
Putri Brotoseno. Usia 50 tahun. Dia adalah ibu dari Alex Brotoseno. Istri dari Noto Brotoseno (Almarhum). Pengusaha kelas kakap. Memiliki bisnis besar di Bandung. Namun, sejak Noto Brotoseno meninggal, usaha mereka sedikit berkurang.
Alex terduduk di kursi. Menatap dari jendela. Di kamar mewah di lantai 2. Kamar anak muda. Penuh poster dan gambar bola. Kamar itu dipenuhi biru hitam. Ternyata dia penggemar klub bola, Inter Milan. Klub bola besar di Italia.
"Alex, koq sudah pulang, Nak?" Ibu Putri masuk ke kamar Alex.
"Iya, Bu..," jawab Alex.
"Ada apa... ada masalah?" Dengan lembut, suara khas ibu menanyakan anak kesayangannya.
"Tidak apa-apa, Bu.., Alex agak lelah aja,"
Ibu Putri tidak segera percaya. Dia sudah paham betul dengan Alex. Jika ada masalah pekerjaan selalu di bahas terbuka. Dan Alex antusias menceritakan. Namun, kini, Alex sepertinya tertutup.
Apa ini mungkin masalah perempuan? Tapi, selama ini, belum ada perempuan yang membuat Alex jatuh cinta. Alex terlalu memilih. Harus ini, harus itu.
Anak CEO Tadung Grup saja ditolaknya. Padahal cantik, semampai dan lulusan Harvard University.. Terlalu detail. Sampai kini, belum juga memiliki pacar. Padahal usia sudah 25 tahun.
Alex lelah. Iya, lelah dengan namanya cinta. Namun dia tak tahu harus berbuat apa. Rasa cintanya belum terungkap. Terpendam.
"Ceritalah Alex, siapa tahu ibu bisa bantu,"
"Lelah aja, Bu. Banyak masalah dengan kontrak yang baru,"
"Kontrak yg bulan kemarin,"
"Iya, bu, banyak returan. Padahal sudah lolos dari QC," Alex mencoba mengalihkan kasus. Walau sebenarnya, masalah retur belum terlalu banyak. QC adalah bagian yang menentukan layak tidaknya suatu produk untuk di jual atau di pakai.
"Coba dimeetingkan dengan tim, dengan kepala produksi. Kenapa banyak returan."
Ibu Alex coba kasih solusi. Dia sudah yakin, anaknya ada masalah serius di pekerjaan. Walau sebenarnya, Alex tidak jujur dengan ibunya.
Alex sebenarnya ingin jujur. Dia cemburu melihat Mirna bersama Pak Nors di kantin. Tapi susah menceritakannya. Mirna bukanlah pacarnya. Bahkan belum pernah mengutarakan isi hatinya.
__ADS_1
Alex sudah merasa. Kalau Mirna adalah kekasihnya. Dia terlalu polos. Urusan cinta tidak hanya masalah rasa. Namun, harus terucap. Diungkapkan. Dan belum tentu juga di sambut.
Di ruang Finance & Accounting. Mirna kaget saat suara security memanggilnya. Suara yang membuyarkan hayalannya. Masih berkutat asal uang yang masuk rekeningnya. Dia menengok ke arah suara itu. Sekurity menitipkan bungkusan makanan. Titipan Alex.
"Bisa dilihat, Bu, ada namanya di dalam," jawab sekurity saat Mirna nanya dari siapa. Tadi Alex sempat menuliskan namanya di kertas. Dan dimasukkan ke dalam plastik.
"Iya, Ampun. Pak Alex. Sempat-sempatnya antar makanan ini," Mirna tersenyum manis. Namun, kening Mirna tiba-tiba mengkerut. Raut wajahnya menyimpan pertanyaan.
"Kalau ini Pak Alex yang antar, kenapa tadi tidak ke kantin ya? Apa mungkin.. , Mirna tidak melanjutkannya. Dia langsung ambil HP nya dan mau ucapkan terima kasih ke Pak Alex.
"Mirna, tolong kirimkan rekapan returan ke Mentarindo ya..," Manager Mirna meminta data. Hp diletakkan oleh Mirna. Segera dia siapkan. Terlihat Mirna dan managernya terlibat diskusi serius. Sampai Mirna lupa mengirimkan ucapan terimakasih ke Alex.
Sore menjelang. Mirna masih terus berkutat dengan invoice yang baru saja di antar receptionis. Mengecek kelengkapan. Merekap. Menjurnal lewat sistem SAP. Pukul 17:05 Wib. Mirna mematikan komputernya. Dan meninggalkan tempat kerja. Menuju Wisma Astrina. Kost-kostan khusus putri. Tak lupa menenteng makanan yang dititip Alex.
Sesampai di pagar kostan. Belum saja membuka pintu. Hp Mirna berbunyi. 'Pak Nors Calling'. Namun, sepertinya diabaikan. Mirna masih lelah. Sibuk seharian di tempat kerja.
Walau sebenarnya, Mirna tidak boleh mengabaikan telepon itu. Mirna sudah yakin benar. Iya, asal uang 35 juta itu dari Pak Nors. Pamannya sudah cerita. Dan akan meminjam uang ke Pak Nors. Selain itu, satu-satunya divisi yang tau nomor rekening nya adalah HRD. Yang dimanageri Pak Nors.
