Di Atas Cinta Suci

Di Atas Cinta Suci
Bab.16 Hujan Deras Di Hari Sabtu


__ADS_3

Yang terkadang lupa diri. Lupa segalanya. Akhirnya berujung duka. Sedih. Menyesali yang sudah berlalu. Menyesali yang sudah terjadi.


Cinta tak berakhir manis. Malah banyak endingnya sesal. Wanita selalu jadi korban. Korban manisnya kasih sayang.


Pagi Jam 07:00 Wib. Mirna masih malas-malasan di kasur. Hujan deras mengguyur pagi ini. Kaca kamar kost-an berembun.


Mirna masih menarik selimut. Bermotif bunga-bunga, kontras dengan sprei tempat tidurnya. Kaki mulusnya menyelinap di balik selimut.


Diraihnya Hp dari lantai. Dia tak biasa menaruh hp di kasurnya. Karena dia gampang kaget. Kadang ada telpon di malam hari.


Dia tak pernah silent Hp nya. Takutnya ada telpon dari Ibunya dari kampung. Karena ibunya, harus ke kecamatan untuk bisa menelpon.


Meminjam Hp saudaranya. Yang bekerja di kantor camat. Letak kantor camat tidak dekat ke rumah ibunya. Karena itu, Mirna selalu buat Hp nya berdering.


"Duarrr..r,"


Bunyi geluduk mengagetkannya. Dia agak menjauh dari dekat jendela. Hujan semakin deras. Angin juga sangat kencang.


Sesekali tampias menerpa kaca jendelanya. Pohon mangga di depan kost-an bergoyang kesana kemari. Hembusan angin pagi begitu kencang.


Suara kendaraan tak seramai biasanya. Mungkin juga karena hari Sabtu. Banyak kantor dan sekolah yang libur.


Ada telpon masuk. Pak Alex Mentarindo Is Calling. Mirna tidak langsung mengangkat. Dia duduk dulu. Bersender ke dinding kamar. Di atas kasurnya.


"Hallo Pak Alex," Mirna menyapa.


"Halo Mirna, lagi dimana?" jawab Alex.


"Di kost-an Pak, ini lagi hujan deras,"


"Sama nih, disini juga masih hujan deras. Angin juga kencang,"


Alex terdiam sejenak. Tak tahu harus ngobrolin apa lagi. Biasanya dia lancar bicara dengan Mirna kalau bahas tagihan. Tapi kini, tak ada yang mau di bahas.


Berbeda dengan Frangky Nors. Yang lancar jaya merayu Mirna. Membuat Mirna terkadang tak ada celah untuk berbicara.


Alex belum menemukan kosa-kata yang tepat. Padahal sudah semalaman dia menyusun rencana. Untuk mengajak Mirna jalan Sabtu ini.


"Hari ini ada kegiatan gak, Mir?" Alex memberanikan diri.

__ADS_1


"Hari ini..,," Mirna diam sejenak.


"Aku siang ini, ada yang mau di beliin Pak,"


"Apa berkenan saya antar?"


"Oh.. terimakasih Pak Alex. A-Aku sama, sama teman aja Pak, nanti ngerepotin Pak Alex," jawab Mirna agak terbata-bata.


"Kalau mau, tidak merepotkan sih," Alex memperjelas kalau dia tak direpotkan.


"Terimakasih Pak Alex, Mirna sama teman aja Pak, sudah janji," jawab Mirna sambil membuka jendela kamarnya. Hujan di luar sudah reda.


Alex terdiam lagi. Rasa kesal ajakannya ditolak. Alex yakin, Mirna akan jalan sama Frangky Nors. Sudah dua kali dia melihat mereka jalan bareng.


"Apa besok Mirna mau jalan sama Frangky Nors?" tanya Alex memberanikan diri


Mirna Panik. Tak tahu mau jawab apa. Terlintas tanya dipikirannya. Darimana Alex tahu kalau dia dekat dengan Frangky Nors? Apa dia tau dari kantor?


Apa teman-teman di kantor sudah tahu hubungannya dengan Frangky Nors? Setahu dia, tak satu pun yang tau hal ini. Bahkan manager Finance sekalipun.


Selama ini Frangky Nors dianggap teman-temannya, sebagai teman paman Mirna. Jadi kedekatan mereka hanya kayak hubungan orang tua dan anak. Isu sekalipun tak pernah terdengar di kantor.


Hampir 3 menit. Mirna belum menjawab pertanyaan Alex . Masih dicecar dengan pertanyaan dari pikirannya sendiri.


"B-bukan, Pak Alex, halo, hallo Pak Alex..halo," Rupanya tidak ada suara lagi dari ponsel Alex.


