
Bab 36
Keesokan harinya di ruang bawah tanah, terlihat dua orang pria yang bekerja di mansion Edgar sedang terkapar akibat cambukan yang tiada henti menghujam tubuh mereka.
Saat Edgar dan Milo memasuki ruangan dingin dan pengap itu, terlihat kedua orang itu mulai membuka matanya dari pingsannya.
"Apa kalian masih ingin bungkam?" Ucap Edgar dengan suara beratnya.
Mereka hanya meringis dengan sakit yang luar biasa di tubuhnya.
Milo maju untuk mengatasi kedua pecundang itu. Milo memulainya pada pria muda yang bertubuh kurus.
"Bara, bukankah kau berjanji akan menikahinya? Bagaimana jika aku menghancurkan kekasihmu detik ini juga. Bukankah kau sebatang kara?"
"Jangan tuan, saya mohon ampun, jangan lakukan itu. Saya mengaku, saya mengaku." Ucap Bara dengan suara yang hampir menangis.
"Katakan!" Tegas Milo.
"Saya hanya di bayar oleh pak Madi karena butuh biaya kuliah yang sudah menunggak. Saya tidak ada pilihan."
"Ck, tidak ada pilihan… jika kau memilih melaporkan kepadaku akan ajakan Madi, aku pasti sudah membiayai semua kebutuhan kuliahmu."
"Ampuni saya tuan, saya khilaf. Sungguh.. saya hanya tergiur uang."
Setelah penyelidikan tentang mereka berdua, Bara memang bersih selain tergiur uang oleh Madi.
Milo memutuskan untuk melihat ke arah Madi, kemudian melemparkan tablet yang berisi sebuah video kepada Madi.
Dalam video itu terdapat keluarga besar sedang berkumpul di sebuah rumah sederhana. Tidak ada yang aneh dari video itu. Namun, di menit terakhir video itu terdapat sebuah bom yang sedang berdetak dengan hitungan mundur di menit kurang dari 30 menit.
Tubuhnya bergetar hebat diiringi air mata yang mengalir di pipinya.
"T-tuan.. saya mohon jangan lakukan itu pada keluarga saya. Mereka tidak tahu apa apa tentang ini. Hiks"
"Huh, rupanya sekarang kau bisa menangis juga." Ucap Milo sinis.
"Ampuni saya tuan, saya janji akan melakukan apapun untuk tuan meskipun itu dengan nyawa saya sendiri."
"Kalau begitu, katakan!" Ucap Milo dengan aura membunuhnya.
Madi terdiam sejenak akan keputusannya. Dia begitu bingung akan situasi ini. Di satu sisi, semua keluarga nya akan di ledakan. Di sisi lain, cepat atau lambat keluarga nya juga akan terkena imbasnya oleh pria bertopeng itu.
"Waktunya tinggal 18 menit lagi untuk berdetak."
Madi menelan salivanya kasar. Dia tidak ada pilihan sekarang. Dia memutuskan untuk memberi tahu Milo, setidaknya keluarganya sekarang masih hidup. Setelah ini dia aka memikirkan cara untuk menyelamatkan keluarganya.
__ADS_1
"Tiga bulan yang lalu ketika saya cuti saat kelulusan putra saya, ada seorang pria bertopeng yang tiba-tiba mengajak saya bekerja sama dengan membawakan uang 500 juta. Saya di suruh untuk memata-matai mansion ini karena dia tahu bahwa saya adalah orang yang diminta mengawasi perilaku nona Lyn untuk tuan besar Eddies. Saya terpaksa menerimanya karena saya membutuhkan uang untuk biaya kuliah putra saya."
"Dimana kalian bertemu saat itu ?" Tanya Milo.
"Di jalan merpati dekat dengan desa saya tuan."
Mendengar itu Milo langsung menelpon seseorang untuk memberi perintah di hadapan Madi.
"Halo, bekukan bom itu. Dan pastikan keluarga itu pindah dari desa itu. Urusan biaya, Madi yang akan menanggungnya."
Setelah Milo menutup telpon, Edgar yang sedari tadi diam pun bersuara.
"Keluarga mu sudah aman dengan pengaturan Milo. Nyawamu dan pria kecil ini ku ampuni. Dengan syarat, kalian harus melakukan satu hal untukku."
"Baik tuan, kami akan melaksanakannya." Ucap Madi dan Bara.
