Dewa Semesta

Dewa Semesta
Chapter 26 Surga Langit II


__ADS_3

Liu Liang terus terbang melesat dan menjelajahi surga langit. Di tempat itu, sumber daya sangat melimpah dan tumbuh dimana-mana, bahkan banyak sumber daya yang langka di dunia langit, tumbuh dengan subur di surga Langit.


Tanpa basa-basi lagi, Liu Liang memetik semua sumberdaya yang bisa di petik dan menyimpan yang belum bisa di petik.


" Waw kak, banyak tanaman herbal yang tumbuh dimana-mana kak." Ucap Arsan.


" Kau benar. tanaman herbal di sini semuanya sangat langka di benua teratai emas." Ucap Liu Liang sambil terus memetik tanaman herbal yang ada di sana.


" Hm, mungkin sudah cukup" Ucap Liu Liang lalu meninggalkan tempat tersebut.


" Kak, apakah kau mau apakan bibit yang kau ambil tadi?" Tanya Arsan.


" Ya, tentu saja untuk membudidayakannya" Jawab Liu Liang.


" Aku pikir kakak mau apakan tadi." Ucap Arsan.


Liu Liang terus menjelajahi surga langit dengan penuh takjub. Tempat itu sangat damai dan sejuk tanpa adanya perebutan kekuasaan oleh para hewan di sana.


" Benar kak, lama-lama aku betah tinggal di sini." Ucap Arsan.


" Nanti, saat aku sudah sampai di nirwhana aku akan membuat pulau seperti ini, dan membangun sebuah istana di sana." Ucap Liu Liang.


" Heh, urusan di sini belum selesai, kakak sudah bermimpi untuk tinggal di nirwhana." Ejek Arsan.


" Terserah kau saja." Ucap Liu Liang.


Liu Liang terus terbang menyusuri hutan. Di sana, semua hewan hidup berdampingan dan punya wilayah kekuasaan masing-masing. Mereka tidak saling berebutan kekuasaan ataupun saling membunuh. Semuanya hidup dengan damai.


Saat ini, Liu Liang sedang mengumpulkan sumber daya yang di temuinya. Selain itu, dia juga sudah dekat dengan pusat surga langit.


" Kak, sepertinya kita sudah hampir sampai di pusat surga langit." Ucap Arsan.


" Kau benar." Ucap Liu Liang.


Beberapa saat kemudian, Liu Liang sudah selesai memetik beberapa buah apel alam yang di temuinya. Apel alam adalah salah satu buah yang hanya tumbuh di nirwhana saja.


" Baiklah, ayo kita lanjut." Ucap Liu Liang memanggil Arsan yang sedang duduk santai.


" Baik kak." Jawab Arsan lalu melompat ke bahu Liu Liang.

__ADS_1


Di tempat lain....


" Hm, di sini sangat banyak herbal langka." Ucap Moon Chan seraya memetik beberapa herbal yang sudah bisa di ambil.


" Bukan tanpa alasan, tidak sembarangan orang yang boleh memasuki pulau ini, ternyata hewan-hewan di sini saja, hidup dengan damai. Tanpa perebutan kekuasaan dan peperangan." Ucap Moon Chan.


" Seandainya hidup bisa seperti ini." Ucap Moon Chan lalu meninggalkan tempat itu karena dia sudah selesai memetik herbal yang ada di sana.


" Seandainya bisa, aku ingin membawa satu hewan di sini kembali sebagai temanku. Hitung-hitung, aku tidak mempunyai saudara ataupun teman." Ucap Moon Chan.


Moon Chan lalu melesat dengan kecepatan sedang karena dia ingin menikmati keindahan surga langit, sesekali dia berkultivasi menyerap kristal energi yang di temukannya.


" Seandainya saja ayah, ibu, dan kakak masih hidup, mungkin aku tidak akan kesepian." Ucap Moon Chan sambil menerawang ke masa lalu, dimana ayah ibu, serta kakaknya di bunuh dengan kejam.


" Bahkan hewan di sini lebih baik dari pada sebagian orang-orang di luar sana." Ucap Moon Chan lalu kembali melanjutkan penjelajahannya mencari sumber daya.


