
Liu Liang sendiri sudah melesat meninggalkan tempat tersebut. Dengan kecepatan yang tidak masuk akal.
Sementara itu di sekte Kabut darah...
" Ciih, mengapa semua orang sebodoh itu menerima adanya kekaisaran begitu saja." Ucap patriak sekte Kabut Darah.
" Benar patriak." Ucap Tetua ke Lima.
" Bagaimana kalau kita serang kekaisaran saja, dan patriak yang akan menjadi kaisarnya?" Tanya Tetua ke enam.
" Idemu benar juga."
" Siapkan pasukan, dan bergerak menuju ke kekaisaran Teratai emas." Perintah patriak Song Gun.
Lonceng di bunyikan bersahut-sahutan. Dan semua murid, dan tetua sekte kabut darah berkumpul di lapangan sekte.
" Ayo kita serang kekaisaran baru itu, dan hancurkan semua pengikutnya." Ucap Patriak Song Gun.
" Ya. Serang dia, dan jadikan sekte kabut darah penguasa." Ucap tetua ke 7.
Wussss
Wussss
Wusss
sekitar Lima ratus ribu orang melesat menuju ke barat daya, yang mana arah itu adalah arah menuju ke kekaisaran Teratai Emas.
wusss
Wusss
Wusss
dari arah berlawanan, terlihat beberapa bayangan melesat lebih dulu dari pasukan Kabut darah.
Kembali Ke Liu Liang...
" Kak ada apa?" Tanya Arsan.
" Paman Hao Xiang jika ratusan ribu pasukan bergerak menuju ke istana." Jawab Liu Liang.
" Hm kak, bagaimana kalau kita permainkan mereka saja?" Tanya Arsan.
" Idemu bagus juga." Jawab Liu Liang lalu melesat menuju ke arah pasukan sekte kabut darah.
Liu Liang sendiri terbang menggunakan kecepatan maksimalnya, sehingga saat matahari hampir terbenam dia sudah sampai di kamp pasukan sekte kabut darah.
" Baik, mari kita mulai permainannya." Ucap Liu Liang lalu menciptakan awan petir.
Jedarrrrr
Jedarrrr
Jedarrrr
Petir menyambar seluruh tenda yang baru saja terpasang. Bahkan tenda-tenda itu terbakar menjadi abu.
" Akhhhhh, sialan. Bagaimana bisa petir muncul di saat cuaca secerah ini?" Tanya patriak Song Gun.
__ADS_1
" Tidak tahu patriak, tapi yang jelasnya tenda kita semuanya berubah menjadi abu." Jawab tetua ke empat.
" Pasti ada yang sengaja melakukannya. Cari, dan tangkap orang itu hidup-hidup." perintah patriak Song Gun.
" Baik patriak." Jawab tetua ke 3.
Sementara itu, Liu Liang belum puas mengerjai mereka. Kali ini, Liu Liang menciptakan sebuah badai yang sangat kencang. Yang membuat semua perbekalan mereka di bawa angin.
" Hm, akan lebih bagus, jika kita membuat energi alam.di tubuh mereka terkunci sehingga mereka akan merasa kelaparan." Ucap Arsan..
Liu Liang lalu membuat sebuah formasi tak kasat mata. Formasi itu, mengelilingi seluruh tempat pasukan sekte kabut darah. Lalu formasi besar berpecah menjadi ratusan ribu cakram segel dan melesat menuju ke semua orang yang ada di sana dan mengunci aliran energi alam mereka.
Kruuuuukkkk
Kruuuukkk
Sesaat kemudian, satu persatu, perut mereka berbunyi. Mereka mencoba mengatasi rasa lapar mereka menggunakan energi spiritual mereka, tapi itu sia-sia, karena energi spiritual mereka sudah di kunci.
( Energi spiritual adalah energi alam yang sudah diolah oleh seorang kultivator, karena jika hanya menggunakan energi alam saja, author rasa itu tidak bagus.)
" Sial, bagaimana bisa. Energi spiritual kita di kunci?" Tanya Salah satu murid sekte.
" Kau benar. Aku bahkan jarang makan." Ucap yang lain.
satu persatu para murid sekte kabut darah pingsan karena rasa lapar.
" Bagaimana rasanya? Apa mungkin kalian tidak pernah makan selama berbulan-bulan?" Tanya Liu Liang sambil memakan sepotong daging panggang yang membuat mereka jadi tambah lapar.
