
" Kurasa pil ini sudah cukup." Ucap Liu Liang.
" Sekarang, aku akan membuat apa lagi?" Tanya Liu Liang pada dirinya sendiri.
" Kak, bagaimana kalau kakak mencoba menempa senjata?" Tanya Arsan.
" Idemu benar juga. Tapi membuat senjata membutuhkan waktu lama, dan aku sudah berada di sini 1,5 bulan. Itu artinya aku sudah di sini selama 45 hari di luar. mungkin kaisar bulan sudah menuju ketempat awal kita menginjakkan kaki di pulau ini." Ucap Liu Liang.
" Yang di katakan Liang'er itu benar. Aku juga sudah memberikan semua resep pil yang aku punya, dan kuharap kita bisa bertemu lagi di nirwana." Ucap Dewa Langit.
" Untuk ke Nirwana itu tidak mudah. Kau harus rela kehilangan semua hal yang kau punya di dunia ini. Termasuk tubuh Fanamu. Itu artinya, saat kau pergi ke Nirwana, orang-orang akan menganggap kau sudah mati. dan saat kau sudah sampai di nirwana maka secara langsung tubuhmu akan membentuk tubuh baru, yaitu tubuh Dewa. Karena sekarang hanya darahmu saja yang memiliki unsur dewa, sementara tubuhmu tidak." Jelas Dewa Langit.
" Apakah ada cara lain untuk pergi ke Nirwana?" Tanya Liu Liang.
" Sayangnya itu tidak ada. Walau ada cara lain, tetap saja, kau harus meninggalkan unsur manusia yang kau miliki." Jawab Dewa Langit.
" Baiklah, di dalam cincin ini ada ribuan buku teknik dari berbagai elemen kecuali elemen kristal yang aku kumpulkan. Walaupun aku hanya bisa menggunakan elemen tanah, air, angin, api, petir, cahaya, dan kehampaan saja." Ucap Dewa Langit.
" Terima kasih master. Jika aku sudah mendapatkan kedudukanku sebagai penguasa, aku akan membuat master menjadi penguasa Dunia Langit lagi." Ucap Liu Liang.
" Baik, kalau begitu aku pergi dulu." Ucap Dewa Langit memberi hormat lalu menghilang.
" Kak, seharusnya kasus yang menimpamu sangat aneh. Mana ada guru memberi hormat pada muridnya sendiri." Ucap Arsan.
" Aku juga tidak sempat melarangnya, karena dia keburu menghilang." Ucap Liu Liang.
" Ok, saatnya kembali." Ucap Liu Liang langsung menghilang.
Wusss
Tapi, dia muncul kembali di istana dewa langit karena dia meninggalkan Arsan tanpa sengaja.
" Kak, apakah kau berniat meninggalkanku di sini?" Tanya Arsan dengan kesal.
" Mana mungkin. Jika aku meninggalkanmu di sini, maka semua hewan di sini akan kau perbudak, atau habis kau makan." Ucap Liu Liang lalu menggendong Arsan lalu pergi.
Wussss
Liu Liang muncul kembali di pinggiran surga langit.
" Baik, sambil menunggu dia, mending aku berkultivasi saja." Ucap Liu Liang lalu mengeluarkan kristal putih yang dia temukan sebelumnya. Sementara itu, Arsan langsung melompat turun dari bahu Liu Liang.
" Aku tebak, kakak akan menembus ranah dewa." Ucap Arsan.
Liu Liang lalu menggunakan teknik kultivasi dewa semesta, yang mana teknik itu akan membuat Liu Liang mampu menyerap energi alam saat dia sedang menyerap kristal energi tersebut.
" Ayolah kak. Jangan teknik kultivasi yang itu. Kalau kau menggunakannya, bisa-bisa petir kesengsaraanmu adalah petir kekosongan." Ucap Arsan. Tapi Liu Liang sudah menggunakan teknik kultivasi semesta miliknya.
" Aishh, mending aku berlindung saja, dari pada aku menjadi singa panggang." Ucap Arsan. Dia lalu membuat sebuah perisai bayangan yang menutupi seluruh tubuhnya, dan membuatnya menghilang.
Sementara itu, Liu Liang menyerap energi gila-gilaan. Untungnya energi di surga langit tidak ada habisnya, dan Liu Liang juga sudah mempersiapkan semuanya.
Dugaan Arsan benar. Hanya dalam waktu satu jam, terjadi lonjakan energi dari dalam tubuh Liu Liang.
Sesaat kemudian...
__ADS_1
Booommm
Booommm
Booommmm
Booommm
Booommm
Booommm
Boommmm
Booommmm
Booommm
booom..
