Di Atas Cinta Suci

Di Atas Cinta Suci
Bab 14. Mencari Bukti


__ADS_3

Frangky Nors menuju pos sekuriti. Didampingi Indra. Memastikan info gerak-gerik mencurigakan darimana? Apakah dari CCTV atau ada laporan dari saksi mata?


Semua securiti yang tadinya berpencar, kini mengumpul di pos. Tersisa seorang sedang memeriksa mobil kantor masuk.


Setelah memberi hormat, mereka dipersilahkan duduk oleh Frangky Nors. Keamanan pabrik ada di bawah Frangky Nors. Di bagian umum.


Indra juga turut di sana. Frangky Nors mulai bicara.


"Selamat siang semua,"


"Selamat Siang," Serentak mereka menjawab.


Frangky Nors menggeser kursinya. Untuk lebih dekat. Dengan sekuriti yang piket pagi ini.


"Kemarin ada kasus di gudang baku, yang menangkap Renno kemarin siapa saja?" Frangky Nors memulai penyelidikan.


"Saya sama Hendra Pak," Yuda menjawab sambil menunjuk ke Hendra.


"Kemaren, dasar kalian menangkap Renno apa, apa ada informasi?"


"Kami dapat info dari Finance, langsung dari Ibu Elsa Sionir,"


"Elsa Sionir dapat info darimana, apakah dari anak buahnya?"


"Kurang tau Pak, tapi waktu kami masuk ke dalam, kami menemui orang finance disana, ada juga visitor dari PT Mentarindo Her..,"


"P-PT Mentarindo?" Frangky Nors memotong. Suaranya meninggi.


"Iya, Pak. Ibu Dewi. Sehabis meeting di kantor, dia ditugaskan memantau gudang bahan baku,"


"Apa begitu, Ndra?" Frangky Nors tanya Indra.


"Iya, Pak. Kemaren hasil meeting, QC dari suplier di kasih izin untuk mengawasi gudang bahan tepung," jawab Indra.


"Jadi dasar kalian mengamankan Renno, hanya karna di telpon Elsa, tanpa ada saksi atau juga barang bukti?"


"Iya, Pak. Kami tidak lagi menanyakan secara detail ke Ibu Elsa, kami langsung berlari ke dalam,"


Yuda hening sejenak.


"Dan disana, kami menjumpai Ibu Mirna, lalu bergabung Ibu Elsa, dan Ibu Dewi,"


"Maaf saya jelaskan Pak Nors, kemaren Ibu Elsa dapat info dari Ibu Dewi. Saat Ibu Dewi di gudang, dia mendapati gerakan Renno mencurigakan," sambil membaca chatting dari Ibu Elsa.

__ADS_1


"Renno katanya, seperti memegang sesuatu, kadang melompat. Pas Ibu Dewi lewat, dia agak grogi katanya,"


"Apa ada bukti, apa dia merekam pake hp?" tanya Frangky Nors.


"Tidak ada, Pak. Karena visitor tidak dibolehkan Pak bawa HP kedalam,"


Frangky Nors sampai lupa. SOP visitor tidak boleh membawa HP ke dalam pabrik. Fokus dia hanya ke barang bukti.


Pertaruhan karier dia ada pada kasus ini. Andai kasus ini lolos, semakin dekat misinya tercapai. Menyingkirkan suplier Mentarindo, sekaligus menyingkirkan Alex dari Mirna.


Namun bila Renno terbukti, Alarm bahaya bagi Frangky Nors. Jalan satu-satunya menyogok Renno. Supaya bungkam.


"Jadi bukan Mirna ya yang kasih info ke Elsa?" Frangky Nors menanyakan Indra.


"Bukan, Pak. Mirna memang saat itu di gudang. Sedang STO dengan kepala gudang," Indra menjelaskan.


"Ok, kalau begitu. Namun, sekali lagi, jika mau bertindak, harus ada bukti kuat. Jika tidak, ini jadi masalah. Ini bisa jadi pasal pencemaran nama baik ke perusahaan cleaning service itu. Tentu perusahaan kita bisa di gugat sama mereka," kata Frangky Nors tegas.


Satu per satu sekuriti sudah meninggalkan pos. Menyebar tiap sudut untuk patroli siang. Indra dan Frangky Nors masih diskusi di meja sekuriti.


Pukul 15:00 Wib. Pergantian shift 1 ke shift 2. Pintu gerbang terlihat ramai. Banyak juga karyawan yang mengantri di ATM dekat pos sekuriti.


Mata Frangky Nors tiba-tiba fokus ke satu arah. Ke arah antrian di ATM sana. Seorang cewek membuat jantungnya berdebar.


"Hai, Cewek.. Apa khabar,? Frangky Nors sedikit mengagetkan Mirna.


