Di Atas Cinta Suci

Di Atas Cinta Suci
Bab 20. Belum Tiba Waktunya


__ADS_3

Frangky Nors menyambutnya. Sambil memeluknya, tangannya sudah menangkap buah-buah yang bergelantungan itu.


Bergantian, diremas sampai Mirna mengelinjang.


Di bawah sana, di balik jeans yang masih menutupi inti Mirna. Mulai mencair. Berair tanda kenikmatan itu sudah mendekati puncak.


Ingin sekali rasanya Mirna merasakan area itu tersentuh. Namun, bukan Frangky Nors namanya bila tak menyiksa birahi pasangannya.


Mirna kini menghadap ke kekasihnya. Mereka kembali berciuman. Sambil tangan Mirna meraba dada bidang berbulu itu.


Meremas lembut dada berotot itu. Tak lupa tangannnya singgah di pucuk yang juga sangat keras. Mirna agak menunduk. Bibirnya menciumi dada seksi itu.


Bibir itu sudah mempermainkan pucuk keras di atas dada Frangky Nors. Lidah mungil Mirna menyapu tiap area pucuk itu.


Frangky Mendesah. Ini yang diharapkannya dari setiap lawan kencannya. Ini artinya, dia sukses membakar nafsu birahi kekasihnya.


"Ouchhhhhh...., terus Mirnaku," Frangky Nors mendesah menggelinjang.


Mendapat perlakuan seperti itu, Frangky Nors berbaring agar lebih nikmat. Badannya yang besar, tak cukup berbaring sempurna di jok.


Sambil menerima gempuran kecupan Mirna di area dadanya, dia membetulkan posisi kakinya. Kakinya kini diangkat dua-duanya. Bertumpu di pintu mobil.


Mirna sepertinya paham kenapa Frangky mengangkat kakinya. Agar area jagoan Frangky Nors terlihat jelas sama Mirna.


Dan benar saja. Area itu telah menyajikan pemandangan indah. Sesuatu tercetak jelas disana. Walau memakai levis, jagoan Frangky Nors jelas terlihat membentuk.


"Alangkah besarnya jagoanmu, sayang," ucap Mirna dalam hati


Mirna masih asyik dengan area bidang dada berbulu itu. Sesekali tangannya mengelus perut sixpack itu. Disana juga ditumbuhi bulu-bulu keriting.


Sementara Frangky Nors sudah menahan rasa sakit di bawah sana. Benda keras terkurung di tempat yang semakin sempit. Beberapa kali dia menggeser letaknya. Memberi ruang agar tak terdesak.


Mirna tak berani menjamah area itu. Walau sudah ingin sekali memegang jagoan kekasihnya.


Tangan Frangky nors meremas tangan mungil Mirna. Menuntunnya mengusap dadanya. Turun ke perut sixpacknya. Disana berhenti sejenak. Masih ada keraguan di hati Frangky Nors.


Tangan itu kembali dituntunnya. Dan kini tangan Mirna sudah berada di atas jagoannya. Hanya sebentar, Frangky menuntun. Selanjutnya Mirna sudah sangat lihai.


Mirna meremas benda itu sambil mendesah. Bolak-balik tangannya mengelus. Resleting itu kini di pegangnya.


Suara jantung kedua insan itu berbunyi tak beraturan. Bagaikan habis lari 10 km. Menutupi suara hujan yang sudah turun deras di luar.

__ADS_1


Terlihat beberapa motor menepi. Mencari tempat untuk berteduh. Para pemotor kini rame di samping mobil Pajero Hitam itu.


Mirna yang sempat melihat para pemotor itu, menghentikan tangannya. Sambil memberi kode ke Frangky Nors yang masih menikmati elusan itu. Hanya jarak 2 meteran dari mobil mereka.


Mereka kini duduk teratur. Masing-masing memakaikan pakaiannya. Mirna kini mencari sisir di tasnya. Rambutnya sudah acak-acakan.


Di luar sana, persis di sebelah kiri mobil, semakin rame orang berteduh. Kebanyakan adalah pasangan muda-mudi yang keliling kota menghabiskan malam.


Jam sudah menunjukkan pukul 21:30. Hujan belum menunjukkan akan berhenti. Itu artinya, para pemotor belum akan beranjak.


Frangky Nors dan Mirna saling menatap. Ada senyum dari bibir keduanya. Bibir yang sudah beradu menikmati cinta mereka. Terlihat di mata kedua pasangan ini masih menyisakan nafsu yang tertunda.


Frangky Nors hanya bisa meremas tangan Mirna. Tak lebih. Karena takut terlihat orang-orang disamping mobilnya.


Sesekali, tangan Mirna dituntunnya ke arah jagoannya yang masih belum kembali ke bentuk normal. Masih tercetak gagah di balik celananya. Namun, Mirna menolaknya.


Mirna tak mau mengambil resiko. Yang ditakutkannya, tak bisa menahan desakan nafsunya sehingga terjadi hal yang belum tiba waktunya.


Apalagi di luar sana, rame orang-orang menunggu hujan reda.


