
Swuuuusss
Liu Liang dan Ryun menghilang dari sana dan pergi menuju ke kolam putih untuk menyembuhkan ayah dan ibu Liu Liang.
Wusss
Hanya dalam waktu beberapa menit, mereka muncul di kolam putih.
" Paman Azure, apakah paman bisa menyembuhkan ayah dan ibuku?" Tanya Liu Liang.
" Kultivasinya sudah di hancurkan sangat sulit untuk memulihkannya kembali, tapi aku bisa mencobanya." Jawab Azure.
" Tapi, untuk menyembuhkan dantian yang hancur, maka aku membutuhkan kristal elemen, akar pohon roh, dan kristal energi." Ucap Azure.
" Apa fungsi dari ketiga bahan itu paman?" Tanya Liu Liang.
" Kristal elemen berfungsi untuk membentuk kembali elemen yang sudah di hancurkan, akar pohon roh berfungsi sebagai akar pohon roh berfungsi sebagai pondasi untuk menciptakan dantian seseorang, bisa di bilang, akar roh berfungsi untuk menyimpan cadangan energi, dan kristal energi berfungsi sebagai dantian" Jelas Russel.
" Tuan, untuk kristal elemen, aku bisa membantumu, cukup kau sebutkan saja elemen apa yang kau butuhkan" Ucap Arsan.
" Menurutmu elemen apa yang cocok dengan ayah dan ibuku?" Tanya Liu Liang.
" Kalau menurut aku, elemen cahaya sangat cocok dengan ayahmu, sementara ibumu cocok menggunakan elemen kayu." Jawab Arsan.
Wusss
Tiba-tiba, di hadapan Arsan, melayang dua buah kristal elemen berwarna putih dan cokelat, dan kristal itu melayang kearah Azure.
" Terima kasih Arsan." Ucap Liu Liang.
" Tidak masalah tuan." Jawab Arsan.
" Hm, bahan pertama sudah ada, tinggal dua bahan lagi. Dan kedua bahan ini sangat sulit untuk di temukan, karena kedua bahan sangat langka di dunia langit." Ucap Russel.
" Baiklah paman, kalau begitu aku akan mencari dua bahan yang terakhir." Ucap Liu Liang pamit.
" Ya, pergilah." Balas Azure.
Wussss
Liu Liang kemudian menghilang dari kolam putih dan muncul di bagian inti hutan merah.
__ADS_1
" Arsan, aku bingung mengapa tadi kau mengatakan elemen cahaya dan kayu cocok dengan ayah dan ibuku?" Tanya Liu Liang.
" Aku hanya melihat sisa-sisa energi dari dantian mereka, dan seharusnya mereka memiliki elemen cahaya, tapi karena tidak pernah di latih, maka elemen cahaya milik ayahmu hanya berbentuk benih saja dan di tutupi oleh pasir. Sementara ibumu memang kultivator pengguna elemen kayu sebelumnya." Jelas Arsan.
" Kau memang cerdas Arsan. Sepertinya aku dikalahkan olehmu dari segi pengetahuan." Ucap Liu Liang.
" Tuan terlalu merendah. tuan juga bisa memiliki kekuatan yang lebih dariku, tapi, semua itu butuh proses." Jelas Arsan.
Setelah melesat selama hampir lima dua hari dengan kecepatan penuh, Liu Liang tiba di bagian inti hutan yang sangat gelap dan dominasi oleh kabut merah.
" Tuan, tempat ini sangat aneh." Ucap Arsan.
" Kau benar. Tempat ini di penuhi oleh energi alam yang sangat tebal." Ucap Liu Liang.
Liu Liang kemudian melangkahkan kakinya, menuju ke sebuah pohon besar yang seluruhnya berwarna merah darah.
Liu Liang mengamati pohon besar itu selama beberapa menit, sambil mengerutkan keningnya.
" Pohon ini pasti pusat dari energi yang membuat daun hutan menjadi merah." Ucap Liu Liang.
" Benar tuan. Dan didalam pohon ini terdapat sebuah nadi energi berwarna merah." Ucap Arsan.
" Hm, bagaimana caranya agar aku bisa tahu pohon apa ini?" Tanya Liu Liang.
" Sesuai warnanya, mungkin saja ini adalah pohon kristal darah yang sangat melegenda itu." Ucap Liu Liang.
