
Malam ini Mirna langsung tertidur. Dia sudah mematikan data selulernya. Lelah seharian di ruang pelatihan dan lelah hati menghadapi si supir pendiam. Mirna langsung terlelap tertidur di kasur empuk hotel berbintang. Menikmati mimpi indah sebelum pagi kembali datang.
Pagi masih subuh. Mirna sudah gelisah dari tidurnya. Mungkin karena baru pertama kali menginap di hotel. Bisa juga karena kepikiran kegiatan pelatihan hari ini. Dari pukul 09:00 sampai sore, berada di ruang pelatihan.
Gadis manis itu sudah membuka tirai. Di bawah sana masih sepi. Hanya satu dua mobil dan motor yang lewat. Embun pagi masih menyelimuti dedaunan rindang disekitaran hotel.
Segera dia raih remote AC. Mematikannya dan menaruh kembali remote itu pada tempatnya. Lalu dia mengambil peralatan mandinya. Dia tak mau memakai peralatan mandi di hotel.
Suara air dari shower terdengar dari kamar mandi. Mirna sudah membasuh bersih tubuh mulusnya. Tak lama, Mirna sudah berada di depan televisi. Mencari pakaian yang akan dikenakan hari ini. Handuk pink menutupi tubuhnya. Terlihat dia kedinginan.
Tak lama, dia sudah berpakaian lengkap. Tak ketinggalan name tag sudah menggantung persis di atas dadanya. Waktu masih menunjukkan pukul 06:30 pagi. Dia mau sarapan pagi ke lantai dasar.
Namun, lagi-lagi dia masih takut naik lift sendirian.
"Gimana ya, takut juga turun sendiri, hm..tapi aku nunggu penghuni kamar lainnya aja deh, pasti mereka pada mau sarapan, nunggu di depan kamar aja," kata Mirna dalam hati
Mirna lalu keluar kamar. Dia menunggu orang yang lewat. Menunggu mereka turun ke bawah untuk sarapan.
Mirna menikmati sarapan pagi ini. Dia duduk sendirian di pojok ruang makan. Sambil menghubungi atasannya lewat pesan, menanyakan jam berapa supir akan menjemputnya.
Namun belum di baca oleh atasannya. Lalu dia mencoba menelepon langsung. Di saat dia sedang menelepon atasannya, seorang pria diam-diam duduk di sampingnya.
Dia tak menyadari kehadiran pria itu. Kebetulan pria itu menoleh ke arah berlawanan dengan Mirna. Terlihat pria itu tersenyum-senyum mendengar pembicaraan Mirna dan atasannya.
Setelah Mirna mematikan teleponnya, dia melanjutkan sarapan paginya. Namun, dia menoleh ada orang dudu di sampingnya. Dia coba memperhatikan pria itu. Namun, mukanya tidak tampak dan hanya punggungnya yang besar di balut kemeja kotak-kotak yang terlihat.
Mirna coba menyapa pria itu dengan menawarkan sarapan pagi.
__ADS_1
"Sarapan mas," sapa Mirna menawarkan sarapan.
Pri itu tak langsung menjawab tawaran Mirna. Namun dia langsung menoleh ke arah Mirna dan Mirna begitu kaget sampai membuat air putih yang sedang di pegang Mirna tumpah sedikit membasahi bajunya.
Mirna benar-benar tidak menyangka. Dia terpana beberapa detik seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Senyum yang sudah sangat dikenalnya keluar dari bibir pria itu. Itu adalah senyum khas yang selama ini begitu menggodanya sebagai wanita muda.
Wajah tampan nan rupawan berhiaskan senyum manis benar-benar menghipnotis dirinya. Sampai dia tak bisa berkata-kata. Apalagi semalam, dia begitu mengimpikan pria itu. Semua foto-foto pria itu dilihati oleh Mirna di galerinya.
Kini denyut jantungnya sudah tak beraturan. Semakin lama, semakin tak terkontrol. Dia semakin dag dig dug ketika mengingat kata atasannya. Akan mendapat supir terbaik yang akan membuat jantungnya dag dig dug.
"Apa mungkin Pak Alex yang menjadi supirku?" tanya Mirna dalam hati.
"Selamat pagi, Mirna!" sapa pria disamping Mirna yang ternyata adalah Alex Notobroto. Direktur perusahaan suplier tepung di pabrik tempat Mirna bekerja.