"Eh..Pak Nors. Sudah pulang dari Dinas luar Pak?" tanya Mirna sedikit melangkah. Risih juga bila dekat-dekat Frangky Nors di depan karyawan lainnya.


"Sudah Mir, sudah kangen ya sama Pak Nors?" Godaan Frangky Nors membuat wajah Mirna memerah. Malu. Campur grogi.


"Ihs... Apaan sih Pak Nors, bercanda trus kerjaannya," jawab Mirna sekenanya.


"Kalau kerjaan bercanda trus, mana bisa jadi manager HRD," Frangky Nors tertawa.


Mirna melangkah. Antrian berkurang satu. Tinggal 3 antrian lagi.


"Besok kan libur, kita jalan yok?"


Wajah Mirna semakin memerah. Semakin tak enak di dengar karyawan yang antri. Ini bisa jadi gosip besar di kantor. Alangkah malunya, jika sampai ke atasannya. Ke teman-teman sekantor.


Mirna akhirnya keluar dari antrian. Diikuti Frangky Nors. Dia tak ingin Frangky Nors mengeluarkan seluruh gombalannya. Dihadapan karyawan lainnya.


Mirna memilih duduk. Agak menjauh dari antrian. Agar tak terdengar rayuan Frangky Nors. Yang bisa menghanyutkan setiap hati.

__ADS_1


Frangky Nors ikut duduk. Persis di samping Mirna. Mereka jadi pusat perhatian. Dari pos sekuriti, Indra minta ijin masuk ke kantor. Frangky Nors mengijinkan.


Mirna dan Frangky Nors kini terlibat obrolan serius. Setelah Mirna kasih kode untuk tidak meluncurkan gombalan mautnya. Tidak enak di dengar karyawan yang antri.


"Apa Mirna kemaren melihat Renno waktu di gudang? Katanya Mirna ada disana,"


"Iya Pak, waktu itu saya baru selesai STO dengan kepala gudang,"


jawab Mirna sambil menggeser duduknya. Frangky Nors memepet.


"Tiba-tiba Securiti datang, dan mengamankan Renno, infonya dapat dari Ibu Dewi, QC Mentarindo," lanjut Mirna


"Jadi cuma laporan dari Dewi itu ya, apa Mirna juga melihat Renno mencurigakan?"


Mirna terdiam sejenak. Mengambil beberapa detik waktu. Sebelum menjawab pertanyaan ini. Berat rasanya untuk jujur.


Mirna tahu, Renno adalah tetangga Frangky Nors. Mereka sering ngobrol di kantor. Bahkan Renno pernah ikut mereka saat mau pulang kantor.


Mirna dilema. Mengatakan sejujurnya, akan mengusahkan dirinya juga. Selain Frangky Nors adalah sahabat pamannya, Dia juga yang merekomendasikan dirinya masuk divisi Finance.


Mirna juga takut. Andai dia jujur, dipastikan akan merepotkan dirinya. Dan bila sampai ke ranah hukum, Itu akan melibatkan dirinya.


Diam lebih bagus. Walau sebenarnya Mirna punya rekaman video, disaat Renno menyuntikkan cairan-cairan itu.


"Koq malah bengong, Mir?" Tangan Frangky Nors menepuk pundak Mirna pelan.


"E-eh.. iya.. Pak, maaf Mirna tadi..,"


"Mikirin apa sih, koq jawabnya lama. Aku kan gak nanya, 'mau gak jadi pacarku?' gombalan Frangky Nors sambil tertawa.


Pipi Mirna memerah. Dia tampak malu benar. Dia mengulum senyumnya. Membuat parasnya semakin cantik, ayu dan menawan.


Frangky Nors memandanginya. Membuat Mirna semakin salah tingkah.


"Ini antriannya sudah kosong Pak," kata Mirna mengalihkan topik.


"Tapi yang tadi belum di jawab, apa Mirna ikut juga melihat Renno mencurigakan di gudang?" Dia mengulangi pertanyaannya.


"Mirna tidak tau Pak, cuma saya lihat Renno disana bersih-bersih saat Mirna STO,"


Mirna sudah berbohong. Ini adalah pertanyaan yang susah di jawab. Namun, Mirna harus menjawab. Dia telah melupakan nasehat Ibunya. Untuk selalu jujur.


Mirna harus melupakan nasehat Ibu. Inilah lika-liku hidup. Terkadang harus berbohong. Terlalu muda dia harus memikul semuanya. Jika benar-benar jujur.

__ADS_1


Hidup di kota berbeda dengan di desa. Ibunya belum merasakan kerasnya di kota. Di lingkungan kerja, di kota, harus pintar mengambil keputusan. Kecuali sudah mengancam posisinya, Mirna akan beberkan semuanya.


__ADS_2