Booommm
Booommm
Booommmm
Booommm
Booommm
Booommmm
Boooooommmm
Kultivasi Liu Liang melonjak drastis. Kultivasinya yang awalnya ranah Raja melonjak ke ranah dewa bintang 1.
Sementara itu, Langit yang tadinya cerah berubah menjadi gelap. Petir berwarna abu-abu menyambar kemana-mana.
" Aish, kalau petir ini menyambar Kakak, maka otomatis dia akan di teleportasikan ke nirwana." Ucap Arsan.
Liu Liang membuka matanya, dan menyebarkan aura dewa semesta miliknya.
" Pergilah. Aku tidak ingin pergi ke Nirwana sekarang. Urusanku masih banyak." Ucap Liu Liang.
" Baik, tapi, kau harus segera ke nirwana jika urusanmu selesai, jika tidak aku akan menyambarmu sampai tubuhmu hancur." Ucap sebuah suara. Lalu petir itu pun menghilang dan langit kembali cerah.
Sementara itu, semua warga terkejut dengan kemunculan petir yang berwarna abu-abu. Pasalnya tidak ada yang tahu petir apa itu. Bahkan di dalam legenda sekalipun tidak pernah di sebutkan ada petir berwarna abu-abu.
" Petir apa itu tadi?" Tanya salah satu warga.
" Aku tidak tahu. Petir itu tidak pernah di sebutkan dalam catatan kuno sekalipun." Jawab yang lainnya.
Kembali ke Liu Liang...
" Kak, akhirnya kau selesai juga." Ucap Arsan.
__ADS_1
" Aku pikir kau akan di sambar oleh petir jelek itu tadi." Ucap Arsan.
Jedarrrrr
Brrrrrrr
Tiba-tiba saja, petir menyambar Arsan satu kali, tepat setelah dia menyelesaikan kalimatnya. Sambaran itu membuat semua bulunya yang awalnya putih berubah menjadi hitam dalam sekejap.
" Huaa..ha..ha..ha.. Makanya kalau bicara itu jangan sembarangan. Untungnya petir itu tidak membunuhmu." Ucap Liu Liang sambil tertawa terbahak-bahak.
" Kak, kau ini bukannya membantuku membersihkan buluku yang indah ini, kau malah menertawakanku." Ucap Arsan kesal.
" Ya...ya..ya..ya.. Maaf. habisnya tanpa angin, tanpa badai, tiba-tiba saja petir menybarmu." Ucap Liu Liang.
Di langit sendiri, sebuah muncul kepulan awan yang membentuk sebuah wajah yang tertawa, sehingga membuat Arsan tambah kesal.
" Ciih, dasar petir sialan." Ucap Arsan.
Jedarrrrr
Satu buah sambaran kecil mengenai Arsan lagi. yang membuat dia semakin kesal.
Byuuurrrr
Liu Liang menggunakan elemen air dan mengguyur tubuh Arsan sehingga tubuhnya seketika langsung bersih.
" Apakah kalian sudah menunggu lama?" Tanya Moon Chan tiba-tiba.
" Tidak. Kami baru saja sampai di sini." Jawab Liu Liang.
" Oh iya, mengapa burung itu mengikutimu?" Tanya Liu Liang.
" Oh, aku menemukan secara tidak sengaja, di hutan dan dia sedang terluka, jadi, aku mengobatinya. Dan tanpa persetujuanku, dia melukai jariku, dan meneteskan darahku di kepalanya, sehingga sekarang dia adalah hewan kontrakku." Jelas Moon Chan.
" Oh iya, rahasiakan tentang pulau ini kepada orang luar." pintah Liu Liang.
" Baiklah. Aku akan merahasiakan tempat ini kepada siapapun." Jawab Moon Chan.
" Baiklah, ayo kita keluar." Ajak Liu Liang.
" Baik" Jawab Moon Chan.
Wusss
Wussss
Wusss
Mereka berdua pun melesat menembus pelindung pulau yang berlapis-lapis. Setelah beberapa saat kemudian, mereka berdua mendarat di pinggiran benua teratai emas.
" Sampai ketemu lagi. Dan terima kasih karena sudah mengizinkanku masuk ke pulau itu." Ucap Moon Chan.
" Lain kali, aku akan mengunjungimu di benua bulan." Ucap Liu Liang.
" Berkunjunglah, aku akan selalu menyambutmu." Jawab Moon Chan lalu melesat meninggalkan benua teratai emas. Sementara pulau itu sudah menghilang entah kemana.
__ADS_1