
Lepaskan, siapa kamu?" teriak Mirna sambil berusaha melepas pelukan tubuh lelaki itu.
Lelaki itu terus berusaha memeluk dan mendekatkan bibirnya ke wajah Mirna. Terlihat begitu beringas dan sangat bernafsu bibir itu. Nafsu yang butuh pelampiasan sayang.
"Ceklek, Ceklek"
Dua kali bunyi pintu ruangan terdengar. Ruangan itu sudah aman. Terkunci sudah. Mirna masih meronta-ronta. Tapi di kepanikan dirinya, di remang-remang seisi ruangan, Mirna sudah paham siapa lelaki pemilik tubuh besar itu.
Penciumannya sudah bekerja dan kenal akan wangi parfume khas lelaki itu. Sambil terus melepaskan tangannya,
"Apa-apaan sih..," sambil terus melepaskan tangannya dari genggaman pria itu.
Pemilik tubuh besar itu hanya tersenyum manis sambil berusaha mendiankan Mirna agar tidak terdengar karyawan lain. Jarinya menempel di bibir Mirna sebagai tanda agar tidak berisik.
__ADS_1
"Nggak lucu tau, Mirna kaget benar, hampir..," Belum selesai menyampaikan omongannya, bibir Mirna sudah dicium oleh lelaki itu. Lelaki yang sudah sangat haus belaian sayang dari Mirna.
Frangky Nors begitu rakus ******* bibir - bibir seksi Mirna. Bergantian seakan tak memberi Mirna celah untuk bernafas. Mirna yang juga merindukan dekapan kekasihnya hanya pasrah menikmati setiap bibirnya dilahap oleh Frangky Nors.
Tangannya memeluk erat tubuh kekasihnya. Kerinduan mereka terlihat nyata dari cara mereka berciuman. Mereka sangat menikmati. Seolah tak mau melewatkan sedikit waktu pun. Ini kesempatan langka yang bisa mereka manfaatkan. Melepas rindu di area kerja.
"Aku sangat merindukanmu, sayang," kata Frangky Nors sambil menciumi wajah Mirna. Bibirnya kini sudah berpindah ke leher Mirna. Tepat di bawah dagu Mirna. Tiap inchi dijelajahi oleh Frangky Nors.
"Saya hanya minta izin sebentar keluar meeting, itupun saat Elsa yang presentasi, saya sempatkan kesini, sayang," kata Frangky Nors sambil terus menciumi bibir dan leher Mirna.
"Mirna juga merindukan mu, Nors sayang," kata Mirna sambil tangannya merayap ke ************ Frangky Nors.
Frangky Nors kini menggendong Mirna ke balik lemari arsip. Dimana pintu lemari bisa menutupi mereka dari pandangan orang di luar ruangan.
__ADS_1
"Disini Sayang, supaya tidak terlihat," kata Frangky Nors. Lalu mereka kembali berciuman. Lidah mereka beradu di balik pintu lemari itu. Pagutan-pagutan yang membakar keinginan mereka untuk saling mengasih.
Mirna kini mendesah. Saat jemari besar Frangki Nors sudah meremas buah-buah yang sangat dirindukan itu. Buah itu sangat merindu. Untuk dipetik sang kekasih. Dan kini, saat yang ditunggu tiba. Gunung kembar itu dijamah oleh lelaki tampan yang sudah memuncak cintanya.
Mirna hanya bisa mendesah. Ikut menekan jari jemari itu agar terus berada disana, terus meremas dan menjamah sampai gunung kembar itu terpuaskan.
Frangky Nors begitu kehausan. Rindunya kepada pemilik buah ranum itu sangat tak terbendung. Tak membiarkan waktu berlalu, jarinya sudah memasuki kemeja kerja Mirna dan menjamah benda kenyal itu.
Benda itu sangat lembut, kenyal dan dingin. Jemari Frangky Nors terhalang dengan sempitnya ruang disana. Jemarinya tak bebas bergerak. Namun, sudah tersentuh olehnya, buah cherry yang mengeras tepat di pucuk gunung kembar itu.
Mirna menggelinjang, saat pucuk itu tersentuh. Kenikmatan tiada tara akibat banyaknya saraf mengelilingi pucuk itu. Mirna terus bersender ke tembok menikmati setiap sentuhan yang hadir di sore menjelang malam ini.
Jemari Frangky Nors kini berusaha meloloskan kancing kemeja Mirna. Kancing ke 3,
__ADS_1