
Seperti yang sudah dia rancang. Yang sebentar lagi akan dia ungkapkan kepada kekasihnya. Menjadi senjata pamungkas yang bisa membuat kekasihnya tertekuk lutut dihadapannya.
"Eh, Sayang, jangan lupa ya janji kemaren. Special bangat janji itu, Sayang,"
"Hush.., nanti kedengaran sama yang lain. Fokus saja meetingnya,"
"Inikan lagi rehat, jadi aman, teleponan di kantin, kalau udah pulang dari Surabaya aja ya, Mir"
Mirna tak menanggapi kapan janji itu direalisasikan. Janji yang sebenarnya tak akan ditepatinya. Janji itu diungkapkannya hanya untuk mendapatkan informasi mengenai ancaman kekasihnya.
Namun, akan dipakai juga agar kekasihnya tidak marah, jika dia berangkat dinas ke Surabaya.
Walau sebenarnya, akan menjadi masalah besar bila tidak ditepati. Tekadnya untuk menjaga kesuciannya dari orang yang tidak benar - benar mencintainya.
Mirna sudah selesai menelepon kekasihnya. Dia merasa aman sekarang. Tak ada halangan untuk dinas ke luar kota. Andai Frangky Nors tetap melarangnya, maka itu akan menjadi beban pikirannya.
Mirna merebahkan tubuhnya di atas kasur. Jemarinya tak henti memainkan hp adroidnya. Tak lama, dia kembali membuka buku. Melihat catatan rancangan skenario yang dia susun.
Dia merubah skenario. Disebabkan kekasihnya tak keberatan lagi jika harus dinas ke Surabaya. Yang tadinya dia akan mengungkapkan rahasia Frangky Nors sebelum berangkat ke Surabaya, kini akan diungkapkan saat dia meminta hubungan diakhiri.
Rencana itu akan diungkapkan saat dirinya di Surabaya. Saat dinas ke luar kota. Dia mencoret lagi catatan itu.
Rencana ini harus tersusun rapi. Tak boleh meleset sedikit pun. Taruhannya sangat besar. Harga diri Mirna dan keluarga dipertaruhkan.
"Halo," jawab Mirna mengangkat teleponnya.
Alex Notobroto menelpon Mirna. Sudah lama mereka tidak berkomunikasi. Namun, Alex mencoba menghubungi Mirna untuk menanyakan jumlah tagihan Mentarindo yang belum terbayar.
Ini sebenarnya urusan staf finance Mentarindo, tapi Alex, selaku direktur perusahaan selalu ikut menanyakan langsung. Itu karena, Alex ada hati kepada Mirna.
"Lagi ngapain, Bu Mirna?" tanya Alex agak kaku. Alex memang tidak seperti Frangky Nors. Yang bisa mencairkan suasana. Alex begitu kaku jika berbicara dengan gadis yang dia suka.
"Baru pulang kantor, Pak Alex, Sudah lama nggak telpon Pak?"
"Iya, Bu. Kami lagi ada masalah dengan pabrik. Kontrak kami akan diputus dan tak jadi ikut dalam mega proyek itu, apa Ibu Mirna belum tahu ya?" tanya Alex dari seberang.
Mirna terdiam sebentar. Sebenarnya dia baru saja tahu dari kekasihnya. Namun, Mirna bilang tak paham.
"Belum tahu Pak, mungkin itu masih di level manager yang tahu pak. Kapan kontraknya berakhir pak?"
"Kontrak lama berakhir 2 minggu lagi. Kalau mega proyek sudah pasti tidak suplai,"
"Jadi masalah pembayaran, harus segera dilunasi ya Pak,"
__ADS_1
"Iya, itu salah satu perjanjian jika kontrak di putus, masih ada berapa lagi ya tagihan Mentarindo?"
"Kalau tidak salah..., sekitaran 2M, eh 2,5M lah Pak Alex, dan itu tidak ada masalah. Tinggal bayar sih,"
"Kapan bisa di bayar Bu?"
"Minggu ini di bayar separuh kayaknya. Sisanya nanti Pak, saat Mirna pulang dinas luar kota,"
"Bu Mirna dinas ke mana, Bu dan Kapan?" Alex dengan serius menanyakan.
"Ke Surabaya Pak Alex, hari Senin ini berangkatnya"
Mereka masih mengobrol lewat telepon. Yang awalnya sedikit tegang, kini sudah mulai cair. Canda dan tawa sudah mulai terdengar. Harus diakui memang, Mirna dan Alex saling suka. Usia mereka juga masih sebaya. Obrolan mereka bisa lebih nyambung.
Rasa suka itu tak terungkap karena Alex tidak reaktif dan terkesan pemalu. Dia tak berani langsung mengungkapkan. Sementara Mirna tahu diri. Walau dia suka, alangkah tidak mungkin menurut dia, karena berbeda status sosial.
Dia hanya karyawan kontrak. Gadis miskin dari desa. Yang untuk makan saja, orangtuanya harus bekerja keras setiap hari.
Berbeda dengan Alex Notobroto. Dia adalah pewaris tunggal keluarga kaya Brotoseno. Pemilik berbagai bidang bisnis yang menggurita dimana-mana.