" Kak, apa lagi yang harus kita lakukan pada mereka?" Tanya Arsan.
" Aku nggak tahu, mungkin membuat mereka mati kelaparan." Ucap Liu Liang lalu pergi dari sana.
Swussss
tiba-tiba, seluruh formasi yang ada di tempat itu menghilang, termasuk formasi yang mengunci energi spiritual mereka sehingga mereka kembali normal.
" Untung kau datang tepat waktu tetua agung." Ucap patriak Song Gun.
" Memangnya apa lagi yang ingin kalian lakukan. Apa kalian ingin menyerang kekaisaran?" Tanya tetua agung.
" Tentu saja. Ini semua agar sekte kita meningkat, dan menjadi penguasa benua teratai emas" Jawab patriak Song Gun.
" kalau begitu, jangan buang waktu lagi." Ucap Tetua agung sekte kabut Darah.
Wussss
Booooommmm
Sebelum mereka bergerak, ratusan tapak menghantam pasukan mereka sehingga pasukan yang terkena tapak terpental sejauh dua ratus meter, bahkan ada yang sampai terluka.
" Sialan, siapa yang menyerang secara diam-diam, dasar pengecut." Teriak patriak Song Gun.
" Pengecut katamu. Untuk memerangi orang seperti kalian, memangnya harus membuat pengumuman terlebih dahulu?" Tanya Liu Liang.
" Memangnya kau siapa bocah, dengan beraninya menyerang pasukanku?" Tanya patriak Song Gun.
" Aku bukan siapa-siapa. Aku hanya datang untuk menghancurkan orang seperti kalian." Jawab Liu Liang.
Wussss
__ADS_1
Boooommm
Selesai menjawab pertanyaan patriak Song Gun, Liu Liang langsung melesatkan sebuah tapak raksasa kearah mereka.
" Aku tidak punya banyak waktu meladeni kalian. Leboh baik kalian mengurungkan niat kalian untuk menyerang kekaisaran dari pada kalian menyesal nantinya." Ucap Liu Liang.
" Memangnya apa yang akan membuat kami menyesal, pasukan kekaisaran saja paling hanya sedikit saja." Ucap Song Gun sombong.
" Terserah kalian, tapi yang jelas, jika kalian berani menyerang kekaisaran, maka di pastikan saat itu juga sekte kalian akan rata dengan tanah." Ucap Liu Liang.
Wussss
Sreeeekkk
Sreeekkk
Booommm
Sekali, lagi, sebuah serangan di lancarkan oleh Liu Liang, tapi kali ini di menggunakan pedang, sehingga siapa pun yang terkena serangannya akan mati dengan tubuh terpotong-potong.
" Serang, dan habisi pemuda sialan itu." Ucap Patriak Song Gun dengan amarah yang berapi-api.
" Seranggggg"
Booommm
Booommmm
Booommm
Para murid sekte kabut darah menggunakan serangan gabungan untuk melumpuhkan Liu Liang. Serangan itu mereka beri nama, Darah penghapusan
" Ciih, tidak ada yang bisa lolos dari serangan darah penghapusan." Ucap salah satu dari mereka.
" Apakah kalian yakin?, bahkan serangan kalian tidak menyentuhku sama sekali." Ucap Liu Liang.
Boooommm
Tanpa basa-basi lagi, Liu Liang melancarkan serangan tapak, yang sekali serang, ratusan tapak menghantam mereka semua.
" Apa? Bagaimana mungkin dia bisa mengeluarkan ratusan tapak sekali serang?" Tanya mereka.
" Kalian tidak perlu tahu" Jawab Liu Liang dengan pedang yang siap untuk memenggal.
" Boooooommm"
Tapi, sebelum memenggal, sebuah serangan yang mengarah kepadanya. Untungnya dia berhasil menangkap sangkur beracun yang di arahkan padanya.
" Dasar pak tua sialan, ini aku kembalikan padamu." Ucap Liu Liang lalu melemparkan kembali sangkur yang diarahkan padanya ta kepada tetua pertama sekte kabut darah.
Jleeeeepppp
Sangkur itu melesat dengan cepat dan menembus jantung tetua pertama. bahkan jantung tetua pertama menjadi abu, akibat terkena serangan dari sangkur beracunnya sendiri.
" Itu namanya senjata makan tuan." Ucap Liu Liang.
" Kak, aku juga ingin ikut bertarung" Ucap Arsan.
" Ya, silahkan saja." Jawab Liu Liang.
__ADS_1