Di Atas Cinta Suci

Di Atas Cinta Suci
Bab 40. Berdua Di Hotel


__ADS_3

"Ayo, Bu" jawab supir itu sambil menenteng tas Mirna menuju lift.


Mirna dan supir pendiam itu naik ke lantai 3 menuju kamar no 10.


Di depan lift, mereka menunggu sebentar. Tertulis disana, lift sedang menuju lantai 1. Setelah itu, supir itu menekan angka 3. Mirna memperhatikan benar setiap jari supir itu menekan tombol. Karena belum paham benar naik lift.


Mereka masuk ke dalam lift. Lalu supir menutup tanda tutup. Di dalam lift, hening tanpa suara. Hanya tarikan nafas panjang Mirna yang terdengar jelas oleh sang supir. Tarikan nafas panjang itu menandakan kecemasan yang dialami Mirna.


Pengalaman pertama menginap di hotel. Sendirian lagi, tanpa teman. Untung sang supir perusahaan baik mengantarkan sampai atas. Jarinya terus membolak-balikkan kunci kartu kamar.


'Bagaimana juga menggunakan kunci kamar ini, di tempel dimana nanti,' tanya Mirna dalam hati.


Yang membuat Mirna makin cemas, karena supir yang mengantarkannya tidak banyak bicara. Mau bertanya, jadi segan. Dia sangat irit berbicara.


Lift berhenti tepat di lantai 3. Mereka berdua keluar. Supir itu tetap menenteng tas Mirna yang lumayan berat berisi pakaian Mirna selama seminggu. Terlihat supir itu sudah paham benar hotel ini. Langkahnya langsung mantap menuju kamar no 10. Mungkin sudah sering mengantarkan tamu menginap.


Sesampai di depan kamar no 10, supir itu menyerahkan tas pakaian Mirna. Dia terlihat mau pamit kepada Mirna.


"Pak, minta tolong pak, ini gimana ya pak buka pintunya? Maklum pak, baru kali ini menginap di hotel," kata Mirna minta tolong kepada supir sambil menyerahkan kunci hotel yang kebetulan sistem kartu.


Mirna sebenarnya agak risih juga memberikan kunci ke tangan supir itu. Tapi harus bagaimana lagi. Mumpung masih ada yang dia kenal dan tentunya tak akan mau macam-macam karena masih satu perusahaan walau beda cabang.


Mirna mencoba mengesampingkan yang namanya risih dan tak pantas. Di saat mepet dan terpaksa, ini harus dijalani. Mirna akan meminta tolong agar supir mengajari dia membuka pintu, menutup pintu dari dalam, dan menggunakan peralatan hotel lainnya.


Kunci hotel berbahan kertas tebal yang mengandung magnetik itu sudah berada di tangan supir itu. Mirna memperhatikan betul cara supir itu menempelkan kartu itu ke arah key box yang menempel di pintu.

__ADS_1


Supir itu paham betul. Tamu yang diantarkannya adalah pemula. Dia berlahan menempelkan kartu itu ke key box. Sangat berlahan. Bahkan seperti slow motion. Mirna dengan seksama mengikuti tutorial tanpa suara itu.


Entah kenapa, supir tak menjelaskan bagaimana cara pakainya. Hanya memperagakan tanpa petunjuk. Pintu itu langsung terbuka. Setelah terbuka, supir memasukkan tas Mirna ke dalam kamar. Sebelum masuk, supir hanya memberi salam namaste, mengatupkan kedua tangan di dada. Bahasa syarat, meminta maaf.


Bulu kuduk Mirna agak merinding saat masuk ke dalam kamar. Bukan karena ada hal aneh yang dia lihat, tapi karena kini dia ada di kamar hotel dengan seorang lelaki. Dia teringat dengan kata kekasih yang mau dia putuskan, Frangky Nors, dimana akan menunaikan janjinya di hotel.


Tapi, tidak apa-apa, ini harus dijalani, karena dia butuh supir itu, untuk menjelaskan hal-hal yang dia tak paham.


" K-k-alau mau m-mengunci pintu g-gimana, Pak?" tanya Mirna sangat grogi karena untuk mengajari cara mengunci pintu ini sangat tidak sopan dan tidak pantas.