"Pak Alex koq ada di sini Pak? Apa Pak Alex sedang dinas juga," tanya Mirna yang secara berlahan sudah bisa mengatasi kekagetannya.
"Iya, Mirna, kebetulan kita berada di kota yang sama," jawab Alex sambil mengambil posisi duduk berhadapan.
"Silahkan Pak Alex, sarapan dulu, Pak Alex menginap di hotel ini juga ya Pak?" tanya Mirna memastikan.
"Iya, Bu Mirna, saya ambilkan dulu ya, saya coba hubungi pelayannya dulu, apa penjemput bisa sarapan juga di sini,"
"Pak, Pak Alex, Pak Alex kesini mau jemput siapa pak?"
"Mau jemput Mirna, di suruh Bu Elsa Sionir jadi supir Mirna sepanjang hari," jawab Alex dengan senyum yang begitu menggoda sambil menuju ke arah pelayan dan birbicara sebentar. Lalu mengambilkan sarapan paginya.
__ADS_1
Mirna yang masih tak percaya kalau Alex Notobroto yang disuruh atasannya menjadi supirnya mengikuti Alex dari belakang.
"Pak Alex, apa tidak salah, e-eh, apa betul Bu Elsa, m-menyuruh Bapak jadi supir Mirna?" tanya Mirna meminta penjelasan dari direktur perusahaan itu.
"Iya, Bu Mirna.. Tadi malam di kasih tahu Bu Elsa, biar jemput Mirna di hotel dan diantar ke kantor tempat pelatihan," jawab Alex sambil putar badan menuju meja tempat Mirna tadi.
"Tapi, apa sopan, e-eh, maksud Mirna, apa tidak ada supir perusahaan pak, koq harus Pak Alex yang jadi supir," cecar Mirna sambil mengikuti Alex dari belakang.
Alex dan Mirna sudah lama akrab. Sejak perusahaan Alex menjadi suplier di perusahaan tempat Mirna bekerja.
"Sarapan dulu, Bu. Dihabiskan dulu nasi gorengnya, sayang kebuang," kata Alex sambil duduk di kursi.
Mirna duduk persis dihadapan Alex. Masih tidak yakin, kalau atasannya menyuruh Alex menjadi supirnya. Itu alangkah tidak sopan bagi Mirna.
"Gini bu Mirna, semalam kan kami teleponan sama Ibu Elsa, katanya, Mirna dapat pengalaman kurang menyenangkan karena dapat supir yang pendiam benar. Mau diajak ngobrol aja susah katanya. Nah, kebetulan saya ada di Surabaya, maka Bu Elsa minta tolong menjemput Mirna ke kantor, sekalian nanti di jemput. Lalu jalan-jalan kemana yang Mirna suka," jelas Alex sambil menyerok nasi gorengnya.
"Tapi, Pak Alex, M-Mirna tidak sopan, maksudnya, tidak pantas seorang Mirna di antar jemput sama direktur perusahaan seperti bapak," sahut Mirna merendah.
"Tidak apa Mir, biasa aja. Kan kita juga masih sama-sama muda. Kalau masalah status sosial, tidak usah jadi soal Mir," jawab Alex membuat Mirna agak tenang.
"Terimakasih kalau begitu Pak Alex, maaf sudah merepotkan bapak,"
"Tidak apa-apa, Mir. Santai aja. Ayo, sarapan, kan pelatihannya sampai sore, biar kuat melahap semua pelatihan hari ini,"
Mereka pun sarapan bersama. Terlihat mereka sambil bercanda. Sangat serasi andai mereka jadi berpacaran. Alex yang sudah mendapat arahan dari atasan Mirna, terlihat sudah tidak sekaku yang dulu lagi.
Alex sudah bisa mengatasi rasa groginya bila bertemu perempuan, terlebih kalau berhadapan dengan Mirna. Wanita pujaannya sejak pertama kali bertemu.
__ADS_1
Waktu sudah menunjukkan pukul 07:10 wib, mereka sudah selesai sarapan pagi. Kedua anak muda yang sedang jatuh cinta itu menuju parkiran. Alex Notobroto menghidupkan mobil Fortunernya. Mobil yang disewa olehnya untuk membawa Mirna keliling kota Surabaya nanti sore sehabis pelatihan.