
Namun, Mirna menepis tangan Frangky Nors dengan pelan. Agak risih, di depan umum. Walau hatinya ingin. Dan andai Frangky Nors mengulanginya, Mirna akan membiarkan tangan itu tetap disana.
Sore sudah menjelang. Matahari sudah mulai redup. Digantikan malam dengan bintang-bintangnya.
Dua sejoli itu turun dengan mesra ke parkiran. Tangan Frangky Nors terus menggandeng Mirna.
Mereka terus bergandengan. Sampai masing-masing masuk ke mobil.
"Kita mau kemana nih, masih ada yang dicari, sayang?"
Mirna senyum. Kata 'sayang' itu membuat dia seperti melayang. Terbang bersama bunga bunga warna warni.
"Nggak ada lagi, Pak, eh, iya..gak ada lagi Pak Nors," Mirna sedikit grogi. Karena tadi sudah diingatkan Frangky Nors, harus panggil Bang Frangky Nors atau Bang Nors. Bukan Pak lagi.
"Jangan lupa, panggil Bang Nors", sambil mengedipkan mata genitnya ke Mirna.
Mirna tersipu-sipu. Hanya mengangguk sambil membuang pandangannya ke jalanan yang sudah mulai macet.
Pria disampingnya kini malah seperti berpikir keras. Terlihat dari matanya agak dipicikkan. Mirna tak berani menegor. Mungkin ada kerjaan yang urgen.
Tadi baru menerima telpon dari Andi Sienar. Kepala cabang perusahaan mereka bekerja.
Namun, tebakan Mirna salah. Frangky Nors sedang memikirkan rencana selanjutnya. Rencana untuk berduaan dengan Mirna.
"Kalau ke hotel, kayaknya anak ini gak bakal mau nginap. Tadi saja, pas saya rangkul, waktu di mall, dia menepis tanganku. Apalagi kalau ke hotel. Bisa jerit-jerit dia minta pulang," Perdebatan dalam hati Frangky Nors.
"Udah bayar mahal, kalau gak nginap, sayang uangnya. Coba lihat reaksi dia dulu, kalau responnya baik, Sabtu depan aja," ucapnya dalam hati.
"Bang Nors, koq melamun, awas nabrak lho.." tanya Mirna sambil memukul pelan paha Frangky nors.
"E-eh, i-iya, ada yang, apa namanya, yang urgen. Tadi di telpon boss pabrik," Frangky Nors menjawab dengan gugup. Dia berbohong.
"Kita kemana nih, sayang. Ini kan malam minggu. Kita keliling kota yo, sambil cari tempat makan, gimana?"
"Hmm.... kalau Mirna ikut Bang Nors aja," jawab Mirna
"Ok, tuan putri,"
Frangky Nors mengarahkan mobilnya menuju tempat yang banyak tempat tongkrongannya. Sambil mencari-cari kiri kanan, tangan dia sesekali memegang tangan Mirna.
__ADS_1
Sepertinya malam ini sangat rame orang menghabiskan malam di luar rumah. Sepanjang jalan, begitu rame pengunjung yang nongkrong di angkringan.
Frangky Nors kebetulan tak ingin di tempat rame. Dia mau di angkringan yang sepi dan remang-remang.
Pukul 19:00 tertulis di layar ponsel Mirna. Frangky Nors masih belum menemukan tempat yang pas. Pas untuk berduaan.
Mirna asyik dengan hp nya. Tak paham lagi, ini daerah mana. Dia tak biasa kelayapan.
Frangky Nors menepi. Di pinggir jalan, terlihat beberapa angkringan. Tapi tetap saja penuh.
Terlanjur sudah menepi. Frangky Nors memarkir mobil di bawah pohon rindang. Remang-remang. Walau sudah penuh semua.
Terlihat di dalam pondok-pondok terisi semua. Ada yang bersama keluarga. Bersama teman-teman kantor. Ada juga yang berdua bersama pacar. Memadu kasih.
Frangky Nors turun sebentar. Menanyakan pelayan. Apakah masih ada tempat yang kosong.
Frangky Nors kembali ke mobil. Dan menanyakan pesanan untuk Mirna. Setelah itu, dia melangkah. Memesan ke pelayan angkringan.
Setelah membayar, Dia kembali masuk ke dalam mobil. Mirna menunggu di sana. Sambil memainkan game kesukaannya.
"Kamu suka tempat seperti ini, sayang?"
