
" Sialan. Siapa yang berani memadamkan apiku?" Tanya burung Vermilion.
" Dasar Vermilion gila. Apakah hutan ini adalah wilayah kekuasaan ras burung vermilion sehingga kau membakar hutan ini seenaknya?" Tanya Liu Liang.
" Ternyata hanya seorang anak kecil saja." Ucap Vermilion.
" Sebaiknya kau kembalilah ke alam suci sebelum aku membuatmu menyesal." Ucap Liu Liang.
" Ha..ha..ha..ha.. Memangnya seberapa besar kekuatanmu sehingga kau ingin membuatku menyesal?" Tanya burung Vermilion tersebut.
" Baik kalau begitu jangan menyesal karena keputusanmu sendiri." Ucap Liu Liang.
" Elemen cahaya, cahaya penyucian" Ucap Liu Liang.
Swuuusss
Boooommm
Cahaya penyucian milik Liu Liang mengenai burung tersebut dan membuatnya terjatuh ketanah.
" Sialan kau bocah."
Wussss
Tiba-tiba ratusan bola api meluncur Kearah Liu Liang dengan cepat.
" Elemen pasir, pasir hisap."
Wussss
Tanah yang tadinya keras berubah menjadi pasir. Pasir itu terus menghisap burung Virmilion itu hingga tenggelam.
" Aku tidak ingin terjadi masalah karena membunuhmu, jadi, kembalilah kealammu." Ucap Liu Liang sambil menarik kembali burung tersebut.
" Ciihh, aku adalah putra kaisar Virmilion, walau kau melepaskanku sekalipun, aku tetap akan meminta ayahku untuk menyerang alam ini." Ucapnya.
" Coba saja kalau kau ingin seluruh rasmu mati." Ucap Liu Liang sambil memperlihatkan sebuah botol kaca berisi darah burung tersebut.
" Ciih, apa yang ingin kau lakukan dengan darahku setetes darahku itu?" Tanya Fe Hun.
" Aku ingin menggunakan kutukan darah menggunakan darahmu. Kau dan seluruh orang yang mempunyai darah Virmilion akan mati sekaligus." Jawab Liu Liang.
" Tolong jangan lakukan itu. Aku mohon." Ucapnya.
" Kalau kau ingin aku tidak melakukannya, maka jangan pernah berpikir untuk melakukan penyerangan ke sini, karena jika kau melakukannya maka aku akan membunuhmu terlebih dahulu." Ucap Liu Liang.
" Sekarang kembalilah ke duniamu" Ucap Liu Liang.
__ADS_1
" Baiklah." Jawabnya.
Wusss
Wusss
hanya dalam sedetik saja, pangeran Vermilion itu menghilang dari hadapan Liu Liang.
" Elemen kehampaan, segel Ruang dan waktu." Ucap Liu Liang.
Wussss
tiba-tiba, sebuah kubah berwarna abu-abu muncul dari telapak tangan Liu Liang. Kubah itu terus membesar, hingga menutupi seluruh hutan, lalu menghilang.
" Sekarang tidak ada lagi ras hewan ilahi yang dapat mengusik kalian. Tapi ingat satu hal, jangan pernah kalian bertarung atau pun menyelam ke dalam sebuah kolam berwarna putih di hutan ini." Ucap Liu Liu Liang.
" Baik, kami mengerti tuan." Ucap Para hewan di sana.
" Tuan, mereka sudah bisa berbicara. Itu artinya kultivasi mereka sudah menembus ranah bumi." Ucap Arsan.
" Dan satu hal lagi, jangan pernah menyerang manusia di luar hutan. Kalian hanya boleh menyerangnya jika dia mengganggu kalian, atau pun merusak hutan ini. Jika mereka hanya berburu atau pun mencari herbal, jangan menyerang mereka." Ucap Liu Liang.
" Baik kami mengerti tuan, tapi bagaimana jika orang yang masuk berniat jahat pada kami?" Tanya singa putih.
" Kalian boleh membunuhnya " Jawab Liu Liang.
Wussss
" Tuan sepertinya misteri hutan merah sudah dipecahkan setengahnya." Ucap Arsan.
" Kau benar. Aku sudah tahu siapa yang menguasai hutan ini, tinggal mencari tahu apa penyebab daun hutan di sini berwarna merah." Ucap Liu Liang.
