Di Ujung Pernikahan Penuh Cinta

Di Ujung Pernikahan Penuh Cinta
Kemarahan Mama Raul


__ADS_3

Pertunjukkan pun akhirnya usai, wajah cantik dan penuh keringat tampak menghiasi sosok Lina yang baru turun dari panggung. Ia duduk seorang diri di sebuah bartender sembari menerima segelas minuman.


“Lin, gabung sama yang lain yuk? Kita seruan bareng. Di sini cuman kita loh yang sekelas. Lainnya kakak kelas semua.” salah satu teman panggung Lina mengajaknya setelah menerima minuman.


Tidak mungkin jika mereka bisa bergabung dengan para kakak kelas yang akan meninggalkan sekolah beberapa bulan lagi tentunya.


“Em duluan saja. Nanti aku nyusul. Ada yang mau aku bicarakan sama teman sebentar lagi.” sahut Lina enggan bergabung bersama teman satu timnya.


Setelah pergi, Lina menatap kembali pada pria tampan yang bisa di sebut adalah miliknya seutuhnya. Mungkin jika di lihat, Laurent lah pemilik sahnya. Tetapi jika di bandingkan dengan hal yang sudah jauh di perbuat Lina dan Raul, jelas Lina pemilik sesungguhnya.


“Kak, Raul.” sapa gadis dengan tangan memegang wine.


Malas tentu saja Laurent muak melihat adiknya selalu berada di lingkungannya dengan begitu banyak drama yang ia timbulkan.


“Sudahlah, kalian berdua saja di sini. Aku harus ke sana.” Laurent melenggang pergi, baru satu langkah ia bergerak, Lina sudah lebih dulu mencengkram pergelangan tangannya.


“Lepas, Lin.” pekik Laurent.


“Aku akan lepas kalau Kakak berani cobain ini.” tunjuk Lina dengan sorot mata meremehkan sang kakak.


“Lina, kamu apa-apaan? Laurent bukan gadis seperti itu.” Raul marah melihat tingkah Lina pada sang kekasih.


“Raul, kita putus.” ujar Laurent sangat di luar dugaan.


Sontak Lina dan Raul sama-sama terkejut. Mereka saling menatap dan kemudian beralih menatap Laurent.


“Lau, ini bukan kemauanku. Dia yang memaksamu minum. Aku tidak mungkin seperti itu. Ayo kita pergi dari dia. Aku juga tidak mau berurusan lagi dengan mu, Lina.” Dengan keras Raul menarik tangan Laurent pergi dari hadapan Lina.


Tak ada perlawanan. Lina menatap kepergian keduanya dengan senyuman yang sulit di artikan.


“Pergi lagi? Lihat, mau berapa kali kalian berusaha menghindar dariku?” batin Lina meneguk wine yang ia pegang sedari tadi.


“Raul, lepaskan! Aku serius. Aku ingin kita putus.” Laurent menghempaskan tangannya penuh emosi.


Sungguh meski pun hanya dekat, Laurent tidak rela jika apa yang ia suka akan di sukai pula oleh sang adik. Laurent lelah.

__ADS_1


Acara demi acara pun kini berlangsung dengan lancar.


Hingga waktu menunjukkan pukul 12 malam, saatnya semua membubarkan diri menuju ke kediaman masing-masing.


Malam yang semakin ramai dengan para pengguna jalan yang mencari hiburan di penatnya waktu bekerja.


“Raul, antar pulang yah? Please.” mohon Lina bergelayut manja.


Raul sangat resah, hatinya sedang gundah. Ia benar-benar pusing malam ini. Laurent bahkan memutuskan dirinya secara sepihak tanpa memberikan penjelasan yang rinci.


Di tambah kepalanya yang sangat pusing akibat alkohol yang ia minum bersama dengan Lina beberapa saat lalu.


“Duh mending kita pulang masing-masing. Kepalaku pusing, buat sampai rumah rasanya tidak mungkin.” Raul memijat kepalanya yang berputar terus.


Keduanya tampak saling memohon. Dan pada akhirnya, Raul kalah kembali oleh rengekan sang wanita.


Keduanya pun masuk ke mobil berniat untuk mencari hotel terdekat.


Berbeda dengan Laurent yang saat ini baru saja makan nasi goreng di pinggiran jalan. Perutnya yang sangat lapar membuatnya berhenti dari taksi dan memilih mengisi perut lalu lanjut pulang ke rumahnya.


