Dewa Semesta

Dewa Semesta
Chapter 4 Hutan Merah II


__ADS_3

" Apakah kau benar Genbu?" Tanya Liu Liang.


" Yang di katakan saudara Genbu itu benar. Selain Dewa Ashura, tidak ada lagi yang mampu melawan Dewa naga semesta." Jelas Ryun.


" Bisa jadi. Dewa Ashura yang merupakan leluhur para iblis, monster, dan Cyclop, itu sudah memiliki seorang pewaris." Ucap Arion.


" Apakah kekuatan Dewa Ashura sama seperti Dewa naga?" Tanya Liu Liang.


" Bisa di bilang mereka memiliki kekuatan yang sama. Karena mereka berdua di lahir dari pusaran elemen." Jawab Suzaku.


" Oh jadi begitu." Ucap Liu Liang menyimpulkan.


Saat sedang asik berbincang-bincang, tanpa mereka sadari, tulang belakang dari naga semesta bersinar. Awalnya, sinarnya sangat redup, tapi perlahan-lahan sinarnya semakin terang sehingga mereka semua membalikkan tubuh mereka.


" Apa yang terjadi?" Tanya Liu Liang


" Kami juga tidak tahu." Jawab Azure.


Perlahan-lahan, cahaya itu mulai meredup, dan memperlihatkan sebuah pedang dengan ukiran naga di tubuhnya.


" Liang'er, teteskan darahmu si permata pedang itu." Ucap Russel.


Liu Liang hanya mengangguk dan segera menggigit ujung jarinya hingga darahnya jarinya terluka, lalu dia meneteskan darahnya diatas permata pedang tersebut.


Wusssss


Sekali lagi pedang itu bercahaya sangat terang, sehingga mereka kembali menutup mata mereka.


Setelah cahaya itu menghilang, mereka pun membuka matanya.


" Pedang ini mengecil. Padahal tadi memiliki ukuran yang sama dengan tulang dewa naga." Ucap Azure.


" Kau benar. Baru kali ini aku melihat ada pedang yang tercipta dengan sendirinya tanpa campur tangan seorang penempa." Ucap Arion.


" Hm, karena pedang ini tercipta dari tulang dewa naga semesta, maka pedang ini akan kuberi nama pedang naga semesta." Ucap Liu Liang. Setelah dia memberi nama kepada pedang tersebut, Liu Liang meraihnya dan berniat menyimpannya, tapi pedang itu menghilang dan berubah menjadi sebuah tanda di tangan kanan Liu Liang.


"Liang'er, pedang itu tidak akan mau di simpan di tempat sembarangan. Dia akan memilih tempatnya sendiri." Ucap Russel.


" Aku mengerti paman." Ucap Liu Liang.


" Ok, sekarang kau akan kemana Liang'er?" Tanya Genbu.


" Mungkin aku akan menjelajahi hutan merah terlebih dahulu baru kembali ke klan." Jawab Liu Liang.


" Kalau paman ingin kemana sekarang?" Tanya Liu Liang.


" Tidak kemana-kemana. Kami hanya ingin berada di tempat ini saja."


" Oh iya, jika kau membutuhkan bantuan kami, kau gunakan simbol naga yang ada di dahimu itu." Ucap Suzaku.


" Bagaimana caranya paman?" Tanya Liu Liang.


" Tenangkan pikiranmu terlebih dahulu, lalu pusatkan kekuatan jiwamu ke simbol yang ada di dahimu itu." Jelas Ryun.


" Baik, kalau begitu aku pamit dulu paman." Ucap Liu Liang.

__ADS_1


" Ya pergilah. Ingat jaga dirimu baik-baik." Ucap Genbu.


Wuuuuusss


Tapp


Tapp


Tapp


Liu Liang menghilang dari dasar kolam dan muncul di pinggir kolam putih itu.


" Baik, saatnya melihat isi dari hutan merah misterius ini." Ucap Liu Liang lalu melesat kearah timur, karena arah barat adalah arah menuju ke klan Liu.


Liu Liang melesat seperti kilatan cahaya putih di langit. Dia terus melesat tanpa henti. Kecuali jika ada sesuatu yang menarik untuknya.


" Selain kekuatan elemen, ternyata di dalam kristal itu terdapat pengetahuan dari dewa naga." Gumam Liu Liang.


Tiba-tiba, Liu Liang berhenti di sebuah pohon karena merasa ada sesuatu yang mengintai dirinya.


" Aku ingin lihat siapa yang sedang mengintaiku."


