
Mirna merasa lelah. Seharian melayani para tamu di acara Aniversary Paman dan Bibi. Kini Mirna sudah rebahan. Di kasur busa 1x2. Baru saja sampai di Wisma Astrina. Kost-an sederhana.
Mirna langsung meraih hp nya dari celana jeans nya. Terlihat di sana, misscall 2 kali. Satu dari Alex. Satunya dari Frangky Nors. Dua pria yang sangat erat dengan kehidupannya.
Satunya masalah pekerjaan. Dan yang satunya, lebih ke masalah hati. Mirna langsung membuka chat.
Ada 2 chat dari Pak Nors. Mirna langsung membukanya. Jempol Mirna kini sedang mengetik. Terlihat wajah Mirna tersenyum. Membaca gombalan-gombalan maut Pak Nors.
Mirna sudah merasa memiliki pacar. Walau sebenarnya, Pak Nors belum pernah mengucapkan cinta. Namun, sejak kemaren, di rumah paman. Paman sudah jelas-jelas meminta Mirna, agar mau jadi pendamping Pak Nors.
Mirna benar-benar terbuai dengan puja puji Pak Nors. Terbuai dengan posisi Pak Nors di perusahaan itu. Juga dengan kebaikan Pak Nors yang sudah menyelamatkan ibunya.
Mirna harus jujur. Sudah jatuh cinta kepada Pak Nors. Namun, selama ini, Mirna tahu diri. Hal yang mustahil dan tak tahu diri, jika menganggap Pak Nors pacarnya. Hanya sebagai rasa sayang anak dan orangtua.
Setengah jam chat sama Pak Nors. Kini Mirna mengalihkan ke pria yang urusannya pasti pekerjaan. Invoice dan pembayaran.
Pak Alex PT Heranusa.
Belum sempat membuka chatnya. Telpon berdering. Ternyata managernya.
"Ada apa ya," kata Mirna dalam hati.
Mirna mengangkat telpon managernya. Manager Finance & Accounting. Mereka terlibat pembicaraan serius. Beberapa kali terlihat gestur Mirna seperti menerima berita kurang baik.
Ternyata ada tagihan dari PT Mentarindo Heranusa yang belum terbayarkan. Perusahaan bahan baku tepung milik Alex. Mirna hapal betul, kalau tagihan itu bermasalah.
Iya, masalah surat jalan. Tagihan itu tidak ada surat jalan terlampir. Di perusahaan ini, surat jalan menunjukkan kalau barang sudah di terima bagian gudang.
Mirna sudah berkali-kali menyampaikan itu ke pihak PT Mentarindo. Mereka bersikeras kalau surat jalan sudah ada di bagian gudang. Dan di lembar copian sudah tertera tanda tangan bagian gudang.
Bagian gudang juga merasa bahwa surat jalan sudah diantar ke bagian Finance & Accounting. Dan nama Mirna yang menerima di buku serah terima.
Mirna dalam posisi terpojok. Namun, dia merasa akan bisa diselesaikan besok pagi di kantor.
Pukul 21:00 Wib
Mirna belum juga mandi. Pekerjaan untuk besok pagi sudah menanti. Dia merasa bersalah, kenapa bisa selip surat jalan tersebut. Nilai tagihan itu juga sangat besar, 450 juta.
Mirna kini sudah berada di kamar mandi. Rasa lelah menyelimuti wajahnya. Lelah fisik. Seharian melayani tamu di rumah paman. Lelah pikiran. Memikirkan Frengky Nors dan juga tagihan PT nya Pak Alex.
__ADS_1
Guyuran air kini membasahi tubuhnya. Terasa segar. Sabun mewangi menyapu keringat lengket di setiap inci tubuhnya.
Malam begitu cepat berganti. Mirna sudah berada di depan gang. Tinggal menyeberang. Menuju kantor tempat bekerja. Langkahnya dipercepat. Namun, berhenti sejenak. Bis karyawan perusahaan lewat.
Masih Pagi. Dia masih sendiri di ruangan. Tombol power komputer ditekannya dengan jari telunjuk. Lalu meraih remot AC. Menghidupkannya.
Tak lama, managernya masuk dan tanpa sapaan. Itu pertanda. Masalah tagihan punya Pak Alex masih akan berlanjut pagi ini.
Benar saja. Mirna langsung dipanggil ke meja depan. Meja managernya. Terlihat raut wajah bos nya tak seperti biasanya. Mirna beranikan curi pandang. Saat managernya menghidupkan laptop.
Selama satu jam Mirna di depan meja managernya. Dia tak banyak bicara. Karena Mirna sadar, itu adalah kesalahannya. Menghilangkan surat jalan pengiriman barang.
Mirna belum terbiasa. Menghadapi tekanan kerja di saat bersamaan dengan kondisi ibunya. Dicampur dengan kehadiran Pak Nors di sela-sela kesibukannya. Mirna perlu belajar tetap fokus. Apapun yang mengganggu.
Apalagi saat posisi dia belum karyawan tetap. Ini adalah penilaian penting. Lolos tidaknya jadi karyawan tetap. Dia tidak mau masalah ini menghancurkan karirnya di perusahaan ini.
Mirna sudah berjanji akan mencari surat jalan itu sampai dapat. Awalnya Mirna begitu simpati kepada Alex. Namun, karena hal ini, Mirna jadi agak kesal dengan nama PT Mentarindo Heranusa.
