
Liu Liang ingin mengistirahatkan tubuhnya yang terus terbang selama berhari-hari, tapi Liu Liang tidak menemukan satu kota pun.
Apa mungkin Di bagian utara wilayah barat sendiri sangat jarang ada kota. Jika pun ada itu pun hanya kota kecil dan wilayah sekte bulan sabit saja. total keseluruhannya hanya ada sekitar 20 kota saja, sementara sisanya adalah wilayah hutan belantara dan padang rumput. Serta puluhan danau-danau dan sungai.
Karena merasa lelah, Liu Liang memutuskan untuk beristirahat di sebuah padang rumput. untuk berjaga-jaga, Liu Liang memasang formasi pelindung di sekeliling tempatnya beristirahat.
" Walau energi semestaku belum habis, tapi tetap saja tubuhku terasa lelah." Ucap Liu Liang.
" Kak, bagaimana kalau kita makan saja?" Tanya Arsan.
" Idemu bagus juga, tapi sepertinya tidak ada hewan yang lalu lalang di sini." Jawab Liu Liang.
Arsan hanya menghela nafas panjang, karena memang di sana hanya ada hamparan rumput, belum lagi hari sudah malam, tentu saja hewan-hewan pada istirahat dan tidak berani keluar dari hutan malam-malam
Karena bosan, Liu Liang memutuskan untuk berkultivasi. Dia memilih untuk menyatukan dua elemen berbeda untuk menciptakan elemen yang belum pernah ada sebelumnya.
" Aku akan menggabungkan elemen cahaya dan kegelapan saja. karena aku tidak ingin menggunakan elemen kristal secara terus menerus." Ucap Liu Liang.
" Kak, elemen petir dan air juga bagus untuk di gabungkan, atau api dengan tanah juga bagus." Ucap Arsan memberi saran.
" Saranmu memang bagus, tapi aku akan menggabungkan elemen cahaya dan kegelapan saja." Ucap Liu Liang.
" Kalau begitu akan menggabungkan elemen api dan tanah menjadi elemen magma" Ucap Arsan.
ARSAN dan Liu Liang kemudian menjauh satu sama lainnya untuk menghindari efek ledakan yang akan terjadi.
Liu Liang mulai berkultivasi. Akar elemen cahaya dan akar elemen kegelapan terlihat memancarkan energi. Energi itu kemudian mengikat kedua akar elemen itu satu sama lainnya, dan perlahan-lahan saling melilit satu sama lainnya.
Seiring dengan menyatunya elemen yang berlawanan, Liu Liang juga merasakan rasa sakit yang diakibatkan oleh pergerakan akar elemen di dalam dantiannya. salah sedikit saja, maka dia akan kehilangan kedua elemen itu. Untuk menjaga agar dirinya tidak pingsan, Liu Liang menggigit ujung lidahnya sendiri agar dia tidak pingsan. Karena jika dia pingsan, maka proses penggabungan elemen akan terhenti dan elemen cahaya dan elemen kegelapan Liu Liang sudah tidak bisa di gunakan lagi.
Perlahan-lahan kedua akar elemen itu mulai menyatu, membentuk sebuah akar elemen yang setengahnya berwarna putih, dan setengahnya berwarna hitam. Proses itu terus terjadi, sampai kedua akar elemen melebur membentuk sebuah akar elemen yang baru.
Arggggggg
Semakin lama, Rasa sakit yang di rasakan oleh Liu Liang semakin terasa.
__ADS_1
" Sedikit lagi." Ucapnya mencoba menyemangati dirinya sendiri.
perlahan-lahan tubuhnya di selimuti oleh elemen cahaya di bagian kanan dan elemen kegelapan di bagian kiri tubuhnya lalu energi itu membentuk sebuah Lingkaran Yin Yang diatas kepala Liu Liang. Bukan hanya itu, energi semesta juga ikut menyatu dengan kedua elemen itu dan membentuk dua buah lingkaran emas kecil di kedua bagian lingkaran itu.
Satu jam berlalu..
Booommmmm
Proses penyatuan kedua elemen itu selesai. Dan lingkaran yin-yang yang bermata emas masuk kedalam tubuh Liu Liang.
