
Bab 56
"Apa… Dionyshi Jayas?" Pekik Lyn.
"Bukankah namamu Jadion Marcelo?" Ucap Lyn dengan bingung menatap Dion.
Semua orang ikut menatap Dion karena penasaran.
"Bukan. Namanya adalah Dionyshi Jayas, putra pertama dari pasangan Darwin Jayas dan Fiony Shin pemilik restoran Jaya yang di rebut oleh Cileno Josan 10 tahun yang lalu."
"Jadi, kau adalah anak itu.. anak yang kami cari selama ini." Ucap Daniel yang melihat Dion dan istrinya bergantian.
"Memangnya untuk apa kau mencari ku?"
"Kami mencari mu untuk merawat mu. Karena kami tahu bahwa kalian masih kecil saat itu, kami ingin merawat mu dan adikmu sebagai tanda maaf kami yang tidak bisa mencegah kejahatan Cileno."
"Pintar sekali membuat alasan." Sinis Dion.
"Dion, saya mengerti akan kesalahpahaman mu. Lihatlah data ini. Terdapat bukti-bukti bahwa Celina Josan bukanlah keluarga asli Josan." Ucap pengawal Jimi.
Dion menerima berkas dari pengawal itu dengan hati-hati karena dia tahu jika pengawal Jimi bukanlah tandingannya.
Ternyata, Celina adalah seorang anak yang di adopsi oleh keluarga Josan dari panti asuhan.
Saat itu Cileno merengek menginginkan seorang adik perempuan karena kehilangan Cella sang adik perempuannya. Leno merasa dihantui karena secara tidak langsung dirinya lah yang membunuh Cella.
Kejadiannya, pada waktu itu semua orang sedang sibuk dengan keperluan pesta ulang tahunnya. Cileno yang sedang bermain dengan adiknya di dekat kolam renang pun tidak sengaja menyenggol Cella yang membuat Cella tercebur kedalam kolam. Leno yang meminta pertolongan kepada orang tuanya pun terlambat, karena tubuh Cella sudah mengapung di kolam itu.
Setelah mengadopsi Celina, Cileno berjanji akan menyayanginya sepenuh hati sebagai rasa bersalahnya pada orangtuanya. Namun saat masing-masing Cileno dan Celina sudah menikah, Cileno malah menjadi orang yang tamak karena lagi-lagi kehilangan cintanya. Istri dan putrinya yang berusia 4 tahun meninggal karena kecelakaan setelah orangtuanya meninggal.
Entah mengapa takdir selalu saja merenggut nyawa orang-orang yang Cileno cintai. Sampai pada akhirnya dirinya bertemu lagi dengan Fiony Shin, sang cinta pertamanya yang sedang hidup bahagia dengan keluarga kecilnya.
Cileno yang mempunyai takdir cinta yang buruk, membuatnya ingin merebut kembali cinta pertamanya. Dan semua yang dimiliki oleh ayah Dion harus menjadi miliknya karena otaknya sudah tidak waras dan selalu berpikir untuk merebut Fiony dan semua yang Fiony miliki. Dia pikir jika Fiony jadi miliknya, maka takdir buruknya akan berubah.
Fiony memilih bunuh diri dengan meminum racun agar bisa menghentikan kegilaan Cileno. Karena Cileno pernah mengatakan pada Fiony bahwa dia akan mati jika cintanya mati. Demi keamanan keluarga kecilnya, dan demi mengakhiri kegilaan itu, Fiony pun mengorbankan nyawanya tepat di depan mata kepala Cileno. Dan akhirnya, Cileno pun ikut bunuh diri dengan meminum racun yang sama seperti Fiony.
Setelah membaca data itu, Dion terhuyung ke belakang dengan menjatuhkan pisau dan berkas itu. Kakinya seperti tidak mempunyai tulang untuk menopang tubuhnya.
"Jadi… aku salah paham?"
Debaran jantung Dion seperti tak beraturan. Dadanya begitu sesak setelah mengetahui kebenarannya.
Shakila yang merasa kobaran api Dion sudah lenyap merasa frustasi dan memilih untuk segera menghabisi Lyn dengan tangannya sendiri.
Saat Dion sedang menangis. Tiba-tiba terdengar suara pisau yang menancap.
Jlebb.
"Arghh.."
Daniel menghadang pisau Shakila dengan punggungnya.
__ADS_1
Shakila menghempaskan kasar tubuh Daniel kesamping.
"Minggir!"
"Persetan dengan semua salah paham itu. Yang ku inginkan hanyalah menghabisi bocah ini." Sarkas Shakila dengan mengangkat tangannya tinggi dengan tujuan pisau itu menancap sempurna di tubuh Lyn.
"Yaaaaa…."
Dor!
***
Shakila membuka matanya dengan rasa sakit di tengkuknya. Dia melihat sekelilingnya yang terasa asing yang berakhir dengan melihat sosok yang dia kenal sedang duduk di sampingnya.
"Dion. Dimana kita? Kenapa aku merasa asing dengan tempat ini." Tanya Shakila dengan mata yang terus menyapu ke sekelilingnya.
"Ini di sebut gudang neraka, karena gudang ini tempat eksekusi yang ada di tengah hutan milik tuan Milo."
"Apa? Jadi kita tertangkap oleh Milo?"
