
Mereka kembali terdiam. Kaku, menunggu mobil yang berjalan pelan itu lewat. Hasrat keduanya sudah semakin memuncak.
Sejak di angkringan tempat makan tadi, ditambah yang baru saja terjadi, membuat keduanya sudah tak berdaya menahan gelora ini.
Di tengah-tengah nafsu yang tertunda, Frangky Nors sepertinya berpikir keras, bagaimana caranya bisa masuk ke kost-an Mirna malam ini. Sementara Mirna menunjukkan gelagat mau turun mobil.
Dia langsung membuka pintu mobil. Namun, tangannya langsung di tarik. Dia menoleh, Frangky Nors mau ke arah belakang. Dia melompati sandaran jok. Dia menuju kursi paling belakang.
Dia mengambil sebuah benda, karpet merah. Masih tergulung. Memanjang. Dia bawa ke depan. Dan menunjukkan ke Mirna.
"Pake ini aja, sayang, ini ada karpet, sample untuk karpet ruang istirahat karyawan," sambil membuka ikatan karpet 1x1 itu.
Mirna hanya mengangguk saja. Tak terlalu menanggapi ide itu. Seolah-olah tak setuju dengan ide kekasihnya. Dia memalingkan pandangannya ke luar yang masih di guyur hujan lebat.
Apa Mirna maunya basah-basah saja? atau masih ingin lebih lama lagi bersama Frangky Nors?
"Tapi besok karpet ini harus di coba, warnanya mau dicocokkan dengan warna tembok ruang istirahat,"
"Jadi Mirna harus bawa karpet ini besok ke kantor?" tanya Mirna agak sedikit ketus
"Bukan sayang, tuan putri akan saya antarkan sampai ke pintu kamar tuan putri,"
Wajah Mirna langsung tersenyum. Manis benar. Dia langsung menyetujui ide itu. Mereka bersiap mau keluar dari mobil.
Frangky Nors keluar duluan. Membentangkan karpet itu. Lalu menaruhnya di atas kepalanya. Saat membuka pintu, tampias air hujan langsung masuk ke dalam mobil. Membasahi jok dan mengenai wajah Mirna.
Frangky Nors langsung berlari, menerobos derasnya hujan. Dia memegang kuat karpet merah itu. Melawan tiupan angin. Bagaikan tiupan angin ****** beliung.
Pintu sebelah kiri sudah di buka oleh Mirna. Dia langsung turun dan memegangi tasnya di balik kemejanya. Setelah kepala mereka tertutup terpal dengan pas, mereka segera berjalan setengah berlari.
"Duuarr....."
Mereka langsung berhenti.
__ADS_1
Mirna langsung memeluk Frangky Nors. Gluduk menggelegar menyambut.. Di susul petir yang mengeluarkan cahayanya di langit.
Malam ini begitu mencekam. Angin sangat bergejolak akibat hujan deras, petir pun muncul.
Gejolak yang sama dirasakan kedua sejoli ini. Gejolak asmara, yang sudah dua kali tertunda. Tidak sampai tuntas. Seperti yang mereka inginkan.
Mereka kini berjalan bergegas. Karpet itu masih menaungi. Ujung-ujung karpet dipegang kuat.
Baru 4 langkah. Karena suasana yang gelap dan tiupan angin yang meliuk-liuk, Frangky Nors terpeleset.
"Aduh, sayang.. hati-hati," Suara Mirna agak kaget.
Frangky Nors sampai terduduk di rumput hijau halaman kost-an. Karpet merah itupun terlepas dari tangan mereka berdua. Terjatuh menutupi rumput jepang itu.
Dan akhirnya....
Mereka basah kuyup juga. Walau hanya hitungan detik, tapi sudah cukup membuat seluruh pakaian mereka basah kuyup.
Mirna segera meraih karpet itu. Menutupi kepala Frangky Nors sambil mengangkat tubuh kekar itu. Namun, bukan tubuh Frangky Nors yang terangkat, malah tubuh Mirna yang ikut terjatuh, menimpa tubuh Frangky Nors.
Mereka kini sama-sama terjatuh. Terduduk di rumput. Di bawah guyuran hujan lebat. Keduanya saling berusaha bangkit. Saling memegang tangan dan bertumpu ke tanah.
Namun, Frangky Nors berulah. Dia menahan Mirna, sehingga mereka posisi berlutut berhadapan. Mereka saling memandang.