Lama tak kunjung reda, mereka putuskan pulang. Sudah pukul 22:00. Namun Mirna malu pindah ke depan. Dia bertahan di tengah.


Frangky Nors akhirnya sendirian di depan. Dia keluar lewat pintu sebelah kanan. Disana tak ada orang. Hanya sebelah kiri yang penuh.


"Gak pindah, sayang? takut basah yach?"ucap Frangky Nors dengan senyum menggoda.


Mirna hanya senyum-senyum aja. Sambil melihat keindahan hujan memantulkan cahaya lampu mobil.


Mirna sudah bisa menahan birahi cintanya. Apalagi sudah larut malam. Lelaki jangan di goda. Ini momen yang pas. Tak maju ke depan.


Mirna takut akan terjadi sesuatu yang tak selayaknya mereka lakukan. Apalagi sudah menuju kost-an dia. Dia mau menurunkan tensi hasrat kelelakian Frangky Nors.


Mereka hanya mengobrol sambil bercanda. Dan Mirna memilih topik yang jauh dari namanya kata cinta.


Sepanjang jalan, hujan masih belum juga reda. Bahkan semakin deras dengan angin kencang. Laju mobil pelan-pelan membelah jalanan yang dibanjiri air.


Mereka hampir sampai. Di kost-an Mirna. Hujan semakin deras. Mirna kebingungan harus bagaimana turunnya. Mobil tidak muat sampai ke teras kost-an.


Masih berjarak 10 meter dari mobil. Mau berlari di tengah guyuran hujan lebat pasti akan membuat baju Mirna basah kuyup.


"Huh.... dasar hujan malam.. Payung tinggal lagi di kantor," Kata Frangky Nors sambil memukulkan tangannya ke stir mobil.

__ADS_1


"Mirna lari aja, sayang, sekalian basah, langsung mandi," Mirna siap-siap memasukkan tas nya di balik bajunya.


"Tapi nanti kamu bisa sakit, sayang," kata Frangky Nors sambil mengambil tas Mirna dari dalam kemejanya.


Saat tangan itu menarik tas Mirna, jarinya menyentuh perut Mirna. Membuat setruman kedua sejoli itu.


"Gak apa-apa Sayang, cuma bentar aja, kan langsung mandi," jawab Mirna.


Mereka hening sejenak. Saling memandang. Mata mereka beradu. Seakan tak mau melepas malam ini.


Mirna masukkan lagi tas itu ke dalam balik kemejanya. Takut basah. Mirna pun sepertinya akan turun.


"Mirna turun ya, Ayang, terimakasih sudah temanin Mirna beli Hp ibu," kata Mirna sambil memegang erat tas di balik kemejanya.


"Sama-sama, Sayangku," Kata Frangky Nors sambil meraih tangan Mirna yang sepertinya terasa dingin. Mulai kedinginan, menggigil karna lebatnya hujan di luar.


Mereka saling tatap kembali. Bola mata keduanya tak mengiklaskan malam ini berpisah begitu saja. Masih ada rasa yang belum tertuntaskan.


Mereka semakin berdekatan. Nafas keduanya sudah saling terdengar.


"Boleh aku mencium keningmu?" tanya Frangky Nors sebelum mereka berpisah.


Mirna mengangguk. Lalu bibir Frangky Nors sudah mendarat mulus di kening Mirna sebanyak dua kali.


Dan entah siapa yang memulai, keduanya sudah saling berciuman. Saling mengulum. Ada sesuatu yang beradu di dalam mulut mereka.


Suasana yang sangat mendukung keduanya untuk menumpahkan rasa itu. Hujan angin kencang dan malam sudah larut membuat suasana makin membakar cinta mereka.


Hmm...yang tadinya hanya meminta mencium kening. Kini tangan Frangky Nors sudah berada tepat di atas gundukan kembar itu. Jari-jari itu sudah mulai meremas. Meremas benda kenyal yang bentuknya begitu indah.


Sambil terus bertukar saliva, dua sejoli itu tak lagi menghiraukan gluduk di luar sana. Sesekali cahaya kilat menerangi percintaan mereka di malam itu.


Mereka terbakar cinta membara. Tangan mereka saling meraba. Saling meremas benda-benda sensitif yang mereka punya.


Seluruh kancing kemeja Mirna sudah terbuka. Bahkan pembungkus buah-buah ranum itu sudah terangkat ke atas. Buah kembar itu sudah menyembul sempurna dihadapan Frangky Nors.


Remasan demi remasan terus berulang di benda kenyal itu. Jilatan dan ******* Frangky Nors membuat pucuk berbentuk cherri itu semakin menantang. Dan membuat ******* yang semakin menaikkan tensi percintaan mereka.


Tiba-tiba sorotan lampu mobil dari kejauhan menghentikan aktivitas mereka. Mirna langsung mengancing kemejanya. Membetulkan duduknya.


Mereka kembali terdiam. Kaku, menunggu mobil yang berjalan pelan itu lewat. Hasrat keduanya sudah semakin memuncak.

__ADS_1


Sejak di angkringan tempat makan tadi, ditambah yang baru saja terjadi, membuat keduanya sudah tak berdaya menahan gelora ini.


__ADS_2