" Tuan, apa tidak sebaiknya kita istirahat saja dulu. Kita sudah terbang selama tiga hari tanpa berhenti." Ucap Arsan.
" Baiklah. Aku juga ingin mengistirahatkan tubuhku." Ucap Liu Liang.
Liu Liang lalu berhenti di bawah sebuah pohon besar lalu merenggangkan kedua tangannya.
Karena hari sudah gelap, Liu Liang mengumpulkan kayu bakar dan membuat api unggun.
" Tuan, apakah tuan tidak merasa aneh dengan hewan-hewan di hutan ini?" Tanya Arsan.
" Maksudmu?" Tanya Liu Liang balik.
" Iya seharusnya di hutan ini hanya ada hewan buas biasa dan tidak seharusnya hewan dewa atau ilahi berada di hutan ini." Jawab Arsan.
" Ucapanmu ada benarnya juga. Bisa jadi, di hutan ini ada hewan lain selain Burung Vermilion dan gorila bulu emas." Ucap Liu Liang berpikir.
__ADS_1
" Diantara kumpulan hewan di bagian inti hutan tadi, aku merasakan ada hewan ilahi selain burung Vermilion yang sudah tuan kalahkan." Ucap Arsan.
" Mungkin besok kita akan mencari tahu tentang hal itu." Ucap Liu Liang.
Pagi hari di hutan merah, suasananya masih gelap dan dingin walau sebenarnya matahari sudah terbit. Pagi itu juga, salju turun di hutan merah, dan yang lebih anehnya lagi, daun pohon yang awalnya berwarna merah, berubah menjadi putih mengkilap sesuai dengan warna salju.
" Hm, salju. Hutan ini semakin aneh saja." Ucap Liu Liang.
" Tunggu dulu. Jika di hutan ini salju turun, berarti, aku sudah lima bulan di sini." Ucap Liu Liang.
" Apa maksudmu tuan?" Tanya Arsan.
" Salju di hutan ini terjadi empat bulan sekali dalam satu tahun. Jika di hitung saat pertama kali aku memasuki hutan ini di tambah berlatih selama sebulan bersama paman Genbu dan yang lainnya, aku sudah lima bulan meninggalkan klan." Ucap Liu Lian
" Lalu bagaimana sekarang tuan?" Tanya Arsan.
" Ya, aku harus pulang sekarang." Jawab Liu Liang.
" Apakah tuan tidak jadi untuk mengungkap misteri hutan ini?" Tanya Arsan.
" Tidak juga. Aku harus pulang sekarang, karena perjalanan dari bagian inti hutan ke klan Liu memakan waktu hampir sebulan. Jadi, jika aku pulang hari ini, maka aku akan sampai di rumah tepat waktu." Ucap Liu Liang.
" Tapi, kita akan ke sini lagi kan?" Tanya Arsan.
" Tentu saja. Aku akan ke sini lagi." Ucap Liu Liang lalu melesat meninggalkan hutan.
Dia kembali melesat menembus lebatnya pepohonan di hutan merah. Setelah terbang berhari-hari, akhirnya Liu Liang melihat secerca cahaya yang artinya dia sudah berada di bagian luar hutan merah.
Wussss
Liu Liang menggunakan kecepatan penuhnya dan hanya dalam waktu lima hari dia susah berada di gerbang klan Liu tepat saat tengah malam.
" Sesuai dugaanku, salju turun di sini." Ucap Liu Liang.
Setelah memastikan tidak ada orang yang melihatnya, Liu Liang melesat dengan cepat menuju ke rumahnya.
" Hm, kenapa rumah sangat berantakan, dimana ayah, ibu dan kakak?" Tanya Liu Liang.
Karena khawatir, Liu Liang menuju ruang bawah tanah, yang ternyata sudah hancur dan itu menandakan jika tempat persembunyian orang tuanya sudah di ketahui.
" Syukurlah kau sudah kembali Adik." Ucap Liu Xiang.
" Ada apa kak. Mengapa kau terlihat khawatir?" Tanya Liu Liang.
" Paman sudah menangkap ayah dan ibu, dan kultivasi mereka sudah di hancurkan. Saat ini mereka berada di penjara klan." Jawab Liu Xiang lalu menghilang.
" Hm, sebuah pesan jiwa. Itu artinya kakak juga berada dalam bahaya." Ucap Liu Liang.
__ADS_1