Namun naas, setelah membayar makan di pinggiran justru Laurent sangat di kejutkan oleh kejadian naas.


“Suara apa itu?” tanyanya panik pada diri sendiri. Laurent menatap panik keadaan jalan yang saat itu sangatlah sepi.


“Pak, terimakasiu yah?” Ia hendak berlari mendekat tempat kejadian. Namun si penjual nasi goreng lebih dulu mencegahnya.


“Non, tunggu! Ini kembaliannya.” Beberapa detik waktu sempat membuat Laurent gelisah. Usai tangannya mendapatkan kembalian uang, ia segera berlari bersama banyaknya orang yang juga berkerumun di tempat kejadian.


Mobil putih dengan nomor polisi yang ia sangat hapal rasanya.


“Ra-aulll.” Laurent berteriak histeris.


Air matanya tumpah melihat banyaknya darah yang menutup wajah tampan sang mantan.


Laurent memeluknya, ia yakin pria di pelukannya adalah Raul. “Raul!”

__ADS_1


“Mba, mba kenal dengan pria ini? Kalau begitu segera bawa ke rumah sakit saja, Mba.” ucap salah satu orang yang turut berkerumun di sana.


Laurent tergagap. Ia panik, sangking paniknya tak bisa berpikir cepat saat itu.


Segera Laurent bergegas masuk ke salah satu taksi yang di hentikan seorang di jalanan.


Sepanjang perjalanan terus ia menangis. Ketakutan, panik jika sampai terjadi sesuatu pada sang mantan.


Kemarahan yang awalnya begitu menggebu hilang sirna saat ini.


“Maafkan aku, Raul. Maafkan aku.” tangis Laurent.


Di sisi yang berbeda. Sebuah taksi melaju dengan cepat membawa sosok gadis malam itu dengan keadaan setengah sadar.


“Non, maaf kita harus kemana? Alamatnya Non juga belum kasih tahu pada saya.” sang supir taksi tampak bingung.


Ini adalah putaran ke tiga kalinya mereka di tempat yang sama.


“Pak, saya ini lagi pusing. Sudah bawa saja saya ke hotel terdekat. Saya tidak mau di marahi sama nenek sihir itu. Kalau tahu anaknya kecelakaan bersama saya.” Lina tampak sesekali menahan laju darah yang keluar dari pelipisnya kala itu.


“Waduh Non, kalau ke hotel. Dengan keadaan Non seperti itu, tidak mungkin. Sebaiknya saya antar Non ke rumah sakit saja yah? Saya harus pulang, Non. Anak saya kasihan di tempat tetangga saya titipkan.” Mata Lina memutar malas mendengar keluhan sang supir taksi yang menurutnya sangat membosankan.


“Oh, yasudah. Itu lebih bagus. Antar saya ke rumah sakit, Pak.” senyuman terukir di wajah Lina.


Segila apa pun rasa cintanya pada Raul, tapi di usia yang semuda ini. Tidak mungkin ia menampakkan hidungnya di mata wanita yang menjadi ibu sang kekasih itu.


“Coba saja usiaku sudah mapan, begitu pun Raul. Mungkin kami bisa di nikahkan. Tapi, kalau seperti saat ini keadaannya, itu mustahil. Yang ada aku akan di marahi dan di cap sebagai pembawa petaka anaknya.” gerutu Lina dalam hati.


Sesaat, taksi pun tiba di depan IGD salah satu rumah sakit. Di sana Lina di bantu beberapa perawat untuk di bawa ke ruangan dan di periksa.


Tentu, bukan sebuah kebetulan. Rumah sakit tempat Lina berada saat ini sangat tepat dengan rumah sakit dimana Laurent membawa sang mantan kekasih yang sangat memprihatinkan saat ini.


Samar-samar terdengar ucapan kasar yang terlontar dari wanita yang sangay familiar bagi Lina.


“Ini yang saya cemaskan selama ini. Kamu itu wanita yang selalu di mana saja bisa membuat rusuh. Lihat, anakku. Anakku satu-satunya, apa yang terjadi dengan mu, Raul? Sudah berapa kali Mama bilang, dia tidak baik. Ini jadinya. Kamu kritis, Raul.” tangisan serta cercaan hanya di balas isak tangis oleh Laurent.

__ADS_1


Mulutnya tak mampu berucap apa pun selain menahan kesedihan melihat sang mantan bermandikan cairan merah di wajahnya.


Laurent tertunduk menahan getaran tubuhnya.


__ADS_2