" Elemen petir, sambaran petir kesengsaraan." Ucap Liu Liang mengeluarkan jurus elemen petirnya dan mengarahkannya ke arah sebuah pohon.


Zzzzzz


Jedarrr


Jedarrrr


Booommm


" Siapa itu? Tunjukkan dirimu" Ucap Liu Liang.


" Dasar lancang. Aku adalah penguasa hutan merah. sebaiknya kau memberiku hormat dasar manusia rendahan." Ucap Suara itu lagi.


Lalu dari kehampaan, seekor gorila yang berbulu emas muncul di hadapan Liu Liang.


" Memangnya siapa yang memberimu hak untuk menjadi penguasa hutan merah?" Tanya Liu Liang.


" Ciih. Aku adalah hewan terkuat di hutan ini, jadi secara tidak langsung akulah hewan terkuat di hutan ini." Ucap Gorila itu dengan sombong.


" Oh iya apakah kau yakin?" Tanya Liu Liang.


Booooommm


hanya dalam satu kedipan, Liu Liang memukul gorila itu hingga terlempar dan membentur tanah dengan keras.


" Sialan kau bocah. Siapa yang mengijinkanmu menyerang lebih dulu?" Tanya gorila itu lagi.


" Kau bilang, kau adalah hewan terkuat di hutan merah, tapi hanya tinju kecil saja kay sudah terlempar puluhan meter jauhnya." Ucap Liu Liang memprovokasi.


Mendengar ucapan Liu Liang, amarah gorila itu memuncak. Bulunya yang awalnya emas berubah menjadi kemerahan.


Roarggggggg

__ADS_1


Booomm


Booommm


Booommm


Gorila itu meraung dengan keras dan seketika ratusan bola api muncul dan menyerang Liu Liang.


Liu Liang hanya menghindari bola api itu saja tanpa memblokirnya.


" Cahaya pelangi"


Swuuuussss


Booommm


Pusaran Cahaya pelangi melesat dengan cepat kearah gorila hutan itu dan menghantam dadanya, hampir saja dada berlubang seandainya Liu Liang tidak menghilangkan serangannya sendiri.


" Aku akan memberimu dua pilihan. Menjadi bawahanku atau mati" Ucap Liu Liang.


" Ciihh, aku adalah raja di hutan ini. Dan aku tidak akan tunduk kepada siapa pun apalagi kepada manusia." Jawab gorila itu.


" Baiklah, kalau itu adalah maumu." Ucap Liu Liang.


Di tangan kanannya muncul sebuah pedang dengan ukiran naga, dan siap untuk menebas.


" Baik, selamat tinggal"


" Tebasan tujuh bintang"


Swussss


Crasshhh


gorila itu mati dengan tubuh terpotong menjadi tujuh bagian. Sementara kepalanya hancur dan menyisakan percikan darah yang ada dimana-mana.


Setelah mengambil kristal jiwa gorila itu, Liu Liang melanjutkan perjalanannya untuk menjelajahi hutan merah.


" Ha..ha..ha..ha.. Rupanya masih ada manusia yang punya nyali untuk memasuki bagian dalam hutan merah." Ucap Singa taring merah.


" Benar. Aku tidak ingat apa yang terjadi dengan manusia yang masuk ke hutan ini terakhir kalinya." Ucap yang lain.


" Jika kalian tidak ingin mati dengan tubuh yang terpotong-potong, sebaiknya biarkan aku lewat." Ucap Liu Liang dengan tatapan dingin.


" Ha..ha..ha..ha..ha.. Apakah kau dengar. Seorang bocah berani mengancam seekor singa taring perak." Ucap pemimpin singa taring merah


" Hai bocah, jika kau tidak ingin mati dengan sia-sia, sebaiknya jadilah budak kami." Ucap pemimpin singa taring merah.


" Biarkan aku lewat, atau kalian semua akan menghilang dari hutan ini untuk selama-lamanya dari hutan ini." Ucap Liu Liang dengan tatapan dingin.


" Aku sangat takut, mohon ampuni aku." Ucap pemimpin singa taring merah.


" Baik kalau itu maumu."


" Elemen pasir, badai gurun"

__ADS_1


" Ha..ha..ha..ha..apakah kau ingin menghabisi kami menggunakan segenggam pasirmu itu bocah?" Tanya pemimpin singa taring merah.


" Kau masih memiliki waktu untuk bercanda sebelum menghilang dari dunia ini." Ucap Liu Liang


__ADS_2