Sementara itu, Liu Liang sudah keluar dari hutan, dan dia sudah sampai di pusat surga langit. Tempat itu sangatlah indah. Jika orang luar tahu tentang keberadaan surga langit, mungkin akan memicu terjadinya peperangan.


" Pulau ini besar dan sangat indah, serta damai. Jika ada orang hidup di pulau ini, maka dia akan menemukan kedamaian sejati." Ucap Liu Liang.


" Benar kak. Tadi saja, aku melihat kucing dan tikus tidur bersama." Ucap Arsan.


" Apakah itu benar, tapi mengapa aku tidak melihat hal itu semenjak aku masuk di pulau ini?" Tanya Liu Liang.


" Karena hewan akan memangsa jika waktunya tiba." Jawab Dewa langit.


" Ikuti aku, aku sudah menunggumu berhari-hari." Ucap Dewa langit lalu berjalan masuk kedalam istana, sementara Liu Liang mengikutinya dari belakang.


" Kalau boleh tahu, ada apa anda memanggilku?" Tanya Liu Liang.


" Itu karena aku ingin anda mewarisi pulau ini beserta isinya. Oh iya, ini hanya sisa jiwaku saja. tubuhku yang asli sudah hancur ribuan tahun yang lalu." Ucap Dewa Langit.


" Aku juga ingin anda mewarisi teknik formasi dan alkemis yang aku punya." Ucap Dewa langit.


" Alkemis itu apa?" Tanya Liu Liang.


" Wajar kau tidak tahu karena selama ini orang-orang langsung mengonsumsi tanaman herbal saja tanpa mengolahnya. Alkemis itu adalah orang yang membuat pil, dan mengolah herbal menjadi ramuan atau pil obat." Jelas Dewa Langit.


" Tapi sebelum itu, aku ingin kau menyerap kristal suci ini." Ucap Dewa langit sambil menyodorkan sebuah kristal berwarna putih keemasan.

__ADS_1


" Kristal ini dapat meningkatkan kekuatan jiwa menjadi berkali-kali lipat dari sebelumnya. Selain itu, kristal ini juga akan meningkatkan kultivasi orang yang menyerapnya." Ucap Dewa Langit.


" Baiklah aku akan menyerapnya." Ucap Liu Liang lalu mengambil kristal itu.


Liu Liang lalu duduk dengan posisi lotus dan mulai berkultivasi. energi yang berbentuk benang-benang tipis terserap kedalam tubuh Liu Liang. Energi itu melewati meridian Liu Liang, dan berkumpul di dalam dantian Liu Liang.


Booommm


Booomm


Terdengar Ledakan teredam sebanyak dua kali dari dalam tubuh Liu Liang yang menandakan jika kultivasi Liu Liang naik dua bintang.


Satu jam kembali berlalu, dan ledakan beruntun kembali terdengar dari dalam tubuh Liu Liang.


Booomm


Booomm


Boomm


Booommm


Boommmm


Booommm


Booommm


Kini Kultivasi Liu Liang yang awalnya ranah grand master Bintang 3 langsung menerobos keranah Raja bintang 1.


Bukan hanya itu, kekuatan jiwanya juga melonjak drastis. Kini kekuatan jiwa Liu Liang sudah bertambah kuat dari sebelumnya. Dan sekarang, serangan jiwa tidak akan berpengaruh lagi padanya.


" Baiklah, sekarang aku akan langsung mengajarimu cara mengolah tanaman herbal dengan baik." Ucap Dewa Langit.


Lalu, dewa langit mengeluarkan sebuah tungku alkemis dan menyalakan api di bawah tungku, lalu memasukkan tanaman herbal satu persatu. Sementara Liu Liang hanya menyimak setiap langkah yang di lakukan oleh dewa langit dengan cermat, tanpa melewatkan satu langkah pun.


Lalu, Dewa langit membersihkan seluruh bahan yang ada di dalam tungku. Setelah beberapa saat kemudian, Dewa langit memadatkan semua bahan menjadi sebuah pil yang berukuran besar.


Lalu, pil itu kemudian berpecah menjadi 10 butir pil berwarna ungu.

__ADS_1


__ADS_2