanya tergelincir."
"Baiklah, mari kita berseluncur." Ucap Edgar dengan menyodorkan tangannya.
Lyn yang sebenarnya tidak percaya pada Edgar pun terpaksa menyambut tangan Edgar karena takut membuat Edgar kesal.
Edgar mulai berseluncur pelan dengan terhuyung-huyung. Lyn yang di pegang erat tangannya pun ikut terombang-ambing olehnya.
"Kakak sebenarnya bisa main Ice skating tidak? Mengapa terombang-ambing seperti ini." Ucap Lyn dengan wajah panik.
"Tenang saja aku sangat handal dalam olahraga ini karena ini olahraga favorit ku dulu."
Mereka berdua sedang terhuyung-huyung dan berusaha saling menahan keseimbangan.
Lyn yang jatuh lebih dulu malah menarik kaki Edgar yang membuatnya jatuh dengan keras.
"Waaaaaa" Lyn
__ADS_1
Gedebug..
"Arghh. Yocelyn… kenapa malah menarik kakiku?"
"Maaf kak aku tidak sengaja."
Lyn yang berusaha untuk berdiri dengan niat untuk membantu Edgar pun malah terjatuh di atas tubuh Edgar.
"Oh, Lyn…" ucap Edgar dengan meringis menahan sakit.
Beberapa detik kemudian.
Deg. Deg..
Suasana hening membuat detak jantung keduanya terdengar jelas oleh telinga masing-masing yang membuat suasana berubah menjadi canggung.
Edgar dengan cepat merubah posisi menjadi berlutut karena merasa ada sensasi aneh dalam tubuhnya. Jika posisi ini tidak segera di ubah, entah bagaimana nasib juniornya yang sedang anteng itu.
"Kakak, kenapa kau payah sekali." Ucap Lyn memecah rasa canggungnya.
"Itu karena aku sudah lama tidak bermain ice skating lagi."
"Memangnya Kapan terakhir kali kakak bermain ini?" Lyn penasaran.
"Sewaktu sekolah menengah pertama."
Wajah Lyn terlihat melongo mendengarnya.
'What? Selama itu.. dan sekarang malah mengajakku bermain ice skating yang jelas-jelas dia lupa caranya bermain.' batin Lyn.
"Lalu sekarang kakak bisa atau tidak? Kalo tidak bisa kita pulang saja." Ucap Lyn dengan kesal.
"Entahlah." Jawab Edgar enteng.
"Baiklah, baiklah. aku akan serius sekarang."
Kemudian Edgar menelpon seseorang untuk menanyakan tutorial bermain ice skating dengan benar.
Setelah mengerti, Edgar pun menutup telponnya kemudian mulai beraksi di depan Lyn.
Dimulai dari Edgar yang sudah bisa menyeimbangkan tubuhnya, kemudian mulai melaju dengan lihai layaknya atlet profesional.
Lyn mengeluarkan hp nya untuk merekam aksi Edgar. Aksi Edgar begitu anggun dan energik membuat Lyn terpesona sampai dia tidak menyadari bahwa Edgar sudah ada di depannya.
Edgar yang puas akan kecakapannya, teralihkan oleh Lyn yang sedang merekamnya.
"Apa sudah cukup merekamnya"'
Suara dingin Edgar menyadarkannya dan membuatnya sedikit kaget. Lyn pun hanya menjawabnya dengan cengar-cengir.
"Sudah, hehe."
Kemudian Edgar mulai mengajari Lyn perlahan.
"Untuk keseimbangan, posisikan kakimu membentuk huruf “V” dan pundak mu harus menunduk."
Lyn mulai mengikuti instruksi dari Edgar.
"Kemudian lakukan gerakan jalan di tempat."
"Ya, bagus, seperti itu.."
Namun Lyn yang masih belum bisa menyeimbangkan tubuhnya malah terhuyung ke depan dan jatuh ke dalam dekapan Edgar.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, jangan takut jatuh. Kalo jatuh kan bisa bangun lagi."
Perlahan Edgar mengajari Lyn dengan serius.