Saat di kantin tadi. Pak Nors tidak jelas. Namun, hanya tersenyum. Seolah dia yang mentransfer. Bahkan tadi Mirna sudah berkali-kali mengucapkan terimakasih ke Pak Nors. Namun, sampai jam istirahat berakhir, Pak Nors tidak mengungkapkan yang sejujurnya.
Pak Nors Calling. Hp Mirna berbunyi lagi. Segera Mirna angkat.
"Selamat Sore, Pak Nors,"
"Sore, Cantik.., masih di kantor apa sudah pulang?" jawab Pak Nors menyelipkan kata godaan.
"Udah pulang, Pak Nors. Ini baru nyampe," Mirna agak risih dengan kata godaan yang terselip disana. Awalnya Mirna tenang saja dengan sikap Pak Nors. Tapi kini mulai ada yang aneh. Apalagi kayak kejadian tadi siang di kantor. Melap air mata nya.
Mirna tersandera dengan uang 35 juta itu. Itu seharga nyawa ibunya. Uang itulah yang selamatkan ibunya. Tak sepantasnya saya berpikir curiga sama Pak Nors. Walau sampe saat ini belum jelas di jawab Pak Nors, apa betul dia yang transfer atau bukan.
"Kalau ada waktu, kita ke rumah Pamanmu, yo, Sudah lama kan gak kesana,"
Sore ini Mirna memang mau ke rumah Paman. Tadi siang di telepon Paman. Ada acara keluarga disana. Kebetulan juga besok libur.
__ADS_1
Mirna dilema. Ikut Pak Nors atau menolak? Pilihan sulit. Dia adalah manager HRD. Manager yang menentukan lolos tidaknya dia jadi karyawan tetap.
Dia juga yang sudah menyelamatkan nyawa ibunya. Lewat transferan sebesar 35 juta. Masuk ke rekeningnya. Di waktu gaji pertamanya.
Kalau Mirna ikut Pak Nors. Itu bagaikan memberi jalan. Gelagak Pak Nors sebulan ini agak aneh. Pak Nors ada rasa suka sama Mirna. Itu terlihat dari cara Pak Nors menatapnya. Dia perhatian benar sama Mirna.
Walau sebenarnya, Pamannya, Pak Rum, menitipkan Mirna ke Pak Nors. Cara pendekatan Pak Nors adalah sebagai Bapak. Orangtua tepatnya.
Cuma, sejak kejadian kemaren di kantin. Saat Mirna curhat. Sampai Pak Nors mengelap air mata Mirna. Mirna ada rasa aneh juga.
Betapa perhatiannya Pak Nors padanya. Di tambah lagi uang 35 juta itu. Membuat Mirna semakin mengagumi sosok manager HRD itu.
"Halo, gimana Mir, koq malah diam. Gak bagus lho gadis cantik diam sendiri," Pak Nors mulai jurus lagi.
"Iya, iya Pak Nors. Pas betul. Kebetulan Mirna juga di telpon Paman, di suruh kesana,"
"Nah, pas berarti. Nanti kujemput ya, habis magrib, siap-siap aja,"
"Iya Pak Nors, terimakasih," Mirna mengakhiri percakapannya.
Mirna segera siap-siap. Tinggal 45 menitan lagi. Manager HRD itu akan menjemputnya. Segera Mirna menarik handuk pink dari jemuran. Lalu masuk ke kamar mandi. Dia buka kran air. Dan air mengalir deras. Membasahi tubuhnya.
Mirna terdiam lagi. Di depan cermin bentuk hati. Dia serasa tak percaya. Ada jerawat di pipi kirinya. Belum pernah Mirna jerawatan. Mungkinkah ini pertanda Mirna jatuh cinta?
Mobil Fortuner hitam Pak Nors sudah parkir. Tepat di depan kamar kostan Mirna. Mirna segera bergegas keluar. Tidak ingin Pak Nors masuk ke kamarnya. Dia tenteng tasnya. Tangan kanannya mengunci kamar.
"Klek," pintu terkunci. Namun, saat Mirna berbalik. Tubuh tinggi kekar sudah berdiri dihadapan Mirna. Bau Christian Dior Eau Sauvage menyebar. Parfum Pak Nors mewangi. Menunjukkan kepribadiannya. Mirna begitu kaget.
Namun, terpesona dengan tubuh tegap itu. Parfum mewahnya menyegarkan. Tangan penuh bulu terlihat gagah dan seksi. Pak Nors menatap Mirna. Mirna menunduk. Tak tahan dengan tatapan bola mata itu.
Saat interview dulu dengan Pak Nors, Mirna sanggup menatap mata berwibawa itu. Namun, kini, tatapan begitu dasyat.
Meluluhkan hatinya. Tatapan itu tidak lagi sekedar tatapan orangtua pada anak. Sudah melebihi batas-batas kewajaran.
__ADS_1
"Eh, Pak Nors.., kita berangkat," Mirna memecah keheningan. Sambil melipir ke arah pagar. Pak Nors ikut dari belakang. Mengikuti langkah kecil Mirna. Menuju mobil yang terparkir.