"Bukan. Kita di bawa ke sini oleh anak buah tuan Edgar."
Seketika Shakila teralihkan oleh paha Dion yang terbalut oleh perban. Sedetik kemudian Shakila pun teringat kejadian terakhir sebelum dia pingsan. Dia teringat jika dirinya akan menusuk Lyn dengan bringas nya, tapi terdengar suara tembakan. Saat menoleh ke sumber suara, tiba-tiba pandangannya menjadi gelap.
Shakila membelalakkan matanya saat tahu akan situasinya.
"Jadi.. Edgar lah yang menembak mu?" Tanya Shakila dengan melihat paha Dion yang terbalut perban.
Lyn merasa aneh dengan sikap Dion yang terlihat pasrah. Apakah Dion sudah bertobat lagi dari kejahatannya? Tunggu. Shakila menyadari jika suasana di tempat itu sangatlah sepi dan hening selain dari suara binatang binatang kecil. Dan dia juga menyadari jika dirinya dan Dion tidak diikat seperti seorang tawanan. Bukankah ini bisa di jadikan kesempatan untuk mereka kabur?
"Dion. Dengan kondisi kita yang seperti ini, sebaiknya kita bergegas untuk kabur sebelum anak buah Edgar datang."
Hening.
"Dion." Bentak Shakila.
"Apa?" Ucap Dion mendongak.
"Cepat kita pergi dari sini sebelum anak buah Edgar datang."
Dion pun bangun dari duduknya.
"Tidak mau."
Shakila benar-benar kesal dengan sikap Dion yang begitu dingin padanya. Shakila merasa, jika Dion sudah tidak mau lagi menjadi partner kejahatannya.
"Jika kau tidak mau ya sudah. Aku akan pergi sendiri dan mencari partner lain untuk melenyapkan bocah itu."
Namun, di saat Shakila membalikkan tubuhnya. Tiba-tiba Shakila jatuh tersungkur karena Dion mendorongnya keras.
Gedebug..
__ADS_1
"Aku tidak akan membiarkan mu membunuh orang yang tidak bersalah anak sialan."
Suara kemarahannya Dion benar-benar mengejutkan Shakila, mengapa Dion berubah 180 derajat sekarang. Apakah karena telah bertobat? Pikirnya.
"Dion. Apa maksudmu?"
"Apa maksudku? Maksud ku sudah jelas. Aku mau bergabung dengan mu hanya untuk membalas dendam keluarga ku. Tujuan ku adalah menghabisi keluarga Josan."
"Aku sudah tahu, jika Celina bukanlah keluarga asli Josan."
Ya, Dion telah membaca semua data tentang Cileno Josan, Celina Josan, dan juga asal-usul Shakila yang ternyata adalah anak dari Cileno Josan.
Setelah kehilangan kedua orang tua serta istri dan putrinya, Cileno Josan menikah lagi dengan wanita dari desa. Namun, istrinya itu meninggal saat melahirkan putrinya yang sekarang di adopsi oleh keluarga Greyson yaitu Shakila.
"Jika kau tahu jika ibuku bukan keluarga Josan, lalu mengapa kau menghalangi ku untuk membunuh Lyn?" Kesal Shakila.
"Sudah ku bilang, kalo aku hanya akan menghabisi keluarga Josan."
"Shakila Josan.."
Shakila sangat terkejut dengan mulut yang terbuka dan mata terbelalak seperti ingin keluar dari tempatnya. Dia benar-benar syok dengan apa yang di ucapkan Dion akan namanya.
"Shakila Josan… tidak, ini pasti salah. Aku Shakila Greyson, bukan Josan." Panik Shakila.
"Kau lupa jika kau hanya anak angkat?"
"Iya. T-ta-tapi tapi.. bisa saja aku bukan anak Josan. Bisa saja ayah dan ibu menemukan ku di jalanan." Shakila frustasi dengan wajah pucat nya.
Dion pun menjambak rambut Shakila.
"Bukankah sudah jelas jika ayah angkat mu mengatakan jika darah kotor ayahmu tidak bisa hilang dari tubuhmu? Kau tahu, mengapa dirimu ingin sekali membunuh orang hanya karena hal sepele yang di sebabkan oleh dirimu sendiri?"
"Karena darah Cileno Josan yang kotor itu mengalir di dalam tubuhmu." Ucap Dion dengan melepaskan kasar jambakannya.
"Kalian, masuklah." Titah Dion.
Datanglah 3 orang yang di kenal Shakila. Mereka adalah preman yang di perintahkan Shakila saat korban salah sasaran adik Dion.
"K-kalian." Ucap Shakila dengan mundur perlahan.
"Kau ingat siapa mereka Shakila?" Dion tersenyum sinis. "Saatnya kau merasakan apa yang Diana rasakan wanita j*lang."
Dion memberi kode dengan menjentikkan jarinya.
Ketiga preman itu segera melangkah mendekati Shakila dengan senang hati.
Shakila benar-benar takut saat melihat wajah ketiganya seperti orang yang belum makan satu bulan.
"Tidak, jangan. Dion, kumohon jangan. Aaaakkhhh…"
Dion pun mengambil posisi tidur ganteng dengan headset yang menyumpal telinganya sehingga dia tidak mendengar jeritan Shakila yang semakin melemah dan suara lain yang berasal dari ketiga preman itu.
__ADS_1
***