Di Atas Cinta Suci

Di Atas Cinta Suci
Bab. 27. Sulit Kuceritakan


__ADS_3

"Ceritakanlah Mir, kau harus kuat, apapun ceritamu, akan ibu dukung kamu," bujuk Elsa agar mau cerita.


Mirna coba meyakinkan diri. Dia Menarik nafas dan mencoba tegar. Elsa Sionir sangat penasaran, apa yang menjadi kasus anak buahnya ini. Sampai membuat Mirna berubah total.


Elsa memang melihat Mirna bergelagat aneh saat makan siang minggu kemaren waktu bersama Alex. Di situ Mirna terdiam seribu bahasa. Bahkan meninggalkan Elsa dan Alex di meja makan, saat Mirna mau muntah dan berlari ke kamar mandi.


Apakah Mirna hamil? Tapi sama siapa? Belum pernah dengar Mirna punya pacar. Apa mungkin di luar kantor? Sejuta pertanyaan untuk Mirna.


"Apa ini masalah cowok, Mir?" tanya Elsa membuat Mirna kaget. Mukanya sedikit pucat. Bibir bawahnya digigitnya. Masih terlihat sikapnya mau menutupi masalahnya.


"K-koq ibu tahu, apa ibu sudah tahu sebelumnya?" Dengan terbata-bata Mirna mencoba menyelidiki managernya, apakah sudah tahu apa kasusnya.


"Ibu belum tahu apa-apa, Mir. Ibu cuma paham, kebanyakan kasus gadis sepertimu adalah masalah cowok. Ceritalah Mir, tak usah malu sama Ibu. Ini juga berkaitan dengan pelatihan minggu depan. Kamu harus mempersiapkannya,"


"Iya, Bu," Mirna kembali meraih tissu dari atas meja. Masih ada keraguan terlihat dari matanya, masih belum yakin, menceritakan yang sebenarnya. Namun, tatapan Elsa Sionir yang terus memberi dukungan, membuat Mirna berani memulai.


"Iya, bu, ini masalah cowok,"


Elsa tidak langsung mau tau, siapa cowok yang disebut Mirna. Dia malah memuji Mirna, karna sudah mulai berani terbuka.


"Bagus, Mir, kamu sudah mau jujur. Ibu akan membantumu, semampu Ibu. Ingat, kamu adalah masa depan ibumu. Kamu kan punya tekad membahagiakan ibu dan adek-adekmu,"


"Terima kasih, Bu. Tapi aku takut ibu kecewa, kalau aku ceritakan semuanya,"


"Tidak Mir, apa kamu belum kenal, Ibu,?" tanya Elsa meyakinkan Mirna.


"Iya, Bu, Mirna tahu ibu sangat peduli sama masalah anak kami anak buah ibu,"


"Makanya, Mir, ceritalah, nanti bebanmu akan berkurang. Syukur-syukur ibu bisa menyelesaikannya. Tapi, kamu bukan hamil kan?"


"Bukan, bu. Waktu minggu kemaren, aku mual, saat di kantin, itu adalah pura-pura. Agar Mirna bisa meninggalkan ruangan kantin,"


"Lha, ada apa memangnya di kantin," Elsa mulai mencecar dan sedikit kaget dengan ucapan Mirna.


Mirna terdiam lagi. Namun, untuk memulai cerita, sepertinya sudah ada jalan. Elsa Sionir sudah membukanya.


"Waktu itu kan, Ibu dan Pak Alex datang ke kantin. Dan makan satu meja dengan Mirna. Ada orang yang tidak suka bu, kalau saya duduk dekat Pak Alex,"

__ADS_1


"Siapa Mir? Emang kenapa kalau kamu duduk dekat Pak Alex?" Elsa Sionir begitu penasaran..


Mirna tak langsung menjawabnya. Dia mencoba melihat ke sekeliling. Mengawasi apakah ada orang yang mendengar obrolan mereka.


"Inilah masalahnya, Bu,"


Mirna mulai cerita. Elsa Sionir merapatkan tubuhnya ke bibir meja agar lebih jelas mendengarkan cerita Mirna. Dia sangat penasaran, siapa gerangan yang melarang Mirna duduk dekat-dekat dengan Alex?


"Pak Nors, dia..,"


"Frangky Nors maksudmu?" Elsa Sionir memotong pembicaraan Mirna dan bertanya dengan nada meninggi. Wajahnya penuh ketidakpercayaan, tidak yakin dan matanya memicingkan matanya.


Mirna belum menjawab. Sudut matanya terlihat kembali tergenang butiran air. Berdesakan dan akhirnya jatuh membasahi pipinya.


Dia mengambil tissu kembali. Melap wajahnya. Melap pipinya yang dibasahi air mata.


"Iya, Bu,"


"Trus apa hubungannya, apa hak dia melarangmu?" Elsa semakin bertanya-tanya. Matanya menajam ke arah Mirna.