Tak lama kemudian, Arsan juga sudah selesai menggabungkan elemen api dan elemen tanah miliknya membentuk elemen magma yang jauh lebih kuat dari kedua elemen induknya. Setelah selesai memulihkan energinya, Liu Liang membuka matanya.
" Kak apakah kau tidak apa-apa?" Tanya Arsan.
" Ya, aku tidak apa-apa. Walau pun prosesnya sangat menyakitkan" Ucap Liu Liang.
" Kak, apa nama elemen barumu itu?" Tanya Arsan.
" Hm, mungkin elemen Yin-yang" Jawab Liu Liang.
" Karena Yin Yang melambangkan kehidupan dan kematian, cahaya dan kegelapan, kebenaran dan kejahatan, serta siang dan malam, semuanya di lambangkan dengan warna hitam dan putih." Jelas Liu Liang.
" Bagaimana denganmu?" Tanya Liu Liang.
" Aku juga berhasil kak." Jawab Arsan lalu memperlihatkan elemen magma yang membara miliknya.
" Kak apakah kita akan melanjutkan perjalanan kita?" Tanya Liu Liang.
" Tentu saja. Aku tidak ingin membuang-buang waktuku di sini." Jawab Liu Liang. Arsan lalu melompat ke atas bahu Liu Liang dan duduk di sana, lalu Liu Liang melesat dengan cepat meninggalkan tempat tersebut.
Di langit, terlihat sebuah kilatan cahaya seperti membelah langit senja. Kilatan cahaya itu tak lain adalah Liu Liang yang sedang melesat menggunakan kecepatan penuhnya menuju ke wilayah utara.
Senja pun berlalu, dan berganti menjadi malam, tapi Liu Liang tidak berhenti melesat.Tapi, kali ini, dia mengurangi kecepatannya, karena di depan ada sebuah kota. Setelah beberapa menit, Liu Liang akhirnya sampai di kota yang di penuhi dengan lampion berbentuk bintang.
Liu Liang lalu turun sejauh 200 meter dari kota, dan berjalan kaki menuju ke kota lampion.
__ADS_1
" Maaf tuan, saat ini penguasa kota melarang siapa pun untuk memasuki kota." Ucap penjaga gerbang kota.
" Aku hanya ingin membeli beberapa makanan saja." Ucap Liu Liang.
" Oh tapi, maaf. Ini sudah perintah dari penguasa kota." Cegat penjaga gerbang.
" Kak, aku merasakan energi asing yang kuat di kota ini. Mungkin energi ini urutan kedua setelah energi semesta kakak." Bisik Arsan.
" Oh iya, kalau boleh tahu, kenapa ada energi asing yang menyelimuti kota ini?" Tanya Liu Liang tiba-tiba yang membuat kedua penjaga terkejut.
" Bagaimana anda bisa merasakan energi itu?" Tanya penjaga gerbang kota.
" Tidak, aku hanya merasakan sebuah energi yang berbeda dari energi alam menyelimuti kota ini." Jawab Liu Liang.
" Ini adalah energi yang berasal dari tubuh putra penguasa kota. penguasa kota sudah memanggil tabib-tabib terkenal, tapi semuanya tidak ada yang bisa menjinakkan energi itu." Jawab salah satu penjaga.
" Kalau di izinkan, aku ingin mencoba menyembuhkannya." Ucap Liu Liang.
" Memangnya, tuan bisa melakukannya?" Tanya penjaga gerbang kota.
" Aku akan mencobanya." Jawab Liu Liang.
" Baiklah, mari aku antar tuan kesana." Ucap penjaga tersebut.
Liu Liang dan salah satu penjaga gerbang berjalan menuju ke suatu tempat dimana tempat itu berada di pinggiran kota. Semakin mendekat ke sumber energi, tekanannya semakin kuat, dan penjaga itu sudah tidak dapat menahan tekanan energi itu lagi.
" Maaf tuan. Aku hanya bisa mengantar tuan sampai di sini." Ucap penjaga itu lalu pergi.
" Hm, pantas saja tidak ada yang sanggup untuk menyembuhkannya, ternyata ini adalah energi absolute." Ucap Liu Liang.
" Energi Absolute , bukankah energi itu hampir sama kuatnya dengan energi semesta milik kakak?" Tanya Arsan.
...****************...
Jangan Lupa, Like ya, serta kritik dan saran dari pembaca sekalian.
__ADS_1