Kedua tangan Frangky Nors memegang pundak Mirna. Keduanya beradu pandangan. Tangan itu kini mengusap pipi Mirna. Untuk melap air hujan yang membasahi wajah manis itu.
Suasana yang sangat romantis. Bak film-film bollywood, mereka sangat menikmati adegan itu. Tubuh Mirna terlihat menggigil. Bibirnya bergetar.
Entah karena hujan atau akibat getaran asmara yang bergelora di guyuran hujan malam ini.
Frangky Nors merasa iba melihat Mirna kedinginan. Dia segera meraih karpet merah itu dan menaungi Mirna. Frangky pun memasukkan kepalanya agar ikut bergabung dengan Mirna. Bernaung bersama.
Tubuh mereka kini berdempetan. Dan dibawah naungan karpet merah, Frangky Nors tak tega melihat bibir Mirna membiru, bergetar kedinginan. Mereka kembali bertatapan penuh arti.
__ADS_1
Frangky Nors lalu mencium bibir yang mulai membiru itu. Mirna membalas ciuman itu. Sambil terus berpelukan, saling memberi kehangatan.
Tubuh Mirna sangat jelas tercetak karena kemejanya sudah basah kuyup. Buah menawan itu terlihat sangat sangat indah.
Tangan Frangky Nors langsung meremasnya. ******* Mirna tak terdengar jelas akibat suara gemuruh dikejauhan. Mereka terus berciuman. Tangan Mirna ikut bergerilia. Menjamah bagian inti kekasihnya.
Terbentuk nyaris sempurna di bawah sana. Mirna meremas terus. Mencari pintu untuk masuk ke dalam.
"Teruskan sayang, saya sangat menikmatinya," Suara Frangky Nors bergetar.
Kecupan-kecupan dan hisapan di bibir mereka yang kedinginan sedikit menghangatkan tubuh mereka. Remasan di bagian-bagian sensitif membakar nafsu mereka.
Bibir Frangky Nors kini menelusuri leher jenjang itu. Menjilati tiap inci. Memberi sesapan-sesapan pertanda cinta mereka.
Saat tangan Frangky Nors membuka kancing ketiga kemeja Mirna, Mirna langsung tersadar. Dia menepis tangan Frangky Nors pelan. Dia tersadar, kalau mereka sedang di luar. Tak mungkin mau ditelanjangi Frangky Nors di halaman kost-an.
"Jangan disini, Sayang!" ucap Mirna dengan mata genitnya. Senyum dan gestur wajahnya seakan meminta agar pindah ke dalam kamar kost-an.
Dia langsung berlari menuju kamar kost-an nya. Menerobos hujan yang semakin mengamuk. Seperti gelora nafsu asmara mereka yang sedang berkecamuk.
Frangky Nors langsung menyusul Mirna meninggalkan karpet merah tergeletak menutupi rumput-rumput itu.
Wisma asteri itu terlihat sepi. Sepertinya para penghuni kost-an sudah terlelap pulas ditemani dinginnya malam. Akibat hujan deras sedari sore. Lampu-lampu kost-an sudah terlihat redup dari tiap kamar.
Tak ada aktivitas lagi disana. Jalanan depan wisma asteri ini juga sudah kosong melompong. Hanya sesekali, lampu motor ojek online yang menerangi jalanan. Masih setia mengantarkan pesanan dari perut-perut yang terjebak kelaparan di hujan deras malam ini.
Tangan Mirna terlihat sudah mulai bekerja mencari anak kunci di saku celana levisnya. Sesekali mengibaskan tangannya yang basah semua.
Frangky Nors juga sudah berdiri di depan kamar kost-an. Berusaha memeras bagian bawah kaos oblongnya.
Mereka terlihat tidak kedinginan. Itu akibat setruman yang membakar gelora nafsu cinta mereka saat terpeleset tadi. Yang masih tertunda belum mencapai puncak.
Mirna sudah menemukan kunci kamar itu.
__ADS_1
Dan "clekk"
Pintu kamar kost itu sudah terbuka lebar. Mirna masuk duluan. Tampias yang terbang terbawa angin masuk ke dalam kamar Mirna. Mirna langsung menutup. Sementara Frangky Nors masih di luar memeras kaos oblongnya. Semua sudah basah.