Kedua hal itu membuat cinta Mirna dan Alex terhalang tembok yang mungkin susah mereka tembus. Ditambah dengan cekatan dan beraninya Frangky Nors yang kini sudah menjadi kekasih Mirna. Semakin membuat rasa suka mereka tidak tersampaikan.
Mirna sebenarnya bisa menangkap sinyal kesukaan pada dirinya waktu itu. Namun, Mirna tak mau salah menanggapinya. Dia tak mau terlalu percaya diri. Hingga akhirnya sinyal itu hilang saat Frangky Nors menjadi pacarnya.
Mirna sudah duduk manis di teras kost-annya. Dia sudah mandi dan berganti pakaian. Tangannya memegangi hp sambil membalas chat dari aplikasi pesanan makanan.
Dia memesan makan malam. Tak mau keluar mencari makan sendirian, jika sudah malam.
Tak lama, sebungkus paket makanan, ayam goreng terkenal, dihantarkan kurir makanan.
"Dengan Ibu Mirna?" tanya kurir kepada Mirna.
"Betul, Mas," jawab Mirna yang terlihat penuh tanya di wajahnya.
"Tapi saya tidak pesan ayam goreng ini mas," kata Mirna sambil menolak pemberian kurir.
Kurir itu mencoba melihat nama pemesan ayam goreng itu.
"Maaf mbak, ini nama pemesannya Alex Notobroto. Ditujukan untuk Mirna," Kurir mencoba memberitahu siapa pemesan makanan itu.
Belum sempat Mirna menanggapi ucapan kurir itu, dia sudah mengangkat ponselnya.
"Bentar ya mas.. Halo Pak Alex," kata Mirna
__ADS_1
"Udah sampai belum Bu kurir makanan, mengantarkan ayam k*c?"
"Oh, iya Pak, ini masih di, ada kurirnya. Itu kiriman dari Pak Alex ya, tadi Mirna sempat menolak, karena Mirna tidak merasa pesan,"
"Iya, Bu. Kebetulan Alex juga pesan. Jadi sekalian aja pesan untuk Bu Mirna,"
"Terimakasih banyak ya Pak Alex. Sudah repot-repot mengirimkan makan malam.Malam-malam bisa makan ayam goreng. Semoga sukses ya Pak,"
"Sama-sama bu, nggak repot koq bu, yang jualan malah senang. Lagipula, masak cuma Alex yang makan ayam, makanya sekalian pesan buat Ibu. Biar samaan makan malamnya K*C, walau tidak makan bareng,"
Mirna tertawa mendengar ucapan Alex. Mirna merasa Alex sudah tidak sekaku dulu. Sudah mulai dewasa dan tak pemalu lagi.
"Tapi darimana Pak Alex tahu alamatku Pak?" Mirna penasaran darimana Alex dapat alamatnya.
"Dari Indra, tadi aku minta ke dia,"
"Indra Suverpisor GA? Emang, Pak Alex kenal Indra?" Mirna semakin penasaran.
"Kenallah Bu Mirna, Indra itu teman dekat SMA dari kls 1. Pas kelas 3 baru, beda jurusan," jawab Alex dengan detail menjelaskan.
"Oh...iya toh, tapi di kantor kayaknya tidak pernah ngobrol sama Mas Indra?"
"Itu semua gara-gara manager HRD kalian. Indra dilarang ngobrol sama Alex. Semua sudah Alex tahu. Termasuk hubungan Bu Mirna dengan Frangky Nors,"
Kurir sudah gelisah menunggu obrolan Mirna selesai yang nampaknya obrolannya sudah sampai kemana-mana.
"Mbak Mirna, pesanannya," kata kurir yang sudah kelamaan menunggu telepon Mirna selesai.
"Oh iya, maaf ya mas.. " kata Mirna kaget karena telah melupakan kurir itu sambil menerima bungkusa makanan itu.
"Oh iya, pak, sekali lagi, terimakasih banyak ya Pak Alex," jawab Mirna karena Pak Alex mau mengakhiri pembicaraan.
"Hari ini makan ayam gorengnya sendiri-sendiri, pisah tempat. Suatu hari nanti, semoga bisa makan bareng," kata Alex lalu mematikan ponselnya.
"Iya.. Pak Alex, sekali lagi terimakasih pak,"
Telepon sudah dimatikan. Ada yang lain dari Pak Alex hari ini. Itu membuat hatinya jadi tak menentu. Apalagi ucapan Alex di akhir tadi. "Lain kali, semoga bisa makan bareng,"
Mirna masuk ke dalam kost-an. Dia mengingat-ingat, selama dekat dan pacaran sama Frangky Nors, belum pernah dia dikirimkan makanan seperti malam ini.
Perhatian Frangky Nors dan Alex memang berbeda. Frangky Nors hanya akan perhatian dengannya, jika mereka sedang jalan bareng dan kencan. Jika sudah berjauhan, maka hilanglah semua. Beda dengan Alex, yang begitu memperhatikan Mirna walau jauh dari sisinya.
"Paket......," Teriak kurir makanan dari luar pagar kost.
__ADS_1
Pesanan makanan Mirna sudah datang. Dia hampir lupa, kalau dia sedang mengorder makanan. Makan malam kali ini menjadi double. Ayam goreng K*C dengan nasi goreng seafood special.