Desain Cinta CEO Dingin

Desain Cinta CEO Dingin
menghitung


__ADS_3

Bab 46


Hari demi hari Lyn lalui dengan keceriaan dan bekerja keras untuk membangun rumah merek nya. 


Begitupun dengan urusannya dengan Dion. Lyn sudah menghitung semua yang Dion lakukan untuknya sedari masa pertemanannya sewaktu SMA hingga sekarang. Hanya tinggal 1 hal terakhir yang akan Dion terima untuk balasannya. Tentu perhitungan itu atas campur tangan Edgar. Melalui anak buahnya, satu persatu perhitungan Lyn untuk Dion terlaksana.


Dion di seret ke penjara karena ada yang menelpon ke salah satu pegawai perusahaan bahwa obat-obatan yang dia pesan sudah ada di halaman parkir.


"Bagus. Urusan ku dengan Dion sudah selesai. Setelah nama merek ku naik di pasar Asia, Shakila akan mendapat bagian mu."  Gumam Lyn setelah mendengar laporan dari seseorang.


Edgar yang mendengar gumaman Lyn hanya terkekeh pelan.


"Sudah puas perihal Dion?" Tanya Edgar sambil merapikan rambut panjang Lyn.


Lyn pun mengangguk sambil tersenyum


"Hmm. Terimakasih kakak."


Di sore hari, Lyn mendatangi kantor polisi dimana Dion sedang di tahan.


"Bagaimana Dion, apakah cape hampir setiap hari selalu di usik hidupnya dan tidak pernah diizinkan bahagia?"


"Maaf."


Dion hanya menunduk malu pada Lyn. Dia tidak bisa berkata apa-apa lagi selain mengucapkan kata maaf.


"Maaf untuk semuanya. Apakah kamu masih mau memaafkan ku? Aku sudah bertobat, yang aku inginkan hanyalah melindungi adikku karena hanya dia yang aku punya di dunia ini."


"Tergantung sikapmu kedepannya. Jika kau benar-benar bertobat, maka aku akan memaafkan mu."


"Lyn, bukankah aku tidak pernah membuat mu di penjara? Jika aku di penjara, bagaimana dengan biaya adikku. Aku harus terus bekerja."


"Kau memang tidak pernah membuat ku di penjara, tapi kau pernah membuat ku terusir dari rumah oleh orang tuaku sendiri. Melihat kedalam rumahmu, jika bukan penjara, lalu apalagi?"


Dion menunduk dengan alasan logis Lyn. Tidak mungkin Lyn membuatnya terusir dari rumah oleh orang tuanya, karena dirinya adalah anak yatim piatu. 


"Jangan khawatir, aku yang akan membiayai perawatan adikmu sampai kau keluar dari tempat ini."


Mendengarnya, Dion langsung melihat Lyn dengan mata tak percaya. Lyn masih saja berbaik hati seperti biasanya meskipun itu adalah adik musuhnya.


"Selamat menikmati hari-hari mu, Dion."


Lyn langsung pergi meninggalkan tempat itu dengan Dion yang melihat lurus kepergian Lyn.


'Terimakasih.' batin Dion.


Saat Lyn sedang menemui Dion, Edgar memilih ke tempat dingin nan pengap dimana Derosa Wive dan putrinya di sekap.


Derosa selama berada di tempat itu selalu memeluk putrinya dengan rasa penyesalan yang amat sangat, saat melihat tubuh putrinya yang kurus dan tak terurus layaknya gelandangan.


Tiba-tiba suara dingin seseorang memecahkan suasana kesedihan ayah dan anak itu.

__ADS_1


"Apa sudah selesai berpelukannya?"


Melihat wajah Edgar dan Jimi dengan aura membunuhnya membuat Rania memeluk erat ayahnya.


"Waktunya memberikan hukuman untuk putrimu dan menghitung semua kelicikanmu Derosa Wive."


"Tu-tuan, saya mohon ampuni putri saya, biarkan saya yang dihukum tuan, saya akan melakukan apapun yang anda minta. Tolong belas kasihan nya."


"Benarkah? Tapi permintaan ku adalah menghukum orang orang yang berani padaku."


Derosa dan putrinya menangis dalam keputusasaan.


"Kau selalu menantang kesabaranku hampir setiap harinya. Dan kau, sudah menyulutkan kemarahan ku kemarin."


"A sa- saya hanya ingin barter untuk…."


Belum selesai Derosa bicara, Edgar langsung membentaknya dengan tatapan membunuhnya.


"Kenyataannya memang benar untuk barter, tapi kau masih saja mencari uang di dalam barter itu."


"Lakukan!" Perintah Edgar.


Kemudian 3 orang dari pasukan Jimi menarik paksa Rania dan memperk***nya secara bersamaan. Jeritan Rania menggema di ruangan itu.


"Tuan jangan lakukan itu, kumohon."


Derosa memohon kepada Edgar dengan tubuh gemetarnya.


Derosa menangis dengan jeritan hatinya. Hati Derosa seperti di sayat belati melihat putri kebanggaannya dirusak tiga orang di depan mata kepalanya sendiri. Jeritan Rania semakin melemah seiring des*h*n ketiga pria itu.


