Di Atas Cinta Suci

Di Atas Cinta Suci
Bab 7. Di Rumah Paman


__ADS_3

Mirna duduk di samping pria duda. Duda seumuran Ayahnya. Menyetirinya menuju rumah paman. Tak pernah terbayang. Bermimpi pun tidak. Bisa di jemput pakai mobil Pajero. Mobil seorang manager.


Dia hanyalah lulusan SMK. Yang tentu tidak sederajat dengan Pria di sampingnya. Awalnya sangat risih. Bila mendengar kata-kata gombalan dari Pak Nors. Namun lambat laun, situasi menyulut rasa suka bagi Mirna.


Mirna masih menganggap, itu rasa sayang anak kepada orangtuanya. Tidak lebih dari itu. Dia coba tepis apabila rasa kagum dirinya sama Pak Nors muncul. Apalagi rasa kagum menyukai Pak Nors dari sisi fisik.


Pak Nors terkenal berjiwa muda. Gagah. Tinggi. Ganteng dan Berwibawa. Tangannya kokoh kekar. Bulu tangan tumbuh tebal.


Pak Nors tiba-tiba ngerem mendadak. Mirna yang dari tadi melamun, hampir terjungkal ke depan. Menabrak kaca.


Rupanya, ada fortuner yang tiba-tiba tidak stabil jalannya. Sedikit zig zag hampir menyenggol Pajero yang didalamnya ada Mirna.


"Untung saya tidak melamun, seperti kamu, Mir,"


"Iya Pak Nors, kenapa sih itu mobil, tiba-tiba oleng gitu, zigzag,"


"Biasa anak muda, kalau malam minggu gini, ugal-ugalan, tidak konsen,"


"Tapi kalau anak muda disampingmu ini, tetap fokus menyetiri bidadari termanis yang pernah kusetiri,"


Jurus-jurus maut Pak Nors selalu terselip disetiap kalimatnya. Gombalan yang lambat laun menyentuh hati Mirna. Sudah puluhan kata-kata godaan Pak Nors menghiasi kalimat-kalimat yang meluncur dari bibir seksinya.


Mirna terperangah. Kali ini kata-kata Pak Nors membuat jantungnya berdetak tak teratur. Apakah ini karena kejadian dengan mobil Fortuner? Atau memang, Mirna sudah luluh hatinya dengan pria yang disampingnya?


Pak Nors bolak-balik melihat spion sebelah kanan. Nampaknya ada masalah. Ada mobil membuntutinya. Fortuner Hitam persis di belakang mereka.


"Ini sepertinya mobil yang zig zag tadi," ucap Pak Nors dalam hati. Dia tak mau Mirna jadi panik. Dia tahu, Mirna masih polos dengan hal-hal seperti itu.


Pak Nors memperlambat mobilnya. Sambil mengambil sisi kiri. Sekalian mau ke toko roti. Membeli oleh-oleh untuk sahabatnya, Rum.


Terlihat fortuner hitam itu melintas. Dikemudikan seorang pria berkaca mata hitam. Pak Nors, tak ambil pusing. Sudah biasa teror begini dijalanan.


Pak Nors dan Mirna keluar dari Mobil. Mereka menuju toko roti. Pintu toko dibukakan oleh pelayan toko. Mirna sedikit grogi. Berjalan berduaan dengan pria. Dikeramaian kota Bandung. Ini jadi yang pertama.


Mereka kini keluar sambil menenteng dua kotak roti. Terlihat, wajah Mirna tersenyum. Saat Pak Nors membukakan pintu mobil.

__ADS_1


"Silahkan tuan Putri," sambil mempersilahkan Mirna masuk.


"Aduh Pak Nors, Mirna aja yang buka,"


"Tidak apa-apa, sekali-sekali. Malah menyenangkan bisa melakukan ini untuk bidadari cantik,"


Mirna hanya tersenyum. Tidak ada kata yang terucap. Dia masuk ke dalam mobil. Lalu di susul Pak Nors.


Sepanjang jalan, mereka banyak berbincang. Pekerjaan, keluarga, jodoh dan cinta. Mirna sudah mulai cair dalam setiap obrolan. Tidak lagi kaku dan tegang.


Tak terasa sudah 1 jam mereka menempuh perjalanan. Hampir sampai di rumah Paman. Tinggal 5 Menit lagi. Jam di layar hp Mirna 19:00.


Satu yang paling di tunggu Mirna sesampai di rumah Paman. Karena belum ada jelas jawaban akan hal itu. Mungkinkah malam ini pertanyaan itu terjawab jelas?