" Pohon ini akan menyebabkan peperangan jika orang-orang tahu. Tapi pohon ini tidak berguna bagi tuan karena darah tuan sudah mau berevolusi menjadi darah dewa, tinggal menunggu tuan menembus ranah dewa saja." Jelas Arsan.
Liu Liang lalu menatap keatas pohon itu, dan melihat ada tiga buah yang matang. Liu Liang lalu mengambil buah merah itu, dan menyimpannya. Selain itu, Liu Liang juga mengambil beberapa sampel pohon itu seperti akar dan daun, serta kuncupnya dan bunganya.
" Aku juga akan mengambil bibit pohon ini, siapa tahu pohon ini akan berguna bagiku dimasa depan nanti." Ucap Liu Liang lalu menyimpan bibit tanaman itu di dalam kubah kecil yang dia buat dari elemen kehampaannya.
" Baiklah Arsan ayo kita pergi dari sini." Ucap Liu Liang.
Wusss
Mereka kemudian meninggalkan tempat itu menuju ke ke bagian lain hutan merah. Tak lama kemudian, Liu Liang tiba di sebuah gua.
" Apakah kita akan masuk ke dalam gua ini, tuan?" Tanya Arsan.
" Tentu saja. Jika kita tidak masuk ke dalam gua ini, maka kita tidak akan tahu apa isinya." Jawab Liu Liang.
__ADS_1
Liu Liang kemudian melangkahkan kakinya masuk kedalam gua tersebut. Dengan tingkat kewaspadaan yang tinggi, Liu Liang mulai menjelajahi gua tersebut.
" Tidak ada sesuatu yang spesial dengan gua ini kak." Ucap Arsan
" Kau benar. Kalau begitu kita keluar saja." Ucap Liu Liang.
Saat sedang berjalan, Liu Liang tanpa sengaja menendang sesuatu sehingga membuat tanah di sekitaran gua itu bergetar.
Perlahan-lahan, tanah di depan Liu Liang terbelah dan memperlihatkan sebuah kolam yang berwarna jingga dan mengandung energi alam yang pekat.
" Kita sangat beruntung. Lihatlah ini adalah air spiritual. Air ini dapat membersihkan kotoran yang ada di tubuh kita hanya dengan meminumnya saja." Ucap Liu Liang.
" Liu Liang lalu mendekat kearah kolam spiritual tersebut, dan meminumnya, begitu juga dengan Arsan.
Beberapa saat kemudian, tubuh Liu Liang di penuhi oleh kotoran berwarna hitam yang sangat bau.
" Apakah kotoran di tubuhku sebanyak ini?" Tanya Liu Liang.
Liu Liang lalu membersihkan dirinya menggunakan elemen airnya sehingga semua kotoran yang melekat di tubuhnya menghilang, setelah itu, dia mengeringkan pakaiannya menggunakan energi panas dari elemen apinya.
Selain membersihkan kotoran yang ada di tubuhnya, kuktivasi Liu Liang juga meningkat ke ranah surgawi bintang enam.
Beberapa saat kemudian, tanah di gua itu kembali menutup seperti semula dan menyembunyikan keberadaan air spiritual tersebut.
" Sepertinya air ini hanya bisa di minum sekali saja" Batin Liu Liang.
Wusss
Liu Liang kembali melesat meninggalkan gua tersebut, dan keluar dari pusat hutan merah tersebut.
" Kak, kau mau apakan sampel yang kau ambil tadi?" Tanya Arsan.
" Aku ingin mencari tahu apa manfaat dari dari pohon kristal darah." Jawab Liu Liang.
" Oh begitu tuan." Ucap Arsan mengangguk.
" Hm, satu hal lagi Arsan. Jangan panggil aku dengan sebutan tuan, panggil aku kakak saja. Aku tidak suka mendengar panggilan tuan itu." Pintah Liu Liang.
" Baik tuan, eh baik kak." Jawab Arsan kaku.
Setelah matahari hampir terbenam, mereka sudah sampai di pinggiran hutan merah.
__ADS_1
" Kak, sekarang kita akan kemana?" Tanya Arsan.
" Mungkin menjelajahi tempat-tempat yang ada di benua teratai emas." Jawab Liu Liang.