
Di dalam lift, pria itu memindahkan KTP tadi ke dalam dompetnya. Besok bisa dia serahkan ke Pak Nors. Di PT Narudafood Jaya.
Pagi-pagi di pabrik snack terbesar di kota itu. Para karyawan shift malam baru saja pulang. Bis karyawan beriringan keluar gerbang pabrik.
Berpapasan dengan mobil Fortuner suplier. Mobil Alex Notobroto. Pimpinan perusahaan penyuplai bahan baku utama di perusahaan ini. Alex ada meeting pagi ini. Meeting dengan pihak perusahaan.
Membahas banyaknya returan tepung yang tidak layak pakai. Meeting pagi ini akan melibatkan kepala tiap shift. Makanya di pilih pagi agar shift malam yang baru off bisa ikut langsung meeting.
Alex langsung menuju parkir di sebelah utara. Parkiran mobil khusus suplier dan manager-manager setiap divisi.
Di pintu gerbang, terlihat seorang gadis setengah berlari. Dia adalah Mirna. Tim Finance yang juga harus ikut dalam meeting pagi ini.
Kini Mirna berada di jalur pejalan kaki. Tepatnya di jalur pejalan kaki menuju kantor pabrik. Di belakangnya persis, Alex mengikuti. Menenteng tas berisi laptop kerja.
Alex langsung teringat dengan KTP itu. Namun, Alex akan menyerahkan KTP itu langsung ke Pak Nors. Karena Pak Nors juga pasti ikut meeting.
Di Bandara Husein Sastranegara, Pak Nors atau Frangky Nors sedang terlihat panik. Dia sedang ada diantrian penumpang yang mau check in.
Bolak-balik dia periksa isi dompetnya. Mengeluarkan semua kartu dari dompetnya. Sepertinya dia mencari KTP, sebagai syarat check in. Mukanya terlihat pucat. Panik. Dan kebingungan.
Dia sudah keluar antrian. Tas punggungnya diturunkan. Di cek seluruh kantong-kantong tas nya. Namun Nihil.
Segera dia telepon Indra. Supervisor general affair atau bagian umum pabrik. Agar di cek di meja kerjanya, apakah ada tertinggal KTP. Waktu Check In tinggal 25 menit lagi. Frangky Nors benar-benar panik.
Meeting pagi ini adalah dengan CEO dan pejabat-pejabat penting perusahaan Narudafood Jaya. Kalau sampai tidak bisa terbang jam 08:00 pagi inu, itu pertanda dia akan telat meeting.
Frangky Nors berpacu dengan waktu. Berita belum datang juga dari pabrik. Tiba-tiba Dia ingat kejadian dompet semalam. Langsung menghubungi costumer service hotel tempat mereka makan malam.
Sepertinya nihil. Jawaban yang dia terima bukan kabar baik. Dia kembali duduk. Di ruang keberangkatan.
Di Pabrik NarudaFood Jaya. Tepatnya di kantor manager HRD. Indra sedang mengecek isi laci. Bolak balik dokumen di periksa. Tidak ada juga. Terlihat juga dia sangat panik.
"Selamat Pagi, Ada Pak Nors Indra?" Alex masuk ke ruangan manager HRD.
__ADS_1
"Pagi, Lex. Pak Nors sedang di bandara, mau take off pagi ini jam 08:00, KTP nya gak ada di dompetnya," sambil bolak-balik keluarin isi laci.
Pas Indra bilang di bandara, Alex langsung mengambil KTP itu dari kantong kemejanya.
"Cepat Indra, ini KTP nya, antarin segera, semalam aku,"
Alex belum sempat melanjutkan omongannya, Indra secepat kilat mengambil KTP itu dan langsung ke parkiran dan memacu mobil secepatnya.
Alex di tinggal Indra. Indra adalah sahabat Alex. Tepatnya teman kuliah. Mereka dulu adalah satu fakultas. Namun bukan satu jurusan. Alex Akuntansi sementara Indra mengambil jurusan Managemen.
Alex melangkah menuju ruang meeting. Disana sudah dijumpai manager produksi, Manager Quality Control, manager keuangan dari PT Mentarindo. Mereka sudah terlebih dahulu sampai.
Sementara dari PT NarudaFood Jaya, sudah hadir juga manager produksi, finance dan kepala-kepala shift. Mirna yang juga berkaitan dengan returan sudah siap disana.
Hampir dua jam meeting itu berjalan. Perdebatan sengit terjadi antara manager QC kedua perusahaan.