"Koq mati sih.. iya ampun...., habis batre, maaf Pak Alex. Bukan Mirna yang matiin ya Pak," Mirna bicara sendiri. Dia merasa bersalah. Telepon tadi berhenti, karena batere Mirna habis. Sampai ponselnya mati.


Mirna jadi kepikiran Pak Alex. Tapi bukan karena insiden hp habis batere. Tapi karena pertanyaan Alex tadi. Alex seakan tahu. Kalau Frangky Nors sedang dekat dengannya.


Bahkan dia tahu, kalau siang ini mau jalan sama Frangky Nors. Kenapa dia bisa tahu ya? Apa dia selalu update tentang hati Mirna tiap hari?


Mirna mencari charger. Di atas meja. Dekat sebotol air mineral. Dia colokkan steker ke stop kontak. Terlihat gambar baterei sedang di isi.


Mirna tak langsung menghidupkan hp nya. Dia melangkah ke kamar mandi. Buang air kecil, setelah semalaman tertampung disana. Terdengar bunyi suara air yang disiram. Pertanda sudah selesai buang air.


Mirna kini mendekat ke meja. Memencet power ponselnya. Menunggu sejenak. Sistem hp sedang bersiap.


Mirna sudah tidak sabar meminta maaf kepada Alex. Merasa bersalah, karena obrolan mereka tadi terputus.

__ADS_1


Jari Mirna menunjuk chatting perpesanan. Mencari nama Alex. Belum sempat mengetik, pesan masuk. Dan otomatis centang biru.


'Maaf kalau aku menggangu, sampai kamu mematikan telpon, semoga langgeng sama Frangky Nors'


Isi pesan dari Alex.


Mirna semakin merasa bersalah. Dia harus segera memberitahu Alex. Sebelum kasus ini sampai ke managernya. Karena Alex sering berhubungan dengan Elsa Sionir.


"Maaf Pak Alex, Mirna tidak mematikan telpon, hp Mirna habis batrei," Mirna lalu meklik 'kirim.'


Di tunggu sebentar. Masih centang 1. Mirna jadi serba salah. Apalagi dia sering berhubungan dengan PT Mentarindo. Apa jadinya bila soal ini tidak segera clear.


Kembali dilihatnya. Masih belum berubah. Centang 1.


"Apa Pak Alex marah ya?, waduh, gawat ini. Kalau sampai Bu Elsa tau, bisa jadi isu di kantor," Mirna meminum seteguk air mineral.


"Alangkah kurang ajarnya saya, dimata bu Elsa, mematikan telpon seorang kepala cabang. Oh tidak, jangan sampe ini ke bu Elsa," sambil kembali mengecek chat perpesanan.


Mirna langsung telpon. Lewat telpon biasa.


"Tut......., Tut.........., Tut........., Tut..........,, Telpon yang anda tuju tidak dapat menerima panggilan anda.


Mirna gundah gulana. Apa yang harus dia perbuat. Sangat berharap Alex bisa dihubunginya. Segera. Sebelum hari kerja, hari Senin.


Mirna telpon lagi. Nyambung lagi. Namun tak di angkat. Mirna meninggalkan HP yang sedang di isi.


Melangkah ke luar kamar. Lalu menyeberang. Mau membeli nasi uduk. Dan juga sayur urap. Sayur kesukaannya.


Mirna terlihat bengong. Duduk di kursi merah. Menunggu pesanan. Seisi pikirannya hanya ada untuk kasus tadi.


Begitu sukar menyelesaikan kasus ini. Karena hanya urusan dia dan Alex. Mau curhat atau minta tolong ke orang lain, itu sama saja menyebarkan isu ini.


Harus ketemu Alex. Dimanapun itu. Tanpa itu, kasus ini ditakutkan menyebar.


Specialnya kasus ini. Mirna jadi tokoh utama. Seolah diperebutkan 2 pria penting. Pria-pria yang sangat terkenal di pabrik. Yang dikenal oleh petinggi-petinggi perusahaan.


"Apa saya sanggup jika ini jadi issu di pabrik? Apa reaksi teman-teman, kalau saya seolah - olah rebutan dua pria mapan?" kata Mirna dalam hati. Sambil membayar pesanan, Mirna melangkah pulang.


"Bisa jadi ada yang beranggapan kalau saya wanita tak tahu diri. Gadis desa miskin yang tak sadar diri. Satu harapanku, semoga Alex tak curhat sama siapa pun tentang hal ini. Jika iya, alamat tak baik bagiku,"

__ADS_1


__ADS_2