Masih tentang uang 35 juta itu. Mirna akan menanyakan nanti ke Paman, dihadapan pak Nors. Harus ada kejelasan sumber uang itu. Uang yang sudah menyelamatkan Ibunya.


Walau 95% pasti dari Pak Nors. Itu sudah diakui Mirna. Sudah jelas. Namun, Mirna perlu pengakuan Pak Nors. Biar semua clear.


"Cepat juga kalian sampe, Pak Nors," Pak Rum menyambut dua tamunya malam ini.


Mirna duluan menjawab.


"Tidak macet Paman," jawab Mirna sambil menyalami Pamanya Rum.


"Tadi lancar-lancar aja, Pak Rum. Jalanan tau, kalau saya lagi bawa bidadari," ucap Pak Nors sambil masuk ke dalam rumah.


Mirna menjumpai bibinya di dapur. Lagi sibuk menyiapkan untuk acara keluarga besok. Ternyata, adalah ulangtahun pernikahan Paman dan Bibi. Ke-14.


Tak lama, bibi dan Mirna menuju ruang tamu. Pak Nors dan Paman Rum sudah disana. Mirna segera mengambil piring untuk wadah roti yang mereka bawa.


"Kalau Pak Nors, malam ini pulang ya?"


"Iya Pak Rum. Cuma mau anter Mirna aja. Kasihan dia harus naik bis,"


"Apa nggak sekalian nginap di sini Pak Nors. Besok ada acara kecil-kecilan. Universary kami ke-14."

__ADS_1


"Terimakasih Pak Rum. Semoga langgeng ya Pak Rum dan Ibu,".


Pak Rum dan Ibu mengamini.


"Malam ini saya pulang Pak, besok siang harus berangkat ke Surabaya. Biasalah, DLK,"


Obrolan mereka di terlihat santai. Sesekali tertawa terbahak. Mirna hanya tersenyum apabila Pak Nors terlalu memujanya. Bibi juga hanya ikut mengangguk. Setuju kalau Mirna memang baik.


Namun, kini obrolan mereka terlihat serius. Hanya Paman kini yang berbicara. Mirna, Bibi dan Pak Nors hanya jadi pendengar. Mirna terlihat paling gugup. Mukanya sedikit pucat.


Tangannya gemetar. Tak menyangka, Paman mengutarakan hal ini. Benar-benar tidak menyangka. Paman kini, mengulang lagi ucapnya tadi.


Mirna sudah jelas paham maksud paman. Namun, Paman menanyakan lagi ke Mirna.


"Mirna paham kan yang Paman maksud?"


Mirna terdiam. Tidak tahu harus berkata apa. Bibirnya tertutup rapat. Dua pria kini memperhatikannya. Paman adalah pria yang sangat diseganinya. Pak Nors adalah manager HRD yang dihormatinya.


Dia harus menjawab. Tak mau Pamannya kecewa. Diam seolah menyepelekan niat besar paman. Namun, mulutnya berat berucap. Bibi terlihat menyemangati Mirna. Agar menjawab apa yang ditanyakan Paman.


"Baik, Paman. Mirna akan menjawab,"


Pak Nors terlihat tegang. Pak Rum tersenyum. Bibi menyemangati Mirna.


Mirna meraih tissu. Entah itu untuk apa. Karena tidak ada air mata di mata indahnya.


Tissu itu kini sudah jadi gulungan. Bulat memanjang.


"Begini, Paman. Saya belum bisa menjawabnya saat ini, beri Mirna waktu seminggu,"


Paman sepertinya memahami apa yang dipikirkan Mirna. Lagipula, ini untuk pertama kali diutarakan ke Mirna. Namun, paman sangat ingin agar Mirna setuju dengan apa yang disampaikannya.


Jawaban Mirna masih harus ditunggu selama seminggu. Waktu yang lama bagi Paman. Dan sangat singkat bagi Mirna. Pak Nors yang hadir di situ merasa selangkah ada progres. Paling tidak, sudah terucap oleh paman dan Mirna sudah dengar.


Kedekatan mereka selama ini sudah dipahami Mirna. Tidak sekedar orangtua dan anak lagi. Tapi ada cinta. Rasa suka. Antara dua insan yang berbeda usia.

__ADS_1


Mirna kini sudah merasa. Walau di awal risih juga dengan kata-kata godaan Pak Nors. Namun, semakin hari, kedekatan dengan Pak Nors memunculkan benih cinta.


__ADS_2