
Semoga tak berjumpa dia lagi. Karena sudah pasti driver perusahaan bukan satu orang tapi bisa beberapa orang. Setelah pelatihan nanti pasti akan diantarkan driver yang di shift sore.
Mobil innova putih itu terlihat bergerak keluar parkiran. Mungkin ada tamu yang akan di jemput. Sudah keluar gerbang kantor itu.
Tak sampai 15 menit, sudah berhenti di depan sebuah hotel bintang 4. Hotel yang paling dekat dengan kantor Narida Food. Dia memarkirkan mobilnya. Lalu menuju resepsionis.
Dia mau memesan kamar. Bisa jadi untuk tamu-tamu dari luar kota yang memang banyak mengikuti pelatihan di kantor.
Dia memesan 2 kamar di lantai 3. Nampaknya untuk 2 orang tamu. Setelah menunjukkan identitas dan membayar deposit sebagai jaminan, supir pendiam itu menerima kunci kamar.
Booking kamar hotel untuk tamu sudah selesai. Sopir itu pun melangkah ke parkiran. Di dalam mobil dia terlihat asyik menelpon seseorang. Sambil dibarengi senyum dan tawa.
Bisa jadi dia melaporkan ke atasannya kalau kamar hotel untuk dua tamu sudah di booking. Banyaknya tamu yang mengikuti pelatihan membuat pihak kantor mengalami kesulitan mencari penginapan.
Supir tadi sudah mengakhiri percakapannya lewat ponsel. Mobil dihidupkan, kembali menuju kantor tempat Mirna pelatihan. Supir perusahaan akan siap selalu menunggu perintah. Termasuk mengantar para peserta pelatihan hari ini.
Di ruang pelatihan, waktu sudah menunjukkan pukul 16:30. Mirna terlihat serius mengikuti semua sesi hari ini. Dari pagi sampai sore, materi diberikan bergantian oleh pakar-pakar yang berkompeten.
Wajah-wajah lelah terlihat sore ini. Staf finance yang mengikuti pelatihan sore ini kebanyakan dari luar kota. Dari cabang-cabang perusahaan. Yang tentunya dari luar kota.
Dipastikan mereka bangun kepagian semua. Karena terbang pesawat pertama. Hal ini menguras tenaga dan membuat mereka kelelahan mengikuti pelatihan sore ini.
Para peserta dari ruang pelatihan sudah mulai turun satu per satu. Nampaknya, pelatihan sore ini sudah berakhir. Mirna terlihat sedang menghampiri salah satu staf kantor itu. Staf itu ingin memastikan tempat penginapan Mirna.
Mirna yang sudah mendapat informasi dari atasannya, kalau penginapannya sudah di booking, terlihat menjelaskannya kepada staf tadi.
Tak lama, Mirna sudah turun menenteng tas pakaiannya. Dia menunggu di ruang resepsionis. Sesuai instruksi atasannya agar menunggu di ruang resepsionis.
Berbeda dengan teman-temannya yang lain, yang sudah berangkat menuju penginapan mereka. Dia berharap, supir yang mengantarnya bukan supir pendiam yang tadi pagi.
Mirna sama sekali tidak bertanya ke resepsionis. Supir mana yang akan mengantarkannya. Dia sudah yakin benar dengan arahan atasannya, Elsa Sionir.
Elsa Sionir tidak memberitahukan mobil apa yang akan mengantarkannya. Mirna juga tak menanyakannya, karena pasti mobil perusahaan ada beberapa. Tergantung mobil yang tersedia di parkiran.
__ADS_1
Suara laki-laki tiba-tiba mengejutkan Mirna, saat namanya dipanggil.
"Bu, Mirna, kita berangkat,"
Lelaki itu langsung menenteng tas Mirna.
"O-oh iya, Pak," jawab Mirna kaget.
Dia mencari resepsionis untuk pamit, ternyata sedang masuk sebentar ke dalam. Karena, supir itu sudah langsung saja berjalan dan menuju mobil, Mirna pun langsung mengikutinya. dari belakang.
Supir tadi membuka pintu, lalu memasukkan tas Mirna ke jok bagian tengah. Lalu dia membukakan pintu depan untuk Mirna.
Mirna pun naik. Duduk disamping supir itu. Dalam hati, Mirna menggerutu.
'kenapa supir ini lagi, apa tak ada lagi supir lain?' Mirna mendumel dalam hati.
Sebenarnya supir ini tidak berlagak mencurigakan. Termasuk ganteng juga sebagai supir. Badannya tinggi dan kekar. Cuma terlalu pendiam. Mirna bukanlah tipe wanita pendiam. Dia banyak berkomunikasi dengan orang. Mirna ingin sekali mendapatkan sopir yang aktif berbicara.
