Di Atas Cinta Suci

Di Atas Cinta Suci
Bab 26. Beban Cinta Mirna


__ADS_3

Mirna pulang dengan senyum di bibir. Wajahnya begitu ceria. Sementara Frangky Nors masih terganjal sesuatu yang membuat wajahnya muram memasuki ruang meeting.


Seminggu sudah sejak mega proyek dimulai, pabrik snack terbesar ini sibuk mempersiapkan proyek ini. Hampir tiap divisi disibukkan proyek nan besar ini.


Bagian produksi yang menjadi motor dipersiapkan dengan berbagai pelatihan. Tehnisi juga bolak-balik dinas luar kota untuk mempelajari banyaknya mesin dan proses produksi yang baru.


Hampir tiap jam bahkan sampai malam hari, ruang meeting penuh dengan orang-orang yang terlibat langsung dengan mega proyek ini.


Tak hanya bagian produksi, divisi supporting juga dilibatkan untuk memperlancar mega proyek. Seperti bagian Finance yang juga harus terlibat dengan adanya sistem yang baru.


Tim finance, termasuk Mirna harus dinas luar kota juga ke Surabaya. Surat tugas sudah dikeluarkan. Namun, Frangky Nors tidak menyetujui Mirna dinas ke Surabaya.


"Apa tidak bisa diganti sama yang lain? Kan masih banyak disana, ada Rina, Cindi, Eko dan Mona," kata Frangky Nors menolak Mirna agar tidak berangkat dinas luar kota.


Mirna hanya terdiam. Tidak tahu harus bagaimana lagi menjelaskannya. Waktu istirahat tersisa 15 menit lagi. Namun, belum ada keputusan, apakah Mirna boleh atau tidak ikut dinas luar kota.


"Inikan kebijakan perusahaan, apa Mirna bisa menolak? Apalagi Mirna masih karyawan kontrak," Suara Mirna mulai meninggi.


"Kalau nggak Mirna pindah divisi aja. Besok juga bisa saya atur biar pindah," kata Frangky Nors juga dengan nada tinggi.


"Nggak....! Pokoknya saya tidak mau pindah. Saya mau tetap di finance dan minggu depan dinas ke Surabaya," jawab Mirna. Matanya melihat ke sekeliling. Takut mereka jadi pusat perhatian akibat suaranya yang meninggi.


'Susah juga jadi pacarmu, belum jadi istri, terlalu banyak aturanmu. Putus juga tidak apa-apa. Saya tidak mau semua-semua diatur," kata Mirna dalam hati dengan sangat jengkel.


"Jadi kamu tidak mau nurut dengan apa yang saya suruh? Ok..lihat aja nanti, kamu akan menyesal!" Frangky Nors menutup obrolan di akhir jam istirahat itu.

__ADS_1


Mirna kini sendiri. Frangky Nors sudah kembali ke ruangan. Dengan kesal, Mirna juga meninggalkan area kantin itu. Wajahnya diselimuti emosi yang tak tahu harus ditumpahkan ke siapa.


Mirna ingin menceritakan hal ini. Namun, ke siapa? Biasanya, Alex lah yang paling jago dalam memecahkan persoalan Mirna. Tapi saat ini, jangankan curhat dan sharing, berpapasan dengan Alex adalah mala petaka bagi Mirna.


Sharing ke Alex di saat ini, sama saja menambah persoalan baru. Akibat kecemburuan Frangky Nors kepada Alex. Mirna sudah di ultimatum Nors agar tidak bertemu. Dalam acara apapun.


Kondisi ini menjadi beban buat Mirna. Mirna jadi sering melamun. Lebih pendiam. Membuat dia kehilangan fokus kerja. Bahkan sudah mulai terlihat beberapa kesalahan kecil di dalam pekerjaannya.


Hal ini menjadi perhatian Elsa Sionir, manager Mirna. Mirna kehilangan keceriaan. Lebih sering murung. Dan menyendiri.


Sore ini, menjelang jam pulang. Mirna terlihat terdiam di depan komputernya. Dia sudah mematikan komputer. Namun, tak terlihat mau bergerak pulang. Di sudut matanya, sebutir air mata bersiap mengalir.


Elsa Sionir yang baru saja keluar dari ruang meeting memperhatikan tingkah aneh Mirna sore ini. Ini adalah akumulasi perubahan yang terlihat dari Mirna.


"Mir, kamu sakit? kata Elsa Sionir, manager Mirna sambil mengambil dokumen di atas meja.


Elsa Sionir mendekat ke Mirna.


"Ibu perhatikan kamu seminggu ini agak aneh," Elsa Sionir meletakkan dokumen-dokumen yang sudah di periksanya ke meja Mirna.


"Ada masalah apa, Mir?"


Mirna memasukkan dokumen tagihan yang baru saja diletakkan managernya ke laci mejanya.


Mirna malah terdiam. Air matanya mengalir kini. Membasahi wajah manisnya.

__ADS_1


Elsa melihat masalah Mirna serius. Dengan memberi kode, Elsa mengajak Mirna masuk ke ruang dekat meja manager. Disana ada ruang khusus, ruang untuk membahas hal-hal yang bersifat pribadi dan rahasia.


"Coba ceritakan Mirna, ada masalah apa yang membuat kamu terlihat beda dari sebelum-sebelumnya?" Elsa Sionir memulai investigasinya.


"Ini serius saya lihat, Mir,"


Hening. Detak jarum jam sampai terdengar di ruangan itu. Tangan Mirna tak henti-henti menggulung-gulung tissu yang tadi dipakai melap air matanya.


Mirna menatap managernya. Mulutnya mau mengucapkan sesuatu. Namun, tak bisa. Bibir-bibir itu begitu susah digerakkan. Masih tertutup rapat. Butiran air mata yang menggenang di sudut bola matanya, berdesakan, jatuh mengalir melintas di samping bibirnya.


"Kamu harus jujur, Mir. Kamu kan mau pelatihan ke Surabaya. Kamu harus fokus, jangan sampai kamu gagal mengikuti pelatihan itu. Kamu lah yang ibu andalkan untuk menguasai sistem baru itu,"


Bukannya menjawab, Mirna malah berdiri dan memeluk managernya. Dan menangis sesenggukan. Elsa semakin bingung. Ada apa dengan anak buahnya ini. Elsa ikut terlarut dengan kesedihan yang dialami Mirna.


Elsa mengelus rambut panjangnya Mirna. Menepuk-nepuk punggungnya. Berusaha menenangkan dulu. Elsa tahu, ini masalah serius. Jadi dia menunggu sampai Mirna sanggup bicara.


Mirna masih terus memeluk managernya. Air matanya masih mengalir membasahi seragam atasannya. Dia tidak tahu harus memulai dari mana. Topik masalah saja susah diungkapkannya.


Itu karena, belum ada yang tahu, kalau Mirna sudah pacaran sama Frangky Nors. Itulah sebabnya, betapa susahnya Mirna memulai.


"S-saya susah men-menceritakannya, Bu!" kata Mirna dengan suara terputus-putus sambil menangis.


"Semakin kamu pendam, masalah ini akan semakin membebanimu, Mir," nasehat Elsa sambil mendudukkan Mirna di kursi


"Tapi saya, bagaimana,"

__ADS_1


"Ceritakanlah Mir, kau harus kuat, apapun ceritamu, akan ibu dukung kamu," bujuk Elsa agar mau cerita.


Mirna coba meyakinkan diri. Dia Menarik nafas dan mencoba tegar. Elsa Sionir sangat penasaran, apa yang menjadi kasus anak buahnya ini. Sampai membuat Mirna berubah total.


__ADS_2