Setelah meninggalkan managernya, Mirna sudah bergulat dengan dokumen - dokumen di ruang arsip. Setiap tagihan yang sudah terbayar dari Mentarindo di cek kembali.
Siapa tahu surat jalan yang di cari terselip disana. Tiap lembar di cek. Sambil sesekali melihat nomor surat jalan yang dituliskannya di kertas kecil.
Ruang arsip itu sudah dikuncinya. Namun, kembali dibukanya. Kertas kecil yang berisikan nomor surat jalan tertinggal di dalam. Di atas kardus.
Di raihnya kertas itu.
Tiba-tiba tangannya tidak bisa bergerak. Tertahan. Sesuatu menahan tangan kecil Mirna. Ternyata tangan kekar, berbulu dan kokoh. Menggenggam kuat.
Mirna begitu kaget. Mukanya sedikit pucat. Di ruang arsip yang penuh kardus dokumen. Bertindih-tindih. Pak Nors tiba-tiba disana. Mirna hampir berteriak.
Namun, gerak tangan kiri Pak Nors memberi syarat. Biar Mirna tidak berteriak. Kalau bukan manager HRD, mungkin Mirna akan teriak. Terlihat kesal bercampur gugup di wajah Mirna.
Namun, berlahan. Kesal dan rasa gugup itu menghilang. Senyum Pak Nors meluluhkan hatinya. Parfume mewahnya menyebar di tiap sudut ruangan.
Mirna malah terpaku. Kaku. Tak bergerak sedikit pun. Tangan Pak Nors kini turun ke jari jemari Mirna. Menggenggam jari-jari polos itu. Genggaman itu kini berubah lembut.
Dua insan terbuai cinta. Mereka kini saling berhadapan. Namun, Mirna tak berani menatap Pak Nors. Hanya menunduk. Menatap ke bawah.
"Mirna, lagi nyari apa?"
__ADS_1
"Lagi nyari berkas Pak Nors," sambil berusaha melepas tangannya dari genggaman Pak Nors.
"Pak Nors tidak jadi DLK, Pak?"
"Gakk jadi, di tunda jadi besok. Ini ada yang mau dibantu? Selalu siap bantu wanita cantik seperti mu,"
"Iya Pak, saya lagi nyari surat jalan. Padahal tagihannya sudah harus segera di bayar."
"Hmm... saya selalu siap bantu kamu, Mir," Pak Nors meyakinkan Mirna sambil mengibaskan baju Mirna yang kotor terkena debu.
"Nanti sore kita cari bersama, besok pagi pasti sudah bisa kamu proses tagihannya,"
"Benar Pak Nors?" Mirna begitu bahagia mendengar ucapan Pak Nors.
"Benar Mir, Nanti sore kita cari. Kita cari di suatu tempat rahasia,"
"Serius Pak Nors, Kalau kasus tagihan ini tidak segera close, Mirna katanya tidak akan di angkat jadi karyawan Pak,"
"Tenang aja Mir, Saya siap bantu Mirna, nanti sore kita cari. Apapun akan saya pertaruhkan untukmu,"
Tangan Pak Nors kembali meraih jemari Mirna. Namun, Mirna sambil senyum menghindar. Lalu keluar ruangan di susul Pak Nors.
Pukul 17:00, Pak Nors sudah menjumpai Mirna di ruangan finance. Seisi ruangan tidak terlalu curiga dengan Pak Nors. Selain Manager di bagian HRD, mereka juga paham kalau Pak Nors adalah sahabat Paman Mirna.
Mereka terlihat serius. Fokus ke kertas kecil. Tertulis disana nomor surat jalan dan jumlah tepung dalam satuan ton. Sesekali Mirna menunjuk ke kertas kecil itu.
Pak Nors terlihat mengingat sesuatu. Mungkin memastikan apakah surat jalan itu yang pernah dia lihat. Terbawa saat dia mengunjungi Mirna sebulan yang lalu.
Senyum terlihat di bibir Pak Nors. Wajahnya terlihat optimis. Setelah dia memastikan bahwa surat jalan yang di cari Mirna ada di tangannya.
"Begini aja, Mir.. Kita pulang aja dulu, kita cari di suatu tempat. Saya pastikan ketemu surat jalan tersebut,"
"Apa betul Pak Nors? Tapi kenapa kita harus pulang dulu?"
"Tenang saja, saya selalu bisa membantumu, apalagi di saat-saat kamu benar-benar membutuhkan bantuan,"
Mobil Pajero hitam sudah tertahan di pos security. Petugas piket memeriksa mobil, prosedur setiap ada mobil yang keluar. Di samping supir, Mirna duduk agak risih.
Malu dengan sekurity. Ini untuk pertama kali Mirna naik mobil Pak Nors dari kantor. Mobil itu sudah melaju membelah jalanan. Terlihat jalanan ramai lancar. Hati Pak Nors juga sama. Ramai dan bersinar. Di penuhi bunga-bunga. Bunga cinta tepatnya.
__ADS_1
Namun, Mirna tak begitu. Hatinya malah deg degan. Mau di bawa kemana oleh Pak Nors mencari surat jalan tersebut. Apa mungkin tertinggal di rumah Paman? Atau Pak Nors akan membawanya ke kostan nya?