
Setelah menemukan kamar nomor 56, Liu Liang masuk ke dalam kamar tersebut, untuk membersihkan tubuhnya. Setelah membersihkan tubuhnya, Liu Liang mengganti pakaiannya dan mengeluarkan beberapa kristal jiwa milik gorila emas dan singa taring merah, dan mulai menyerapnya.
Energi alam yang berbentuk benang memasuki tubuhnya dan mengalir melalui Meridian nya menuju dantian miliknya.
30 menit kemudian...
Booommmmm
Terdengar ledakan yang menandakan jika kultivasi Liu Liang naik satu tingkat.
" Hm, ranah surgawi bintang 7." Gumam Liu Liang.
Liu Liang lalu melanjutkan latihannya, kali ini dia mencoba membentuk alam astral miliknya yang fungsinya sama dengan cincin ruang, yaitu menyimpan barang. Bedanya, ruang astral memiliki ruang yang lebih luas di bandingkan dengan cincin ruang.
Satu jam kembali berlalu, dan Liu Liang membuka matanya yang menandakan jika dia berhasil membuka ruang astral.
Ruang astral memiliki luas ruang yang tak dapat di tambah dan di kurangi.
" Hm, Lumayan, ruang astralku memiliki luas 500 m persegi." Ucap Liu Liang
Luas ruang astral bervariasi, mulai dari 10 meter persegi sampai dengan 500 meter persegi.
Liu Liang lalu mengeluarkan semua isi cincin ruangnya dan memasukkan semua barang-barangnya kedalam ruang astralnya
" Kak, ada sekitar sepuluh orang yang memiliki kultivasi di ranah bintang bintang lima. Di lihat dari gerak-geriknya, mereka ingin menangkap kakak karena merela ada diatas atap kamar ini." Ucap Arsan.
" Biarkan saja Arsan." Ucap Liu Liang
Liu Liang kemudian pura-pura tertidur sementara Arsan bersembunyi di bawah kolong tempat tidur.
" Sepertinya dia sudah tidur." Ucap salah datu pria bertopeng.
" Kau benar, ayo kita tangkap dia." Ucap pria yang berdiri di depan.
Wuss
Wusss
Mereka kemudian menghilang dari atap, dan muncul di kamar Liu Liang.
" Ternyata hanya menangkap seorang bocah, aku kira kita di beri tugas untuk menangkap seorang yang sangat kuat." Ucap salah satu pria bertopeng hitam.
Sementara itu, Liu Liang hanya tersenyum mendengar ucapan mereka, dan tanpa mereka ketahui, sebuah Lubang di dinding penginapan terbentuk dan menyerap mereka.
" Sial. Kita tertipu." Ucap pemimpin mereka.
__ADS_1
Mereka semua pun tersedot kedalam lubang hitam tersebut dan di pindahkan ke luar penginapan.
" Nah, kalau begini aku tidak akan membayar uang kompensasi kepada pemilik penginapan ." Ucap Liu Liang muncul tiba-tiba sambil memegang pedang naga semesta yang siap membunuh.
" Ciih, walau kau cerdik, tapi tetap saja, kau hanyalah seorang bocah yang lemah." Ucap salah satu pria bertopeng.
" Serang dan tangkap dia dengan cepat sebelum orang-orang bangun." Ucap pemimpin pasukan bertopeng.
" Baik pemimpin." Jawab mereka.
Wuussss
Wussss
Mereka kemudian menyerang Liu Liang bersama-sama mengunakan sebuah belati yang sudah di lumuri oleh racun.
Triiinngg
Triiiinnggg
Triiinnggg
Dentingan logam terdengar saat belati logam milik pasukan bertopeng itu dengan pedang Liu Liang.
Kesepuluh pria bertopeng itu menyerang Liu Liang secara bersamaan menggunakan belati logam yang sudah di lumuri racun sebelumnya. Hal itu membuat Liu Liang kesulitan untuk melawan mereka
" Ha..ha..ha..ha.. Tidak ada yang selamat jika terkena racun kelabang salju milik kami" Ucap pemimpin kelompok bertopeng itu.
Tapi, Liu Liang hanya tersenyum santai seakan-akan racun itu tidak ada artinya baginya.
" Kak, apakah kau tidak apa-apa?" Tanya Arsan.
" Aku tidak apa-apa." Jawab Liu Liang.