"Tolong tuan Edgar, saya mohon hentikan itu. Bukankah calon istri anda sudah aman dan tidak ada lecet sedikitpun di tubuhnya." 


"Ya, calon istriku sudah aman dan tidak ada lecet sedikitpun karena aku datang tepat waktu. Bagaimana jika aku telat sedikit saja? Bukankah apa yang ada di hadapanmu itu adalah Lyn, sesuai keinginan mu?"  Ucap Edgar dengan aura membunuhnya.


"Maaf, maafkan saya. Saya janji kedepannya tidak akan mengulanginya lagi." Derosa benar benar menangis sejadi-jadinya.


"Benar. Kedepannya kau tidak akan pernah mengulanginya lagi, karena hari ini adalah hari terakhir mu melihat dunia."


Edgar memiringkan kepalanya. "Jimi.." 


Jimi yang di sebut namanya pun mengerti. Sedangkan Edgar buru-buru keluar dari ruangan pengap itu karena perutnya sudah mual ketika telinganya mendengar suara dari ketiga orang itu secara bersamaan.


5 menit kemudian, Jimi masuk ke dalam mobil dimana Edgar sudah menunggu.


Edgar memicingkan matanya melihat Jimi yang terlihat kesal.


"Apa yang kau lakukan padanya? Kenapa kau terlihat kesal?"


"Ck. Pak tua itu sangat payah. Baru 2 menit saya memukulnya dia sudah sekarat. Padahal saya hanya menggunakan tangan kosong untuk memukulnya."


Jelas saja dia sekarat hanya dengan 2 menit dipukul Jimi, karena kekuatan Jimi setara dengan 2 orang pasukan militer. Orang biasa seperti Derosa pasti akan patah tulang bahkan mati jika menerima pukulan Jimi.

__ADS_1


"Apa kau menjadikannya samsak tinju mu?" Tanya Edgar dengan menaikkan sebelah alisnya.


"Mau bagaimana lagi. Habisnya dia tidak bisa berkelahi, jadi saya mengikatkan di tiang untuk olahraga tangan."


Edgar hanya terkekeh pelan mendengar gerutu Jimi yang memang masih terdapat jiwa bocah sesuai umur nya.


 ***


Hari weekend pun tiba, dimana CEO seperti Edgar biasanya akan mengisi waktunya di lapangan golf, berkuda, berlatih senjata, atau hanya sekedar minum minum santai di lounge bersama Milo.


Namun, karena Milo tidak ada saat ini dan karena dirinya sudah resmi berpacaran dengan Lyn, Edgar tidak pernah pergi kemanapun lagi jika tidak membawa Lyn di sisinya.


Menjelang sore, Edgar mengajak Lyn ke halaman belakang untuk menikmati waktu bersama dalam masa pacarannya.


Di teras itu, mereka akan bersantai sembari menikmati minuman dingin favoritnya masing-masing dengan aneka cemilan dengan nuansa kolam renang.


Lyn yang sepenuhnya belum kumpul nyawanya karena baru bangun dari tidur siangnya, tiba-tiba dirinya tercebur ke kolam renang karena tidak sadar jika dirinya berjalan terlalu dipinggiran kolam.


Byurr…


Edgar membeku saat melihat pacarnya tercebur ke kolam renang. Namun, sedetik kemudian tawa Edgar pecah setelah ingat jika Lyn tercebur karena baru bangun tidur.


"Hahaha.."


Lyn menyilangkan tangannya di dada dengan wajah cemberut ketika melihat Edgar yang sedang menertawakannya. 


"Kamu itu makannya cuci muka dulu Lyn. Jadinya kamu dipaksa mandi deh sama air kolam, ha, ha." Ledek Edgar diiringi tawa di setiap katanya.


"Udah ketawanya? Bantu aku naik kak, aku lemes baru bangun tidur." Ucap Lyn dengan mengulurkan tangannya di depan Edgar.


Edgar pun mengulurkan tangannya untuk membantu Lyn naik. Namun, saat tangan Edgar sudah meraih tangan Lyn, tiba-tiba Lyn menarik Edgar dengan kuat.


Edgar pun tercebur dan Lyn menertawakannya.


"Hahaha."


"Satu sama kakak.." ledek Lyn.


Edgar pun mengejar Lyn di kolam itu. Setelah Lyn tertangkap, Edgar menciumnya bertubi-tubi hingga Lyn kesal.


Lyn yang sudah kesal pun hendak memukul Edgar sampai puas. Namun, sebelum pukulan itu mendarat di tubuh Edgar, Edgar malah buru-buru menghindar dengan berbagai ledekan di wajahnya. Itu membuat Lyn semakin kesal dan terus mengejarnya.


Namun, Edgar yang lebih jago berenang dari Lyn pun dengan mudah untuk menjahilinya dengan menggelitik Lyn saat aksi kejar-kejaran di dalam air. 


Suasana berubah saat Edgar tiba-tiba memeluk Lyn dengan perasaan sayangnya. Lyn pun membalas pelukan Edgar dengan manja.


"I love you calon istriku."


"I love you to calon suamiku."


Dan di sore Itu sepasang kekasih yang sudah puas dengan canda tawanya, mereka mengakhirinya dengan sebuah ciuman lembut yang mengisyaratkan rasa cinta dari keduanya.

__ADS_1


***


__ADS_2