"Selanjutnya mari kita coba melangkah ke depan. Setelah melangkah, luruskan posisi kaki dan meluncurlah dengan pelan. Jika merasa tidak seimbang, segera pegang kedua lutut mu."
"Jika terjatuh, berlutut dan gunakan satu kaki sebagai tumpuan, kemudian angkat badanmu perlahan."
Lyn yang mencobanya masih merasa takut dan membuatnya menjadi tidak seimbang.
"Mulailah dengan perlahan dan bergeraklah dengan halus. Hindari gerakan tersendat-sendat."
Setelah beberapa kali mencoba nya dengan jatuh bangun, Lyn langsung bisa meskipun terasa sedikit kaku. Namun itu membuat Lyn sangat senang.
"Wuooaaaahhh.. aku sangat menyukai olahraga kutub utara ini."
"kenapa kutub utara?"
"Karena setiap hari aku selalu melihat wajah yang mirip kutub utara. Ups.." Lyn yang keceplosan langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Edgar yang merasa tersinggung pun mendekatinya dengan menyipitkan matanya.
"Sepertinya mulutmu harus diberikan hukuman agar tidak sembarangan mengatai orang. Apalagi orang setampan aku."
'Kenapa wajah tersinggung nya menjadi dua kali lebih tampan sih.' Batin Lyn.
Edgar yang melihat Lyn sedang melamun membuatnya menaikan sebelah alisnya dengan bertanya.
"Ada apa? "
"Kenapa bisa wajah dingin berada ditempat dingin menjadi sangat tampan." Gumam Lyn pelan namun masih terdengar oleh Edgar.
Edgar pun tersenyum manis menanggapinya. Senyuman itu membuat Lyn semakin terpesona dan hampir meleyot jika Edgar tidak memegang kedua bahunya.
Rupanya, saking terpesonanya akan ketampanan Edgar, Lyn masih belum sadar jika Edgar sudah ada didepannya dengan jarak 15 centi.
Kesempatan itu segera digunakan Edgar untuk menciumnya dengan penuh cinta. Lyn sangat terlena dibuatnya hingga memejamkan matanya menikmati setiap kelembutan sapuan lidah Edgar.
Ciuman itu berlangsung beberapa menit sehingga Edgar hampir tidak bisa mengontrolnya.
Ketika Edgar melepaskan pagutan bibirnya, Lyn masih belum sadar akan situasi dan masih memejamkan matanya. Itu membuat Edgar terkekeh sembari menikmati setiap inci wajah cantik Lyn yang masih sedikit bengkak.
Mendengar kekehan Edgar, Lyn tersadar dengan wajah memerah saking terkejutnya. Dia sangat malu akan apa yang dialaminya barusan.
Saat membuka matanya, Lyn langsung teringat jika barusan dirinya begitu menikmati dicium oleh Edgar.
"Sepertinya ciumanku membuatmu tidak sadarkan diri ya." Ucap Edgar dengan senyum jahilnya.
Bluss
Rona kemerahan benar-benar sudah menutupi wajah Lyn. Entah apa yang harus Lyn lakukan dengan situasi mendebarkan ini.
"Oh, aku baru teringat jika aku harus memberikan hukuman untuk mulutmu agar tidak sembarangan mengatai orang setampan aku."
Lyn ingin sekali lari dari tempat itu, tapi Edgar mencengkeram bahunya cukup kuat.
"K-kakak, maaf aku hanya…"
Belum selesai Lyn bicara Edgar sudah menyumpalnya dengan ciuman. Kali ini Edgar menciumnya dengan sedikit agresif. Lyn yang belum mahir berciuman pun menjadi kelabakan.
Edgar melepaskan pagutannya saat Lyn merasa sudah sesak. Lalu menciumnya kembali ketika Lyn sudah cukup menghirup oksigen.
Kejadian ini berulang hingga 5x, hingga wajah Lyn sudah memerah akibat sulit bernafas karena serangan ciuman ini adalah hal baru yang ia rasakan.
__ADS_1