Mereka lalu bertarung di udara, sehingga menimbulkan suara bising.
Tiba-tiba, pedang yang Liu Liang gunakan melesat dengan cepat, dan menebas semua belati kelompok bertopeng hingga hancur berkeping-keping.
" Sekarang, kalian sudah tidak bisa menggunakan racun" Ucap Liu Liang lalu mudur sejauh lima meter.
" Tebasan tujuh bintang" Ucap Liu Liang sambil mengalirkan energi alamnya ke pedangnya dan menebas berbentuk bintang raksasa.
Bintang raksasa itu kemudian berpecah menjadi tujuh buah bintang, tujuh bintang itu kemudian melesat dan menghantam tujuh orang dari 10 anggota pasukan bertopeng, dan membuat mereka tewas di tempat.
" Sekarang giliran kalian." Ucap Liu Liang sambil menatap ketiga orang yang tersisa dengan tatapan tajam.
__ADS_1
Liu Liang lalu menghilang di tempatnya dan menebas kepala dua anggota pasukan bertopeng sekaligus.
" Baik, saatnya mengakhiri pertarungan ini." Ucap Liu Liang. Pedang naga semesta Liu Liang lalu melayang dengan sendirinya, dan menebas kearah pria bertopeng yang tersisa.
Liu Liang mengendalikan pedangnya menggunakan pikirannya, sehingga apapun yang di perintahkan oleh Liu Liang, pedang itu akan melakukannya.
" Baik selamat tinggal" Ucap Liu Liang. Dan seketika pedang itu menebas kepala pria bertopeng dan seketika pria bertopeng itu mati dengan kepala putus.
Liu Liang lalu mengumpulkan cincin ruang milik ke sepuluh pria bertopeng tersebut dan memasukkannya kedalam ruang astralnya
Setelah itu Liu Liang lalu membakar mayat kelompok bertopeng itu, dan masuk ke kamarnya untuk membersihkan cipratan darah yang ada di seluruh tubuhnya.
...****************...
Pagi harinya, semua tamu yang menginap di penginapan itu terkejut karena ada noda darah di jendela kamar mereka. Tak terkecuali pemilik penginapan.
" Hm, siapa yang bertarung di sini?" Tanya Pemilik penginapan.
" Kami tidak tahu tuan." Jawab para tamu.
Sementara itu Liu Liang baru keluar dari kamarnya, dan pura-pura terkejut agar tidak di curigai.
" Kak, apakah kau menemukan barang berharga di cincin para pembunuh bayaran itu?" Tanya Arsan.
" Ya, aku mendapatkan 50.000 kristal awan 100.000 kristal langit dan 200.000 kristal bintang, serta ratusan kristal roh, dan kristal energi." Jawab Liu Liang.
" Dengan begini, tinggal satu bahan lagi yang kubutuhkan untuk menyembuhkan ayah dan ibuku." Ucap Liu Liang.
" Hm, mereka lumayan kaya." Ucap Arsan.
" Kau benar. Selain kaya, aura pembunuh mereka juga sangat tebal. Entah sudah berapa nyawa yang sudah mereka bunuh." Ucap Liu Liang
Para penginap lebih terkejut lagi, saat mereka menemukan pecahan belati dan pecahan topeng berwarna hitam dengan corak teratai.
" Bukankah ini adalah topeng milik kelompok pembunuh bayaran teratai?" Tanya salah satu tamu.
" Kau benar. Aku pernah melihat mereka saat mereka di tugaskan untuk membunuh salah-satu patriak sekte yang ada di wilayah timur." Ucap yang lain.
" hm, siapa yang ingin mereka bunuh?" Tanya yang lain.
" Aku juga tidak tahu. Mungkin seorang bangsawan atau orang yang membuat masalah dengan klan atau sekte di kota ini." Jawab yang lainnya.
Liu Liang tidak menghiraukan pembicaraan para penginap. Dia hanya berjalan menuju ke meja kasir untuk mengembalikan kunci kamar dan pergi meninggalkan penginapan tersebut.
" Kak. Kudengar salah satu pengunjung tadi bilang, kelompok bertopeng yang kakak lawan semalam, adalah pembunuh bayaran yang paling di takuti, tapi mereka hanyalah anggota biasa saja." Ucap Arsan.
__ADS_1
" Mungkin mereka akan mencari tahu penyebab kematian anggota mereka." Ucap Liu Liang