Apalagi sampai membuat kinerja anak buahnya jadi berantakan. Karena bagamanapun, kinerja finance harus di jaga agar tak menurun.


"Bukan karena manager HRD bu, Pak Nors melarang Mirna,"


"Jadi karena apa,dong. Sampai-sampai kamu nangis?"


"E-eh.. Pak Nors m-merasa cem-cemburu, Bu?"


"Cemburu...? Pak Nors cemburu kalau kamu dekat-dekat Pak Alex?, Apa dia tak tahu diri, kalau dia sudah tua? Kamu sama Alex itu masih muda"


Mirna yang tadinya sudah ingin terbuka untuk cerita, jadi ciut, saat managernya mengatakan 'Pak Nors tidak tahu diri dan tua'


Mirna jadi takut memberitahu kalau dia sudah pacaran sama Frangky Nors. Itu karena melihat reaksi Elsa Sionir yang begitu omosi saat tahu Frangky Nors cemburu jika Mirna dekat-dekat Alex, kepala cabang PT Mentarindo.


Elsa Sionir masih menunggu jawaban Mirna selanjutnya. Mukanya terlihat emosi dan tak percaya apa yang baru saja didengarnya.


"Kenapa Nors cemburu Mir? Kamu tak boleh dekat sama Pak Alex, karena apa? Apa alasan dia melarangmu dekat-dekat Pak Alex?"

__ADS_1


Mirna kini semakin ragu. Reaksi managernya benar-benar marah. Namun, Mirna memberanikan. Inilah saatnya, apapun reaksi dari managernya, akan diceritakan. Apapun kata managernya, akan dituruti olehnya. Belum sempat Mirna bicara, Elsa Sionir bertanya lagi.


"Mirna pacaran sama Frangky Nors? Koq seenaknya dia larang-larang Mirna,"


Jantung Mirna langsung dag dig dug. Tangannya gemetaran. Mulutnya susah untuk bicara. Inilah yang paling disembunyikan oleh Mirna dari atasannya.


Mirna menarik nafas. Sudah tekadnya harus membagi cerita ini ke managernya. Mirna tak sanggup menahan beban sendirian. Bila ada teman sharing, maka bebannya bisa lebih ringan.


"Sebelumnya, Mirna minta maaf, kalau langkah Mirna salah bu," Mirna berhenti lagi sambil menarik nafas dalam-dalam.


Elsa Sionir makin tak paham maksud Mirna. Rasa penasarannya semakin memuncak.


"Bu, iya, benar bu, Mirna pacaran dengan Frangky Nors,"


Elsa Sionir tak bereaksi sedikitpun saat mendengar pengakuan Mirna. Dia mematung. Diam seribu bahasa. Dia tak tahu harus mengatakan apa atas berita mengejutkan ini.


Elsa Sionir ditengah kekagetannya, mencoba mencari kata-kata yang tepat untuk menanggapi pengakuan Mirna.


Ini adalah ranah pribadi. Tentu Elsa Sionir sadar diri, Dia tak punya hak memarahi Mirna. Urusan pacaran adalah masalah hati. Dia pun paham hati perempuan bila sampai mau menerima lelaki menjadi pacarnya.


Pasti sudah melewati banyak pertimbangan. Tidak sekedar menerima. Apalagi Mirna sudah termasuk dewasa.


Mirna menunggu kata pertama yang keluar dari mulut managernya. Yang sebenarnya Mirna sudah siap apapun reaksi managernya.


Namun, wajah Elsa Sionir berlahan menjadi berubah. Yang tadinya tegang dan terlihat emosi, kini mulai terlihat mereda.


Bahkan sedikit senyum. Walau Mirna paham, itu bukan senyum tulus. Senyum yang biasa terlihat di wajah managernya.


Senyum yang dipaksakan oleh managernya. Demi menjaga perasaan anak buahnya. Agar tidak semakin membuat Mirna terbeban.


Elsa Sionir tahu, Mirna adalah aset di tim finance. Dia harus menjaga agar Mirna tetap semangat bekerja. Fokus kerja, apalagi mau dinas luar ke Surabaya.


Di awal Elsa memang sedikit emosi. Itu karena Elsa belum paham masalahnya. Elsa pikir, anak buahnya tak boleh ditekan oleh divisi lain. Karena semua karyawan memiliki hak yang sama.


Namun, kini Dia tak boleh emosi. Walau dalam hati kecilnya, tak setuju dengan langkah Mirna yang pacaran sama Frangky Nors. Elsa Sionir sudah paham betul siapa Frangky Nors.


Elsa Sionir tahu seluk beluk Frangky Nors, apalagi dengan urusan perempuan. Sudah banyak cerita, kegagalan Frangky Nors membina rumah tangga, setelah istrinya meninggal dunia karena sakit.

__ADS_1


__ADS_2