"Iya, nih, tumben penuh. Kita makan di mobil aja ya, sambil menunggu ada pengunjung yang pulang," jawab Frangky Nors sambil meraih tangan Mirna.
Mirna terdiam dag dig dug. Suasana malam, dingin dan hanya disinari lampu jalan, membuat Mirna terhanyut suasana.
Dia menikmati remasan tangan Frangky Nors yang menyusuri tiap inci jari-jari tangannya. Apalagi saat bulu-bulu tangan kekar itu menyapu kulit mulus tangan Mirna.
"Kamu sangat cantik, Mirna, Sejak interview waktu itu, saya sudah suka sekali sama kamu. Andaikan aku bisa memilikimu, selamanya dan untuk selamanya,"
Rayuan Frangky Nors membuat Mirna melayang-layang. Dia terdiam. Terpaku. Dia hanya bersandar, pasrah.
Melihat gestur wajah Mirna yang begitu di mabuk cinta, Frangky Nors langsung memeluk Mirna dari samping.
Tangan Frangky Nors melingkar di pinggang. Sedikit menarik tubuh Mirna agar makin mendekat. Tangan kekar berbulu itu begitu kuat. Mirna tak bisa bergerak. Dia semakin mendekat ke tubuh Frangky Nors.
Mirna kini menyenderkan kepalanya ke bahu kiri kekar. Berotot. Bagai bantal tidur. Tangan kekasihnya kini membelai rambutnya. Merapikan anak rambutnya.
"Kamu suka suasana begini, Yang?" tanya Frangky Nors sambil membelai rambut panjang indah itu.
__ADS_1
"I-iya, S-saya suka, s-sayang," Mirna terlihat gugup. Karna secara spontan dia menyebut kata sayang. Suasana romantis begini membuat Mirna mengeluarkan apa yang dia rasa.
Mirna benar-benar mencintai Pria disampingnya.
Frangky Nors di atas angin. Kekasihnya Mirna spontan menyebut kata sayang. Yang artinya, jebakan mautnya sudah masuk.
"Dia sudah jatuh dipelukanku," ucap Frangky Nors dalam hati.
Tangan Frangky Nors mengelus-elus pipi manis Mirna. Mirna sangat menikmatinya. Membuat Mirna terdiam memejamkan mata.
Terlihat, Frangky Nors menggeser posisi duduknya. Agar lebih dekat dan leluasa menjamah tubuh Mirna.
"Kamu sangat cantik sayang," ucap Frangky Nors sambil menatap mata bulat Mirna. Terlihat mata Mirna sangat menginginkan sesuatu.
"Bibirmu sangat menggodaku,"
Kepala mereka saling mendekat. Tanpa ada komando. Bibir mereka sudah menyantu.
Mirna begitu kaku. Tak paham harus bagaimana. Dia hanya mengecup bibir Frangky Nors. Belum berpengalaman.
Ini adalah kesempatanku. Pikir Frangky Nors. Bibir seksinya kini menciumi bibir bawah dan atas Mirna. Tangannya terus membelai rambut Mirna.
Tangan Mirna spontan juga merangkul badan pria yang sudah memberinya ciuman pertama.
Nafansnya terengah-engah. Bukan karna kecapean. Namun, itu karena sensasi ciuman dasyat Frangky Nors.
"Selamat malam, Pak, Pesanannya diletakkan dimana Pak," Seorang pelayan mengantarkan pesanan mereka.
Mirna langsung melepas pelukannya. Terlihat begitu grogi. Frangky Nors malah terlihat nyantai. Sepertinya sudah terbiasa.
"Oh, iya mas, sini nasi gorengnya, dua ya.. Minumnya diletakkan di tengah aja," jawab Frangky Nors sambil membuka pintu mobil.
Pelayan itu sudah berlalu. Nasi goreng special yang sangat terkenal itu siap dinikmati. Berdua sama-sama suka dengan rasa pedas.
Sambil bercanda, merayu dengan pujian membuat makan malam itu begitu nikmat. Mirna tersenyum sambil menyendok nasi gorengnya.
Frangky Nors begitu cepat menghabiskan sepiring nasi gorengnya. Sementara Mirna masih separoh habisnya.
Sendok Mirna kini berpindah tangan. Tangan kekar itu menyuapi Mirna. Menyuap nasi goreng special ke bibir yang sudah dinikmatinya tadi Mirna begitu bahagia.
__ADS_1
"Inikah namanya pacaran?" ucap Mirna dalam hati.