Keduanya merasa sudah menjalankan prosedur dengan baik. Suplier, dalam hal ini perusahaan Alex, merasa heran, kenapa tepung yang di suplai ke PT Narudafood banyak yang bermasalah. Sementara ke pabrik lain tanpa kendala.
Kesimpulan akhirnya di ambil. Para pengawas atau kepala shift agar benar-benar mengawasi bahan baku di gudang. Banyak pihak yang masuk ke gudang bahan baku.
Termasuk cleaning service yang dikelola divisi HRD, khususnya bagian umum. Namun, Frengky Nors tidak ikut meeting karena sedang dinas luar kota.
Indra, yang menjadi supervisor general affair memasuki ruang meeting. Ikut memberi keterangan untuk memecahkan kasus ini.
Tim IT dihadirkan untuk mengecek apakah ada karyawan yang melakukan sabotase di dalam gudang. Sekitar 1 jam memutar tangkapan CCTV, namun tidak ada yang mencurigakan.
Kesepakatan akhirnya diagendakan. Mulai hari ini. Pengawasan dari kepala gudang dan kepala shift lebih ditingkatkan. Memastikan tidak ada percikan air di dalam gudang.
Perlu pengawasan yang lebih kepada pihak outsourcing cleaning ssrvice dalam menjalankan tugasnya.
"Terakhir mungkin dari kami, mau menanyakan soal tagihan yang sudah lama belum dibayarkan, apakah sudah ditemukan surat jalannya?" Alex menanyakan ke bagian finance.
"Iya, Pak. Untuk tagihan yang bermasalah tersebut, sudah bisa dibayarkan sore ini. Karena surat jalannya sudah ditemukan," Mirna berhenti sejenak. "T-terselip di d-dokumen lainnya. Kami akan lebih teliti lagi menyimpan berkas yang terkait dengan tagihan," jawab Mirna agak grogi.
__ADS_1
Gugup saat menjawab pertanyaan Pak Alex. Apalagi harus berbohong mengenai keberadaan surat jalan.
Bukan terselip di antara dokumen. Tapi diberikan oleh Frangky Nors. Yang sampai saat ini tetap jadi misterius. Bagaimana surat jalan itu ada di tangan pihak hotel.
Berkali-kali ditanyakan Mirna kepada Frangky Nors. Namun, seperti kebiasaan Frangky Nors, tidak jelas jawabannya. Mutar-mutar. Dan diakhiri kata gombalan yang membuat Mirna mabuk asmara.
Meeting pun diakhiri. Tepat saat jam istirahat. Pukul 12:00. Kini mereka sudah berada di kantin. Di meja para tamu penting perusahaan.
Menghabiskan waktu istirahat. Sambil makan siang. Yang sudah disiapkan khusus bagi peserta meeting.
Terlihat Alex duduk di samping manager produksinya. Namun, di sisi kirinya, masih tersisa tempat duduk. Semua sedang menikmati makan siangnya.
Mirna yang tadi masih harus ke ruangannya, menyimpan berkas-berkas dokumen tagihannya dulu, terlambat menuju kantin. Dia masuk ke ruangan kantin khusus tamu.
Matanya jelalatan. Menyisir seisi ruangan. Tersisa satu kursi yang kosong. Di sebelah Alex Nitobroto. Dia sedikit mundur. Mau keluar ruangan itu.
Namun, seisi ruangan memanggilnya. Mengajaknya makan siang. Mempersilahkan dia duduk.
"Masih ada kursi kosong, Mir. Tepat disamping Pak Alex, Ayo makan dulu," ajak atasan Mirna yang susah untuk ditolak.
"Iya, Bu, t-tapi,"
"Duduk disini aja, Bu Mirna, masih kosong," Alex mempersilahkan Mirna duduk disebelah kirinya.
Seisi ruangan gaduh. Tertawa dan menggoda Mirna.
"Tenang Ibu Mirna, disebelah Pak Alex masih kosong, belum ada yg ngisi, Ibu Mirna bisa mengisi kekosongan itu," Manager produksi, bawahan Alex, mencoba menggoda Alex dan Mirna.
Alex memang sampai saat ini belum punya pasangan. Belum ada yang cocok. Untuk pasangan pimpinan perusahaan PT Mentarindo Heranusa tersebut.
Walau ibu Putri, Ibunya Alex sangat berharap kiranya Alex segera menikah. Apalagi kondisi ibunya yang selalu terganggu penyakit ginjal.
Mirna dengan malu-malu. Duduk di kursi tepat disebelah Alex. Dia mengambil piring dan menikmati hidangan siang itu. Tampak grogi. Karna merasa jadi pusat perhatian petinggi-petinggi di dua perusahaan itu.
__ADS_1