***
Sepulang dari kampus, Lyn seperti biasa akan memberikan santunan kepada para pemulung yang ada di depan gerbang.
Saat hendak akan menuju mobil, tiba-tiba saja ada yang mencengkeram kuat kepala Lyn dan menggosokkan sebuah sikat jarum di wajah kanan Lyn.
"Arghh.." teriak Lyn.
Pemuda itu dengan cepat berhasil di ringkus dan segera di bawa ke ruang bawah tanah.
Lyn menangis histeris dengan apa yang di alaminya. Sang supir pun segera keluar dengan panik mendengar nona muda nya itu histeris.
Lyn segera di bawa ke rumah sakit terdekat untuk segera mendapatkan tindakan medis.
***
Bug.. bug..
Terdengar rentetan suara pukulan yang di layangkan oleh Milo menggunakan sepotong kayu kepada supir dan 6 orang pengawal bayangan Lyn. Mereka hanya pasrah mendapat hukuman dari Milo karena telah lalai dalam menjaga Lyn.
Hukuman ini dilakukan di depan pria muda yang mencelakai Lyn. Pria muda itu menggigil ketakutan melihat kemarahan Milo yang begitu brutal saat memukul para pengawal itu.
Dengan kemarahannya Milo kemudian mengeluarkan pistol dan mengacungkannya di depan wajah salah satu pengawal. Sontak semua pria yang ada di hadapan Milo menjadi pucat. Mereka tidak berdaya akan apa yang dihadapinya. Mereka tahu siapa Milo dan bagaimana Milo.
Dor.
Argh..
Suara teriakan bergema setelah terdengar suara peluru yang ditembakkan oleh Milo. Salah satu pengawal yang di acungkan pistol oleh Milo seketika membuka matanya setelah mendengar teriakkan itu. Supir dan pengawal yang lain pun mulai membuka matanya karena bingung teman di sebelahnya masih berdiri kokoh setelah di tembak.
__ADS_1
Ternyata Milo menembakkan pelurunya ke pria muda itu. Milo menembak bagian tangannya yang digunakan untuk menyakiti Lyn.
Pria itu meringis kesakitan dan sangat ingin menyentuh tangannya yang tertembak, tapi sayangnya kedua tangan dan kakinya diikat rantai dengan posisi di regangkan kanan dan kiri.
Milo melihat pria itu dengan tatapan membunuhnya. Milo begitu jijik melihatnya setelah tahu data pria itu begitu sangatlah buruk. Pria itu hanyalah sampah masyarakat yang selalu merugikan orang orang di sekitarnya.
Pria itu yang awalnya takut melihat Milo mendadak tidak waras karena pengaruh obat-obatan yang ia konsumsi setiap hari.
"Haaa, kau yang bernama Milo. Orang itu mengatakan untuk memberikanmu kartu nama ini. Apa kau akan memberikanku uang yang lebih besar setelah aku memberikannya?"
Para pengawal langsung menggeledah tubuh pria itu setelah mendapat sebuah lirikan dari Milo.
"Hei hei, kalian tidak bisa mengambilnya sebelum memberikanku uang itu." Ucapnya sembari meronta-ronta menolak untuk di geledah.
Tak lama kemudian kartu itu berhasil di dapatkan dan segera di serahkan kepada Milo.
"Apa sampah seperti mu pantas untuk mendapatkan uang dariku?" Ucap Milo.
"Haha.. benar, kau hanya pria ramping yang berani memegang pistol."
"Hei apa kau cari mati? Kau..." Bentak salah satu pengawal bayangan yang tidak terima tuannya di ejek. Namun Milo segera menahannya.
Namun pria itu malah meludah di depan Milo dan semakin mengeraskan tawanya mendengar bentakan itu.
Cuih.
"Hahaha.."
"Apa kau pria bertubuh kekar takut kepada pria ramping itu? Lihatlah penampilannya, dia terlihat takut dengan debu. Apakah dia berani menyentuh sampah seperti ku? Haha.."
Milo sangat pusing mendengar ocehan pria yang penuh obat itu. Milo memutuskan untuk segera mengakhirinya karena memang tidak ada data penting dari dirinya.
Dor. Dor. Dor.
"Arghh.."
Tiga kali Milo menembakkan pelurunya ke tangan dan kaki pria itu. Kemudian Milo menoleh kepada para pengawal bayangan itu.
"Untuk hiena."
"Baik tuan." Ucap serentak para pengawal.
***
__ADS_1