Dewa Semesta

Dewa Semesta
Chapter 30 pertarungan II dan Menuju ke Wilayah Utara


__ADS_3

Roargggggggg


Arsan kemudian melompat dari bahu Liu Liang, dan meraung dengan keras, sehingga apapun yang terkena efek raungan akan terbang kemana saja.


Liu Liang lalu melayang di udara lalu dia membuat sebuah segel tangan yang sangat rumit.


" Mengkristal." Ucap Liu Liang.


Swussss


Cracckkk


Cracckkk


Tiba-tiba saja, ratusan pasukan sekte Kabut darah berubah menjadi kristal berwarna putih.


Sehingga mereka mengira itu adalah elemen es, karena suhu kristal itu sangat dingin.


" Elemen es, tapi bukankah pengguna elemen es itu sangat langka?" tanya patriak Song Gun.


Pertarungan terus terjadi di tempat itu, bahkan, tempat itu sudah di penuhi oleh darah dan mayat yang bergelimpangan.


Karena amarahnya yang sudah tak terbendung lagi, Song Gun lalu mengendalikan darah semua anggota sektenya yang mati dan membentuknya menjadi monster darah raksasa.


" Kau akan mendapatkan akibatnya karena berani membuatku marah." Ucap Song Gun.


Monster darah itu melesat dan menyerang Liu Liang. Monster itu memiliki tubuh yang lentur, dan juga saat tubuhnya terpotong dan hancur, maka darah maka monster itu akan terbentuk dan muncul lagi.


" Sialan, monster ini sangat sulit untuk di musnahkan." Ucap Liu Liang.


Boooomm


Booommm


Booommmm


Ledakan terus terjadi, seiring dengan pertarungan yang terus terjadi, saat ini Arsan sedang bertarung dengan lima orang tetua sekaligus. Kelima tetua itu berniat untuk menangkap Arsan dan menyerap kekuatan yang di miliknya.


" Dasar manusia bodoh." Ucap Arsan pelan.


Lalu Tubuh Arsan di selimuti oleh cahaya terang, lalu bayangan Arsan muncul di arah yang berlawanan.


Wusss


Booommm


Tanpa menunggu kelima tetua itu berbalik, bayangan Arsan menembakkan ratusan jarum dari elemen kegelapan, yang akan membuat siapa pun yang terkena akan di kuasai oleh si pengguna jurus.


" Bagus, sekarang habisi seluruh pasukan sekte kabut darah." Ucap Arsan.

__ADS_1


" Baik tuan" Jawab kelima tetua itu lalu menyerang pasukan mereka sendiri.


" Hei sialan, kalian ini kenapa? Kenapa kalian menyerang kami?" Tanya tetua agung.


" Habisi seluruh pasukan sekte kabut darah" Hanya kata itu yang keluar dari mulut mereka berlima.


Boooommmm


Booommmm


Arsan kembali melancarkan serangan. Kali ini dia menggunakan elemen api. Setiap kali dia menggunakan elemen berbeda, maka bulu tubuhnya akan berubah warna sesuai dengan elemen yang di gunakan.


" Roraggggg"


Arsan meraung dengan keras, sehingga ratusan bola api melesat dan membakar apa pun yang di singgahinya.


" Arggggg ampuni kami" Teriakan memilukan keluar dari mulut anggota sekte kabut darah.


" Maaf, kami terlambat yang mulia" Ucap Gao Ti yang muncul tiba-tiba.


" Tidak masalah, hancurkan semua pasukan sekte kabut darah. dan paman Tao Yuan hancurkan sekte kabut darah tanpa satu pun yang tersisa" Perintah Liu Liang


" Baik yang mulia" Jawab mereka berdua.


Gao Ti dan pasukannya mulai bertarung di tempat itu, sementara, Tao Yuan dan pasukannya melesat menuju ke sekte kabut darah.


" Dasar monster darah sialan." Ucap Liu Liang.


Tapi, ternyata monster itu masih terbentuk kembali, kali ini dengan ukuran yang lebih kecil dari sebelumnya karena sebagian besar darah yang membentuk tubuhnya menguap dan di serap oleh kristal yang menjebaknya.