Untuk mengajari hal ini, dia dan supir akan berada di dalam kamar dengan posisi kamar terkunci. Sangat tidak pantas memang. Namun, harus ditanyakan Mirna. Jantung Mirna bereaksi berlebih. Dag dig dug di balik dada nya.


Supir itu masuk ke dalam kamar. Mirna juga demikian. Terlihat supir itu kembali membuat salam namaste ke arah Mirna. Mengatupkan kedua tangan di dada. Terlihat supir agak grogi. Mungkin merasa tak pantas juga berduaan dengan staf perusahaan itu di kamar hotel.


Sekali lagi, setelah masuk, supir itu kembali memberi salam namaste. Mirna pun membalas dengan salam namaste.


Supir itu lalu menuju depan pintu. Lalu memperagakan cara mengunci pintu kamar hotel itu. Dia mempraktekkan dengan pelan-pelan agar Mirna bisa paham.


Langkah demi langkah disimak Mirna dengan serius. Dia tak mau ketinggalan sedikit pun tutorial mengunci pintu itu. Kini, kamar itu sudah terkunci rapat. Mirna terlihat sudah paham caranya.


Saat pintu terkunci rapat, Mirna terlihat grogi dan cepat-cepat menanyakan bagaimana cara membukanya.


"Cara membukanya gimana Pak?"


Supir itu kembali memperagakan cara membuka pintu yang sudah terkunci itu. Mirna ingin cepat-cepat pintu itu terbuka lebar. Perasaannya agak aneh jika berduaan di kamar hotel dengan supir yang belum dia kenal. Bahkan wajah dan suaranya disembunyikan.

__ADS_1


Apalagi si supir memperhatikan Mirna sejenak dengan tatapan berbeda. Mirna jadi was-was juga dengan tatapan supir itu.


Pintu sudah terbuka lebar. Mirna merasa lega. Supir tidak langsung keluar. Namun, malah memperhatikan seisi kamar, seakan ingin memastikan semua peralatan yang ada di kamar itu bisa digunakan oleh Mirna.


Setelah itu, si supir pamit dan kembali dengan salam namaste.


"Pamit, Bu," suara sopir begitu pelan.


Mirna tak langsung menjawab. Tangannya dengan cepat meraih dompetnya dan mengambil uang lima puluh ribuan. Sebagai ucapan terimakasihnya untuk supir yang sudah mengajarinya.


"Ini Pak, sekedar membeli kuota," kata Mirna sambil memberikan uang selembar.


Namun, supir mundur dan kembali membuat salam namaste pertanda dia menolak tips dari Mirna. Melihat hal itu, Mirna langsung memasukkan uang itu ke dalam kantong kemeja supir.


"Terimakasih banyak ya Pak, sudah menolong Mirna. Sekali lagi, terimakasih banyak, Pak," kata Mirna sambil salam namaste


Langkah supir itu terdengar jelas meninggalkan Mirna sendiri. Sepi dan sunyi. Tak banyak penghuni hotel yang berada di luar kamar. Semakin jauh, bunyi langkah supir itu semakin tak terdengar.


Mirna masuk ke dalam kamar. Dia langsung mengunci kamar sesuai yang diajarkan oleh supir tadi. Mirna deg-degan. Takut tak bisa menutup pintu sesuai yang diajarkan supir.


Bunyi dering ponsel Mirna tiba-tiba berbunyi mengagetkannya. Mirna langsung merogoh kantong celananya dan mengambil hp.


"Halo, bu," jawab Mirna. Atasannya, Elsa Sionir, menelpon.


"Gimana, Mir, aman?" tanya atasannya kepada Mirna.

__ADS_1


"Aman, Bu. Ini baru saja Mirna masuk kamar. Untung aja ada supir perusahaan, Mirna tadi minta tolong diantar sampai kamar dan minta tolong diajari membuka kamar," jelas Mirna.


"Jadi, sudah bisalah ya, Ibu lagi meeting. Jadi belum sempat memandu Mirna tadi. Ibu meeting sampai malam. Nanti kalau ada yang mau ditanya, misscall dulu ya, biar ibu keluar ruangan dulu," jelas atasannya, kalau dia sedang meeting.


__ADS_2