Mirna merogoh ponselnya. Lupa memberitahu atasannya, kalau dia sedang diantar supir. Elsa Sionir tadi berpesan, agar memberitahu jika sudah bersama supir.
Seperti tadi pagi, supir ini hanya diam. Tak ada basa-basi. Dia tetap mengenakan stelan seperti tadi pagi. Kaca mata hitam, topi yang hampir menutupi wajahnya. Dan juga masker hitam.
Hal ini membuat Mirna tak bisa mengenali wajah driver ini. Mirna sebenarnya tak peduli seperti apa wajah driver perusahaan ini. Yang dia inginkan, supir ini lebih aktif berkomunikasi.
Dia ingin selama perjalanan menuju hotel bisa menanyakan tentang kota ini. Menurut teman-temannya tadi saat pelatihan, jarak tempuh ke hotel sekitar 30 menit lebih. Disitulah semua peserta pelatihan menginap.
Mobil Innova putih yang disopiri driver pendiam itu sudah keluar dari gerbang. Menuju jalan yang mulai ramai. Sepanjang jalan, tak ada tanda-tanda supir ini akan berbicara dengan Mirna.
Tepat di Lampu merah, Mirna memberanikan diri bertanya. Semoga supir jadi mau berbincang.
"Sudah mulai macet ya, Pak," pancing Mirna setelah mobil berjalan.
"Iya, Bu,"
__ADS_1
Hanya itu jawaban yang keluar dari mulut supir itu. Sangat singkat. Mirna mendumel dalam hati. Usahanya memancing supir itu tak berhasil.
Mirna merasa kesal sekali. Ini baru pertama kali dinas luar kota, namun dapat pengalaman kurang baik dengan sang driver. Tidak seperti cerita teman-teman kantornya. Cerita mereka sangat asyik. Cerita tempat-tempat kuliner dan fashion.
Mereka diantar driver perusahaan ke tempat-tempat menarik di kota tujuan. Ini, mau bertanya saja susah. Drivernya diam terus. Dipancing juga tak ada reaksi.
Baru dua puluh menit sudah sampai di hotel penginapan. Mirna langsung menggeser pandangan matanya ke arah hotel. Wajahnya sedikit menunjukkan kecurigaan. Dia melihat jam tangannya.
'Baru 20 menit sudah sampai, apa tidak salah? Tadi kata teman-teman 30 menit lebih baru sampai. Lagi pula tadi katanya hotelnya tidak bertingkat begini?' Penuh tanya di hati Mirna.
Mirna mulai curiga. Dia langsung menyuruh driver agar menunggu di parkiran. Dia mau menghubungi atasannya perihal penginapan malam ini. Dia keluar dari mobil dan meninggalkan supir. Dia tak ingin supir mendengar kalau dia menghubungi atasannya.
"Bu, hotel tempat Mirna menginap hotel apa bu?, kata teman-teman tadi jaraknya jauh dari kantor, ini koq dekat sekali. Namanya, apa bu?" tanya Mirna ke atasannya.
Atasannya lalu menyebutkan nama hotelnya. Bahkan nomor kamar juga sudah disebutkan atasannya. Mirna lalu mencocokkan nama hotel yang disebut atasannya dengan nama hotel yang tertera di bagian depan hotel ini.
'Benar juga..hmm, tapi koq.. iya, udahlah. Yang penting Bu Elsa juga bilang ini nama hotelnya' kata Mirna dalam hati
Mirna meyakinkan dirinya kalau hotel ini benar tempat penginapannya malam ini. Dia akan check-in di kamar no 10 lantai 3. Seperti nomor kamar yang disebutkan oleh atasannya.
Mereka keluar dari mobil. Supir langsung mengambil tas berisi pakaian Mirna. Menentengnya menuju resepsionis. Wajah Mirna mulai gugup. Karena ini untuk pertama kalinya dia menginap di hotel. Sendirian lagi
Dia benar-benar tak paham prosedur penginapan di hotel. Bagaimana cara check-in. Kunci kamar dan lainnya. Naik lift aja Mirna belum terlalu paham. Makanya, dia berharap supir ini mau mengantarkannya sampai ke kamar.
Walau sebenarnya, atasannya akan memandunya lewat telepon. Tapi tetap saja membuat Mirna tidak tenang.
Mirna dan supir itu sudah memegang kunci kamar. Mereka meninggalkan resepsionis. Mirna ingin sekali minta tolong ke supir itu agar mengantarnya sampai ke kamar.
"Pak, minta tolong, antarkan saya ke kamar, s-saya belum pernah menginap di hotel," Mirna terlihat gugup dan sedikit malu mengakui kalau dia belum pernah menginap di hotel.
"Ayo, Bu" jawab supir itu sambil menenteng tas Mirna menuju lift.
Mirna dan supir pendiam itu naik ke lantai 3 menuju kamar no 10.
__ADS_1