Melihat itu, Liu Liang kemudian mempercepat penyerapan kristal tersebut, dan akhirnya monster darah tersebut menghilang.


wuss


Wusss


Wusss


Ratusan bola cahaya menyerang kearah Song Gun, dan menghantam tubuhnya.


Argggggggggg


Song Gun berteriak dengan keras saat bola cahaya itu terserap kedalam tubuhnya dan menghancurkan tubuhnya dari dalam.


Wusssss


Belum cukup sampai di sana, Liu Liang kembali menghantamkan sebuah teratai cahaya di dada Song Gun.


Boooooommmm

__ADS_1


Tubuh Song Gun akhirnya meledak setelah terkena teratai cahaya. Karena pada umumnya, elemen cahaya adalah kelemahan terbesar bagi seorang kultivator kegelapan.


Wussss


Setelah pertarungannya dengan Song Gun selesai, Liu Liang melesat kearah para pasukan Song Gun yang tersisa.


Boooomm


Boooommm


booommm


Ledakan yang bersahut-sahutan terdengar dari arah pertempuran yang sudah menjadi ladang pembantaian.


" Phoenix api" Ucap Liu Liang.


Kwaaaaakkkk


Phoenix api bersiul dengan keras kemudian terbang ketengah-tengah pasukan yang sedang bertarung. Melihat phoenix api itu, seluruh pasukan kekaisaran yang ada di sana menjauh karena mereka tahu, phoenix itu akan segera meledakkan dirinya.


Kwakkkk


Boooooommmm


Phoenix api itu bersiul satu kali dengan keras lalu meledakkan dirinya. sehingga api menyebar kemana-mana dan membakar apapun yang di jangkau, sementara Liu Liang dan pasukannya memilih untuk mengawasi api agar tidak membakar seluruh hutan.


Sesaat kemudian, Tao Yuan datang bersama pasukannya.


" Yang mulia, sekte kabut darah sudah di hancurkan." Ucap Tao Yuan.


" Paman, bagikan pil ini kepada semua orang yang ada di istana. Dan berikan juga kepada pasukan paman Genbu jika paman berkunjung ke kekaisaran." Ucap Liu Liang.


" Baik yang mulia." Jawab Tao Yuan.


" Paman, jika ayah dan ibuku menanyakan diriku, bilang saja kalau aku pergi ke utara." Ucap Liu Liang lalu pergi lagi.


Karena dia sekarang berada di wilayah barat, maka perjalanan menuju ke utara memakan waktu datu bulan lamanya.


Sehari setelah pertempuran itu, berita tentang kehancuran sekte kabut darah menyebar dengan cepat. Kehancuran sekte itu membuat seluruh warga merasa tenang karena mereka tidak perlu takut kehilangan anak mereka lagi. Sementara ada juga beberapa kelompok yang merasa tidak senang dengan kehancuran sekte Kabut Darah. Mereka adalah sekte Naga kegelapan, sekte pedang, dan sekte Api. Ketiga sekte itu merupakan sekte-sekte aliran hitam terkuat di benua teratai emas.


Sementara itu, Liu Liang terus melesat menuju ke utara tanpa berhenti karena memang wilayah yang di lewatinya hanya hutan belantara, dan tidak ada kota.


" Kak, bukankah lebih baik kakak membangun kota di wilayah ini?" Tanya Arsan.


" Kau benar. Masih banyak kota-kota lain yang sudah di penuhi oleh penduduk, dan penduduknya sangat padat. Aku akan meminta pendapat paman setelah kembali ke kekaisaran." Jelas Liu Liang.


" Dan juga di tempat ini hanya hutan biasa, bukan hutan terlarang." Ucap Arsan.


Satu minggu sudah Liu Liang melayang di udara, dan dia belum menemukan satu kota pun. yang di temukan hanya padang rumput, hutan belantara, dan danau serta sungai dengan air berwarna hijau dan biru. Sesekali Liu Liang mengecek lokasi tersebut, apakah di sana terdapat hewan buas yang membahayakan atau tidak. Setelah di rasa aman, Liu Liang berencana membangun kota di sana.

__ADS_1


" Tempat itu sangat cocok untuk membangun kota." Ucap Arsan


__ADS_2